
☡Selamat Membaca☡
Arfa kini memang memilih untuk lebih memiliki waktu di rumah dan menemani Nayla, istrinya itu lebih mudah sedih selama masih hamil. Bahkan ngidam yang aneh-aneh.
"Mau apa lagi, Nay?" tanyanya seraya fokus menatap layar laptop.
"Mau kucing 6 warna, cowok dan badanya harus besar,"
"Di kira pelangi 6 warna. Mana ada Nay," Arfa menggeleng.
"Cari dong yank, sampai dapat!"
"Warna apa saja? Kan ada 6 tuh?"
"Oren, hitam, putih, abu-abu, silver dan kuning mas," jelas Nayla bersemangat.
"Ya sudah, besok aku carikan ya,"
Nayla tersenyum riang seraya membayangkan betapa lucunya kucing warna-warni itu, Saking ngidamnya, Nayla mimpi setiap malam, bermain bersama kucing itu.
"Kamu istirahat dulu! Aku keluar sebentar,"
Si cantik mengangguk ia berjalan menuju kamarnya sementara Arfa berjalan ke luar rumah, untuk bertemu dengan beberapa polisi yang menjaga rumahnya mulai tadi pagi.
"Gimana pak? Apa ada tanda-tanda yang mencurigakan?"
"Sejauh ini sih belum mas," jawab polisi itu tegas.
Alasan Arfa, meminta pihak kepolisian berjaga karena beberapa hari ini, ia melihat ada yang aneh di sekitar rumahnya. Bahkan beberapa waktu lalu Arfa mendapati jedela belakang rumahnya sudah terbuka dan ada darah yang bercecer di sekitarnya.
"Kami akan bertugas dengan baik;'
"Baik, terima kasih,"
Arfa berjalan dan memilih duduk di atas rumah, lagi ia mendapatkan sebuah gambar dengan kepala pecah dan tubuh terbelah, yang terletak di atas meja.
"Astaga,"
Desusnya kesal, Arfa langsung merobek gambar laknat itu, ia pun menggeleng pelan, karena sedikit bingung.
"Lantas, kapan dia meletakan di sini? Polisikan berjaga sudah dari tadi pagi, apa mungkin malam ya?" batin Arfa lirih, dia memilih untuk tidak ambil pusing dulu.
Bukan hanya teror aneh di rumahnya, Arfa juga merasakan hal yang sama saat berada di kampus. Hal itu membuat Arfa yakin jika ialah yang di intai orang misterius itu.
__ADS_1
"Aku yakin sekali, ini pasti ulah Dimas,"
Tentu saja Arfa akan berpikir demi kian toh nyatanya Dimaslah satu-satunya orang yang membencinya setengah mati karena telah merebut Nayla.
"Apa kau yakin jika Dimaslah pelakunya?" Arfi memastikan.
"Iya aku yakin sekali karena dialah orang yang memiliki dendam paling dalam kepadaku," jelas Arfa lagi.
Arfi diam sejenak, i menela'ah susah payah penjelasan sang adiknya baru saja. Arfa yang menghubunginya melalui sambungan telepon meminta Arfi agar menambah anggota kepolisian untuk menjaga rumahnya.
"Temanmu kan banyak. Lalu... kenapa kamu tidak meminta bantuan teman teman saja?!"
"Benar,"
Arfa hampir saja lupa Jika dia memiliki teman-teman yang bisa membantunya untuk menjaga rumah dan secepat kilat Ia mematikan telepon lalu berganti menghubungi Afiz.
"Bisa bos, lantas kapan kami mulai bekerja?" Afiz bertanya.
"Siang ini kemarilah dan ajak semua teman-teman tanpa ada yang tersisa satu pun, ajak mereka semua menginap dan tinggal di rumahku!"
"Baik bos,"
Afiz bersemangat, Ia pun memberitahu kepada teman-temannya perihal rencana yang di printahkan oleh Arfa dan mereka pun menyambutnya dengan sorak bahagia karena bisa bertemu Arfa setiap hari dan membalas Budi kebaikan pria muda itu.
Ajak Afiz kepada rekan sekaligus temannya, mereka tersenyum penuh makna karena sebentar lagi akan tinggal di rumah mewah milik Arfa.
***
Di lain tempat, Arfi baru saja pulang dari tugas hari ini, polisi tampan itu membuang nafas berat karena merasa cukup lelah, pekerjaan hari ini sungguh menguras tenaga, terutama mengurus kasus yang menyebabkan meninggalnya kedua orang tua Sisi dan ternyata pelakunya adalah orang kepercayaan mama dan papa Sisi sendiri.
