Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: K E C E W A


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Jam menunjukan pukul 1 malam, hujan sudah reda, namun jalanan tetap sepi tanpa kehidupan. Dan Arfi memutuskan untuk pulang meski mobilnya rusak, ia menelepon Arfa dan beberapa temanya untuk menjemput, tapi tak ada satu pun di antara mereka, yang menjawab panggilan telepon Arfi, mungkin karena hari sudah larut malam dan hujan pula, sehingga mereka semua sudah tertidur lelap dan tak tahu jika Arfi menghubungi.


"Haaaah.. sial!"


Grutunya kesal, namun terus berjalan melangkahkan kaki untuk terus menjauhi apartemen, di mana Sisi tinggal. Untung saja tadi Arfi bisa mengendalikan diri, hingga tak terjadi hal buruk apapun yang sangat ditakutkan.


"Astaga....."


Kembali Arfi terbayang, betapa bodohnya ia tadi... dan mengutuki perbuatannya sendiri. Ia tak menyangka, jika gejolak yang menyergap tubuhnya sungguh sulit dikendalikan.


Tap.. tap.. tap...


Dalam gelapnya malam dan heningnya saat ini. Arfi masih terus melangkahkan kaki untuk menuju rumah... ia berharap akan ada kendaraan yang berlalu dan mau mengantarnya pulang.


Ck....


Sorot lampu kendaraan, tampak jelas keberadaanya dan menerangi langkah Arfi serta mengikuti ia dari belakang. Arfi menghentikan langkahnya sejenak untuk menunggu kendaraan itu berlalu.


"Kok gak maju, sih?"


Arfi berdecak kesal, karena kendaraan itu justru berhenti di tempat. Namun sarot lampunya masih menerangi jalan Arfi.. ia coba melangkah dan menjauh, tapi kendaraan itu justru mengikuti dan maju seiring langkahnya yang semakin cepat.


"Hemm...!"


Secepat kilat Arfi melangkah lalu menyembunyikan tubuhnya hingga tak terlihat lagi, oleh pengendara yang sedari tadi mengikuti langkahnya. Arfi ingin melihat siapa yang sudah menerangi jalannya sejak tadi?


"Sisi...!" panggilnya


Karena setelah nampak dan semakin mendekat Arfi baru bisa melihat. Siapa yang sedari tadi mengikuti.. dan seperti yang ia duga, benar saja ternyata Sisi lah yang melakukannya.


"Kakak, kok sembunyi sih?" grutunya kesal ia memasamkan wajah.


"Kamu yang kenapa? Ngapain ikutin kakak, hah?!" Arfi lebih kesal, ia berjalan mendekati gadis itu dan meminta Sisi untuk segera pulang.


"Gaaa mau, kalau aku pulang... Kakak bagaimana? Hari sudah malam, jalanan sepi, Kakak pulang dengan berjalan kaki. Lantas apa aku tega?"


Entah mengapa, Arfi merasa sangat bahagia setelah mendengar, apa yang disampaikan oleh Sisi baru saja. Gadis itu benar-benar tampak perduli, si tampan berkali-kali menunjukkan senyumnya paling manis.


"Ya sudah... ayo pulang!" ajaknya.


Arfi duduk di belakang, sementara Sisi stay di kemudi, si tampan meminta Sisi untuk membawa motor karena, Arfi berkilah jika badannya terasa begitu dingin.

__ADS_1


***


Kini Arfi dan Sisi sudah tiba di rumah, waktu menunjukan pukul 2 menjelang pagi. Polisi muda itu meminta Sisi untuk menginap di rumahnya saja. Arfi juga berjanji tak akan melakukan kebodohan seperti tadi.


"Pak, mami di rumah kan?" Arfi bertanya pada kedua satpam yang berjaga.


"Bu Airin dan pak Alvian, pergi ke rumah mas Arfa, katanya perut mbak Nayla sakit terus sepanjang hari ini," si satpam menjelaskan.


"Begitu ya."


Seketika Arfi merasa sedih, ia takut jika terjadi hal buruk menimpa Nayla.


"Kak, kenapa?' Sisi menelisik perubahan wajah Arfi yang tampak gelisah.


"Pantas saja, aku menelepon Arfa berkali-kali dia tak mengangkatknya." Arfi menjelaskan.


Yaa... benar saja, karena saat ini Arfa memang tak sempat memengang handpone walau sebentar saja. Karena kondisi Nayla yang sedang tidak baik-baik, wanita itu mengalami pendarahan tapi belum ada tanda-tanda akan melahirkan.


'Semoga, wanita yang sempat kakak cintai itu, baik-baik saja ya! Mbak Nayla dan bayi dalam kondisi sehat semua." harapnya.


