
🌹Selamat Membaca🌹
Bukan ingin menjauh, tapi harus menjauh, sebuah kalimat yang seperti sama tapi artinya tetap berbeda. Hal itulah yang Sisi lakukan saat ini, namun Cia selalu membuatnya tak bisa menjauh, karena hampir setiap hari, Adiknya itu datang ke kantor hanya untuk mengobrol dan bercerita padanya. Cia bahkan tidak perduli meskipun Sisi mengabaikannya.
"Kakak lagi kerja Cia, nanti aja ya ceritanya!"
"Nggak mau," sahut Cia bak anak kecil.
"Kenapa kamu makin ke sini makin manja? Apa-apa harus di turutin, kamu nggak bisa bandingin, aku lagi sibuk atau nggak." Sisi mengoceh kesal tapi tetap saja Cia tak perduli.
"Memang-nya, kapan Kakak nggak sibuk? Kecuali di kantor, aku tuh susah banget buat ketemu Kakak. Karena Kakak tuh terkesan memang menjauh dan menghindar." nada bicara Cia cukup meninggi, sampai semua karyawan menatap aneh ke arahnya.
"Ya udah duduk sini, jangan teriak-teriak! Malu tau, lihat mereka semua mandangin kamu!"
"Bodo amat!"
"Oke.. silahkan cerita, Kakak dengerin! Tapi jangan kenceng-kenceng, nanti mereka semua liatin kamu lagi!".
Mau tak mau, Sisi mengalah dan membiarkan Cia bercerita apa saja. Bahkan Cia sengaja mengulur-ulur waktu agar dia lebih lama bersama Kakaknya.
"Kapan kamu wisuda?" tanya Sisi seketika.
"Bulan depan, Kak."
"Gitu ya. Kakak boleh nanya sesuatu nggak?"
"Tanya apa?"
"Rada privasi ini,"
"Iya, silahkan!"
"Kamu belum hamil ya? Atau Arfi belum?"
Pertanyaan Sisi tertahan kala Cia terkekeh pelan, ia menatap sang Kakak dengan sejuta harapan. "Kami selalu melakukanya, tapi aku belum melakukan tes pack," Cia berbisik.
"Datang bulan nggak?"
"Udah tiga bulan ini, aku belum datang bulan.'
"Real kamu hamil," Sisi menebak.
"Masa sih?" kini Cia yang penasaran.
"Nanti siang kamu tes ya, jangan lupa ajak suamimu!"
__ADS_1
Dan Cia pun menuruti keinginan Sisi. Siang ini ia mengajak Arfi untuk ke apotik membeli tes pack. Benar saja, setelah di lakukan tes berkali-kali, semua hasilnya garis dua, yang menandakan jika Cia memang resmi atau positif hamil.
"Haaah, syukurlah, terima kasih- terima kasih!" Cia benar-benar bersyukur, begitu juga Arfi pada akhirnya ia akan memiliki momongan juga.
Dangan begitu semangat, Arfi dan Cia memberi tahukan hal bahagian ini, kepada Mami, Papi dan juga Pak Dana Papa kandung Cia. Tak lupa si cantik pun memberi tahu Sisi juga.
Kehamilannya adalah kado terindah menjelang wisuda. Dan kebahagiaan yang Cia rasa, ikut di rasakan oleh para karyawan juga.
"Selamat ya, aku tebak anak kamu cewek." ujar Angga dengan senyum mengembangkan
"Ihh sok tahu, tapi mau cewek atau pun cowok, aku tetap bahagia, yang penting nanti, anakku sehat lahir dan batin."
"Aamiin." seru semua karyawan secara bersamaan.
Cia yang hamil, Sisi yang over. Hampir setiap hari, ia datang ke rumah Adiknya, untuk memastikan jika Cia baik-baik saja dan semua asupan makanan untuk ibu bayi pun terpenuhi.
"Kamu harus banyak-banyak minum Susu Ibu hamil dan vitamin. Agar badanmu tidak lemas!"
"Iya."
"Jangan terlalu banyak pikiran!"
"Iya."
"Tidur yang cukup!"
"Iya."
"Kakakku yang cerewet tapi baik hati, aku akan mendengarkan semua ucapanmu. Tapi kali ini izinkanlah Adikmu ini beristirahat!" ucap Cia dengan gaya lebaynya.
"Oh, oke... silahkan!"
Setiap hari Sisi datang ke rumah ini dan Arfi selalu memperhatikannya dari jarak jauh. Tapi ketika keduanya saling berpapasan. Baik Sisi atau pun Arfi tak pernah lagi saling menyapa.
