
❣Selamat Membaca❣
Setelah di terima oleh keluarga besar Arfi, Sisi sering berkunjung ke rumah kekasihnya itu. Ia suka menemai Nayla menyiram bunga atau menemani si mami memasak di dapur. Sisi bisa menepatkan dirinya sebagai apa, hingga membuat keluarga Arfi semakin menyayanginya.
"Kak kenapa tak mengangkat teleponku?" Sisi mengirim pesan singkat untuk Arfi karena berkali-kali ia menelepon tapi kekasihnya itu tak mengkatnya.
Namun sampai 2 jam lebih sejak Sisi mengirim pesan singkat tersebut. Arfi tak kunjung membalasnya, hingga membuat Sisi merasa gelisah, ia takut jika ada hal buruk yang menimpa pria itu.
"Aku harus ke rumahnya," ujar Sisi seraya beranjak dari tempat, lalu keluar dari kamar menyetop Taxi.
Selama di dalam perjalanan Sisi terus memandangi layar ponselnya berharap pria itu akan membalas pesan singkat yang ia kirim tadi. Tapi percuma Arfi tak kunjung membalasnya juga.
"Selamat siang,"
Kini Sisi sudah tiba di rumah kedua orang tua Arfi... di sana ia mendapati Nayla dan juga Arfa tapi keduanya tidak bergeming saat melihat Sisi tiba di rumah dan bertanya. Arfa dan Nayla fokus Menatap layar televisi tak memperdulikan Sisi sama sekali.
"Ada sih, kok cuek banget?" decaknya pelan.
Sisi berjalan pelan menuju ke ruang belakang dan berusaha mencari keberadaan si mami, tapi ia tak menemukannya; hanya ada sang papi yang tampak tengah tertidur di sofa. Ia pun, tak melihat Arfi ada di rumahnya.
"Kemana dia? Pesanku tidak dibalas dicari di rumah tidak ada?" ranyanya lirih pada dirinya sendiri.
Hari ini gadis mungil itu dibuat pusing sendiri, atas sikap dan perubahan yang terjadi antara Nayla dan Arfa, juga tidak bisa menemukan keberadaan si mami. Hal itu membuat Sisi sedikit galau.
"Aneh,"
Sisi berdecak lirih, tapi ia tetap coba untuk tersenyum dan melangkah pergi dengan hati sedih. Ia tidak bisa menemukan Arfi tapi mendapatkan sikap aneh dari Arfa dan istrinya.
"Huuuf!"
Sisi membuang nafas kasar ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang lalu menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang tidak tenang.
"Apa aku melakukan kesalahan sehingga mereka bersikap acuh padaku, bahkan Arfi tidak memperdulikan, aku sedikitpun?'"
Sisi semakin dibuat bingung, lantaran sikap keluarga kekasihnya... benar-benar berbeda, ia dibuat tak nyaman bahkan bingung sendiri, karena merasa tidak melakukan kesalahan, tapi diabaikan.
"Ya Tuhan_____!"
Sisi bergumam panjang, ia langsung mendudukkan tubuhnya lalu mengacak-ngacak rambutnya berkali-kali. Seraya mengusap wajahnya yang terasa begitu panas.
"Aku tidak boleh bagini!"
__ADS_1
Gadis bertubuh mungil itu, langsung beranjak dari tempat tidurnya dan kembali keluar dari apartemen. Sisi berencana untuk menemui Arfi di tempat pria itu bertugas, untuk menanyakan perihal perubahan sikap yang membuat Sisi seolah diabaikan.
"Kak....!" panggilnya.
Sisi melangkahkan kaki dan berjalan pelan untik mendekati keberadaan Arfi. Tapi pria itu, seolah tidak memperdulikan kehadirannyan karena Arfi tetap fokus menatap layar laptop dan tidak menyapa Sisi walau sebentar.
"Kalian kenapa, sih? Kakak juga kenapa? Apa aku melakukan kesalahan dan kalian mendiamkanku seperti ini?"
Arfi tak menjawab, ia tetap fokus dan setelah itu melangkah karena bersiap untuk pergi.
"Kak Arfi_____!"
Tak malu sedikit pun meski tengah berada di kantor polisi, Sisi berteriak sekencang-kencangnya untuk menghentikan langkah Arfi.
"Jangan membuat gaduh di sini! Suaramu pasti tidak nyaman didengar, oleh banyak polisi di sini." Tegas arti Ketus ia menarik tangan Sisi dan membawa gadis kecil itu keluar.
