Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bijaksana Atau Dewasa


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Yuda berjalan, keluar dari kantor milik Alvian, pria paruh baya itu merasa kesal teramat luar biasa, sebab suami dari anaknya itu, mengancamnya tanpa ampun.


"Pah," panggil Airin, saat sang papa hampir keluar dari pintu utama.


Ada kesedihan di binar mata si cantik, saat menatap wajah si papa, yang terlihat begitu kebingungan.


"Kenapa kau memanggilku? Apa, kau puas sudah menghancurkanku?" cetus Yuda yang justru terkesan tak menyukai saat Airin memanggil dirinya.


"Apakah, papa... tak memiliki niat baik sedikitpun? Meminta maaf padaku, atau menyesal karena perbuatan papa yang sangat menghancurkanku!"


"Apa...? Maaf...? Tidak akan pernah terjadi, sebab aku tak pernah mau meminta maaf padamu, karena nyatanya, kehancuran ini, semua karena dirimu," benci di batin Yuda untuk anaknya tak kunjung surut.


"Semua ini bukan salahku, pah.. tapi sikap papa sendiri yang menghancurkanya,"


"Kau tau... aku tak menyesal telah mengabaikanmu, sebab, sejak kau kecil hingga dewasa, hadirmu hanya menyulitkanku." Ucap Yuda dengan nada meninggi.


DEG!


Sakit bukan main, saat Airin mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan itu, sebab si papa, bahkan tak memiliki niat untuk memeluk kembali anak yang sudah ia campakan. Entah karena benci atau karena malu.


"Kau bukan anakku," lirihnya pelan lalu pergi meninggalkan keberadaan Airin.


Hikz!


Tangir air mata, tak mampu menampung betapa hancurnya batin Airin kini, sebab ia sebenarnya tak pernah membenci kedua orang tuanya, ia hanya marah sejenak, karena si mama dan si papa, tak memperdulikan ia sedikit pun, di saat Airin butuh dukungan.


"Jika papa tak memiliki kasih sayang lagi, setidaknya berpura-puralah minta maaf! Meski itu, papa lakukan demi perusahaan, bukan karena papa merindukanku, setidaknya, aku akan meminta Alvian untuk melepasakan papa... meski aku tahu, maafmu itu tak tulus. Kenapa, berpura-pura baik, sedikitpun padaku, sungguh sulit papa lakukan?" tangis Airin tak terbendung lagi, sungguh ia merindukan dekap hangat kedua orang tuanya, yang sudah lama, tak pernah Airin dapatkan.


Alvian yang sejak tadi memperhatikan, pembicaraan antara Airin dan papanya, hanya mampu menggeleng pelan, ia tak menyangka, jika ada orang tua yang sedemikian kerasnya.


"Rin, masuk!" titah Alvian dari pintu salah satu ruangan. Si tampan coba untuk menenangkan sang istri.


Dengan langkah gontai, Airin pun berjalan mendekati sang suami, ia tak punya semangat sedikitpun saat ini, meski Alvian sudah di ujung kuku, semudah itu untuk menghancurkan perusahaan papanya, tapi entah mengapa Airin tak merasakan puas sedikit pun.


"Apa yang harus ku lakukan, Rin?"


Airin menggeleng.


"Tapi, kau benar-benar terlihat sangat sedih, aku tak bisa melihat kau hancur seperti ini,"


"Aku,"

__ADS_1


Airin pun menceritakan hal yang mengusik perasaanya, tentang ia yang seketika tak tega akan kekacauan yang akan menimpa keluarganya.


"Apa kau mau, aku membebaskan hutang papamu?"


"Apakah, kau bisa melakukan itu?"


"Tentu saja bisa, semudah itu bagiku, membebaskan semua hutang papamu padaku," jawab Alvian meyakinkan.


"Bebaskan saja Al... biar papa tahu, bahwa aku tak setega itu kepada mereka, bukan seperti dia yang sungguh tega padaku,"


"Baik,"


"Tidak.... jangan lakukan itu!"


Rio bertieriak ke arah Airin dan Alvian hingga menghentikan pembicaraan di antara keduanya. Kakak Airin itu, tiba-tiba saja hadir di sana.


"Kak Rio, apa yang kau katakan?" Airin menatap heran.


"Aku... tak mau, kalian membebaskan hutang papa begitu saja,"


"Tapi, bukankah kemarin, kau meminta bantuanku untuk menolong krisis perusahaan yang menimpa papamu, tapi kenapa sekarang kau melarang, saat aku berniat mengihklaskan semuanya," ucap Alvian yang juga heran akan sikap Rio.


