Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Balas Dendam Sisi


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Akhir-akhir ini, Arfi merasakan ada yang aneh pada dirinya sendiri. Ia seolah tak mau kemana-mana, ingin di rumah saja, seraya terus memperhatikan tingkah istrinya. Ya... karena semenjak Arfi memberi Sisi kebebasan, si cantik memang menjadi dirinya yang sesungguhnya. Sisi yang ceria, Sisi yang selalu membuat tertawa, tak ada kesedihan lagi di wajahnya.


"Aaaah.....! Kakak....!"


Teriaknya dari halaman belakang. Secepat kilat Arfi melangkah dan memastikan apa yang terjadi kepada Sisi.


"Kenapa, Si?" tanyanya panik.


"Lihat ini! Siapa yang membuang boneka Barbieku?"


"Haaah? Kamu teriak heboh, hanya karena boneka ini?"


Sisi tersinggung,. Entah mengapa akhir-akhir ini ia lebih sensi-tif, mudah marah dan badmood tak jelas. Terlebih prihal sang suami, karena apapun candaan Arfi, Sisi menanggapinya dengan serius.


"Kok wajahnya di tekuk, Si?" tanya Nayla yang kini menghubungi Sisi melalui video call.


"Arfi mana?" kini Arfa yang bertanya.


"Wwuuuuuh... kakak! Pertanyaan siapa yang akan ku jawab dulu?"


Nayla dan Arfa saling menatap, terlebih saat memperhatikan cara dan sikap Sisi, layaknya anak kelas 6 sekolah dasar. Istri Arfi itu bertanya dengan nada manjanya, hingga Arfa dan Nayla memperlakukan Sisi bukan seperti adik ipar, tapi seperti anak kecil alias adiknya sendiri. Karena setiap 4 atau 5 jam, Sisi pasti menghubungi mereka, selalu ada saja yang ia ceritakan.


**


Uweeeeekk!


"Huuh... aduh. Kok perutku mual, ya?"


Sisi menyandarkan diri, lalu mengelus perutnya yang sedikit membuat ia tidak nyaman.


"Dua bulan ini, aku belum datang tamu. Apa perutku mual, kerena......!"


Sisi bertanya-tanya sendiri, karena ia merasa ada yang aneh menyerang perutnya. Ia pun berpikir, jika sebentar lagi akan menjadi wanita yang sebenarnya.


"Kakak.........!!"


"Haaah. Ada apa?"


Arfi yang sedari tadi, sibuk dengan laptopnya, segera berlari untuk memastikan keadaan sang istri. Dan... betapa terkejutnya ia saat menemui Sisi, wanita itu sudah berkeringat deras dengan napas terengah-engah.


"Apa yang terjadi, Si? Kenapa tubuhmu dingin sekali?"


Tak mau membuang waktu, ia langsung memapah tubuh Sisi dan membawanya ke klinik terdekat. Selama di dalam perjalanan, si cantik tersenyum senang ditengah rasa sakitnya, karena Arfi benar-benar terlihat panik luar biasa.


"Bagaimana dok?"


Arfi bertanya sigap setelah Sisi sudah selesai di priksa.

__ADS_1


"Sepertinya... adik anda, pernah mendapatkan pelecehan s*ksual, sebab banyak bekas memar di tubuhnya dan parahnya lagi, kini dia sedang hamil. Jika anda tidak yakin, nanti belilah test pack dan cek dirumah ya!" si dokter menjelaskan.


Sedangkan Arfi, tidak pahan... harus bagaimana? Sedih atau bahagia? Penjelasan dokter tadi yang mengatakan, jika Sisi pernah mendapatlan pelecehan, membuat Arfi sungguh merasa bersalah.


"Terima kasih dok. Kalau begitu saya harus bagaimana?"


"Beri dia dukungan, cari tahu siapa yang membuat dia hamil dan suruhlah pria itu bertanggung jawab!"


"O-oke... terima kasih dok!"


"Nanti setelah ini jaga dia baik-baik. Ada memar yang parah dan membekas di bagian dada, carilah obat untuk menyamarkan lukanya! Karena hal itu akan dia ingat seumur hidup, jika dia pernah dilakukan secara tidak baik. Luka yang membekas akibat berhubungan yang di paksa, akan membuat mentalnya lemah. Setelah dia sadar, kamu boleh membawa Sisi pulang!"


