Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Izin Airin dan Kedewasaan Alvian


__ADS_3

šŸ•ŠSelamat MembacašŸ•Š


Airin dan Alvian, masih menikmati waktu berdua, saling melempar canda tawa dan berbagi bahagia. Pasangan yang sebentar lagi akan menjadi orang tua tersebut, benar-benar tengah merasakan manisnya sebuah pernikahan.


"Al,"


"Ya,"


"Terima kasih,"


"Aku juga, terima kasih, karena kau selalu membuatku tersenyum setiap hari," ucap Alvian tulus.


Pria muda itu, membelai lembut rambut panjang sang istri, lalu mengecup kening Airin dengan segenap rasa yang ia punya. Cinta Alvian untuk istrinya, tulus tanpa syarat.


Airin menggenggam erat tangan Alvian, lalu mencium punggung tangan sang suami penuh cinta, ia benar-bebar menyangi Alvian setulus hatinya.


"Rin,"


"Iya,"


"Tadi pagi, kepala kepolisian menemuiku, beliau memintaku, untuk menjadi pembela negara lagi," jelasnya.


"Haaah?"


"Tapi, semua atas izinmu, jika kau memberi izin, barulah aku akan menerima,"


"Semua terserah padamu, Al. Aku ikut apa yang baik menurutmu," ucap Airin sendu.


Ada binar, yang tak bisa Airin jelaskan, tapi semua keputusan ia serahkan di tangan Alvian.


"Bagaimana, Rin?"


"Terserahmu, Al,"


"Rin,"


Alvian menatap penuh arti wajah sang istri, sementara Airin tertunduk lesu, ia tak mengerti apa yang tengah ia rasa kini. Si cantik baru sadar, mengapa Alvian melakukan banyak hal hari ini, sebab Alvian akan mengatakan sesuatu, yang membuat Airin sedikit bersedih.


"Apakah, itu semua harus? Maksudku, apa kau harus benar-benar kembali menjadi seorang polisi?"


"Polisi adalah kebanggaanku, Rin... impianku sejak dulu, tapi jika kau merasa keberatan, aku akan menolaknya,"


"Aku,"


Airin menunjukan raut wajah sedih, tak terasa air mata membasahi wajah cantiknya.


"Hei, jangan menangis dong, apa yang kau tangisi?"


"Bolehkah, kau melakuanya setelah anak kita lahir?"


"Ma_maksudmu?"


"Aku butuh dirimu saat ini Al, maaf! Bukan aku egois,"


"Katakan, Rin! Apa yang ingin kau sampaikan!"


"Aku memberimu izin, tapi setelah anak kita lahir,"


"Baiklah, nanti akan ku bicarakan, pada kepala kepolisian,"


"Terima kasih, Al!"


Airin memeluk tubuh suaminya, sementara Alvian tersenyum penuh makna. Ada hal yang sedikit mengganjal, tapi Alvian tetap harus menuruti apa yang di harapkan oleh sang istri. Sesuai janjinya, si tampan akan selalu ada untuk wanita yang telah ia nikahi tersebut.


"Ayo kita pulang!" ajak Alvian.

__ADS_1


Airin mengangguk, namun raut wajah sedih tetap tak bisa ia sembunyikan.


"Maafkan aku, Al! Karena terlalu bergantung padamu,"


"Tidak masalah, Rin. Sebab sudah tugas seorang suami, agar selalu ada untuk istrinya," jawabnya tulus.


Airin dan Alvian pun melangkah untuk pulang kerumah, selama dalam perjalanan si cantik lebih memilih untuk diam saja.


"Ayo,"


Alvian membuka pintu mobil sesaat sudah tiba di rumah, si cantik membalasnya dengan senyuman.


"Darimana kalian?"


"Jalan-jalan mah," jawab Airin lalu melangkah masuk kedalam kamar.


"Al, ada apa? Kenapa istrimu terlihat sedih begitu?"


Alvian menaraik nafas, lalu menceritakan hal apa yang membuat istrinya terlihat sedih, seperti tadi.


"Jadi, istrimu melarang?"


"Bukan melarang, tapi meminta pengunduran waktu, dan kembali bertugas setelah dia melahirkan,"


"Lalu, bagaimana dari pihak kepolisian? Apa mereka membutuhkanmu dalam waktu dekat?"


"Hmmm, mereka hanya memberikan penawaran, semua hal tetap aku yang memutuskan. Jadi... aku akan kembali setelah Airin melahirkan, nanti," jelasnya.


Tania meraik sudut bibir, antara sedih dan bangga. Sedih karena Alvian belum bisa kembali ke kepolisian, dan senang karena Alvian benar-benar mencintai istrinya dengan tulus.


