Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Si Licik Yang Baik Hati


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Selamat Membaca☡


Setibanya di rumah Nayla, keduanya pun langsung turun dari mobil dan segera masuk. Dan di dalam sana, sudah ada kedua orang tua Nayla, yang menunggu anaknya dengan sangat cemas.


"Nay, mama takut kamu akan pergi dari rumah lagi," ucap si mama sedih.


"Tidak, mah, lagi pula Arfa akan tetap menikahiku," jawabnya, lalu meraih tangan si tampan, pria itu sebenarnya tak nyaman, jika bertingkah sok mesra di hadapan kedua orang tua Nayla.


Tito dan sang istri saling menatap, ia berharap Arfa bersungguh-sungguh mencintai putrinya.


"Suruhlah, kedua orang tuamu datang! Dan aku akan menikahan kalian," titah Tito yang di sambut senyum dari bibir Arfa.


"Baik, besok aku akan mengajak mereka, datang ke sini. Tapi ada satu hal, yang harus di tepati Nayla setelah, aku dan dia menikah,"


Ucapan Arfa, membuat tatapan Nayla menajam, ia sendiri belum tau, syarat apa yang di inginkan Arfa darinya.


"Apa? Katakan!" seru Tito tegas.


"Nayla harus ikut denganku, tinggal bersamaku, dimanapun tempat tinggal kami nanti,"


"Haaah! Apa mau sebenarnya?" pria tua itu geram, akan syarat yang Arfa minta.


"Apa salahnya? Setauku, setiap pasangan yang menikah berhak untuk hidup mandiri,"


"Tapi___," ucapan Tito tertahan, sebab ia sadar. Percuma berdebat dengan Arfa, karena sesalah apapun dia, Nayla pasti akan membela.


"Tapi, kamu tidak berniat memisahkan, kami dengan Nayla, kan?" kini si mama yang bertanya.


"Ya... itu semua tergantung pikiran anda terhadap saya. Karena, kalau orang sudah tidak suka, sebaik apapun saya akan berusaha, akan tetap buruk di mata anda dan suami anda!" ujar Arfa seraya menatap sinis kedua orang tua Nayla. "Yang perlu kalian lakukan, menerima kenyataan yang ada, jangan memiliki sifat berburuk sangka, dan jadilah orang baik! Karena, aku sangat yakin, jika anda dan anda orang baik, maka kalian akan melihat sikap positifku, bukan memandangku dengan pikiran negatif kalian, intinya menerimaku dengan sungguh-sungguh, bukan kepura-puraan," ungkap Arfa tanpa jeda, ia seolah menasehati calon mertuanya.


Nayla tersenyum, ia menyikapi ucapan Arfa dengan sangat dewasa, tapi tidak dengan Tito, karena, ia merasa Arfa terlalu banyak bicara. Namun ia tetap berusaha untuk bersikap baik di hadapan anak muda itu, dan terpaksa menerima Arfa untuk menjadi menantunya.


"Aku akan ikut, kemanapun kamu membawaku!" Nayla berucap tulus.


Dan Arfa membalas ucapan Nayla dengan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


"Cincin?"


Pipi Nayla merah merona, kala melihat Arfa membawa cincin berlian yang begitu indah untuknya, sesegera mungkin Arfa pun memakaikan cincin itu kejari manis calon istrinya.


"Terima kasih, Fa!"


Arfa tersenyum, ia pun meminta Nayla untuk membuatkan jus buah untuknya. Karena setelah berbicara panjang lebat, membuat Arfa merasa lelah.

__ADS_1


"Baik, aku ke belakang sebentar ya!"


Si cantik melangkah bahagia, menuju dapur. Dan Arfa tersenyum simpul sesaat Nayla sudah hilang dari pandanganya.


"Ini___!"


Arfa mengeluarkan sesuatu dari dalam jacketnya dan ia berikan kepada Tito.


"Apa ini?" pria tua itu penasaran.


"Buka saja!"


"Uang,"


Kedua orang tua Nayla terkejut saat melihat apa yang Arfa beri. Tito tak mengerti apa maksud dari sikap Arfa ini.


"Aku tau, perusahaan anda sedang dalam kehancuran, dan aku juga tau, jika anda butuh suntikan dana. Uang itu, hanya sedikit yang ku beri, di dalam sana, ada cek senilai 2 Milyar jumlahnya, dan itu semua boleh anda ambil. Tapi_____," Arfa mengedipkan matanya.


