
ANTARA DENDAM DAN CINTA
☡Selamat Membaca☡
Sisi masih membisu, ia menatap dalam-dalam pria muda yang kini berada di hadapanya. Arfi tersenyum simpul seraya menatap wajah Sisi juga.
"Maaf, aku hanya bercanda!" Arfi berkilah.
"Haaah? Be-bercanda,"
Entah mengapa Sisi merasa kecewa, karena Arfi hanya bercanda prihal perasaanya. Seketika nafas Sisi kembali berat dan rasa tak biasa menyergap hatinya.
"Si, kamu kenapa? Apa kamu sesak lagi?" tanya Arfi lirih.
Sisi menggeleng cepat, ia mendudukan tubuhnya, lalu turun dari tempat tidur, dimana ia di rawat. Tak ada senyuman seperti biasa, Sisi hanya menunjukan wajah datar.
"Aku mau pulang,"
"Oke, kakak antar ya."
"Iya," jawabnya datar.
Arfi menyelesaikan adimistrasi setelah itu ia menuntun tangan Sisi dan membawanya ke dalam mobil. Selama di dalam perjalanan Sisi hanya membisu dengan wajahnya yang sendu.
"Kenapa berhenti?" tanya Sisi datar.
"Kakak mau membelikan bubur untukmu,"
Secepat kilat Arfi turun dan 10 menit kemudian ia kembali lagi. Membawa dua kotak bubur ayam dan minuman di tanganya.
"Sepertinya, akan turun hujan," si tampan mencoba berbicara karena suasana dari tadi hening tanpa sepatah katapun.
"Iya," hanya itu saja yang keluar dari bibir Sisi.
Arfi kian mendengus kesal, ia tak paham akan sikap Sisi yang seperti ini, Arfi bingung kenapa Sisi bersikap dingin padanya, padahal ia rela meminta izin ke kepala kepolisian untuk tak bertugas kembali sore ini, tapi sikap dan cara Sisi sungguh membuat Arfi kecewa.
"Hallo, Fa,'
"Kamu dimana?"
Arfa menghubungi Arfi karena ada hal penting yang harus di bicarakan.
"Ada apa?" tanya Arfi kemudian.
"Printakan pihak kepolisian, untuk menjaga rumahku!" seru Arfa.
"Kenapa? Apa ada masalah?"
__ADS_1
"Aku merasa, ada yang tidak beres, itu sebabnya aku minta polisi untuk berjaga di sini semalama beberapa hari. Karena pagi aku harus kuliah, sementara Nayla di rumah," jelas Arfa lagi.
"Baik, nanti akan ku bicarakan hal ini dengan rekan-rekanku,"
"Oke, terima kasih,"
Arfa mematikan sambungan telepon setelah semua masalah yang di keluhkan sudah ia sampaikan. Sementara Arfi, menatap Sisi lagi, gadis itu tetap diam dan tak bergeming sedikitpun,
"Mungkin, karena asmanya baru saja kambuh, jadi dia lebih banyak diam," lirih Arfi dalam hati, ia masih fokus duduk di kursi kemudi.
Kini keduanya sudah tiba di apartemen, Arfi membantu Sisi berjalan dan masuk ke dalam kamar. Dan di luar sana tengah turun hujan begitu deras, sesuai prediksi Arfi tadi.
"Ayo makan, setelah itu minum obatmu!"
Arfi membuka bubur yang tadi ia beli dan berniat menyuapi Sisi, tapi gadis itu membuang muka, ia mengambil alih bubur yang berada di tangan Arfi.
"Huuuh!" kesal Arfi ia membuang nafas kasar dan memilih untuk beranjak dan mengambilkan Sisi air mineral.
Sisi tetap tak bergeming, ia lebih fokus memilih menghabiskan bubur yang tengah ia santap.
"Kalau tidak mau, air minum yang ku ambilkan ini. Lepar saja!" titah Arfi yang tak bisa menahan kekesalanya lagi. Sikap Sisi sungguh membuatnya emosi.
Praaaank!
Sisi benar melempar gelas yang berisi air minum tadi dan tentu saja membuat Arfi kian emosi.
Sisi menatap nanar, seketika tetes demi tetes air mata pun membasi wajah cantiknya.
"Yaa.. aku memang kurang ajar dan aku juga tak memiliki etika. Aku tidak punya siapa-siapa untuk mengajariku sopan santun dan bersikap baik kepada orang lain, sikapku memang buruk, lantas anda mau apa? Menghinaku atau menyudurkanku?' Sisi marah, ia lebih tidak bisa menahan emosinya.
Arfi tersentak, dadanya merasa sesak, seketika ia merasa bersalah, karena telah berucap kasar kepada Sisi, tapi ia tetap tak bersikap sebijak mungkin saat ini.
