Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 36 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Mulai sekarang, jangan terlalu percaya, jangan terlalu perduli dan jangan terlalu berharap. Karena yang serba terlalu itu sering berakhir kecewa dan menyakitkan.


Saat ini contohnya. Sisi selalu berharap agar Tuhan kembali mempertemukanya dengan Arfi. Tapi nyatanya ketika takdir mempertemukan kembali, ia dan Arfi justru terjebak dalam keadaan. Dimana Sisi terlalu menyangi Cia dan Arfi terlalu menyangi Sisi.


"Ada apa?" tanya Arfi seraya memasamkan wajah. Karena Sisi masuk ke dalam ruangan tanpa di minta. "Abis jalan-jalan sama Adeknya kok malah cemberut?" tanyanya lagi.


"Aku boleh bertanya?"


"Silahkan!"


"Cia bilang, kamu sudah melamarnya."


"Iya... terus kenapa? Bukanya ini yang kamu minta? Menikahi orang yang tidak aku cintai?" Arfi sedikit meninggikan nada bicaranya.


Sisi diam membisu, sebenarnya ia tengah cemburu. Tapi Sisi tak mau egois, karena ia pikir jalan paling baik íalah mempersilahkan Arfi membuka hati untuk Cia.


"Cia sedikit ragu, karena Mami dan Papi tidak mengenalnya. Yang Artinya kamu tidak pernah memberi tahu orang tuamu, prihal siapa Cia dan hubungan kalian."


"Itu resiko, karena nyatanya aku memang belum siap menceritakan ke Mami bahwa aku akan menikah lagi."


Sisi tahu jika hatinya sakit karena Arfi akan menikah dengan Cia. Namun bukan bearti ia mau Arfi menggagalkan rencananya untuk menikah. "Tugasmu meyakinkan Cia, karena saat ini, dia mulai ragu!"


Arfi tak menjawab, ia justru meminta Sisi untuk keluar dari ruangan. Entah kenapa kepala Arfi rasanya mau pecah setiap kali Sisi memaksanya untuk tetap menikahi Cia.


"Oke- kalau mau saling nyakitin! Minggu depan akan ku pastikan, aku sudah resmi menikah." omel Arfi sendiri setelah Sisi keluar dari ruangan.


Arfi menikahi Cia demi Sisi, sementara Sisi sendiri berharap jika Arfi akan segera memiliki momongan setelah menikahi Cia nanti. Intinya mereka sama-sama berkorban dan sama-sama saling mentakiti.


.


.


...


"Cia, kira-kira kapan kamu wisuda?" Arfi menghubungi gadis itu melalui sambungan telepon.


("Enam bulan lagi Pak, kalau lancar.")


"Kalau seandainya, kamu hamil sebelum wisuda gimana?"


("Haaah? Maksud anda apa?") Cia mulai over thingking.

__ADS_1


"Tolong otaknya di kondisikan, jangan traveling apa lagi mikir yang aneh-aneh. Paham!"


("Iya-iya... btw kenapa Pak Arfi tanya begitu?")


Arfi menarik napas dalam-dalam dan diam sejenak sebelum kembali berbicara. "Emh, hari ini saya sudah mulai mempersiapkan pernikahan kita. Karena minggu depan saya akan menikahi kamu."


Demi apa, mendadak Cia menjadi gemetar dan ingin sekali selebrasi. Loncat dari lantai atas sampai ke lantai bawah, saking bahagianya karena Arfi akan menikahinya. ("Pak Arfi serius, nggak lagi ma buk kan? Ngeri aku kalau cuma di PHP-in.")


"Serius.... masa ngeprank. Mau nggak nikah sama saya?"


("MAU BANGET!!") jawab Cia spontan dan sangat bersemangat.


Arfi yang mendengar sontak menahan tawa. Sungguh kali ini Cia terdengar lucu menurutnya. Bahkan tawa kecil Arfi bisa di dengar jelas oleh Cia.


("Pak Arfi ketawa ya?")


"Nggak... saya lagi nangis nih." canda Arfi.


("Masaaa?") Cia ikut menggoda.


"Udah sana istirahat!"


("I-iya... makasih Pak, semoga malam ini mimpi indah.")


