
🌹Selamat Membaca🌹
Tak seperti biasanya, kali ini Cia bangun lebih pagi dari Arfi, ia sudah mandi dan menyiapkan sarapan setelah itu memilih duduk menonton televisi daripada beristirahat di kamar.
Cia merasa seolah tubuhnya sebentar lagi akan hancur, pinggangnya sakit dan rasa nyeri tak terhindarkan. Lelah luar biasa.
.
.
Jam sepuluh pagi menjelang siang, barulah Arfi terbangun dari tidurnya, ia perlahan membuka mata dan mengerjab beberapa kali, kepalanya masih terasa sangat berat.
"Hah?!"
Arfi terkejut saat sadar jika ia tertidur tanpa busana. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan sang istri. Terlebih saat ia melirik jam, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lebih.
Ssssstt...
Spontan Arfi memelankan laju kakinya, kala melihat Cia tampak tertidur di sofa. Awalnya Arfi berniat membangunkan dan marah-marah. Tapi hal itu urung ia lakukan, karena matanya kini menatap lebar dan memandang keseluruhan tubuh Cia yang di penuhi warna memerah dan ada memar di wajah sebelah kiri juga.
"Apa yang sudah ku lakukan?" tanya Arfi pada dirinya sendiri. Rasanya ia mulai paham kenapa terbangun dari tidur dan tanpa ia tanpa menggunakan baju sehelai pun.
Ck...
Melihat Arfi sudah berada di sampingnya bahkan kini tengah menatapnya. Cia langsung duduk lalu menunduk.
"Maaf a-aku ketiduran! Jangan marah padaku lagi! Jangan lakukan itu lagi, tubuhku kini sakit semua!" Cia berucap terkesan meminta dikasihani dan Arfi langsung menatap lebar ke arahnya.
"Apa yang sudah ku lakukan, sampai kamu ketakutan seperti ini?" tanya Arfi sedih, ia menatap wajah Cia penuh tanya.
"Se-semalam Kakak marah dan Kak Arfi melampiaskannya."
Arfi diam sejenak dan ia baru sadar jika semalam ia pergi ke clab malam karena melampiaskan kemarahan. Ia tak menyangka akan menyampaikannya kepada Cia juga.
"Maafkan saya!" Arfi berkata tulus.
Sisi mengangguk. "Tolong jangan minum-minuman lagi! Aku takut," pinta Cia karena ia benar-benar ketakutan melihat Arfi yang tadi malam.
"Iya, saya janji! Tapi maafkan saya dulu!"
"Iya." jawab Sisi sembari tersenyum tipis.
"Kamu nggak kuliah?"
__ADS_1
"Jam satu siang nanti, baru ke kampus. Kak Arfi mau ke kantor ya?"
"Nggak... nanti saya antar kamu ke kampus."
Sisi
Cia merasa sedikit bahagia, meski sebenarnya dalam benaknya ia berpikir, apakah Arfi benar-benar menyesali sikapnya semalam? Apakah Arfi tulus meminta maaf padanya? Tapi setidaknya dia mau meminta maaf, itu sudah lebih dari cukup.
Kejadian semalam, tentu saja membuat Cia merasa menjadi istri sepenuhnya. Meski Arfi memaksa dalam melakukanya, Cia berharap ia akan segera hamil. Entah kenapa semakin kesini Cia semakin merasa, cinta Arfi belum sepenuhnya. Itulah kenapa, Cia berharap segera hamil, karena kata orang anak adalah malaikat yang bisa membuat seseorang cinta secinta cintanya.
"Mobil saya kemana?"
"Di bawa Angga Kak, semalam dia yang mengantarkan Kak Arfi pulang."
Arfi mangut-mangut tak jelas, artinya semalam Angga mendapati ia yang tengah setengah waras. Sebelum mengantarkan Cia ke kampus ia menghubungi Angga lebih dulu. "Antarkan mobil saya! Awas jangan di jual!" titahnya yang membuat Angga di seberang sana mengumpat kasar karena merasa kesal.
.
.
"Dasar kampret! Siapa juga yang mau jual mobil kamu... saya yakin ini mobil kalau di jual, pembelinya mati. Panas sama kayak yang punya." omel Angga kesal dan Pak Suki terkekeh geli melihatnya.
"Tanya, kenapa Pak Arfi kenapa nggak ke kantor hari ini?"