"Aku tak bermaksud berbicara kasar padamu. Tapi aku benci sikap dinginmu tadi... kenapa kamu mendiamkanku?"
Sisi diam sejenak lalu menatap dalam-dalam wajah Arfi. "Apakah, menurut anda, sebuah perasaan yang tumbuh, bisa di anggap sebuah candaan?" tanyanya geram.
"A_apa, maksudmu?" gugup Arfi, ia tak pernah di buat gemetar seperti ini terutama oleh sorang wanita, satu-satunya wanita yang bisa membuat ia salah tingkah hanyalah Nayla dan kini Sisi pun melakukan hal yang sama, membuat Arfi tak berdaya.
"Kenapa kakak memberiku perhatian, kenapa kakak suka memperlakukanku bak seorang ratu, memberiku ini dan itu bahkan semua kebutuhanku, kakak cukupi. Kenapa kakak melakuknya, jika kakak tak memiliki rasa padaku?" cercanya, Sisi tak kuasa menahan air mata.
Polisi tampan itu tak berdaya, ia kian gugup saja, ucapan Sisi sungguh mengobrak-abrik jiwanya. Arfi gemetar luar biasa.
"A-apa, ka-kamu menyukaiku?" Arfi memberanikan diri untulk bertanya.
Sisi mengangguk, ia tertunduk malu. Karena mengenal Arfi belum lama, tapi dengan lancang ia sudah jatuh cinta.
"Haaah? Katakan padaku, apa arti anggukanmu itu?" pipi si tampan merah merona.
__ADS_1
"A-aku... menyukaimu, kak," jawabnya tapi tetap menunduk.
Secepat kilat, Arfi menarik tangan Sisi dan membawa gadis itu dalam dekapanya. Detak jantung Arfi tak seirama ia berdebar-debar tak biasa, begitu pun Sisi.
Haaaap!"
Si tampan, mendaratkan sebuah kecupan di bibir mungil Sisi yang berwarna merah itu dan membuat si cantik tak berdaya. Karena ini cium pertama yang seseorang daratkan di bibirnya.
"Ka-kakak," ucapnya terbata-bata karena Arfi masih mencium bibirnya.
Bukan hanya Sisi saja, tapi Arfi pun sama. Meski usianya sudah menginjak 23 tahun, namun ia belum pernah sekalipun mencium bibir wanita. Jangankan ciuman menyatakan cinta saja, ia tak pernah.
"Si, ma-maaf!"
Sisi tersenyum, ia langsung mendekap tubuh pria yang baru saja menunjukan perasaanya. Kecup^n yang Arfi beri sudah cukup untuk menjawab jika Arfi juga menyukai Sisi.
"Aku, juga, menyukaimu, Si," bisiknya pelan dan masih terdengar gemetar.
Sisi kian mengeratkan dekapanya. Kini ia merasa jika hidupnya sudah memiliki tujuan, sebab saat ia hidup sendiri dan tak memiliki siapapun, Sisi merasa untuk siapa dia hidup dan untuk apa dia ada? Jika, apapun yang ia lakukan tak akan ada yang bangga dan tak akan ada yang memarahinya saat ia berbuat salah.
"Kak, terima kasih... sudah hadir di hidupku," ucap Sisi tulus.
"Sama-sama. Kakak juga berharap jika Sisi akan paham sikap dan sifat kakak,"
Sisi mengangguk cepat, ia berjanji akan berusaha memahami sikap dan menerima semua kekurangan pria itu. Keduanya berjanji akan melengkapi satu sama lain.
"Belajar yang benar, lulus sekolah dan setia kepada kakak... wajib Sisi lakukan!" titah Arfi tulus.
"Siap...," Sisi bersemangat.
Sore hingga malam tiba, Arfi masih bersama Sisi, pria muda itu meminta izin kepada si mami dan si papi, jika malam ini ia akan menginap di rumah temanya. Arfi tak mungkin memberi tahu jika ia bermalam bersama seorang gadis.
"Tidurlah! Kakak akan menjagamu!"
"Belum ngantuk," jawab Sisi manja.
Kesalahan Arfa yang menanam benih di rahim Nayla sebelum menikah, membuat Arfi sadar dan bisa menahan gejolak tak biasa yang menyergap perasaanya. Meski malam ini menginap di kamar Sisi, Arfi mampu menjaga Sisi dengan baik-baik, keduanya menghabiskan malam dengan bermain game dan Arfi menjadi guru untuk gadis itu.
Ya... kesalahan seseorang pun memang seharusnya menjadi pelajaran terbaik dan bisa bersikap lebih bijak dí kemudian hari. Begitulah Arfi, memahami kesalahan Arfa dan tak akan meniduri Sisi sebelum menikah, padahal jika ia mau, malam ini Arfi pasti akan mendapatkan kehormatan gadis itu, tapi Arfi tidak melakukanya.
.
.
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIK❤