
🕊Selamat Membaca🕊
Alvian melangkah sedikit terburu-buru, untuk segera keluar kamar dan di ikuti oleh sang istri setelah menggunakan kembali bajunya, yang tadi sudah di tanggalkan oleh sang suami.
"Heei, Al...," sapa Toni dengan raut wajah menahan tawa, yang tentu saja membuat Alvian sedikit curiga.
"Apa, yang lucu? Kenapa, wajahmu seperti orang yang ingin menertawakanku?" Alvian berdecak heran.
"Hemmm, tidak, aku hanya sedikit lucu saja, setelah mamamu cerita bahwa kau menipu kedua orang tuamu," jelas Toni yang masih mencoba untuk tidak tertawa.
"Ih... aku bukan menipu, hanya sedikit berbohong,"
"Sama saja Al, bohong dan menipu itu masih saudara,"
"Lalu.. apa kau datang kesini untuk menangkapku?"
"Ohh tentu saja tidak, karena aku kesini atas laporan kedua orang tuamu, yang mengatakan bahwa kau hilang. Maka dari itu aku datang kesini, tapi tadi setelah tiba, mereka menceritakan semuanya, bahwa kau bukan hilang," jelas Toni lagi.
Alvian pun mengajak sahabatnya bersama beberapa rekan-rekan kepolisian, untuk duduk dan bicara sebentar, pria muda itu memberi penjelasan secara keseluruhan agar tak terjadi kesalah pahaman.
"Jadi, ada banyak hal, mengapa kau berpura-pura lumpuh?" telisik Toni.
"Sebenarnya, karena "CINTA" tapi di bagi menjadi beberapa bagian," balas Alvian.
"Heih! Kok, bisa?"
"Iyalah, pertama, untuk melancarkan niatku, agar bisa mencari tahu, siapa yang benar-benar tulus mencintaiku, sebab sebelumnyanya, papa dan mamaku menjodohkanku dengan Amira, namun setelah aku lumpuh, Amira terang-terangan mengatakan, bahwa dia tak mau menikah dengan pria cacat.. Kedua, untuk mendapatkan perhatian sepenuhnya dari Airin. Ketiga, agar papa merestui hubunganku dengan Airin,"
"Haaaaaaah!!!"
Alasan ketiga, membuat sang papa yang sejak tadi ada di antara mereka pun, menatap nanar ke arah anaknya.
"Ma_maksudmu, apa, Al?" si papa pun penasaran.
"Ya.. karena aku tahu, sebelumnya papa melarang niatku, untuk mengajak Airin ke jenjang pernikahan. Tapi, karena aku lumpuh, papa barulah menerima Airin menjadi menantu, sebab sebagaimana aku yang memiliki kekurangan, Airin pun memiliku kesalahan. Status Airin sebagai mantan narapidana, adalah satu-satunya alasan, papa menolak Airin menjadi menantu pada saat itu," jelas Alvian penuh kejujuran hingga membuat Reyhan diam tanpa kata.
Merah? Percuma, karena nyatanya apa yang di lakukan Alvian bukanlah sebuah kesalahan, meski di sebut bohong, tapi kebohongan Alvian di lakukan untuk memperjuangkan cintanya, hingga membuat si papa sadar, bahwa anaknya benar-benat tulus mencintai Airin.
Dan... dari tempat Airin berdiri, wanita itu pun mendengar semua hal yang sang suami jelaskan tadi, Airin merasa sangat beruntung, karena Tuhan menakdirkan Alvian untuk menjadi pelengkap hidupnya.
Sementara Tania, Toni dan beberapa rekan dari kepolisian, menyunggingkan senyum penuh arti. Sebuah rasa yang di miliki oleh Alvian, bisa di sebut perasaan yang tulus dan sejati.
"Okeh.. kalau begitu, aku pulang dulu. Karena tak ada masalah yang harus kita ungkap," pamit Toni dengan senyum yang tersungging dari bibirnya.
__ADS_1
"Baik, terima kasih, maaf! Sudah merepotkan kau dan teman-teman semua,"ucap Alvian.
Toni menpuk bahu sahabatnya, lalu melangkah untuk ke keluar dari ramah milik si tampan. Namun sebelum Toni benar-benar keluar dari rumah, ia membiskan sesuatu, yang seketika membuat Alvian tersipu malu.
"Menurut para ilmuan, jangan melakukan hubungan di sore hari. Pamali, karena pada saat sore hari, seharusnya para istri-istri, sibuk memasak untuk makan malam, dan yang paling fatal adalah, si suami, lupa cara menggunkan celana yang baik dan benar, karena terburu-buru keluar dari kamar sebab ada tamu dadakan yang tiba-tiba saja datang," bisik Toni pelan namun sorot matanya menajam ke arah celana yang di gunakan Alvian.
