
🌸S e l a m a t ~ M e m b a c a🌸
Mencintai itu kadang memang buta, rela melakukan apa saja, demi orang yang di sayang. Itu bego apa cinta sih😭❣.
_
Di Rumah Sakit
Setibanya di sana, Sisi langsung masuk ke ruang Unit Gawat Darurat, entah ini kali keberapa ia harus di rawat, tapi kali ini kondisi Sisi lebih parah dari sebelum-sebelumnya.
Panik dan takut.
Itulah yang kini Arfi rasa, ia tak bisa duduk sejenak meski hanya semenit saja, Pikiranya melayang jauh, di bajunya bahkan masih banyak noda merah membekas, darah yang di keluarkan Sisi, sepuluh kali lipat lebih bayak dari pendarahan yang sebelumnya, hal itulah yang membuat Arfi panik luar biasa.
1 jam kemudian.
Dokter baru saja keluar dari ruangan dimana Sisi berada. Dengan berat hati si dokter mengatakan, jika Sisi pendarahan dan janin di dalam rahimnya harus di angkat, dalam kata lain, Sisi mengalami keguguran, sebab pendarahan yang terjadi tadi hampir saja merenggut nyawanya.
"Haaah!"
Tubuh Arfi melemas, ia hancur luar biasa, rasa sedih tak biasa ia hindari, hadirnya malaikat kecil memang sangat di harapan oleh ia dan Sisi. Tapi kini semua harapan akan menjadi mimpi, sebab Sisi mengalami pendarahan dan kandunganya tak bisa di selamatkan.
"Si-Sisi,"
Arfi masuk keruangan dan mendapati sang istri menangis sesenggukan, membuat dunianya terasa semakin hancur, ia mendekati Sisi lalu mendekap erat tubuh istri kecilnya, untuk menguatkan.
"Jangan menangis! Artinya, bayi itu belum rejeki kita, nanti Sisi pasti hamil lagi!" Arfi menenangkan.
"Ta-tapi, kakak kan, mau cepat-cepat memiliki anak. Bagimana kalau nanti, aku lama hamil lagi?"
"Tidak masah. Yang penting kamu kuat, kamu sehat dan kamu sabar, selama apapun pasti kakak tunggu."
Jari jemari Arfi mengeras, ia berusaha menahan emosi, meski sebenarnya kini, ia marah luar biasa. Arfi ingin segera tahu, siapa yang sengaja melakukan ini, dan jika sudah di ketahui nanti, di pastikan ia akan menghajar sampai babak belur.
"Kamu istirahat, kakak tunggu di sini!"
Efek obat yang Sisi minum, akhirnya membuat ia tertidur. Sementara Arfi tersenyum penuh arti kala melihat sang istri sudah terlelap, ia langsung meraih ponsel lalu menghubungi satpam apartemen.
"Sudah terlihat belum, siapa yang sengaja melakukan ini?" tanya Arfi melalui sambungan telepon.
"Sudah pak... nanti saya kirim rekamanya."
"Oke.... cepat kirim!'
15 menit kemudian, video rekaman CCTV pun Arfi terima, pria gagah itu berdecak sinis prihal siapa yang meletakan kulit pisang di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Sudah ku duga!" geramnya di penuhi amarah.
Arfi segera beranjak untuk pergi, namun sebelum berlalu, ia meminta beberapa perawat menjaga Sisi. "Hubungi aku, jika ada apa-apa dengan Sisi!"
"Baik pak." jawab mereka serentak.
***
Kini Arfi sudah tiba di apartemen, ia berjalan dengan langkah tergesa-gesa, membuat para satpam yang berjaga menatap nanar ke arahnya.
"Pak Arfi mau kemana?"
"Pasti mau marah-marah. Ayo kita ikuti!" ujar beberapa satpam yang berjaga di luar.
Seperti yang para satpam itu duga, Arfi mengarah ke sebuah kamar dan dengan sangat kasar mendobrak pintu kamar tersenut.
"Ba jing an.... keluar kau!" pekiknya sekuat tenaga.
Arfi mendobrak lagi kuat-kuat dan akhirnya pintu kamar akhirnya terbuka juga. Ia semakin geram melihat sosok pria muda yang dengan santainya menikmati makanan di meja makan.
"Fadil... untuk kali ini kamu tidak akan ku beri ampun!!"
"Santai dong bang! Masuk ke kamar orang tanpa permisi dan langsung marah-marah seperti ini! Bicarlah baik-baik bang dan katakan masalahmu padaku!"
"Sial... kenapa kau berbicara seolah tidak merasa bersalah! Sebenarnya... apa yang kamu harapkan dan kenapa kamu mengikuti kemanapun kami pindah apartemen?!"
