
šSelamat Membacaš
Malam ini, rembulan sedang menunjukan kejelitaanya, di iringi awan-awan putih di sampingnya, persis bak malaikat tak bersayap. Bintang-bintang pun ikut bersinar terang, hingga menambahkan, betapa menakjubkanya ciptaan Tuhan.
Airin duduk di lantaran teras rumah, seraya memijat-mijat kakinya yang terasa cukup lelah. Setelah hampir 5 hari berada di rumah sakit, untuk menemani Alvian yang terbaring lemah, karena luka tusukan yang Dini lakukan beberapa waktu yang lalu. Kini Airin mampu bernafas lega, sebab sang suami sudah di izinkan pulang ke rumah, setelah menjalani pengobatan yang cukup serius.
"Hmm,"
Suara itu tedengar jelas, Airin memastikan, siapa yang baru saja datang.
"Kak Rio,"
Wanita cantik itu menggeleng heran, sebab hari sudah sangat malam, namun Rio justru datang bertamu kerumahnya.
"Mana suamimu?"
"Ada, di kamar,"
"Bagaimana keadaanya?"
"Menurut dokter keadaanya sudah lebih baik,'
"Syukurlah"
Rio menarik nafas lega, namun Airin menatap sang kakak sedikit curiga.
"Ada perlu apa, kakak datang ke rumah malam-malam begini?'
"Memang ini jam berapa sih?" pria itu justru balik bertanya.
"Hampir jam 11 malam, tapi kakak justru berada di luar rumah,"
"Kakak merindukanmu, Rin.. lagi pula seharian ini, kakak sibuk bekerja di kantor. tapi pikiran kakak, justru selalu terbayang-bayang wajahmu," ujar Rio, seketika membuat Airin terkesiap tak percaya.
"Ma_makasud kakak apa?"
"Apakah salah, seorang kakak merindukan adiknya?"
"Ti_tidak sih, tapi...,"
Ucapan Airin tertahan, ia seperti tak tega untuk mengatakan hal yang sebenarnya ingin sekali ia utarakan.
"Hem, baiklah, sepertinya kau sangat lelah, istrirahatlah! Dan kakak akan segera pulang," seru Rio pada adiknya.
"Okeh,"
Airin pun bersemangat, tanpa pikir panjang lagi ia segera beranjak dari duduknya lalu melangkah pelan untuk masuk ke dalam rumah.
"Rin," panggil Rio sesaat sebelum Airin masuk ke dalam rumah.
"Iya... ada apa, kak?"
__ADS_1
"Ini," Rio menyodorkan kotak berisi coklat dan permen-permen kecil berbentuk hati. "Kakak sengaja, membelikanya untukmu tadi, dan ini, ada bunga cantik. Secantik dirimu," tambah Rio lagi seraya kembali memberikan sesuatu kepada Airin.
Ck!
Airin kembali menggeleng heran, memikirkan sikap sang kakak yang 100 persen berubah. Gerak gerik dan cara Rio, bukan seperti yang Airin kenal selama ini.
"Aneh banget, sih!" gumamnya lirih.
Airin segera berjalan, untuk menuju kamar. ia perlahan dan sangat pelan-pelan, membuka pintu agar tak bersuara, sebab setau Airin, suaminya sudah tertidur. Si cantik tak mau mengganggu waktu istirahat Alvian.
Daaan.... Bruuugh!
Alvian melempar sebuah bantal, tepat di depan wajah Airin, hal itu sontak membuat si cantik sangat terkejut
"Darimana kau? Kenapa baru masuk kamar?"
Sejenak Airin terdiam, ia melihat dengan jelas, raut wajah marah Alvian, hingga diam menjadi pilihan.
"Apa yang kau bawa? Pasti dari pria itu,"
"Pria itu. Siapa, Al? Apa kau kira, aku bermain-main di belakangmu? Ini coklat dan kak Rio yang membelikanya untukku,"
"Ohh Rio, sebenarnya aku sedikit curiga, dia kakakmu atau pacarmu?"
"Lho.. kenapa tiba-tiba, kamu bertanya seperti itu?"
Malam ini, Airin dan Alvlian sedang melakukan perdebatan yang cukup serius. Dan yang menjadi pembahasan mereka adalah "RIO". Karena pria yang Airin sebut sebagai kakaknya selama ini, justru menunjukan sikap berbeda, Rio memperlakukan Airin bukan layaknya adik, tapi memperhatikan layaknya seorang laki-laki kepada gadis yang dia suka.
