
ANTARA CINTA DAN DENDAM
Polisi Sang Penakluk Hati (Season 2)
☡Selamat Membaca☡
Arfi sudah rapih pagi ini, ia sudah siap untuk bertugas, dan sebelum ke kantor Arfi menyempatkan diri untuk mengobrol sebentar dengan sang papi.
"Pi, nanti makan ya! Setelah itu temani mami, karena mami sedang tidak enak badan," ucap Arfi yang membuat si papi mengangguk pelan.
"Hati-hati di jalan!" titah sang mami pula.
Meski Arfi sudah berbangkat ke kantor dan menjalankan aktifitas pagi ini, namun tidak dengan Arfa, anak muda itu masih pulas tidur di kamarnya.
"Kamu tidak kuliah kah?"
Airin membangunkan anaknya, lalu menarik selimut Arfa.
"Masih pagi, Mi," jawabnya bermalas-malasan.
"Apa yang masih pagi? Ini sudah jam 9 lebih,"
"Haaah____!!"
Arfa terperanjat, saat sang mami, mengatakan sudah jam 9 lebih, karena ia ada mata kuliah jam 9 lewat 10 menit.
"Kok mami gak bangunkan aku, sih?"
"Sudah, tapi kau tak kunjung bangun juga. Cepatlah mandi!"
Secepat kilat, Arfa beranjak lalu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Jam setengah 10, ia sudah siap dan tancap gas untuk pergi ke kampus.
Dan... saat ia berada di dalam perjalan, Arfa mendapatkan pesan pemberitahauan, jika mata kuliah, di mundurkan menjadi jam setengah satu siang.
"Anja..y. Orang sudah buru-buru, tuh dosen sialan, seenaknya ganti jam kuliah." Omel Arfa kesal.
Ia menghentikan laju mobilnya di sebuah tempat, dan menemui beberapa anak buahnya.
"Aku ada tugas untuk kalian," ucapnya sesaat tiba di sebuah tempat yang sudah sekian lama menjadi markasnya.
"Tugas apa, bos?" tanya seseorang yang berbadan cukup kekar.
"Aku meminta kalian, untuk mencari tahu, masa lalu, Tito Sadewo,"
"Eh, bukankan dia pejabat di sini, bos."
"Mau pejabat, mau pen jilat. Terserah.... cari informasi, apapun tentang si Tito itu, sebab aku curiga, dialah penyebab meninggalnya Opa dan Oma,"
Arfa menjelaskan dengan nada sedikit emosi, anak muda itu melepas kaca mata, yang sebenarnya hanya hiasan saja, karena nyatanya Arfa bukanlah anak culun apa lagi cupu, ia hanya bersembunyi di balik karakter tersebut.
"Harusnya, bos berpenampilan begini, agat gadis-gadis di luar sana terpikar. Jangan gunakan kaca mata, apa lagi baju di masukin kedalam celana,"
"Apa orang tidak akan curiga, bahwa aku sebenarnya tidak selugu yang selama ini mereka sangka?"
__ADS_1
"Tidak bos. Sebaiknya anda berpenampilan seperti ini di kampus saja, jangan di rumah," saran dari anak buahnya lagi.
"Baiklah," jawab Arfa setujuh.
Namun, ia meminta beberapa anak buahnya, untuk tetap fokus menyelidiki Tito, dan mencari tahu masa lalu pria tua itu, yang tak lain ayah dari gadis cantik yang ia kagumi.
"Bila sudah terbukti, dia pembunuh Opa dan Oma'ku. Maka, akan ku bunuh dia dengan tanganku sendiri," ucapnya dengan nada meninggi
"Siap bos," jawab mereka tegas.
Salah satu dari sekian banyak anak buah Arfa, ada satu orang yang sebenarnya mengkhawtirkan sikap Arfa.
"Bagimana bisa. Arfa berniat menjadi penbunuh sementara, saudaranya seorang polisi?" bagitu batinya, sebut saja namanya Afiz.
Sementara Arfa sudah meninggalkan markasnya, lalu pergi ke sebuah toko, untuk membeli celana jeans pendek dan kaor polos berwarna hitam. Ia benar-benar merubah penampilanya, untuk memikat hati Nayla, karena ia sudah memiliki rencana besar di luar nalar.
Ssssstttt....
Arfa sudah tiba di kampusnya, anak muda itu melepas kaca mata dan berpenampilan sangat berberda. Tak ada lagi Arfa culun, tak ada lagi Arfa cupu.
'"Haaaaah,"
Semua mata terpana pada sosok anak muda, yang kini tengah berjalan dengan sangat gagah. Arfa benar-benar tampak sangat percaya diri, ia bahkan tersenyum sinis, saat semua anak-anak kampus terpana kepadanya.