"Sial... tapi caramu terlalu kotor, kamu tidak bisa termaafkan. Kamu pembunuh!!"
"Pembunuh? Apa maksud anda, memfitnah ku sebagai pembunuh? Anda bisa saya tuntut!"
"Tutut saja dan aku akan lebih dulu menuntutmu!"
Arfi menunjukan video yang ia dapat, dan di dalam video tersebut memperlihatkan Fadil yang dengan sengaja, meletakkan banyak kulit pisang di depan pintu apartemen miliknya.
"Dengan video ini, bukti sudah sangat jelas!"
"Aduh.. buat apa sih, anda menuntut saya? Lagi pula, anda baik-baik saja, tidak ada luka sedikit pun." Fadil membela diri.
"Aku memang tidak apa-apa, tapi istriku masuk ke rumah sskit kerena ulahmu ini!"
"Haaah? Jangan bercanda! Maksud anda Sisi yang jatuh karena ulahku?'
"Iya Sisi.... dan fatalnya, kerena ulahmu itu, bayi di dalam kandungan istriku gugur, sekarang Sisi menjadi sedih dan terus menangis. Semua karena kau. Dasar pembunuh!!"
Arfi mendorong tubuh Fadil hingga tersungkur kelantai, Fadil sendiri seketika diam tanpa kata, ia tak lagi mampu membuka suara, tubuhnya lemas seketika, karena orang yang ia cintalah, justru terkena jebakanya.
__ADS_1
Bugh! Bagh! Bugh!
Tinjuan, pukulan dan tendangan, berkali-kali Arfi daratkan, berung ada beberapa satpam yang melerai dan menenagkan emosi Arfi.
"Sabar pak! Masalah ini bisa di bicarakan baik-baik dan solusinya lebih baik ke kantor polisi!"
"Aaaaaaaaah!"
Arfi pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun, sedangkan Fadil langsung di larikan ke klinik terdekat.
***
Pria gagah itu berjalan lemas masuk ke dalam ruangan dimana Sisi di rawat, dan ia mendapati sang mami dan si papi sudah ada di dalam sana, menunggu sang istri yang masih lelap dalam tidur.
"Sayang... kamu dari mana?"
"Menghajar orang yang telah membuat Sisi celaka." jelasnya dengan nada tinggi.
"Arfi, tidak semua masalah, bisa kamu hadapi dengan emosi, marah-marah, berkelahi! Kamu selesaikan kasus ini kepolisi, sayang.. kamu itu sudah dewasa sebentar lagi usiamu 24 tahun, kamu harus bisa menghadapi masalah sebijak mungkin!" si papi menenangkan Arfi dan bicara selembut mungkin, agar anaknya tak merasa tersudutkan.
"Tapi, pi.. bagaimana aku bisa sabar? Sementara calon anakku pergi sebelum lahir kedunia, dan Sisi.. dia sangat sedih karena hal ini."
"Papi paham Arfi, sekarang tugasmu menguatkan Sisi, katakan jika kamu ihklas dengan apa yang sudah terjadi, hal yang membuat Sisi sedih adalah kamu, dia takut kamu kecewa, sebab dia tahu, kamu sangat mendambakan hadirnya buah hati di dalam pernikahkan kalian." sang papi kembali menesahati.
Arfi tak menjawab, ia hanya menghela napas berat lalu tertunduk lesu.
"Ya sudah, kamu jaga istrimu! Mami dan papi keluar dulu,"
Ia hanya mengangguk, lalu mendekati Sisi setelah kedua orang tuanya keluar dari ruangan.
"Kak maafkan aku!" ujar Sisi dengan mata terpejam.
"Sisi, kamu sudah bangun?" tanya Arfi pelan tapi tak ada jawaban, karena nyatanya ucapan tadi Sisi ungkap dalam keadaan tak sadar.
Arfi semakin sedih, ia meraih tangan Sisi lalu menciumnya berkali-kali. Batinya sangat sakit karena melihat Sisi justru merasa bersalah.
"Kita akan tetap sama-sama, meski banyak masalah yang menerpa. Kamu tidak perlu sedih, karena kakak ihklas dengan semua yang terjadi. Kakak sayang Sisi!"
Arfi yang juga lelah, akhirnya tertidur di samping sang istri. Nyatanya kesedihan Sisi membuat Arfi lebih hancur daripada menerima kenyataan, jika anaknya tak akan pernah bisa ia peluk, ia paham, sejauh ini Sisi sudah berjuang dan dia juga ingin memberikan yang terbaik untuk Arfi, tapi ia sadar karena takdir belum memberi kepercayaan untuk ia dan Sisi menjadi orang tua.
.
.
.
__ADS_1
.
TERIMA KASIH