Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: M E N I K A H


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Detik demi detik, Sisi lalui dengan debar-debar tak menentu, karena hari ini ia akan menikah, sementara usianya baru saja memasuki 18 tahun, tak pernah terbayangkan olehnya akan menikah di usia semuda itu. Tapi ini lebih baik menurutnya sebab ia tak mau tinggal sendirian lagi.


"Non Sisi, kemarilah!"


Para pelayan di rumah Arfi, membantu semua hal yang di lakukan Sisi hari ini. Mulai dari merias wajah hingga mengganti baju. Bahkan, para pelayan itu, menggeleng pelan sebab anak dari bos mereka, akan menikahi gadis kecil bahkan baru saja lulus SMA.


"Bi, aku gugup!"


Keluhnya pada salah satu pelayan, yang usianya tak lagi muda.


"Gugup kenapa, non?"


"A-aku, tidak memberi apapun di hari pernikahanku ini. Semua hal dan urusan pernikahan, Kak Arfi dan kedua orang tuanya yang menyiapkan, sementara aku hanya diam."


"Mereka menerima non Sisi apa adanya, itu sebab nya, Mas Arfi menyiapkan semua urusan, tanpa menuntut apapun dari non Sisi," jelas si bibi tegas.


"Benarkah?"


"Iya.. karena sudah dari lama, bu Airin dan pak Alvian, meminta Mas Arfi untuk segera menikah. Jadi saat anaknya menemukan tambatan hati dan memutuskan untuk menikah, mereka sebahagia itu. Tugas non Sisi nanti hanya patuh dengan peraturan mas Arfi, karena setahu saya, mas Arfi orang yang perfeksionis dan tidak mau ada kecacatan sedikit saja, dalam hal apapun."


"Haah, lantas kenapa kak Arfi memilihku, untuk menjadi istri? Sementara aku sadar terlalu banyak kekurangan," Sisi menggeleng pelan dan tak percaya diri.


"Non... Kalau Mas Arfi sudah memutuskan untuk memilih non Sisi, itu artinya anda orang yang sempurna dan bisa melengkapi kekurangan yang mas Arfi punya."


Ucapan palayan baik hati itu membuat Sisi bisa bernafas lega. Dengan makeup yang mempoles wajah, membuat si cantik yang tak pernah berdandan, kali ini tampak berbeda. Tentu saja sempurna dan mempesona.


Ck...


Waktu untuk saling bertatap muka pun tiba. Arfi yang duduk di depan, dengan senyum yang terus mengembang, sudah tak sabar ingin melihat Sisi menjadi pengantin nya hari ini.


"Si-sisi,"


Gadis itu bak peri kecil, dengan gaun putih bertubuh mungil, senyum menawan yang membuat Arfi kian tertawan. Dan membuat siapapun berdecak kagum saat Sisi berjalan pelan lalu duduk di samping calon suaminya.


"Bagaimana, kedua mempelai? Apakah sudah siap?"


"Siap!" Jawab Arfi bersemangat.


.

__ADS_1


.


.


Dan... 15 menit kemudian, Sisi dan Arfi sudah SAH menjadi sepasang suami istri. Pernikahan sederhana yang hanya di hadiri orang terdekat Arfi saja, berlangsung dengan sempurna.


"Selamat abang. Sekarang sudah menjadi suami dari gadis secantik, Sisi!" Arfa menepuk pundak saudara kembar nya. Dan seketika Arfi melirik ke arah Nayla, entah apa yang di harapkan Arfi, saat Arfa memuji kecantikan Sisi.


Ya... memancing rasa cemburu dari wanita yang pernah sangat dikaguminya itu. Arfi seolah ingin berbuat Nayla menyesal, karena telah mengabaikan perasaannya. Tapi nyatanya, Nayla bersikap biasa saja, saat Arfa memuji kecantikan Sisi, tak ada rasa cemburu sedikitpun.


"Selamat ya Sisi, kamu sudah SAH menjadi seorang istri. Dan kamu tidak akan pernah sendirian lagi, percayalah! Arfi akan menjagamu sebaik mungkin." tukas Nayla seraya menatap wajah Arfi penuh arti. Nayla seolah paham, jika saudara kembar suaminya itu, masih menyimpan rasa untuk nya.


Arfi hanya membuang napas kasar, mendengar apa yang di ucapkan Nayla. Ia menarik tangan Sisi dan membawa gadis yang sudah menjadi istrinya itu, menemui si mami dan si papi.