"Itu Arfa, atau saudara kembarnya?" tanya Ika pada Meymei yang juga terpesona.
"Melihat dari tinggi tubuhnya, itu Arfa. Karena setauku, Arfi lebih pendek,"
"Entahlah,"
Arfa pun berjalan tepat di hadapan Nayla dan kedua sahabatnya. Meymei dan Ika tersenyum membalas tatapanya, namun Arfa justru membalasnya dengan senyum sinis.
"Arfa," ucap Nayla pelan, memanggil nama itu.
Tapi Arfa besikap seolah tak perduli, bahkan ia membuang wajah, saat Nayla memanggil namanya
Keduanya bukan hanya satu kelas, tapi Arfa dan Nayla satu ruangan, seangkatan, dan kuliah di bidang yang sama. Ya itu fakultas hukum.
"Nay... hei. Kamu menyesal ya menolak cintanya?" Ika memastikan karena sejak tadi Nayla tak berkedip memandang wajah Arfa.
"Tidak," jawanya datar. "Tapi, aku penasaran, apa dia merubah penampilan untuk menarik perhatianku?" batin Nayla lirih, ia berucap hanya di dalam hati.
Sepulang dari kampus, Nayla memilih untuk pulang sendiri, tak mau di ikuti oleh kedua sahabatnya, namun saat berada di dalam perjalan, mobil miliknya tiba-tiba saja mogok.
"Ehh, copet_____!" pekiknya sekuat tenaga, karena, ada beberapa orang merampas paksa tas miliknya, yang tentu saja ada handpone dan juga uang di dalamnya.
Nayla terpaksa, pulang ke rumah dengan menggunakan angkot yang lewat.
"Pak, bayarnya nanti di rumah saya saja ya. Karena aku baru saja kecopetan," jujurnya pada si sopir angkot.
Untung saja, Nayla masuk ke angkot yang tepat, karena sang sopir mempercayai ucapan Nayla.
***
__ADS_1
"Mantaaaap___ uangnya banyak dan poselnya, sepertinya memiliki harga tinggi jika kita jual nanti," ucap si pencopet bersorak riang.
"Wihh, hasil kerja kita siang ini, sangat besar ya," ujar salah satunya pula.
"Kalian mencopet atau merampas?" tanya Arfa yang baru saja tiba, karena sepuang dari kuliah ia langsung ke markas, bahkan ia mendapati beberapa anak buahnya tengah bersorak gembira, mendapati hasil rampasanya siang ini.
"Kita merampas, dan ternyata itu cewek anak orang kaya. Uang di dompertnya banyak banget," lapor Afiz bersemangat.
"Benarkah? Mana, sini saya lihat!"
"Ini bos, tapi kalau bos mau bagian, ambil saja!"
"Tidak, aku tak mau, ini uang kalian," jawab Arfa datar, ia memang tak pernah menikmati uang hasil mencuri dari anak buahnya. Yang ada Arfa selalu mencukup apapun kebutuhanan anak buahnya.
Bagi Arfa, mereka tetaplah saudara, sebab selama ini, anak-anak jalanan yang berpenampilan seperti preman itu, selalu terdepan untuk membantu dan menolongnya. Apapun yang Arfa printankan, mereka pasti akan melakukanya, karena bagi mereka, Arfa adalah malaikat penolong, sebab Arfa tak pernah bersikap sombong, meski terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya.
"Haaah..,"
Anak muda itu terperanjat, saat membaca kartu identitas pengenal yang ada di dalam dompet, milik seseorang yang telah di rampas paksa oleh anak buahnya.
"Ada bos?" Afiz penasaran.
"Nayla. Ini dompet dan tas milik, Nayla, gadis yang aku sukai." Jawabnya dengan sedikit emosi.
"Haaah... serius bos?"
"Kalian boleh mencopet, tapi jangan tas Nayla juga dong!" kesalnya.
"Ya.. kita mana tau bos. Kalau itu tas gadis yang bos taksir," jujur Afiz.
"Sini-sini. Aku harus mengembalikan ini!"
Arfa mengambil semua barang milik Nayla dari tangan anak-anak buahnya.
"Yaa.. gagal dong mau makan enak," decak Afiz kecewa
Mendengar itu, Arfa memberi 10 lembar uang berwarna merah kepada mereka, untuk mengganti rasa kecewa anak buahnya.
"Makanlah sepuasnya. Kalau uang itu kurang, silahkan hubungi aku saja!"
"Siap bos,"
Mereka akhirnya tersenyum bahagia, atas sikap baik bosnya. Sementara Arfa sudah keluar dari markas, untuk segera menemui Nayla dan mengembalikan tas, dan dompet gadis itu.
.
.
.
.
TERIMA KASIH🤗❤
__ADS_1