Keduanya sama-sama saling menjauh dan bersikap acuh. Menurut Sisi hal ini di lakukan demi mengikis sedikit demi sedikit rasa yang teramat besar untuk mantan suaminya.
Arfi pun melakukan hal yang sama. Sejak ia mulai berhubungan badan dengan Cia dan terlebih saat Cia juga tengah mengandung anaknya. Arfi memutuskan untuk belajar mencintai Cia sepenuh hati, meskipun itu sangat sulit menurutnya.
Ck..
Tak sengaja, Arfi dan Sisi kini berada di satu lift yang sama dan benar-benar hanya mereka berdua saja. Baik Sisi atau pun Arfi mencoba untuk tidak perduli. Tapi sayangnya hari ini takdir seolah meminta mereka untuk berduaan sedikit lebih lama. Buktinya sampai lift yang mereka gunakan mati mendadak.
"Haah, kenapa berhenti?" Sisi mulai panik.
Arfi yang sama paniknya pun menekan tombol darurat dan berteriak meminta pertolongan. Beruntung Arfi membawa ponsel di saku celananya dan ia langsung meminta bantuan bagian mekanis untuk mengeluarkannya dari tempat ini.
__ADS_1
Sisi yang memang menderita asma akut, seketika mendadak napasnya berhenti. Tubuhnya mendadak lemas dan Sisi sulit berdiri.
Sadar kondisi Sisi tak baik-baik saja, Arfi pun langsung memapah tubuh Sisi untuk duduk dalam pangkuannya. "Tahan!"
Wanita itu tak menjawab, hanya napasnya yang tampak naik turun dan tubuh Sisi gemetar hebat. "Sakit," rintiknya lirih.
"Kamu bawa obat tidak?" tak perlu menunggu Sisi menjawab, Arfi langsung menggeledah tas milik wanita yang pernah menjadi istrinya ini.
Beruntung, obat hisap yang wajib Sisi bawa untuk menolongnya ketika mendadak sesek, berada di dalam tasnya. Secepat mungkin Arfi memberikannya untuk Sisi.
Dengan cekatan, Arfi mendudukan tubuh sang mantan istri, agar napasnya menjadi lebih longgar. "Gimana? Masih sesak nggak?" tanya Arfi setelah sepuluh menit obat itu Sisi hisap.
"Nggak lagi." jawabnya singkat. "Makasih Pak,"
"Sama-sama.'" jawabnya datar. Meski dalam hati, Arfi sangat bersyukur Sisi baik-baik saja.
Ini kali pertama mereka berdua saling menyapa setelah hampir sekian bukan lamanya. Baik Arfi atau pun Sisi sama-sama sok tidak perduli.
"Ah syukurlah!" Arfi menghela napas lega, setelah hampir satu jam terjebak di dalam sana. Ia pun berinisiatif mengambilkan Sisi air minum.
"Terima kasih, Pak!" ia tetap mencoba tersenyum meski wajahnya tampak pucat.
Semua orang pun mengelilingi Sisi, ada yang mengipasi agar Sisi tak kepanasan. Ada juga yang memijat bagian pundak wanita ini agar sedikit rileks.
"Kami senang kamu nggak kenapa-kenapa," begitu ucap mereka berkali-kali.
Di tengah suasana yang masih ramai mengelilingi dimana ia duduk. Diam-diam Sisi melirik ke arah Arfi yang ternyata tengah lekat menatap ke arahnya juga.
"Besok-besok kalau mau ke lantai atas harus ada yang nemenin ya! Takutnya kalau tu lift rusak lagi," Arfi mengingatkan.
"Baik, Pak."
Bukan tanpa alasan mereka semua lebih mengelilingi Sisi dan tampak lebih memperhatikan wanita ini daripada bos mereka sendiri. Karena mereka semua sudah tahu, jika Sisi mengidap asma akut, yang akan kambuh jika terkejut dan mendadak cemas, terlebih saat berada di ruangan sepengap seperti saat berada di dalam lift tadi.
"Kak Sisi, Kakak baik-baik saja' kan?" Cia mendadak ada di sana dan langsung panik melihat wajah pucat sang Kakak.
"Cia, bagaimana kamu bisa tahu, jika Sisi terjebak di dalam lift?" Arfi penasaran.
"Angga yang memberitahuku, Kak."
Arfi langsung menatap nanar ke arah anak muda yang mendadak takut di caci maki olehnya. Arfi kesal karena Angga suka melakukan banyak hal tanpa izin darinya
.
.
__ADS_1
.
B E R S A M B U N G