"Aku harus memberi tahu Sisi, tapi dia harus bertemu dengan pelakunya dulu," ucap arti sendu, dari kasus ini ia sadar, jika orang yang yang dianggap baik belum tentu benar-benar baik, buktinya... orang yang selama ini di percayai orang tua Sisi, justru menjadi penghianat terbesar.
"Haaah, kamu serius? Kenapa tidak membawa aku bertemu dengannya malam ini saja?!" pinta Sisi penuh harap.
"Besok saja, Si!" Arfi meyakinkan Ia pun mematikan sambungan telepon, tapi sebelumnya Arfi meminta Sisi untuk beristirahat, karena seperti yang diketahuim Gadis itu sedang tidak baik-baik saja kondisi kesehatannya memburuk perihal asmanya yang secara tiba-tiba kembali kambuh.
***
Keesokan harinya seperti biasa, Arfi selalu suka pergi buru-buru dan tergesa-gesa. Tapi kali ini Iya tak bisa lolos begitu saja sebab sang Papi menghalangi pintu dan memaksa Arfi agar sarapan terlebih dahulu.
"Aku sudah telat, pi, jangan halangi jalanku nanti aku bisa makan di kantor saja!" tolak Arfi.
Tapi Alvian tak memberi izin, ia tetap memaksa Arfi agar ikut sarapan pagi ini, bersama mereka dan akhirnya polisi muda itu pun mengalah.
__ADS_1
"Makan yang banyak! Mami sudah memasakkan makanan kesukaanmu,"
"Siap, mi," tapi sorot matanya manatap fokus ke layar ponsel, Arfi sedang melakukan obrolan melalui chatting bersama Sisi.
"Fa," sini si papi yang berbicara.
"Ya, pi," jawabnya. Tapi tetap saja sorot matanya masih fokus pada layar ponsel. Sepertinya terjadi sesuatu terhadap Sisi.
"Boleh papi bertanya?"
"Silahkan!"
"Kemarin, papi masuk ke dalam kamarmu dan menemui foto gadis bernama Sisi itu. Tapi dibalik foto tersebut, ada tulisan Pacar Pura-Pura, lalu... Apakah benar jika gadis itu, bukan pacarmu yang sesungguhnya?"
Bersamaan dengan pertanyaan yang si papi ajukan, saat itu.. Sisi juga memberi tahukan bahwa kini nafasnya kembali sesak. Yang akhirnya membuat Arfi tak terlalu fokus akan pertanyaan sama papi tadi.
"Mau kemana, Fi?' si papi menarik tangan anaknya karena, Arfi beranjak dari tempat ia duduk dan bersiap untuk segera pergi.
"Aku buru-buru, pi."
"Tapi kamu belum menjawab pertanyaan Papi. Apakah benar, Gadis itu hanya Pacar pura-puramu?"
Karena panik Arfi langsung menjawab IYA dah Arfi pun langsung bergegas pergi, yang efeknya jawaban IYA yang di lontarkan Arfi membuat keduanya kecewa. Padahal si mami dan si papi sudah sangat berharap jika Arfi benar-benar memiliki tambatan hati.
"Bagaiman ini Pi? Apakah anakmu belum move on dari Nayla?"
"Entahlah," Si Papi menggeleng cepat karena ia juga tidak tahu, apakah anaknya benar-benar belum move on dari Nayla, wanita yang sudah menjadi istri dari saudara kembar Arfi sendiri.
Hingga keduanya pun memutuskan, untuk mencarikan Arfi tambatan hati.. dan berencana menjodohkan anaknya dengan anak dari sahabatnya, yang kebetulan sudah sama-sama dewasa dan sama-sama sudah bekerja.
"Papi yakin? Jika Arfi akan menerimanya?"
"Kita coba saja dulu, mi... nanti kalau Arfi tidak mau, ya sudah dan kita tidak boleh memaksa. Tapi mencoba dulu tidak ada salahnya, kan?"
"Benar," jawab si mami pula.
Di usia 23 tahun Arfi belum juga memiliki kekasih, bahkan... tak sekalipun pria tampan itu membawa wanita bermain ke rumahnya walau sekedar memperkenalkan saja kepada kedua orang tuanya. Hal itulah yang membuat si mami juga si Papi merencanakan, adanya perjodohan antara Arfi dan anak sahabatnya.
.
.
Terima Kasih.
__ADS_1