Arfi hanya mengangguk-angguk sok paham. Setelah dokter itu pergi ia menghentakan kepalanya sendiri di dinding. Sakit memang tapi ia yakin tak sebanding dengan rasa sakit yang Sisi terima saat ia menyiksa wanita itu tanpa ampun.


"Dia itu istriku bodoh!! Aku yang melec*hkanya. Aku yang membuat tubuhnya banyak luka. Haaaah!"


Arfi memukul-mukul kepalanya sendiri, ia mengutuki otak dan cara pikirnya beberapa waktu lalu. Sebab saat itu yang ia tahu, hanya mendapatkan kepuasan, tanpa memikirkan perasaaan istrinya.


"Kamu penjahat Arfi... kamu jahat! Aaaaah!"


Bak orang yang kehilangan kewarasanya. Arfi terus memukul tubuhnya sendiri. Bahkan ia tak sadar jika Sisi perlahan membuka matanya.


"Kak... kenapa?" tanya Sisi heran, saat melihat suaminya terduduk di lantai.


"Si-Sisi sudah sadar?"


"Kakak kenapa, kok sedih?" Sisi justru balik bertanya


"Haah... kakak serius? Syukurlah!" sambut Sisi bahagia. "Akhirnya aku benar-benar Hamil!'


Di balik kebahagiaan Sisi, ada penyesalan menyergap tubuh Arfi, tapi ia bersikap biasa saja dan terus menerus meng*cup kening Sisi seolah ia juga bahagia. Iya.. Arfi memang bahagia, yang sedih adalah penyesalanya.


"Ayo kita pulang! Sisi mau makan apa?" tanyanya selembut mungkin.


"Dari kemarin, aku itu mau makan nasi panggang dan lauknya ayam panggang!"


"Astaga....!!"


Arfi pun menghubungi salah satu rumah makan langgananya. Untuk bertanya, apakah nasi bisa masak dengan cara di panggang?


"Bisa mas. Kenapa?"


"Aku pesan 3 porsi, nanti sore antarkan keapartemenku!"


"Siap, mas!"


Setelah di pastikan, baik-baik saja. Arfi mengajak Sisi pulang, sepanjang perjalanan keduanya saling melempar senyum, si cantik sendiri tak menyangka, jika ia diberi kepercayaan oleh Tuhan, untuk hamil di usia belum genap 19 tahun.


"Mami... papi!"

__ADS_1


Sisi dan Arfi terkejut, saat melihat si mami dan sang papi sudah ada didepan apartemen.


"Sisi, apa kabar? Kalian darimana?"


"Aku baik, mi." Sisi tersenyum.


"Kami dari klinik." jawab Arfi.


"Haaah. Kalian darimana?"


Arfi menceritakan, jika istrinya dinyatakan hamil, dan usia kandungan Sisi kini baru menginjak 3 minggu. Perjelasan Arfi membuat kedua orang tuanya bersorak bahagia.


"Syukurlah. Kamu jangan terlalu lelah, ya! Nanti makanan untuk setiap hari biar mami yang memasak dan mami kirim kesini!" seru si mami bersemangat.


Arfi mengajak mereka untuk masuk kedalam. Lalu meminta Sisi untuk beristirahat di atas tempat tidur.


"Fi.. ingat! Apapun yang istrimu mau, harus kamu turuti!" si papi menepum pundak anaknya.


"Memangnya kenapa?"


"Nanti anakmu jorok!" tambah si papi lagi.


"Apa hubunganya, ngidam tak bisa terwujud, dengan anak yang nantinya akan jorok?"


Si papi hanya menarik napas panjang, lalu nemberi pemahaman, kenapa saat sang istri hamil semua keinginan harus terwujud. Sementara Arfi hanya mangut-mangut, antara percaya dan tidak.


"Kakak!" teriak Sisi dari dalam kamar.


"Ada apa?' tanya Arfi yang tampak panik.


"Mau jus melon boleh? Jangan lupa di kasih susu, tapi jangan dimasukan kedalm gelas!"


"Terus?!"


"Masukan kedalam mangkuk, kalu bisa wananya jangan hijau tapi merah!"


"Mana ada jus melon warnanya merah?"


"Tugas kakak memikirkanya! Bukan tugasku!"


Dengan santai Sisi berucap setelah itu menarik selimut intuk menutup seluruh tubuhnya. Di dalam selimut Sisk tak mampu menahan tawa, karena sebenarnya ia hanya menjahili Arfi, tak ada keinginan sedikutpun untuk meminum jus melon tersebut.


"Saatnya balas dendam!" ujar Sisi dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


.


Terima Kasih


__ADS_2