(Minggu depan aku menikah, doakan semua lancar dan tidak akan semakin terluka. Sebenarnya aku lelah dengan drama hidup tapi aku berusaha untuk tetap bangkit. Semoga ini keputusanku yang benar.") Begitulah pesan suara yang Arfi kirim untuk saudar kembarnya.


.


.


Tepat jam sembilan malam, Arfi mendapati Mami dan Papi masih asik menonton televisi. Ia pun ikut bergabung dengan keduanya dan bertingkah seperti anak tujuh belas tahun padahal usianya sudah menginjak dua puluh sembilan tahun.


"Mi- Pi- kapan kita jalan-jalan bareng?" tanyanya bak anak SD.


"Lusa." jawab Mami dan Papi singkat, sorot mata keduanya masih fokus menatap layar televisi.


"Janji ya!"


"IYA." jawab Mami dan Papi bersamaan. Lagi-lagi tatapan keduanya masih fokus ke layar kaca.


Arfi menghela napas sebal, ia baru sadar jika Mami dan Papi tidak mendengarkan apa yang ia ucapkan tadi. Sebab keduanya tengah asik dan menikmati acara yang tengah tayang kini.


"Astaga Papi, kenapa Jimin BTS semakin tampan rupawan dan mempesona." histeris Mami bak tengah menonton konser.

__ADS_1


"Iya nih, Papi juga heran.. kenapa kulitnya Suga BTS mulus banget, seperti orang yang abis nyalon selama dua belas bulan." tambah Papi yang sama semangatnya.


"Anjir... Emak dan Bapak saya, fans BTS." Arfi merasa kalah saing. Mami Papi saja segaul itu. Tapi ia medadak kesal sebab sampai detik ini kedua orang tuanya masih tidak fokus dan tidak perduli dengan apa yang di ucapkannya.


"MINGGU DEPAN AKU MAU MENIKAH!" ucap Arfi sembari sedikit berteriak.


Benar... Mami dan Papi spontan langsung mematikan televisi dan kini menatap full ke arah anaknya. "Apa katamu tadi?" Papi memastikan.


"Serius kamu mau menikah?" Mami tak mau kalah.


"Iya... serius."


"SAMA SIAPA?" Mami dan Papi bertanya bersamaan.


"Mau tau aja apa mau tau banget nih?" Arfi malah bermain-main.


"Nggak lucu tahu... cepet bilang sama Mami dan Papi! Tadi kamu ngomong becanda nggak sih?"


Arfi menarik napas panjang. "Gadis yang tadi siang datang ke sini itu. Dia lah, calon istri'ku, Mi- Pi."


"HAAAH?" Mami dan Papi kompak terkejut sama-sama. "Jangan becanda sayang! Itu gadis masih kecil dan masih kuliaj." si Mami tak percaya. "Mana dia nggak jujur, malah bilang kalau dia hanya anak magang di kantormu."


Mendengar Mami dan Papi buka suara. Arfi mendadak ingin sekali tertawa "Dulu dia memang anak magang. Sekarang nggak lagi, Cia itu anak dari pemilik perusahaan yang ku beli dan saat ini menjadi miliku."


Sulit untuk di jelaskan, Mami dan juga Papi tak dapat berkata-kata. Tadinya mereka berpikir jika Arfi akan rujuk kembali dengan Sisi, secara beberapa waktu lalu Arfi membawa sang mantan istri bertemu dengan mereka berdua. Namun apapun keputusan dan pilihan anaknya. Mami dan Papi akan tetap mudukung dan berharap yang terbaik.


"Kapan rsncana hari pernikahanya?"


"Minggu depan, Pi... aku juga sudah mempersiapkan segalanya."


"Semoga lancar sampai hari H, ya! Dan ucapkan salam dari kami untuk Cia! Katakan padanya jangan mengaku anak magang lagi!" si Mami mengingatkan.


"Siap, Mi."


Kali ini Arfi tak mampu menahan tawa, ia tak habis pikir kenapa Cia mengatakan jika dia hanya karyawan magang. Namun sedetik kemudian tawanya mendadak sirna saat ia mengingat ucapan Sisi jika Cia kecewa, karena Mami dan Papi tidak mengetahui status Cia.


"Astaga....!" Arfi pun menepuk jidatnya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2