
🕊Selamat Membaca🕊
Rasa penasaran memenuhi pikiran Alvian, pria muda itu, benar-benar yakin, jika ada rahasia antara Airin dan Dipta. Ia segera bergegas kembali masuk ke dalam rumah, namun Alvian bersikap seolah biasa saja, demi menghormati kedua orang tua Toni yang kini tengah menikmati makan malam di rumahnya.
"Al, kami permisi pulang dulu ya. Sebelumnya, kami minta maaf, jika sikap Dipta membuatmu tak nyaman!" pinta Ridho tulus.
"Ah, tak masalah om, namanya juga anak muda. Mungkin Dipta ada urusan dadakan, jadi pergi tiba-tiba," Alvian bersikap seolah biasa saja, meski banyak tanya dalam benaknya.
Ridho dan istrinya pun pulang ke rumah, dengan di antarkan Tania dan Reyha sampai ke gerbang. Sementara Alvian membawa Airin untuk segera masuk ke dalam kamar.
"Jelaskan padaku! Sebenarnya ada rahasia apa, diantara kau dan Dipta?!" todong Alvian kemudian.
Sejenak Airin terdiam, ia menatap wajah Alvian lekat, si cantik sedikit ragu. Apakah harus memberitahukan hal yang sebenarnya kepada sang suami.
"Rin....!" suara Alvian menekan.
"A_aku,"
"Aku apa? Katakan!"
Si cantik menarik nafas panjang, lalu menceritakan yang sebenarnya kepada sang suami.
"Ya, aku dan Dipta memang satu kampus," jujurnya.
"Lalu?"
"Dulu, dia pernah menyukaiku, bahkan melakukan banyak hal untuk mencari perhatianku, tapi... aku tak tertarik sedikit pun padanya," Airin diam sejenak.
"Heemmm...!!"
"Hingga pada suatu hari, tepat di saat aku baru saja keluar dari penjara. Aku bertemu denganya, saat itu dia memperlakukanku bak wanita murahan, Dipta memintaku untuk tidur bersamanya,"
Secara ke seluruhan, Airin menceritakan kepada Alvian, jika Dipta memang seburuk itu dulu, bahkan pria muda itu, tak malu saat meminta Airin untuk memuaskanya.
"Haaaah, sial......!!"
Spontan Alvian pun emosi mendengarnya, ia segera melangkah kaki untuk keluar dari kamar.
"Mas, mau kemana?"
"Menghajar Dipta,"
"Itu masalalu, mungkin dia sudah berubah!" Airin mengingatkan.
"Aah... terserah,"
Tak mau mendengar apa yang di ucapkan Airin, si tampan pun bergegas pergi. lalu mencari keberadaan Dipta. Meski Airin coba mencegah, tapi Alvian tak perduli sama sekali.
"Mau kemana suamimu, Rin?" Tania dan Reyhan penasaran.
Airin menggeleng cepat, ia tak mungkin mengatakan, yang sebenarnya kepada kedua mertuanya.
__ADS_1
***
Di sisi lain, Alvian melajukan mobil sedikit pelan, ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Dipta. Ia sudah menelpon Ridho, tapi adik dari almarhum sahabatnya itu sedang tak berada di rumah.
"Huuuuf," desuhnya kesal.
Alvian berkali-kali, memukul kemudi mobilnya, ia tak kuasa menahan amarah yang menutupi ruang hati. Meski Airin tadi mengatakan, jika keburukan Dipta hanyalah masa lalu, namun Alvian tak perduli sedikit pun.
Sssssstttt....
Namun sorot matanya seketika menajam, saat melihat sosok anak muda duduk di sebuah kursi di pinggir taman, dengan wajah tertunduk.
"Dipta," gumamnya
Secepat kilat, Alvian turun dari mobil, ia berjalan tergesa-gesa, menuju dimana Dipta berada.
"Dip....!!" suara Alvian terdengar kasar.
"Bang," jawabnya dengan senyum penuh makna.
Karena benar saja, pria muda di pinggir taman kota itu, memanglah Dipta.
PLAAAAK!
Tamparan Alvian mendarat keras di wajah anak muda yang kini berdiri tepat di hadapanya.
BUUUGH!
"Ayo lawan!" tantang Alvian.
Namun Dipta menggeleng.
"Kenapa? Apa kau sudah tau, apa salahmu?"
"Ya aku sadar," jawabnya datar.
