Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 50 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌹Selamat Membaca🌹


Atas izin Arfi, Sisi di perbolehkan untuk pulang. Cia pun setia mendampingi sang Kakak, sebagaimana, Sisi yang selalu setia menemani.


"Harusnya kamu pulang, terus istirahat. Kakak nggak apa-apa kok."


"Kak, orang hamil nggak selalunya lemah, selama itu aman, nggak masalah untuk di lakukan. Lagi pula aku kan cuma nemenin Kakak,"


Mereka berdua memang selalu seperti itu, ingin saling menolong dan membantu. Hingga pada akhirnya baik Sisi atau pun Cia, sama-sama berpikir. Bagaimana jika salah satu di antara mereka meninggal lebih dulu? Sementara pikiran Sisi lebih bercabang lagi. Andai suatu saat, statusnya sebagai mantan suami Arfi di ketahui oleh sang Adik, akankah Cia terus bersiap sebaik sekarang ini.


"Kok bengong sih?" Cia menatap Sisi heran.


"Dek, Papamu sering ke rumah kalian nggak sih?" bukan menjawab, Sisi malah balik bertanya.


"Ada sih, beberapa kali, kalau sering sih nggak. Kenapa Kak?"


"Nggak sih tanya aja. Kalau mertua kamu gimana? Mami dan Papinya Arfi sering ke rumah kamu nggak?"


"Sebulan sekali, seingatku mereka pasti nginep di rumah."


Mendadak Cia mengelus dadanya sendiri, karena merasa sangat bersalah. Karena apa yang Adiknya rasa berbanding sekali dengan pikirannya. Karena kedua orang tua Arfi hampir setiap minggu ke rumahnya, bukan satu bulan sekali.


"Kenapa Kakak tanya-tanya mereka?"


"Nggak sih, tanya aja." selalu Sisi mengulangi jawaban ini lagi.


Setelah Sisi mengistirahatkan tubuh, Cia dengan sigap membuatkan makanan untuk Kakaknya itu. Ia selalu melakukan hal ini setiap Sisi sakit. Kini hampir tiga tahun mereka bersama, keduanya sudah saling memahami satu sama lain, meski pada kenyataanya kebersamaan mereka sedikit berkurang setelah Cia menikah.

__ADS_1


Ceklek!


Terdengar suara orang membuka pintu, benar saja, ada Arfi dan Angga kini berdiri tepat di hadapan Cia. Melihat suaminya datang Cia pun menyambutnya dengan senang.


"Mana Sisi?" Angga menoleh ke kanan dan ke kiri seraya menatap seluruh sudut ruangan.


"Kak Sisi tidur,"


Mendengar itu bukan hanya Angga yang menghela napas lega, tapi Arfi pun sama. Namun hebatnya, suami Cia itu selalu bisa bersikap biasa saja, sekali pun sebenarnya sangat khawatir.


"Beruntung, aku tadi masak cukup banyak. Ayo makan dulu!" Cia mengajak Arfi dan Angga menuju kemeja makan.


Angga dengan lahap menyantap semua makanan yang Cia hidangkan. Sementara Arfi tidak fokus karena terus memikirkan Sisi.


Sebenarnya, sudah sejak lama Cia memang menaruh rasa curiga. Tapi sebisa mungkin ia menepisnya, namun hari rasa curiganya itu kembali tumbuh. Karena Arfi tampak tidak fokus dan selalu menatap ke arah pintu kamar Kakaknya.


"Ga, Ata ada cerita nggak?"


"Ada dosen kami yang ketahuan selingkuh dan memiliki hubungan serius dengan suami sahabatnya sendiri. Dan gilanya tuh dosen kena labrak di kampus tadi." Cia berkata jujur dan terkejut mendengarnya.


"Gila tu Dosen, kampungan banget. Percuma pinter tapi tetep goblok!" ucapan Angga terkesan ambigu.


Diam-diam Arfi merasa sangat kesal mendengarnya, seolah Cia sengaja menyinggung ia yang masih menyimpan rasa untuk Sisi, yang tak lain sahabat Cia sendiri. Arfi mengepal jari jemarinya, ia tak tahan lagi mendengar cerita antara Cia dan juga Angga.


BRAAK!


Sekuat tenaga Arfi menggebrak meja lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sikapnya ini membuat Cia terkejut sekaligus takut, karena suaminya ini jarang sekali marah sejak hampir beberapa bulan terakhir.

__ADS_1


"Kenapa dia?" tanya Cia heran seraya menatap langkah suaminya yang kian menjauh.


"Nggak tau," sahut Angga sok polos, meski sebenarnya ia paham, kenapa Arfi bisa semarah dan seemosi itu setelah mendengar cerita Cia.


Akhirnya dengan sigap, Cia mengejar langkah Arfi dan Angga hanya terkekeh geli. Ia merasa sebentar lagi rahasia antara Sisi dan Arfi pasti akan sesegera terungkap secepat mungkin.


"Kak Arfi kenapa? Ceritaku tadi buat Kakak tersinggung ya?" Cia melotot heran ke arah Arfi.


"Nggak kok,"


"Kalau nggak, kenapa Kak Arfi memukul meja seperti tadi?"


Arfi pun memilih diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Cia, ia takut ucapannya akan menyakiti sang istri. "Kakak tadi hanya khilaf, maaf ya sudah membuatmu terkejut."


Demi apapun, Cia tak mempercayai sedikit saja jawaban Angga. Mana mungkin suaminya hanya khilaf sampai memukul meja sekuat-kuatnya


"Ayo masuk lagi!"


"Saya pulang duluan ya, jika kamu tidak berani pulang sendiri, mintalah Angga untuk menemanimu!"


Benar saja, setelahnya Arfi langsung melangkah pergi meninggalkan rumah Sisi. Sementara Cia masih termangu tanpa kata, ia semakin merasa ada yang tidak beres.


"Sebenarnya, apa yang kalian sembunyikan dariku?"


.


.

__ADS_1


.


B E R S A M B U N G


__ADS_2