
ANTARA DENDAM DAN CINTA
☡Selamat Membaca☡
Seminggu sudah Nayla telah di rawat di rumah sakit. Tapi syukurnya hari ini ia sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah, namun sayangnya tidak ada raut bahagia dari wajah cantiknya, sebab saat Nayla pulang tidak ada Arfa bersamanya.
"Em, Fi. Arfa mana ya?"
"Ku_kuliah sore, Nay,"
"Owh, begitu ya,"
Dan memang benar adanya, sebab selama Nayla ada di rumah sakit, hanya Arfilah yang paling sabar untuk menjaga dan merawatnya. Berbeda dengan Arfa, ia justru jarang menjenguk dan merawat Nayla, anak muda itu seolah menyibukan diri, karena tidak mau berlama-lama menjaga dan berduaan saja di dalam ruangan bersama si cantik.
"Nay, ada orang suruhan papamu datang ke rumah, dan mereka meminta agar kamu segera pulang!"
"Kenapa, tidak papa saja yang datang menjemputku?"
"Emm, mungkin canggung, apa lagi jika papamu bertatap muka langsung dengan papiku, pasti semua akan kacau." Jelas Arfi tanpa basa basi.
Sementara Nayla, terdiam sesaat setelah mendengar ucapan Arfi, ia pun langsung menundukan kepalanya, karena perbuatan sang papa di masa lalu, membuatnya sangat malu.
***
"Sudah sampai, ayo turun!"
Sedari tadi keduanya memang berada di jalan, dari rumah sakit dan kini sudah berada di rumah. Arfi membantu Nayla untuk berjalan pelan dan masuk ke dalam.
"Istirahat dulu, Nay! Jangan banyak aktifitas dan kurangi berpikir yang macam-macam!" kini si mami yang berbicara.
Si cantik mengangguk paham, ia pun segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Arfi menuju dapur, mengambil segelas air hangat untuk di berikan kepada Nayla, sementara si mami beranjak untuk menyiapkan santap malam.
Ssssttt...
Saat Nayla masih berbaring di atas ranjang, ia melihat Arfa tengah duduk di sofa seraya menatap layar laptop. Ternyata pria itu tengah bahagia mendengar kabar, Tito masuk rumah sakit karena jatuh dari tangga.
"Uhh, tanpa harus turun tangan, si tua bangka itu, mendapatkan balasan sendiri dari Tuhan, mudah-mudahan kakinya patah," soraknya riang di dalam hati, bahkan senyumnya terus mengembang.
Dan Nayla yang sedari tadi memperhatikan Arfa, mulai berpikir yang bukan-bukan.
"Pasti, dia mempunyai wanita selain aku. Dasar buaya," grutunya kesal seraya menendang-nendang bantal. Si cantik menarik sudut bibir lalu mengeraskan jari jemarinya, ia ingin sekali menjambak rambut Arfa.
"Nay, ini teh hangat untukmu!"
Arfi yang baru saja dari ruang belakang, membawakan Nayla teh dan juga roti.
"Terima kasih, Fi," ucapnya tapi sorot mata masih menajam ke arah Nayla.
"Kenapa, Nay?"
"Tuh," Nayla menunjuka ke arah Arfa duduk.
"Arfa? Ada apa denganya?"
__ADS_1
"Bisa ya, dia tak seperduli ini, padahal dia yang membuat aku menderita,"
Medengar itu sejenak Arfi terdiam, ia tersenyum kelu lalu berjalan mundur untuk mendekati adiknya, yang tampak fokus menatap layar laptop di hadapanya.
"Fa....," Arfi menepuk bahu suadara kembarnya.
"Kenapa?"
"Bisa ya,"
"Bisa apa?"
"Kamu tidak perduli sama sekal terhadap Airin, padahal dia seperti itu semua karena perbuatanmu,'
"Kok... aku yang salah?" Arfa bertanya sok polosnya.
"Ya masa aku yang salah. Kan kamu yang menidurinya hingga Nayla mencoba untuk bunuh diri."
"Haduh, kok salahku sih? Salah papa dia dong, sebab semua ini terjadi karena ulah Tito di masa lalu," decaknya tanpa rasa bersalah, yang membuat Arfi kian kesal, adiknya seolah tak perduli karena Arfa tetap fokus menatap layar laptop.
Sikap Arfa tentu membuat Arfi geram, tapi malam ini ia tidak bisa menjaga Nayla karena ada tugas malam. Jadi ia meminta sang adik untuk perduli sedikit saja.
"Dia masih lemas, tangan juga masih sakit. Kamu harus menyiapkan apapun yang Nayla butuhkan!" titah Arfi sebelum pergi.
