Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Berusaha Ihklas


__ADS_3

šŸ•ŠSelamat MembacašŸ•Š


Pemakaman pun usai, semua orang yang datang pun pulang, baik dari, keluarga, tetangga, teman-teman bahkan rekan kepolisian, semua hadir di pemakaman Toni. Namun saat semua sudah meninggalkan kuburan yang tanahnya masih basah, Alvian justru masih betah di sana.


"Ton, maaf ya! Karena aku, kau harus meregang nyawa, andai kemarin, aku saja yang menyelamatkan ibu-ibu itu, pasti kau tak akan pergi secepat ini," ucapnya lirih.


Alvian tak lagi meneteskan air mata, meski perasaanya hancur luar biasa. Kepergian Toni meninggalkan luka, yang tak bisa terlukis oleh kata-kata.


"Takdir memang kejam, tapi kenyataan harus kita hadapi, seperti yang kau katakan dulu, jika semua yang bernyawa, pasti akan mati, tinggal menunggu waktu dan hari. Namun, kenapa kau harus pergi secepat ini? Dulu, kita berdua pernah bermimpi, akan mengelilingi bumi, jika kita sama-sama sudah menikah nanti," lirih Alvian lagi, lalu berusaha menahan air matanya, yang ingin jatuh berkali-kali.


Alvian mengusap pelan, papan nisan sang sahabat, ia berjanji tidak akan pernah melupakan kenangan indah bersama Toni.


"Kau orang baik, pasti kau sudah berada di tempat terbaik," imbuhya seraya beranjak dari duduknya. "Aku pulang Ton, besok-besok aku pasti akan kesini lagi,"


Si tampan berpamit pergi, ia melangkahkan kaki, menjauhi tempat peristirahatan sahabatnya.


"Tolong, selidiki, kasus bom ini, sampai tuntas! Untuk sementara waktu, aku tidak bisa ikut menyelidiki," Alvian berbicara kepada Rama, salah satu rekanya juga di kepolisan.


"Siap pak," jawab Rama tegas.


Pria muda tersebut, segera melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Meski kacau, Alvian masih berusaha fokus, untuk mengemudi mobilnya sendiri.


"Mas...," Airin menyapa saat sang suami baru saja tiba di rumah.


"Kenapa belum ganti baju, Rin? Itu baju yang kamu pakai ke pemakaman Toni, tadi kan?"


"Iya mas, tapi aku juga baru saja sampai,"


"Owh begitu. Ya sudah, mandi dulu sana!"


Airin dan Alvian segera masuk ke dalam rumah, mereka pun membersihkan tubuh sebelum beristirahat.


"Mas, handponemu berdering,"


"Siapa?"


"Gak tau, angkat saja!"


Alvian segera mengangkat telpon yang menghubungi.


"Hallo, siapa ini?"


"Aku, orang yang akan mencabut nyawamu. Karena kau, sudah ikut campur urusanku!" ancamnya dari panggilan telpon tanpa nama itu.


"Ciih sial!" decak Alvian kesal.


Tapi, saat Alvian akan mempertanyaakan, siapa nama si pengancam tersebut. Penelpon misterius itu pun langsung mematikan telpon secara sepihak.


"Aaaah," grutunya lagi.


"Ada apa, Mas?" Airin menggeleng heran.

__ADS_1


Namun Alvian tak menjawab pertanyaan sang istri, ia segera melangkah pergi, menjauh dari keberadaan Airin.


"Hmmm," si cantik menarik nafas, ia di buat bingung akan sikap sang suami.


Sementara Alvian, segera mengirimkan no ponsel misterius itu, kepada pihak berwajib, ia meminta polisi untuk menyelidiki lebih lanjut.


"Sebaiknya, apapun masalahmu, katakan pada Airin sejujur mungkin, karena bagaimana pun, dia istrimu!" nasehat Reyhan untuk anaknya, si papa paham jika anaknya tengah di kepung masalah.


"Tapi pah, Airin sedang hamil, jadi mana boleh dia berpikir terlalu keras. Aku takut dia akan panik,"


"Memang, apa yang tengah kau hadapi,"


"Peneror. Kira-kira mungkinkah, dia komplotan dari orang yang meledakan Bom di Mall kemarin, sebab.... tadi ada yang menelponku, dan dia memgancam akan membunuhku," jelas Alvian pada si papa, ia menjelaskan dengan seksama.


Sejenak Reyhan diam sejenak, lalu menatap wajah anaknya dalam-dalam, tak ada raut ketakutan sedikitpun yang Alvian tunjukan, meski mendapat ancaman, akan di lenyapkan.


"Bisa jadi, dan menurut papa, yang menelponmu, memang masih ada hubunganya, dengan orang yang meledakan bom bunuh diri itu," ujar Reyhan meyakinkan.