"Kak ada apa?"
Sisi mulai menangis, tapi Arfi sudah enyah dari hadapanya, karena pria itu ada tugas untuk mengintai beberapa orang yang di duga suka melakukan balap liar di sore hari.
Hiks!
Tangis Sisi pecah, ia bingung dengan apa yang sudah terjadi. Dan bingung karena Arfi tiba-tiba tak memperdulikannya. Ia terus berjalan pelan, menyusuri sepanjang jalan dengan merasakan sesak yang amat mendalam.
Karena tak mampu untuk terus berjalan dan takut jika asmanya akan kambuh, Sisi pun memutuskan untuk naik angkot saja dan mengantarkanya sampai ke depan apartemen.
"Mbak Sisi kenapa?"
Satpam yang menjaga di depan gerbang apartemen, di mana Sisi tinggal. Berdecak heran karena gadis iitu masuk dan berjalan dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Tidak," jawabnya singkat.
Meski sedang sedih. Sisi tetap menjawab jika ada orang yang bertanya padanya, meskipun jawaban Sisi terkesan ketus.
"Heem,"
Gadis itu membuang nafas. Seraya mengelus dadanya untuk menenangkan dirinya sendiri, tapi tak bisa, ia tetap sedih karena diacuhkan oleh orang-orang yang sangat Sisi sayangi.
Ceklek!
Pelan-pelan Sisi membuka pintu kamar dan menghidupkan lampu kamarnya yang mati. Karena benar saja, tak terasa hari sudah malam.
__ADS_1
"KEJUTAAAN.......!"
Suara itu terdengar berasamaan dengar hidupnya, lampu kamar Sisi. Dan di dalam kamarnya sudah ada Arfi beserta kedua orang tuanya dan ada Arfa juga Nayla.
"Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun!!"
Nyanyian itu terdengar bergema. Arfi mendekati Sisi dengan membawa 1 buah kue ulang tahun dan angka k-18.
"Selamat ulang tahun sayang, panjang umur sehat selalu, semakin dewasa dan semua hal baik bersama Sisi, juga apapun yang Sisi mau akan tercapai!" harap Arfi tepat di hari ulang tahun Sisi yang ke-18.
Sisi baru paham, setelah semua kejutan itu ia terima, semua hal buruk yang terjadi sepanjang hari ini, hanyalah... siasat mereka, untuk membuat Sisi kesal dan akan memberi kejutan di malam hari.
"Selamat hari lahir Si, semoga semua hal yang Sisi mau tercapai dan menjadi pribadi yang lebih bijaksana lagi."
Ucapan demi ucapan dan doa-doa baik, Sisi terima dan dengar di malam hari ini, baik dari Arfa, Nayla si mami dan juga si papi... semua berdoa yang baik-baik dan berharap Sisi akan terus bahagia.
"Terima kasih,"
Sisi menangis haru, bibirnya tak henti-henti mengucapkan rasa terima kasih, karena sudah di beri kejutan. Dan Sisi merasa mereka semua sangat tulus menyayanginya. Selama ia di tinggalkan kedua orang tuanya, ini kali pertama ia di beri kejutan saat bertambah usia.
"Terima kasih," ucapnya sekali lagi lalu berhambur mendekati Arfi, dan segera memeluk pria itu, seraya menangis tersedu-sedu. Tapi kali ini tangis sedih yang ia rasa sepanjang hari, kini berubah menjadi tangis bahagia.
"Kakak, masih mempunyai kejutan untuk Sisi,"
"A-apa, kak? Hadirnya kalian sudah cukup kejutan untukku," gugupnya karena terharu.
Malam ini banyak kado yang Sisi terima, baik dari Arfa, Nayla dan juga kedua orang tua Arfi, yang paling membuat Sisi terkagum-kagum, kado dari kekasihnya sendiri. Ya itu, satu unit sepeda motor yang selama ini sangat Sisi damba, agar ia kesekolah tidak naik angkot atau ojek lagi.
"Ini hanya awal, jika kamu menjadi istri kakak nanti, bukan hanya motor saja, mobil pun pasti kakak-kakak beri." Arfi meyakinkan.
Di hari ulang tahunnya yang ke-18, Sisi merasa mendapatkan, senyum yang paling nyata dalam hidupnya.
"Aku sayang kalian,"
..
..
..
..
__ADS_1
TERIMA KASIH