"Haaah... kacau...,"
Si tampanpun segera berlari masuk kedalam kamar, karena nyatanya ia menggunakan celana "Terbalik" sebab ia tadi sangat terburu-buru keluar dari kamar, hingga ia tak sadar menggunakan celana dengan tidak benar.
"Sial...! Jadi, ini yang membuat Toni menahan tawa, sejak awal melihatku tadi," grutunya menahan malu.
Buhahaahahahahaha!
Airin pun masuk kedalam kamar, di sertai tawa sejadi-jadinya, setelah mendengar grutuan yang sejak tadi Alvian dengungkan.
"Tetawa, terus... ayo tertawa!"
Alvian pun beraksi, ia menarik tangan sang istri lalu membawa Airin dalam dekapanya.
"Lanjutkan, apa yang sejak tadi belum kita selesaikan," bisik Alvian pelan.
"Tidak bisa sayang, karena sebaik-baiknya pertempuran, di lakukan pada malam hari, sebab di pastikan tak ada yang mengganggu," bisik Airin pelan pula.
"Haaah.. baiklah,"
"Mandi dulu! Setelah itu makan, barulah istirahat!" titah Airin kemudian.
"Mandiin!"
Suara Alvian terdengar manja.
"Ehh... ogaaaah!" cetus si cantik lalu segera keluar dari kamar.
Hal itu tentu membuat Alvian seketika tertawa. Sedangkan Airin sudah keluar kamar, untuk menyiapkan santap malam.
***
"Mana Alvian, Rin?"
"Istirahat mah,"
"Begitu, padahal ada yang mau mama tanyakan," ujar Tania.
__ADS_1
"Apa mah? Nanti aku sampaikan,"
"Jadi, mama rasa benar, obat tidur yang kau tunjukan kepada mama, waktu itu, memanglah milik Alvian,"
"Iya mah, aku rasa juga begitu. Nanti aku tanyakan, langsung ke Alvian, mah,"
Tania menangguk. Karena pikiran mereka memang benar adanya, Alvian sengaja memberikan obat tidur pada malam itu, agar kedua orang tuanya dan juga Airin, tak melihat perkelahiannya dengan Nino, sebab malam itu Nino berniat untuk menghabisi nyawa Airin dan juga Alvian sendiri.
"Malam semua," sapa Alvian seraya mendudukan tubuhnya di kursi untuk menghadap ke meja makan.
"Kau sudah bangun?" basa basi Airin.
"Menurutmu.. apa aku kesini, masih tertidur?" canda Alvian menjawab pertanyaan sang istri yang terkesan aneh.
"Hehe," tawa si cantik datar, ia pun mengambilkan sang suami sepiring nasi dan menyiapkan segalanya untuk Alvian.
Tania dan Reyhan tersenyum simpul, melihat tingkah dan sikap yang sangat menggemaskan, dari kelakuan anak dan juga menantunya.
"Kita juga, selucu mereka, dulu kan, mah," lirih Reyhan di telinga Tania.
Spontan, hal itu menimbulkan tawa datar dari sang istri. "Papa, iri ya?" begitu goda si mama pula.
Mereka pun malam ini melewati makan malam bersama di sertawi gelak dan canda tawa. Bahagia... benar-benar bahagia, terutama Airin yang merasakan memiliki keluarga seutuhnya.
PRAAAAAANK!
Suara keras terdengar jelas di telinga mereka, yang masih menikmati makan malam bersama. Hal itu sontak membuat mereka semua terkejut luar biasa.
"Ada apa, itu?" tanya Alvian dan si papa bersamaan.
Keduanya pun beranjak, di ikuti langkah Airin dan si mama, mereka ingin memastikan, apa yang sudah terjadi di depan.
"Pak Boby? Ada apa ini?" Alvian bertanya pada satpam rumahnya yang terlihat seperti tengah bingung juga.
"Entahlah mas, saya sendiri tidak tahu pasti, apa yang terjadi, karena tiba-tiba saja, ada orang melempar batu ini, ke arah kaca mobil milik mas Al, hingga pecah seperti ini. Tapi setelah saya memastikan, sudah tidak ada siapa-siapa di luar pagar rumah," jelas sang satpam pula dengan semua hal yang memang seperti itu kejadianya.
Alvian dan Airin juga si mama dan si papa, saling tatap penuh tanya. Mereka tengah berpikir keras, kira-kira, siapa yang melakukan semua ini?.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa bahagia, kakak-kakak baik, semoga masih setia ya, baca dua "A" ❤🤗.
🕊Terima Kasih🕊