DEEG!


Dari suduh sebuah ruangan, Airin mendengarkan pembicaraan antara si papa mertua dan Alvian, sejenak Airin merasakan dadanya sesak.


"Sesulit itukah, menjadi polisi? Tapi, suamiku bukan seorang polisi lagi, kenapa masih ada yang merasa teracam?" tanya Airin berkali-kali di dalam hati, pertanyaan itu berputar-putar di otaknya sendiri.


"Rin, apa yang kau lakukan?"


"Mama," gugup si cantik tiba-tiba, saat Tania menepuk pelan bahunya.


"Rin, tunggu!" Alvian mengejar langkah istrinya, dan kini keduanya sudah sama-sama berada di dalam kamar.


"Aku bisa jelaskan, Rin,"


"Sudahlah, Mas... lagi pula aku sudah mendengar semua yang kamu bicarakan dengan papa,"


"Itu belum seluruhnya, Rin,"


"Lantas, hal apa yang belum ku ketahui?" Airin mendesak.


Sedangkan Alvian menundukan kepalanya, ia seolah tak mampu menatap wajah sang istri.


"Apa alasan orang misterius itu mengancamu? Pasti kamu, memiliki masalah denganya!" todong si cantik lagi.


"Ya benar,"


Alvian pun menceritakan hal yang sudah ia ungkap sebelum terjadinya ledakan Bom besar di salah satu Mall, saat itu hanya Alvian sendirilah yang bisa mengungkap sebuah kode rahasia di secarik kertas. Para peneror itu menuliskan hari dan tanggal dimana mereka akan meledakan bom sialan tersebut, namun mereka menuliskan dengan sesingkat dan seunik mungkin.


"Jadi, mereka merasa terancam? Karena kamu bisa saja melumpuhkan aksi jahat mereka,"


"Ya... begitulah kira-kira,"


Benar saja, kecerdasan Alvian, memang di atas rata-rata, pria itu selalu bisa mengungkap sebuah kasus. meski sudah di tutupi serapih mungkin. Hingga hal itulah yang membuat para pelaku kejahatan sangat membenci Alvian. Jauuh dimana Alvian dan Airin belum menikah, si tampan pernah menjadi target korban pembunuhan berencana, namun beruntung, para penjahat di tangkap sebelum melukai Alvian sedikitpun.

__ADS_1


"Haaah," Airin menatap sendu sang suami, rasanya ia tak menyangka, jika menjadi istri dari pria secerdas Alvian.


"Kamu jangan coba-coba selingkuh, Rin! Karena, belum berbuat, akan ku pastikan, mengetahuinya sebelum kamu memberitahu," ujar Alvian terkesan mengancam, di sertai senyuman penuh arti.


"Heeeh, apa menurut anda, wajah sepolos aku, memiliki ke ahlian untuk berselingkuh?" Airin membalasnya dengan bercanda.


Yang tentu saja, membuat Alvian seketika tertawa. Raut wajah sang istri yang seolah terancam, membuat si tampan sungguh merasa gemas.


Ssssttt...


Alvian mencubit hidung istrinya, yang langsung membuat si cantik berdecak kesal.


"Sakit tau,"


"Masa?"


Airin segera membalas, ia coba untuk mencubit hidung sang suami juga, tapi nyatanya Alvian justru membuat Airin salah tingkah.


"Ehhh,"


Airin memejamkan mata, saat wajahnya dan wajah Alvian saling bertemu, bahkan sang suami mendekatkan bibir semakin dekat.


"Huuh," si cantik membuang nafas pelan, karena ia merasa Alvian akan mencium dirinya.


Namun, Alvian sendiri, justru terawa geli saat melihat sang istri salah tingkah karena ulahnya.


Haaaap!


"Haaaah,"


Alvian tersenyum, karena justru sang istrilah yang mendaratkan kecupann.


"Kamu kelamaan, mas," ucap si cantik jujur.


Hal itu sungguh membuat Alvian merasa terhibur, sikap lucu Airin setidaknya membuat Alvian melupakan sejenak segudang masalah yang ia hadapi, dan kesedian yang ia rasa, karena Alvian baru saja kehilangan sahabat untuk selamanya.


Sebuah kisah indah, yang Toni lukis dalam perjalanan hidupnya, yang sungguh tidak akan pernah Alvian lupakan.


"Suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu lagi," lirih Alvian dalam hati.


.


.


.


.


Kisah Toni dan Alvian, aku tulis berdasarkan kisahnya kehidupan di sekitarku, jadi maaf ya kalau ada yang gak suka, karena pada akhirnya Toni harus meninggal duniaā˜ŗā¤


šŸ•ŠTerima kasih kakak-kakak baikšŸ•Š

__ADS_1


__ADS_2