"Haaah, kenapa kau memiliki otak sekotor itu? Bagaimana bisa, kau memperlakukan Airin bagai wanita tak memiliki harga diri? Apa kau tak memiliki otak waras selama ini?" tanya Alvian berkali-kali dengan emosi yang semakin tak terkendali.
"Aaagghhhrrr!" Dipta meringis kesakitan, kala Alvian berkali-kali mendaratkan pukulan, namun ia tak coba untuk membalasnya.
"Maafkan aku, bang! Dulu aku khilaf, tapi aku sudah sadar sepenuhnya, jika apa yang ku perbuat dulu memanglah salah. Aku mulai menyadarinya, saat bang Toni marah besar, dan berniat pergi dari rumah jika aku tidak berubah. Karena rasa sayangku padanya, sejak itulah perlahan aku berubah, dan sadar jika dulu aku memiliki banyak salah," jelas Dipta lirih, seraya menahan luka yang amat perih.
"Haaah,"
Alvian seketika saja lemas, ia menjatuhkan tubuhnya ketanah, lalu duduk bak anak kecil yang kehilangan ibunya.
"Maafkan aku, bang!"
"Maafkan aku, Dip! Karena telah buta oleh emosi, lalu memukulimu sampai babak belur begini," ujar Alvian pelan, ia sadar jika mulut dan hidung Dipta berdarah karena pukulan-pukulan darinya.
"Tidak masalah, bang! Asal setelah ini, abang tidak membenciku," harapnya.
__ADS_1
"Ya, asal kau juga berjanji, agar tak bersikap tak sepatutnya lagi!"
Dipta mengangguk, ia segera memeluk tubuh Alvian, spontan ia merasakan hangat dekap si tampan, bagaikan dekapan sang abang, yang sudah pergi dari dunia ini untuk selamanya. Sedangkan Alvian sendiri, mencium aroma tubuh Dipta, seolah mencium aroma tubuh sahabatnya.
"Ton, aku rindu padamu!" lirih Alvian dalam hati.
Setelah meluapkan kekesalanya, kini keduanya pun saling maaf memaafkan, terutama Alvian.
"Dip, ini uang untuk kau berobat!"
"Tidak perlu bang!"
Dipta melangkah pelan, ia pergi menjauhi Alvian, seraya membersihkan darah segar yang keluar dari hidungnya. Ia berharap setelah ini, Alvian tak akan membenci dirinya.
"Heii, apa yang terjadi? Kenapa kau babak belur begini?" panik Ridho saat melihat anaknya lebam parah.
Dipta tersenyum, ia segera mendudukkan tubuhnya di Sofa.
"Ini pah, tadi aku menolong ibu-ibu yang dompetnya kecopetan, yang akhirnya aku berkelahi dengan si pencuri. Tapi syukurnya aku yang menang dan dompet si ibu itu pun kembali," jelas Dipta berbohong.
Anak muda itu, tak mau memberitahu jika Alvianlah, yang menyebabkannya luka-luka.
"Aku akan menyangi bang Al, seperti bang Toni menyayanginya," ucap Dipta dalam hati.
Ya, tadi... sebelum ia pergi untuk makan malam di rumah Alvian, Dipta menemukan secarik kertas, yang isinya tulisan tangan sang abang. Dalam surat tersebut Toni mengungkapkan rasa hormatnya untuk Alvian, yang selalu ada saat ia dalam kesulitan, bahkan Toni menganggap Alvian layaknya saudara. Begitupun rasa sayangnya terhadap Dipta, meski selama ini Dipta sering membuatnya kecewa, tapi bagi Toni dia tetap adik kesayanganya.
Karena surat itulah, Dipta berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan menghormati Alvian sebagaimana sang abang menghormatinya.
***
Sedangkan Alvian kini sudah pulang ke rumah, ia menceritakan semuanya pada sang papa dan mama, juga istrinya
"Lalu, apakah Dipta kau bawa ke rumah sakit?" tanya Airin terkejut.
"Dipta menolak, dia tak mau berobat,"
"Ițulah mas, jangan hadapi semua masalah dengan emosi! Ujung-ujungnya, kau yang sulit sendiri," Airin menasehati.
"Iya," jawabnya singkat.
"Ya sudah... ayo ke kamar, biar ku kompres tanganmu yang membiru!" ajak si cantik lagi.
Melihat sikap manis Airin, seketika Alvian langsung tersenyum.
.
.
.
.
__ADS_1
🕊TERIMA KASIH KAKAK-KAKAk BAIK❤💪