Tapi, Arfi tak meng-Aamiin'kan karena, Sisi menyebut nama Nayla dengan sebutan Wanita Yang Sempat Arfi Cintai, hal itu tentu membuat Arfi geram.


"Kamu kenapa sih, selalu mengaitkan Nayla dalam hidupku?"


Sebenarnya Sisi memang hanya bergurau, tapi respon Arfi nyatanya berbeda. Pria itu tampak marah dan mendorong tubuh Sisi sampai bersandar kedinding. Dalam hal emosi, Arfi dan Arfa tetap sama saja, selalu menyakiti orang lain tanpa di sadari, tapi setelah emosinya reda, mereka pasti, akan meminta maaf berkali-kali. Dalam hal ini keduanya sama-sama memiliki ego yang tinggil.


"Kak- maaf!"


"Apa, kamu menyinggungku?"


"Ti-tidak, aku hanya cemburu, karena kakak tampak panik setelah mendengar jika mbak Nayla sedang terluka,' Sisi menjelaskan.


Tapi jika sedang emosi penjelasan apapun, tak akan bisa Arfi pahami, yang ada dalam otaknya hanya marah, marah dan terus marah.


"Aaaah, sial, kenapa mulutmu tidak bisa di jaga? Kenapa kamu suka mengungkit masa lalu?!"


"Kakak, sungguh... tidak ada sedikitpun niatku menyinggung masa lalumu. Tadi aku hanya bercanda. Su-sungguh!"


Haaap!


Arfi tak perduli, ia yang sedari tadi ingin sekali meniduri Sisi, dengan gelap mata berniat melancarkan keinginanya, ia meng*cup bibir Sisi dengan begitu kasar. Dan menguasaì tubuh gadis itu sepenuhnya.


Bruuuk!

__ADS_1


Dengan brutal, Arfi membawa Sisi masuk kedalam kamar dan setelah itu mengunci pintu agar si cantik tak bisa kabur. Suasana rumah yang sepi membuatnya dengan mudah melancarkan niatnya.


'Kak... katamu, tidak akan melakukan ini padaku. Kamu bilang akan menjagaku sepenuhnya!!" Sisi berteriak seraya menangis tersedu-sedu.


Hal itu membuat Arfi seketika sadar dan menyesali perbuatanya.


"Ma-maaf, Si!" Arfi yang tersadar, langsung menjauh dan keluar dari kamar. Ia masuk kedalam kamar mandi lalu merendam tubuhnya, Arfi berharap setelah mandi otaknya akan waras.


Ceklek!


Anak muda itu keluar dari kamar mandi, rencanaya ingin meminta Sisi untuk tidur di kamar Nayla dan Arfa saja, tapi ia terkejut karena gadia itu tidak ada di tempat tadi.


"Si- kamu dimana? Maafkan kakak! Sisi!"


Berkali-kali, Arfi melakukan hal yang sama, tapi Sisi tak kunjung menemuinya. Ia berjalan pelan menyusuri seluruh sudut ruangan, tapi Sisi tetap tak bisa ia temukan.


"Si- maafkan, kakak!" ujarnya lirih, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping jendela. Ia melirik ke bawah dan motor Sisi masih terparkir disana. Arfi berpikir, artinya Sisi masih ada di sekitar rumah.


Ck...


Saat ia berjalan pelan mencoba untuk kembali mencari keberadaan Sisi, Arfi di kejutkan dengan ponselnya yang berdering.


Ssttt....


Arfi meraih ponsel pintar yang berada di dalam saku celana. Dan ternyata Sisi yang mengirimkan pesan singkat untuknya.


("Aku mengembalikan semua pemberianmu, motor dan apartemen... terima kasih telah begitu baik padaku. Tapi maaf! Aku tidak bisa terus menerus bersamamu, aku memang sebatang kara, namun bukan bearti tubuhku seenaknya kamu jajah. Aku mencintaimu tapi aku tidak mau menjadi bonekamu. Salam sayang untuk semua keluargamu! Aku pergi dan jangan pernah di cari!")


Sisi mengirim pesan panjang lebar tanpa jeda, untuk mengungkap, betapa kecewa ia, atas sikap Arfi sepanjang malam ini. Ia tak berniat pergi, tapi sebelum Arfi menyadarinya ia tidak akan pernah kembali.


"Haaaaaah____!!"


Pekik Arfi seraya merasakan sakit menghujam batinya, ia menyesal atas sikapnya, tapi juga marah karena Sisi berpamitan pergi.


"Apa yang kamu lakukan, Si... bagaimana jika asmaku kambuh di luar sana?"


Tak mau membuang waktu, akhirnya Arfi beranjak dan mencari keberadaan Sisi.


.


.


.

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2