
*Selamat Membaca*
Pagi ini Airin bangun lebih cepat, ia segaja lebih dulu bangun dari suaminya, karena ia berencana untuk belajar memasak dengan si mama mertua.
"Boleh ya, mah?"
"Boleh, tapi kau harus mandi dulu! Bukankan semalam, kau dan Alvian melakukan pertempuran, jadi, kalau mau masak harus bersih-bersih tubuh, biar semangat, gak lemas,"
"Ealah, maksud mama apa? Aku belum melakukan malam pertama, mah," jujur Airin lalu menutup mulut dengan kedua tanganya.
"Masa sih, Rin, padahal semalam mama dan papa, mendengar kalau kamu berteriak," Tania memasang raut wajah penasaran.
Airin menarik sudut bibir, lalu menggigit kecil bibirnya sendiri, ia tersenyum penuh arti, ke arah wanita paruh baya, yang telah menjadi mertuanya.
"Oh, itu, aku dan Alvian tak melakukan apapun, mah.. karena aku sedang ada tamu bulanan," jelasnya pelan.
Airin pun menceritkan, apa yang terjadi padanya tadi malam, hingga membuat ia berteriak sekuat tenaga.
"Jadi, kau berteriak karena salah sangka," Tania menahan tawa.
"Iya, mah.. aku kira, Alvian sudah...," ucapan Airin tertahan saat melihat sang suami sudah ada di belakang Tania.
"Kau ini ada-ada saja, Rin, mana bisa, tanpa menyentuh, sudah pecah pertahanan," ujar Tania di sertai tawa sejadi-jadinya.
"Hem.. hem,"
Suara Alvian seketika menghentikan tawa sang mama, pria tampan itu menautkan kedua alisanya.
"Apa yang mama tertawakan?"
__ADS_1
"Tidak ada," jawab Tania lalu melangkah pergi tanpa menjelaskan apapun kepada anaknya.
"Mah, mau kemana? Katanya mau ajarin aku masak," Airin menggeleng heran.
"Masaknya kapan-kapan saja, mama ada urusan, lebuh baik, kau cari sarapan di luar bersama suamimu," ucap Tania tanpa ragu, ia melangkah pergi seraya menahan tawa yang sedari tadi menggelitik, jika ia mengingat betapa polos anak dan menantunya.
Airin dan Alvian pun saling berpandangan, bahkan Alvian mengeryitkan wajahnya, setelah mendengar seruan sang mama.
"Mama kira, aku bisa makan di luar, apa mama sudah lupa, kalau aku...," Alvian menghentikan ucapanya saat tangan Airin spontan menutup mulutnya.
"Kau bisa, aku yang akan membawamu untuk makan di luar."
"Tapi, apa kau tidak malu, kalau teman-temanmu, atau siapapun melihatmu, menikah dengan pria cacat sepertiku,"
"Jangan sakiti perasaanku! Dengan ucapanmu yang seperti itu, ketahuilah, aku bangga menikah denganmu.. karena dulu, saat aku sulit, kaulah yang ada untuk menyemangatiku," ungkap Airin tulus.
Alvian tersenyum puas, saat melihat ke tulusan dari raut wajah sang istri.
Benar, ada sebuah kado terindah, yang sudah Alvian siapkan untuk istrinya, sebuah kado yang akan membuat siapapun terkejut luar biasa
***
"Pak, antarkan aku dan Alvian, ke rumah makan pagi.. dan tolong, papah Alvian untuk duduk di kursi belakang mobil!" titah Airin pada Pak sopir kepercayaan keluarga Reyhan.
Sikap Airin yang begitu menunjukkan rasa pedulinya, terhadap sang suami, membuat Alvian tersenyum, dan bahagia menyelimuti perasaannya, pria muda itu tak menyangka, jika sang istri sedemikian perhatian terhadap dirinya.
Sesampainya mereka di rumah makan pagi, Alvian dan Airin duduk di kursi paling depan. Rumah makan yang terlihat masih sepi, membuat Alvian sedikit nyaman, karena ini kali pertama ia keluar rumah, setelah sekian lama duduk di kursi roda.
"Ayo makan!" ajak Airin pada suaminya, setelah semua makanan yang mereka pesan sudah tersaji di meja.