"Ooooohhh ogah, lagi pula teleponnya udah di matiin. Kalau Bapak mau tanya.. silahkan tanya sendiri!"
"Sini deh!"
Tanpa permisi Angga menarik pelan tangan Sisi dan mengajak wanita ini menjauh dari Pak Suki. Dan Sisi mengikuti langkahnya kemana pun.
Setelah merasa sepi dan tidak akan ada yang mendengar lagi. Angga pun menceritakan semua hal yang terjadi tadi malam prihal Arfi yang minum-minuman sampai merancau tidak jelas.
"Pak Arfi marah karena abis berantem sama kamu,"
"Haah?"
Seketika Sisi pun langsung kepikiran dengan Cia, ia paham jika Arfi marah biasanya akan melampiaskan dengan berhubungan badan. Sisi merasa Arfi belum berubah setiap kali marah.
"Hallo Kak, ada apa?" tanya Cia sesaat Sisi menghubunginya.
"Kamu lagi dimana? Kenapa Pak Arfi tak ke kantor hari, padahal banyak sekali berkas yang harus di tanda tangani." Sisi sebisa mungkin mencari alasan.
"Aku lagi di jalan nih, mau ke kampus di anter yayank hehe." Cia tertawa sebisanya ia tak mungkin memberitahu apa yang Arfi lakukan sampai suaminya tak ke kantor hari ini.
__ADS_1
Setelah mendengar Cia baik-baik saja, Sisi pun menghela pas lega. "Pak Arfi sepertinya sedang ingin memiliki waktu banyak dengan Cia, bahkan sekarang dia lagi anterin istrinya ke kampus." Sisi menjelaskan kepada Angga meski anak muda itu tak bertanya.
Angga menggeleng pelan, dari sikap Arfi semalam ia bisa tahu jika bosnya itu tak memiliki cinta untuk Cia. "Hemm, siapa tau hari ini Pak Arfi sedang berusaha jatuh cinta kepada Cia," ucap Angga pada dirinya sendiri.
Sementara Sisi sudah melangkah pergi dari hadapannya. Angga pun secepat kilat melesat lalu berdiri di samping Sisi lagi, keduanya pun berjalan bersama untuk kembali ke kantor. Pemandangan itu membuat banyak karyawan bertanya-tanya. Apa kah Sisi dan Angga tengah menjalin cinta?
.
.
Setibanya Cia di kampus, Arfi pun ikut turun.
Kampus ini juga dulu menjadi tempat Arfa dan Nayla menimba ilmu dan Cia nyatanya kuliiah di sini juga.
"Cia... katanya lu anak tunggal Tapi Kakak lu cakep banget." puji salah satu teman kampus Cia seraya menatap Arfi begitu lekat.
Arfi dan Cia memilih diam, bahkan saat beberapa mahasiswi menghintari keduanya. Jujur saja Arfi merasa sangat risih tapi ia tetep tersenyum sewibawa mungkin.
"Woy, jangan godain suami orang!" pekik Ata tiba-tiba membuat beberapa cewek-cewek yang berdiri di samping Arfi spontan menjauh.
"Nggak usah sok tau Ta, masa Kakaknya Cia udah nikah?" salah satu dari mereka tidak terima.
"Itu bukan Kakaknya Cia, goblok!"
"Laah, terus??" tanya mereka bersamaan.
"Dia suaminya, Cia!"
"HAAAH!!"
Mereka semua berbalik menoleh ke arah Cia dan Arfi. Dan Arfi sendiri lalu meraih tangan Cia lantas menggenggamnya dengan sangat erat.
"Canda lu nggak lucu, masa nikah sama Om- Om sih?"
"Jaga mulut lu ya! Sok gaya, ngatain laki gue Om-om. Buktinya tadi lu minta no handphone dia!" Cia membalas.
Beberapa dari mereka memilih pergi karena malu dan beberapa lagi meminta maaf karena merasa bersalah. Jujur saja mereka sebenarnya beberapa kali mendengar jika Cia sudah menikah tapi mereka berusaha untuk tidak percaya.
"Lagi pula salah lu sih, nggak undang mereka semua!" goda Ata untuk Cia lalu menepuk pundak Arfi seolah mereka seumuran.
Beberapa orang yang ada di sana pun, terkekeh geli.
.
__ADS_1
.
B E R S A M B U N G