"Sebaik-baiknya seorang pria, dia yang menghargi wanita." Lirih si mama dalam hati, seraya menatap langkah Alvian yang meninggalkan keberadaanya.


Ceklek.


"Hei, Rin... apa kau sudah tertidur?" tanya si tampan pelan.


Airin menjawabnya dengan senyum datar, ia tak membuka suara sedikit pun. Namun sorot matanya menjelaskan banyak makna.


"Selamat malam, selamat tidur dan mimpi indah ya!"


Sayup-sayup, Airin benar memejamkan mata, sementara Alvian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh.


Derrt... Drrrt....


Ponsel Alvian berdering, sesaat ia baru saja keluar dari kamar mandi. Pria muda itu tersenyum sendu, kala mendapati nama Toni di layar handponenya.


"Hallo,"


"Al, bagaimana? Apa kau sudah menghubungi pak Egi?"


"Belum, besok baru aku akan menghubungi beliau,"


"Lalu, apa kau sudah mengambil keputusan?"


"Sudah,"


"Apa keputusanmu?" Toni penasaran.


Alvian segera menjelaskan, hal yang Airin inginkan, bahwa dia akan kembali setelah istrinya melahirkan.


"Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukung Al,"


Sejenak si tampan terdiam, ia sebenarnya ingin sekali memakai baju dinasnya lagi, namun saat ini ia belum bisa mewujudkan keinginan. Alvian tetap harus mengutamankan sang istri terlebih dahulu.


"Al, meski kau belum kembali bertugas, bolehkah aku meminta bantuanmu?"

__ADS_1


"Bantuan?" Alvian berdecak heran.


"Iya bantuan. Ada sebuah kasus yang harus kami tangani, namun sampai detik ini kami belum mendapatkan titik temu, selama ini.. kau adalah orang yang paling pandai memecahkan kasus besar. Maka dari itu, aku sangat butuh bantuanmu!" harap Toni dari sebrang panggilan telponya.


Untuk sesaat Alvian terdiam, ia memikirkan apa yang baru saja Toni sampai dan harapkan.


"Oke... aku akan membantumu, tapi jangan beritahu siapapun, biarkan aku membantumu secara diam-diam!" tegas Alvian pada sahabatnya.


"Kenapa, Al?"


"Tidak, cukup turuti apa yang aku katakan. Jangan banyak tanya, ada apa dan kenapa. Oke?!"


Toni berujar paham, ia segera mematikan sambungan telpon, setelah semua hal, sudah ia katakan kepada Alvian.


***


"Pagi Rin," sapa Alvian pada istrinya yang baru saja membuka mata.


"Al,"


Airin mengerjabkan matanya berkali-kali, ia menatap sang suami lebih lama lagi.


"Tumben, masih di rumah? Biasanya sudah ke kantor?" Airin berdecak heran.


"Iya, aku off ke kantor hari ini,"


"Kenapa?"


Airin mendudukan tubuhnya tepat di samping Alvian, ia memandangi Alvian dengan banyak tanya.


"Aku mau ke kantor polisi hari ini, dan ada hal yang perlu ku sampaikan di sana,"


"Ohh,"


Mendengar itu, Airin tak menunjukan ekspresi apapun, ia segera beranjak dari tempatnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Hari ini, kau ikut denganku!"


Ucapan Alvian, yang seketika menghentikan langkah Airin.


"Untuk apa? Itu bukan hak'ku sama sekali,"


"Tapi, mengajakmu adalah hakku. Sebab yang aku mau, apapun yang akan ku lakukan, kau harus tau dan apapun yang ku putuskan, kau harus mendengarnya juga!"


Si cantik menarik sudut bibir, ia tak menyangka jika Alvian akan bersikap demi kian padanya. Apakah, sikapnya selama ini membuat pergerakan sang suami terbatas? Begitu pikir Airin.


"Maaf, jika selama ini, aku terkesan melarangmu, ini dan itu! Maaf... jika sikapku membuatmu, tertekan!" ujar si cantƬk tulus.


"Hei, apa yang kau katakan. Aku tidak pernah merasa tertekan, dan aku tak merasa jika kau melarangku ini dan itu. Karena menurutku, semua itu adalah hakmu, dan aku harus menurutinya selagi aku bisa,"


"Ta_tapi, apa kau tidak merasa tertekan?"


"Tidak sama sekali,"


Airin melebarkan senyumnya, ia melangkah lalu mendekti sang suami lagi. Si cantik medekap erat tubuh Alvian.


"Lakukan apapun yang kau mau dan senyaman'mu! Aku akan mempercayaimu dalam segala hal."


.


.


.


TEIMA KASIH KAKAK KAKAK BAIKšŸ¤—ā¤

__ADS_1


__ADS_2