"Hmmmn, iya,"
Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Arfa, ia tersenyum simpul saat Arfi sudah keluar rumah. Namun setelah sang kakak sudah bertugas, Arfa tak sebentarpun menemui atau sekedar memastikan keadaan wanita itu. Entah apa yang ada dalam pikiran Arfa kini.
"Fa... mama mau ajak papi ke dokter, kamu jaga rumah. Dan ingat, jangan melakukan hal aneh lagi kepada Nayla!"
***
"Kembalikan anakku! Antar Nayla pulang!" seru Tito melalui sambungan telpon, yang tak di tanggapi oleh Arfa sedikit pun, tanpa menjawab ia mematikan telpon tersebut.
"Mengganggu saja. Pasti karena dia sudah cacat, jadi meminta anaknya untuk pulang, lalu di minta untuk mengurusinya. Haduuh bisa di baca sekali sikap si Tito itu," omel Arfa lalu membanting ponsel pintar miliknya ke sofa. Sikap Arfa tentu saja membuat Tito marah.
Jam 20.30
Hampir jam 9 malam, si mami yang pergi membawa papi ke dokter belum pulang juga. Membuat Arfa sedikit bingung, sebab Nayla belum juga makan malam, sementara ia gengsi untuk measuk ke kamar si cantik.
"Gimana ini? Nanti, Nayla kira aku ke kamarnya mau menidurinya lagi," bingung Arfa.
Namun sampai jam 9 tiba, si mami tak kunjung pulang juga, ia pun terpaksa membawakan makan malam untuk Nayla.
"Ehem,"
Arfa melihat si cantik tengah duduk bersandar di sisi ranjang, namun si cantik mundur perlahan saat tau Arfa masuk ke kamarnya.
"Tenang, jangan takut! Aku tidak berniat untuk menidurimu malam ini, tapi aku masuk ke dalam kamar, untuk mengantarkan makan malam," ucapnya.
Anak muda itu meletakan sepiring nasi putih dan sup ayam di atas meja, setelah itu Arfa langsung keluar dari kamar Nayla.
Dan, setelah 15 menit kemudian, Arfa masuk lagi untuk mengambil piring makan Nayla. Namun apa yang sudah ia siapkan, tak di sentuh sedikit pun oleh si cantik.
__ADS_1
"Kenapa tidak di makan?" geramnya.
"Tidak lapar,"
"Lalu maumu apa? Sudah dari sore tadi kamu belum makan juga,"
"Apa perdulimu, tidak usah sok baik kepadaku!" cerca Nayla kesal.
"Menurutmu, aku mengantarkan makan malam ini, karena tak perhatian dengamu?"
"Iya... karena aku yakin kamu pasti terpaks melakukanya!!"
Ssssstttt.... Buuuuuur____
Mendengar nada bicara Nayla yang terkesan membentaknya, membuat Arfa spontan mengambil air minum di dalam gelas yang sedari tadi ada di atas meja, lalu menyiramnya ke wajah Nayla, yang tentu saja akhirnya tubuh dan tempat tidur Nayla basah semua.
"Haaah...!"
Nayla menatap nanar wajah Arfa, yang sengaja menyiram hingga bajunya basah semua.
"Kenapa? Marah??"
"Huuuf!"
Seolah tak mau perduli Arfa pun keluar dari kamar si cantik, lalu duduk di sebuah meja yang ada sebuah layar. Dan ternyata Arfa sudah mamasang CCTV untuk memantau gerak-gerik Nayla.
Ck...
Arfa susah payah menelan salivanya, saat melihat Nayla melepas celana melalui layar CCTV, karena nyatanya tubuh Nayla basah karena ulahnya.
Ssstt....
Lagi-lagi Arfa menarik sudut bibir. Kali ini ia melihat Nayla sulit untuk melepas bajunya, seperti yang di ketahui, tangan Nayla belum sembuh akibat percobaan bunuh diri yang si cantik lakukan.
Ceklek.
Arfa pelan-pelan membuka pintu kamar Nayla, yang tentu saja membuat si cantik terkejut.
"Mau apa, kamu, haaaah??"
"Em, boleh aku bantu, karena aku melihat kamu sulit melepaskan baju,"
"Ogah, pergi sana! Nanti kamu modus lagi," sergah Nayla, ia mengambil semutnya yang juga basah untuk menutupi tubuhnya yang terbuka di bagian bawah.
Tap. Tap. Tap.
Meski Nayla melarang, nyatanya Arfa masih melangkah pelan, untuk mendekati keberadaan si cantik, tentu saja hal itu membuat Nayla kembali gemetaran di buatnya.
.
.
.
__ADS_1
Terima Kasih