
šSelamat Membacaš
Pria muda itu, menghentikan laju mobilnya tepat di halaman kantor polisi. Seperti yang di agendakan sebelumnya, Alvian akan menemui kepala kepolisian, untuk membicarkan, prihal Alvian yang di minta untuk kembali bertugas.
"Kamu aja masuk dulu, nanti aku nyusul, karena aku mau ke mini market, untuk membeli sesuatu!" ucap Airin pada suaminya.
Alvian mengangguk ia segera turun lalu masuk ke dalam kantor, sementara Airin pergi untuk membeli sesuatu.
"Bagaimana, Al?"
"Maaf pak, saya belum bisa kembali bertugas,"
"Kenapa?"
"Karena istriku, belum memberi izin, untuk aku kembali bertugas di kepolisian,"
Alvian pun menceritakan alasanya, belum bisa kembali, kepada Egi, seorang pria yang menjadi pemimpin di kepolisian saat ini. Pria paruh baya itu, hanya mampu menatap sendu, meski ia sangat berharap Alvian kembali, tapi Egi tetap harus menerima keputusan pria muda yang sangat ia kagumi tersebut.
Pembicaraan dan ke sepakatan pun sudah di tentukan, pertemun hari itu selesai, meski hasilnya tak sesuai harapan pihak kepolisian. Karena nyatanya Alvian belum bisa kembali.
Setelah itu Alvian melepaskan rasa rindu, kepada para rekan-rekanya yang dulu selalu bertemu denganya setiap hari.
"Huuh, Al... kau semakin tampan rupanya,"
"Iyalah," Alvian tersenyum.
"Wajar dong, kan... sekarang, sahabat kita ini, sudah ada yang merawat siang dan malam," jelas Toni lalu menepuk pelan pundak Alvian.
"Ya dong, mangakanya kawain," canda si tampan.
"Hahahahaha!"
Mereka tertawa lepas, entah itu lucu atau tidak, yang pasti, pertemuan hari ini, membuat Alvian sangat bahagia.
"Hei," sapa Airin malu-malu, saat akan menemui suaminya, terlebih lagi, saat ini Alvian tengah berkumpul bersama rekan-rekan kepolisian.
"Hai, cantik," Toni menggoda istri sahabatnya.
"Ihh, apaan, sin... Bini gue, di larang tebar pesona!" balas Alvian bercanda juga.
Tatapan rekan-rekan Alvian, seketika membuat Airin sedikit canggung, pipinya merah merona, karena sahabat-sahabat sang suami, memuji-muji kecantikanya.
"Ayo, Rin duduk sini!"
"Ah, terima kasih," jawab Airin atas apa yang di titahkan Toni.
"Kalau kalian masih sibuk, aku tunggu di mobil saja ya,"
Airin segera melangkah, namun sang suami memanggil dan mengehentikan laju kaki si cantik.
"Duduk dulu, Rin.. kenalan sama mereka. Temen-temenku, mau berkenalan juga denganmu,"
"Ta_tapi," si cantik benar-benar gugup.
"Udah, gapapa, bentar aja," Alvian meyakinkan.
Airin pun menuruti apa kata sang suami, ia segera memperkenalkan diri kepada sahabat-sahabat Alvian itu, si cantik langsung di buat nyaman akan keramahan mereka.
"Ya udah, kalau begitu kami pemisi, besok-besok kita kumpul lagi. Kalau kalian ada waktu, sempatakan berkunjung ke rumahku!" seru Alvian untuk rekanya di kepolisian.
Mereka tersenyum simpul, namun ada salah satu di antaranya, menggoda Airin dan Alvian.
"Heeh, Al... masa sudah menikah, manggilnya nama doang. Pake mama_papa, atau pipi_mimi, gitu?!"
"Heeeh," Alvian menggaruk-garuk kepalanya.
"Iya Al, kata orang tuaku, panggilan sayang setelah menikah itu perlu, untuk menambah keromantisan dan keharmonisan," tambah Toni pula.
__ADS_1
Airin yang mendengar seruan tersebut, langsung melebarkan senyum di wajahnya, tanpa permisi ia segera melangkah pergi dan meninggalkan keberadaan mereka. Sementara si tampan, menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, ia pun langsung pergi, mengikuti langkah sang istri.
***
Keduanya sudah berada di jalan, untuk menuju pulang ke rumah. Airin dan Alvian memilih untuk diam saja, sebab ucapan Toni dan rekan-rekanya tadi sungguh mengusik pikiran Alvian.
"Rin," panggil si tampan pelan ia berusaha membuka pembicaraan.
"Ya," Airin mulai mencium bau-bau aneh dari nada panggilan sang suami. "Ada apa?" tanyanya lagi.
"Ka_kamu, gak mau panggil aku, papa atau ayah, atau ayank, atau apalah gitu?" tanyanya malu-malu.
"Ehh, memangnya kamu mau, ku panggil gimana, maksudnya dengan sebutan apa?"