"Jangan gila, Al! Mana mungkin kak Rio jatuh cinta padaku, karena aku ini adiknya, seorang kakak, di larang keras jatuh cinta pada adiknya sendiri." jelas Airin yang sedikit tak mengerti, kenapa, tiba-tiba Alvian menjadi pecemburu begitu.
"Entahlah... karena aku hanya wanita biasa, yang mempunyai pikiran sangatlah sederhana, bukan orang sepertimu, yang selalu berpikir terlampau jauh,"
"Maksudmu?"
"Hanya dari sikap dan gerak-gerik saja, kau bisa tau dan paham, apa maksud dan tujuan orang sebenarnya, tanpa harus orang lain jelaskan, kau akan tahu sesuatu tanpa di beritahu." Tegas Airin lalu segera membawa langkah kakinya untuk keluar dari kamar.
Sungguh, Airin tahu jika saat ini Alvian tengah cemburu. Tapi sekali lagi, apa yang di takutkan oleh Alvian, nyatanya di rasa oleh Airin juga.
"Jika memang benar, kak Rio menyukaiku, aku rasa, dia pasti sedang tidak waras," ucap Airin dalam hati.
Ssssssttt...
Airin menjatuhkan tubuhnya di sofa, ia coba untuk memejamkan mata. Malam ini, ia berniat untuk tidur di luar kamar saja.
**
"Rin! Ayo bangun, hari sudah hampir siang!"
Tania coba membangunkan Airin, karena hari sudah menunjukan pukul 8 pagi, namun Airin masih saja memejamkan mata.
"Mah,"
__ADS_1
Sapanya, saat pertama kali membuka mata, Airin melihat Tania kini duduk tepat di depanya.
"Kenapa kau tidur disini, Rin?"
"Oh.. sepertinya aku ketiduran mah, jadi lupa masuk ke dalam kamar," jawabnya berbohong.
Karena, sebebarnya Airin sengaja memilih untuk tidur di luar, demi menghindari pertengkaran dengan Alvian.
"Apapun masalahnya, hadapi! Jangan di hindari, karena menghindar hanya membuang-buang waktu saja, masalah tak selesai, suasana semakin keruh. Kau dan Alvian sudah menikah, apa salahnya berbicara dari hati kehati-hati, jangan bersikap seperti anak kecil, bicarakan semuanya, dengan tenang!"
Nasehat si mama, yang sebenarnya tau, jika Alvian dan Airin tengah di rundung pertengkaran..
Dengan menghela nafas pelan, Airin beranjak dari sofa, lalu berjalan pelan masuk ke dalam kamar. Airin mendapati sang suami tengah duduk seraya memandangi kearah luar jendela.
"Al," panggilnya lembut.
"Hmmm," hanya itu yang keluar dari bibir Alvian.
"Maaf, jika aku tak memahami dirimu!"
"Kenapa, minta maaf? Bukankah aku memang egois?"
"Huuuf, masih marah ya?"
"Iya, marah. Tapi.. aku marah pada diriku sendiri, yang mempunyai pikiran sepicik ini, bagaimana bisa? Aku cemburu pada kakakmu sendiri," Alvian menyesali pemikiranya.
Walau sebenarnya Airin sendiri, juga memiliki ketakutan yang sama, karena mamang benar adanya, Rio memperhatikan Airin bukan lagi layaknya saudara.
"Aku harus mencari, tahu... apa maksud dari sikap kak Rio itu,"
Perasaan sadar diri, pada diri Alvian dan Airin, membuat pertengkaran di antara keduanya pun seketia mereda. Kini, mereka sudah saling sapa seperti hari-hari sebelumnya.
"Al... aku ke kamar mandi sebentar," pamit Airin pada Alvian.
Si tampan mengangguk, dan Airin segera berlalu dari hadapanya.
Drrrrt... Drrrrtt.. Drrrrt...,
Ponsel milik Airin berdering, tanpa pikir panjang, Alvian segera meraih ponsel milik sang istri, yang terletak di atas meja.
"Rin, temui kakak di taman, ada kejutan dan hal penting yang mau kakak tunjukan!!"
Begitulah isi pesan WhatsApp yang masuk ke ponsel milik Airin, dan tentu saja, itu pesan dari Rio.
"Gila.... bagaimana aku tidak curiga!!" cetus Alvian kesal dengan semua kecurigaan yang semakin menggila.
.
.
.
__ADS_1
NAH.. LHO, BAKAL PERANG KAYAKNYA NIHš
ā¤š¤Terima Kasih Buat Semuaš¤ā¤