"Sisi, mulai hari ini kami berdua sudah menjadi orang tuamu. Kamu tidak boleh memanggil kami om dan tante lagi. Oke!" Seru, Airin tulus.


Sisi mengangguk haru, ia mendekati kedua orang tua Arfi, lalu mengec^p tangan si mami dan si papi tulus. Bagi Alvian dan Nayla menantu tetaplah anak, dan akan memperlakukan layaknya anak mereka sendiri.


"Kamu sudah dewasa sementara istrimu masih akan beranjak dewasa, kamu harus bisa membimbing Sisi menjadi lebih baik lagi!" seru si papi menasehati anaknya.


"Siap, pi." Arfi bersemangat.


Dan, dari kursi dimana Arfa dan Nayla duduk, keduanya turut bahagia, atas pernikahan Arfi dan Sisi.


Kedua pasangan yang baru yang baru saja memiliki momongan itu, sebentar lagi akan terbang ke Jerman, karena untuk sementara mereka akan tinggal disana, bersama kedua orang tua Nayla.


***


Malam pun menyapa. Kini Arfi dan Sisi berada di dalam kamar. Si cantik sibuk dengan ponselnya sementara Arfi sibuk menonton sepak bola, keduanya tak saling berbicara layaknya pasangan pengantin baru yang seharusnya.


"Kak...!'


"Heeem,"


"Pinjam HP dong! Karena handponeku tiba-tiba mati. Aku boleh ya, login akun facebook'ku di ponsel kakak?"


"Ya.. boleh." Hanya itu yang keluar dari bibir Arfi namun sorot matanya tetap fokus menatap layar televisi. Sepertinya sepak bola lebih menarik daripada menatap sang istri. Sementara Sisi hanya mendengus pelan, melihat sikap dingin Arfi padanya.


DEG!


Seketika Sisi merasakan sesak menghujam perasaannya, saat menatap layar ponsel milik sang suami. Memang di layar paling depan terpampang foto Sisi, tapi di layar utama ponsel, ada foto Nayla.

__ADS_1


"Bisa gak buka kode ponselku?"


"Bi-bisa, kak. Angka 4 kan?" gugupnya bercampur gemetar. Sisi merasa kecewa.


Sejenak si cantik hanya berdiam, ia urung menggunakan ponsel milik sang suami. Sisi memilih untuk merebahkan tubuh saja.


"Kok gak jadi?" Arfi penasaran.


"Ti-tidak, aku mengantuk, jadi aku tidur dulu ya!" ucapnya pelan.


Arfi tak bergeming, ada yang aneh dari sikap Sisi baru saja, dan secepat kilat ia langsung meraih ponsel pintar miliknya. Dan.. seperti yang ia duga, Arfi lupa mengganti foto Nayla di layar utama dan Sisi pasti melihatnya, hal itulah yang membuat si cantik urung meminjam.


"Hem.. sudahlah, jangan pura-pura tidur! Kamu pasti masih bangun' kan?" Arfi bertanya lalu menarik selimut yang menutupi tubuh mungil Sisi.


"I-iya. Aku memang belum tidur, tapi mataku sudah mengantuk berat." kilah Sisi mencari alasan.


"Tidak boleh tidur!"


"Ke-kenapa?' Sisi gemetar dan dadanya berdebar tak jelas.


"Layani aku!"


''Haaah?"


"Tenang! Aku akan membayarmu setiap kali kamu memuaskanku!"


Bagai di sambar petir di malam buta. Ucapan Arfi baru saja sungguh menyayat dada. Ia tak menjawab dan memilih untuk diam saja. Baru semalam ia menjadi istri dari Arfi, tapi Sisi sudah berkali-kali merasakan sakit hati.


"Kamu menikah denganku. GRATIS! Dan kamu mendapatkan semua fasilitas mewah dariku. Jadi tugasmu, harus melayaniku kapanpun aku mau!"


"Kak- aku istrimu, kenapa kamu berkata seperti itu, seolah aku wanita murahan. Kakak menikahiku, berjanji untuk menjaga dan tidak menyakitiku. Tapi malam ini, kakak berucap sungguh menyakiti hati." tegas Sisi, menolak semua perkataan Arfi.


"Kamu berani membantahku? Haaah!"


"A-aku tidak membantah." Sisi ketakutan; karena Arfi menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan dalam sekejab, pria itu sudah menguasai tubuh Sisi. Si cantik tak bergeming ia diam saja, membiarkan pria yang sangat ia cintai melakukan apapun, meski Sisi sadar Arfi hanya membuatnya tersiksa.


.


.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH


__ADS_2