"Te_terserah kamu, sih,"
"Papa,"
"Gak seru, kok aku geli ya dengernya,"
"Ayah,"
"Hmmm, kesanya formal banget, Rin,"
"Sayang,"
"Hadooh, kok kayak jadi anak alay. Sayang, yank, ayank! Uuuhh," ujarnya lagi.
Airin menautkan kedua alisnya, ia begitu kesal mendengar penuturan Alvian baru saja.
"Terus, kamu maunya, di panggil gimana, Al?"
"Pipi, seru kayaknya, ya...," usul Alvian spontan.
Buhahahahaha!
"Kok ketawa sih, Rin?" Alvian mengerutkan wajahnya.
"Geli, Al.. serius? Kok, saat aku mau manggil kamu dengan sebutan pipi, tiba-tiba saja buluku merinding, ya?"
"Hantu kali, pake merinding segala," balas Alvian lagi.
Sepanjang perjalanan pulang, Airin dan Alvian terus berdebat, untuk memutuskan, panggilan apa yang cocok untuk keduanya.
"Ya udahlah, gak usah di ambil pusing, nama aja gapapa. Daripada nanti kita sama-sama gugup," ujar Alvian kemudian.
Airin mengangguk, ia setujuh dengan apa yang di sampaikan oleh Alvian. Yang terpenting keduanya mengutamakan kenyamanan.
***
Setibanya di rumah, keduanya di sambut senyum ramah dari si mama dan si papa.
"Cantik banget, Rin?" puji Tania tiba-tiba.
"Cantiklah, mah.... kan cewek," jawab Airin spontan
"Dari dulu, Airin memang sudah cantik mah," tambah Alvian juga.
Haaah.. lagi-lagi, Airin di buat melayang olah Alvian dan si mama mertua. Sejak hamil, baik Tania ataupun Reyhan memang selalu bisa membuat menantunya merasa tersanjung. Bahkan, apapun yang si cantik butuhkan pasti keduanya wujudkan.
"Mama sudah masakin kamu bubur jagung, di makan ya Rin!"
"Makasih mah, baik banget sih,"
"Iyalah, kan demi cucu dan menantu. Apa lagi kamu sedang hamil, jadi harus mendapatkan perhatian lebih," ujar Tania lagi.
Benar, apa yang di lakukan Tania, semua karena ia terlalu bahagia, bahkan wanita paruh baya tersebut sudah tak sabar menunggu hadirnya malaikat kecil dalam rumah mereka.
__ADS_1
"Kenapa cuma punya Alvian. Memang mama dulu ga mau hamil berkali-kali, atau karena sesuatu hal?" si cantik penasaran.
Seketika raut wajah Tania yang tadi merona, kini berubah sendu. Entah apa yang terjadi, wanita paruh baya itu seketika saja nampak sangat sedih.
"Mama kenapa? Apa, ada yang salah dengan pertanyaanku?"
Tania menggeleng. "Mama, ke kamar dulu ya,"
Hal itu, tentu saja menimbulkan banyak tanya dalam benak Airin. Perubahan sikap Tania pasti karena suatu hal.
"Ah sudahlah,"
Airin memilih untuk tak ambil pusing, si cantik segera melangkah, lalu masuk ke dalam kamar, untuk menemui Alvian.
"Kemana dia?"
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, untuk mencari keberadaan sang suami, namun saat ia memandang seluruh sudut kamar, Airin tak menemukan ke keberadaan Alvian.
"Heem, pasti dia sembunyi-bunyi, buat main game lagi. Dia takut handponenya ku rebut, seperti tadi malam," pikir si cantik spontan saja.
Airin segera mendudukan tubuhnya di atas ranjang.
Dan...
Doorr!"
"Mas," spotan saja Airin berucap ia terkejut luar biasa, karena ternyata Alvian sengaja bersembunyi untuk mengejutkan dirinya.
"Mm_mas," si tampan menatap penuh harap ke arah sang istri.
"I_iya, mas,"
"Bukan mas, yang lainkan?"
"Ya nggak'lah.. sebenarnya, sudah sejak lama, aku ingin memanggilmu dengan sebuatan itu. Tapi, aku canggung luar biasa."
"Astaga, Rin,"
Alvian meraih tangan sang istri, lalu membawa Airin dalam dekapanya, pria muda itu sungguh bahagia, dengan apa yang baru saja Airin katakan padanya.
"Mas,"
"Iya, mas saja,"
"Hehe," tawa si cantik datar.
"Mahal ya, Rin.. jadi harus di panggil, "Mas".
"Eh,"
"Iyalah, mas'kan, sedang mahal harganya saat ini,"
"Owh...., itu mah "Mas" perhiasaan yang mahal,"
Hahhahahhaha!"
Keduanya pun tertawa sejadi-jadinya, mulai detik ini. Alvian akan mendapatkan panggilan baru, dari sang istri tercinta.
"Panggil aku, Mas!"
.
.
.
Garing, segaraing hidupkušš. Makasih kakak-kakak baikā¤š
__ADS_1