"Tapi, apa?" Tito bersemangat.


"Nayla seutuhnya menjadi milikku, dan setelah menikah nanti, aku yang mengatur hidupnya. Kapan dia boleh keluar dan kapan dia harus di rumah saja. Mau aku melakukan apa pun padanya, kalian tak punya hak untuk marah!" ujar Arfa dengan semua kelicikanya.


Sejenak Tito terdiam, tapi ia memang sangat butuh uang, untuk kembali membangun perusahaanya, terlebih ia sudah lengser dari jabatanya sebagai orang no satu di kota ini, membuat ia tak banyak memiliki pemasukan lagi.


"Ba_baik, aku setujuh,"


"Jangan sakiti anakku!" ucap wanita yang tak lain mama dari Nayla.


"Tidak, paling aku hanya akan membuat Nayla tidur di kamar mandi, dan menjadikan dia pembantuku seumur hidup," jawabnya congkak ia menganggkat kepala, dengan binar kemenangan.


"Haah! Ambil saja uangmu!" Tito melempar amplop itu ke wajah Arfa.


"Yakin? Kalua begitu, akan ku sobek cek ini," tanya Arfa memastikan.


Tak ada pilihan, Tito dan istrinya kini sangat membutuhkan dana banyak, untuk perusahan dan pengobatan Tito sendiri, yang kini hanya mampu duduk di kursi roda. Sementara Arfa berdecak bahagia, lalu mendudukan tubuhnya di sofa, dan menganggap kedua orang tua Nayla tidak ada di sana.


"Fa... ini!'


Nayla yang baru saja tiba dari ruang belakang, segera memberikan jus buah, buatanya kepada Arfa.


"Terima kasih, Nay!" ujarnya lembut


Nayla duduk di samping Arfa dan meminta kedua orang tuanya untuk ikut duduk bersama mereka. Tapi sang papa dan sang mama, memilih untuk pergi dari hadapan mereka.


Kini, tinggal Arfa dan Nayla saja, yang berada di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Nay,"


"Ya,"


"Bosok, kamu akan menjadi istriku. Apa kamu sudah siap?"


Nayla mengangguk, ia menatap dalam-dalam wajah Arfa, dan spontan meraih tangan pria itu lalu menciumnya lembut


"Siap...." Jawab si cantik yakin.


Sorot mata Arfa mulai berkaca-kaca, ia memandangi Nayla dari atas sampai kebawah. Wanita yang pernah ia kejar mati-matian sebentar lagi, akan "SAH" menjadi istri.


"Mana tega, aku membuatnya menderita. Aku memang membenci kedua orang tuanya, tapi aku tidak bisa membenci Nayla, karena nyatanya... aku benar-benar jatuh cinta," lirih Arfa di dalam hatinya sorot matanya masih menatap wajah cantik Nayla.


Dan setelah cukup lama, Arfa berada di rumah Nayla, ia pun berpamitan untuk pulang.


"Siap-siap ya! Besok kita akan menikah, dan mengucapkan perjanjian dengan Tuhan, bahwa akan saling mencintai, selamanya." Nayla mengingatkan.


Si tampan mengangguk paham, ia meng*c*up kening Nayla sebelum pergi.


"Nay, besok-besok, kalau mau buat jus buah, pakai gula ya, jangan pakai garam!" bisik si tampan pelan di telinga Nayla setelah itu ia langsung melangkah keluar dari rumah.


Sssttt... Ck...


Nayla terperanjat, mendengar bisikan pria itu, secepat kilat, ia mengambil gelas jus yang ia buatkan untuk Arfa tadi. Jus di dalam gelas itu, sudah habis dan tersisa hanya satu tetes saja.


Haap!


Si cantik, mencoba rasa, jus buatanya sendiri. Dan secepat kilat ia menyemburkan, karena rasanya benar-benar di luar dugaan.


"Astaga, asin_______," ia langsung berlari ke ruang belakang untuk mencari air dingin di dalam kulkas.


Ck


"Rasanya, luar biasa asin. Tapi kenapa jus itu Arfa minum semua tanpa sisa. Haaah... kira-kira, apa kabar dengan perutnya?" batinya lagi.


Ya... begitulah cara Arfa menghargai pasanganya, ia tak mau membuat Nayla kecewa, jika jus buatanya tak di minum. Dari sini Nayla paham, jika Arfa akan melakukan apapun demi dirinya.


.


.


.


.

__ADS_1


Terima Kasih


__ADS_2