__ADS_1
Dengan begitu bahagia, Alvian pun mengindahkan titah sang istri, dan melahap dan menyantap semua makanan yang ada di meja, dengan begitu lahapnya. Tanpa keduanya sadari, bahwa saat ini, ada beberapa pasang mata, yang memperhatikan keduanya, yaitu karyawan rumah makan tersebut.
"Gateng banget ya, tapi sayang cacat! Sepertinya dia lumpuh karena kecelakaan deh"
Bisik-bisik para karyawan yang sebenarnya terdengar jelas di telinga Alvian, namun pria muda itu, tidak mau memperdulikannya sama sekali, ia justru tersenyum setelah mendengar ucapan-ucapan, yang sebenarnya sangat menyakitkan.
"Kita mau kemana lagi, nih? Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu, kan jarang-jarang nih, pak polisi Alvian mau di ajak keluar. Dan lagi pula, ini kali pertama loh, aku keluar dan menghirup dunia bebas, apa lagi bersama seseorang yang sudah menjadi suamiku," ujar Airin dengan senyum mengembang dari wajah cantiknya.
Dengan senang hati, Alvian pun mengindahkan permintaan istrinya, ia mengajak Airin untuk jalan-jalan di sebuah taman, yang dulu menjadi tempat favoritnya.
"Rin, kamu beliin aku minuman dingin dong, jangan lupa camilannya juga ya! Tuh ada minimarket," Alvian menunjuk ke sebuah minimarket yang tak jauh dari taman.
Dengan sigap, Airin pun menuruti permintaan suaminya, sementara Alvian segera meraih ponsel, yang sebenarnya sejak tadi bergetar, karena ada seseorang yang tengah menghubungi.
"Halo. Ada apa anda menghubungiku, apa ada sesuatu yang sangat penting untuk anda sampaikan? Karena sudah saya katakan, jangan menghubungiku pagi ini! Karena saat ini aku tengah bersama istriku," ucap Alvian sedikit kesal, kepada seseorang yang ada di seberang panggilan telepon.
"Ma_maaf, pak! Jika saya mengganggu anda... benar, saya menghubungi anda, karena ada sesuatu yang sangat penting untuk saya sampaikan, sepertinya anda benar-benar harus tahu masalah ini, sebenarnya ini bukan masalah, tapi berita besar, yang harus anda dengar," lapor seseorang yang ada di panggilan telepon tersebut.
"Benarkah, berita besar apa? Katakanlah!"
"Begini pak, seseorang bernama Wijaya Bratayuda, pemilik perusahaan terbesar di kota ini, sudah mau bekerjasama dengan kantor kita.. dan dengan ini, rencana anda untuk menjatuhkan orang tersebut, bisa berjalan dengan sangat lancar, karena saya sudah memasang strategi untuk menjatuhkanya," ungkapnya lagi.
"BAGUS....!!"
Laporan pekerjaannya tersebut, membuat Alvian tersenyum bahagia, strategi dan rencana yang sudah ia susun, kini berjalan dengan lancar.. dan keinginanya untuk merebut perusahaan orang tua Airin, kini sudah ada di depan mata.
"Kau tidak perlu bekerja keras, untuk memberi pelajaran kepada kedua orang tuamu, Rin.. karena aku sudah melangkah dan berencana menghancurkan perusahaan papamu sehancur-hancurnya," ucap Alvian dalam hati, dengan dendam yang berapi-api, sungguh, rasa benci terhadap Wijaya Bratayuda, kini memang sudah tidak bisa ditawar lagi, perlakuan keluarga Airin benar-benar membuatnya begitu geram.
"Al, ini... minuman dingin untukmu!" Airin menyodorkan sebotol minuman dingin yang Alvian inginkan.. Alvin pun segera menyembunyikan ponselnya, setelah sang istri kini sudah berada di sampingnya.
__ADS_1
Ada rencana besar dan kejutan yang sudah Alvian siapkan untuk sang istri, namun hal itu ia lakukan secara sembunyi-sembunyi, karena Alvian ingin memberikan kejutan, kepada wanita yang kini telah menjadi pendamping hidupnya. Jangankan Airin, kedua orang tua Alvian saja, tidak mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh anaknya, dan apa yang sedang Alvian rencanakan. Selama ini, yang kedua orang tua Alvian tahu, jika anaknya itu selalu mengurung diri di kamar. Tanpa mereka sadari, bahwa anak muda yang pernah menjadi polisi itu, mempunyai sesuatu yang akan membuat siapa pun berdecak kagum dan menggeleng keheranan.