"Bukan aku tak kasihan, pada papaku. Tapi.... hal ini, setidaknya bisa memberi mereka pelajaran, bahwa harta bukanlah segalanya. Karena, aku memiliki harapan, agar papa sadar dan membuka mata, bahwa saat ia sulit, tak ada siapapun yang menolongnya, dan papa merasakan betapa sulit berada di posisi Airin saat itu, di saat butuh dukungan tapi semua orang justru meninggalkan," jelas Rio dengan semua harapan.


"Hemmmm..,"


Alvian menarik nafas panjang, lalu meminta Rio untuk duduk dulu dan berbicara cukup serius denganya. Si tampan seketika memiliki rencana yang mungkin saja akan di terima oleh Rio.


"Maksudmu?"


"Iya... aku akan tetap mengambil alih dan mengakuisi semua saham papamu, tapi setelah semua sudah berada di tanganku, aku akan mengubah nama kepemilikan perusahaan tersebut menjadi milik istriku. Dengan begitu, Airin bisa menguasai perusahaan tersebut dan kita akan bekerja sama, untuk membangunya kembali. Jadi, nanti keuangan papamu dan mamamu semua tergantung dirimu, mereka akan sangat membutuhkanmu," ide Alvian yang membuat Rio tersenyum.


"Aku setujuh," jawab Rio tegas.


"Lalu... bagaimana dengamu, Rin?"


"Aku... ikut apa rencana kalian saja,"


"Uang tetap akan menjadi uangmu, kau bisa menghidupi keluargamu dengan uang kerjamu nanti. Tapi, urusan hidupmu tetap tanggung jawabku, maka semua kebutuhanmu, biar aku yang mencukupi, dengan catatan, jangan pernah mengabaikan kewajibanmu sebagai istriku," tambah Alvian lagi.


Airin pun mendekati sang suami, ia memeluk erat tubuh Alvian, sebab ucapan terima kasih, tak akan bisa menyetarakan betapa baiknya Alvian.


"Terbuat dari apa, hatimu, Al? Kenapa kau semudah itu percaya padaku dan memberiku hak bebas,"

__ADS_1


"Seorang laki-laki sejati, tak akan pernah mau membuat pasanganya itu bersedih, sebab setauku, jika cinta, dia akan melakukan apapun untuk pasanganya. Hancurnya orang tuamu, membuatmu sedih, maka aku tidak akan menghancurkan," jelas Alvian lalu membalas dekapan erat istrinya.


Kesimpulan yang bisa di ambil adalah, bahwa nyatanya seorang anak belum tentu tega melihat kedua orangtuanya hancur, dan itu yang di rasakan oleh Airin, sementara cinta yang Alvian punya, begitu tulus kepada istrinya, maka dari itu si tampan tak akan melakukan hal yang mungkin saja membuat Airin bersedih. Dan dari Alvian dan Airin, Rio belajar sebuah ketulusan yang amat luar biasa.


"Al, semoga kau dan Airin selalu dalam lingkaran kebahagiaan!" harap Rio kemudian.


"Terima kasih," jawab Alvian canggung.


"Kakak... kau seharusnya memanggilku dengan sebutan kakak!" titah Rio sedikit bercanda.


"Ah... mana mau, aku memanggimu kakak, bukankah kita se'umuran,"


"Ya.. walau umur kita sama, toh.. kenyataanya, aku memang kakak iparmu," tambah Rio lagi.


"Ah, iya.... iya... baiklah. Kak Rio," ucap Alvian gugup dan juga cangung.


Buhahhahahahaha!


Airin dan Rio pun tertawa sejadi-jadinya, ucapan Alvian saat memanggil Rio dengan sebutan "Kakak" seketika membuat keduanya geli luar biasa.


Derrrrrtt... Drrtt... Drrrrt..


Ponsel Airin pun bedering, dengan sigap si cantik pun meraih posel yang sejak tadi berada di dalam tasnya. Ia pun seketika tersenyum sebab yang menghubunginya adalah Tania sang mama mertua.


"Hallo, mah...,"


"Rin,"


Suara Tania terdengar sangat parau, sepertinya wanita itu baru saja menangis.


"Mama, kenapa??!" khawatir Airin saat mendengar suara tangisan yang pecah dari sebrang panggilan telponya.


"Alvian hilang, Rin... di rumah hanya ada kursi rodanya saja, tapi Alvianya tak ada di rumah," jelas Tania dengan tangisan yang tak bisa di sembunyikan.


Mendengar itu, Airin pun diam sejenak, sebab tak tau harus berkata apa, karena nyatanya, Alvian kini sedang bersamanya. Bagaimana, Tania tak khawatir luar bissa, sebab yang wanita itu tau, anaknya itu tak bisa melakukan apa-apa, si mama belum tau jika Alvian sebenarnya sudah bisa berjalan, bahkan kini tengah duduk di samping Airin.


.


.


.


Nahkah.... Alvian si jahil banget😂😭❤.

__ADS_1


Makasih buat semua, jangan lupa bahagia🤗💪.


__ADS_2