
❣Selamat Membaca❣
Bak jarum jam yang terhenti berdetak, seperti itulah kondisi jantung Sisi saat ini. Napasnya terasa sesak, bahu naik turun dan susah payah ia menahan air mata. Sementara Cia terus bercerita dengan sangat semangat, memberitahukan Sisi, seperti apa sikap Arfi yang menjadi malaikat menolong baginya.
"Ceritanya lanjut nanti saja, lihat semua orang memperhatikanmu!"
Cia menoleh ke kanan dan ke kiri. "Eh, iya- iya- Kak," ucapnya seraya tersenyum lebar. Sungguh tatapan mereka semua seakan mengintimidasi ke arahnya, padahal bukan karena Cia berleha-leha tapi karena mereka penasaran. Apakah Pak Arfi benar-benar akan menikahi Cia.
.
.
Di meja kerjanya, Sisi tak fokus sama sekali. Masuk di kantor ini, seakan menjadi tekanan batin baginya. Ia harus menerima kenyataan, jika Arfi menjalin kasih dengan Adik angkatnya. Bahkan pengakuan Cia prihal Arfi yang akan menikahi, membuat hatinya terasa perih. Sakit sekali
Ck.
Spontan Sisi meraih ponsel yang ia letakan di atas meja. Dan secara dadakan juga, ia mengirim pesan singkat ke no WhatsApp milik sang mantan suami.
"Selamat, semoga nanti segala urusan lancar sampai hari pernikahan!" pesan singkat Sisi kepada Arfi.
Dan sepuluh menit kemudian, barulah Sisi mendapatkan balasan. "Maksud kamu, apa?" tanya Arfi juga melalui pesan singkat, detik ini juga ia mengerutkan wajah.
"Nggak ada maksud," balas Sisi lagi.
"Kita perlu bicara!" Arfi memberikan banyak tanda seru di pesan singkatnya yang ini.
"Bicara apa? Aku nggak ada waktu."
"Nanti sore temani saya bertemu rekan kerja! Tidak boleh menolak dan saya tidak menerima alasan apapun, kamu asisten saya, jadi sudah seharusnya menjalankan perintah!!" Arfi mencari cara supaya Sisi tidak bisa menolak.
Sisi memasamkan wajah dan secara terpaksa ia pun mengiyakan seruan Arfi padanya, meski Sisi sangat yakin, jika pria itu pasti sengaja menggunakan alasan pekerjaan agar ia tidak bisa membantah.
"^_^! Arfi pun tersenyum saat Sisi membalas IYA atas permintaanya.
.
.
.
*** *** ***
Jam pulang kerja pun tiba, Cia tak bisa pulang ke kos-kosan, karena Mama dan Papa meminta ia pulang ke rumah.
"Katanya tadi mau cerita," Sisi mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Nggak bisa hari ini Kak, besok-besok ya!"
Sisi membalasanya dengan senyum datar, sementara Cia sudah masuk ke dalam mobil dan pergi menjauh dari keberasaan sang Kakak. Dan sebenarnya Sisi sendiri ada tugas hari ini, untuk menemani Arfi bertemu rekan kerja, beruntung Cia tidak pulang ke kos-kosan, setidaknya ia tak harus pusing mencari alasan karena tidak bisa menemani Cia bercerita seperti yang keduanya janjikan tadi.
"Ayo masuk!"
Arfi tiba-tiba datang dan menarik tangan Sisi, ia membuka pintu mobil dan meminta wanita itu segera masuk. Senyum Arfi merekah, karena Sisi sangat patuh padanya. Maklum status Sisi kini karyawan dan Arfi adalah atasan. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam saja tanpa sepatah kata pun.
"Ayo turun!"
Sisi seketika mengerutkan kening, ia menoleh ke segala arah. "Katanya mau jumpa rekan kerja, terus ngapain ke sini?" tanyanya sok polos.
"Rekan kerja saya di dalam, nggak usah kepedean, saya bukan mau ajak kamu makan. Paham?"
"Oh, oke." jawab Sisi singkat padat dan jelas.
Masuklah keduanya di sebuah rumah makan yang cukup ramai pengunjung. Rumah makan favorite Arfi setelah kembali dari Jerman. Pria itu tidak berbohong di dalam sana, Arfi memang sudah di tunggu oleh beberapa orang.
"Silahkan duduk, Pak!"
Arfi hanya membalasnya dengan tersenyum, sesegera mungkin duduk dan bergabung bersama mereka. Hari ini Arfi menemui arsitek kepercayaanya dan beberapa orang yang sudah siap untuk bekerja. Bersama mereka Arfi membicarakan tentang pembangunan perumahan di atas tanah yang baru saja ia beli beberapa hari yang lalu.
"Semua masalah ke uangan, akan ada yang menangani, kalian minta saja ke dia nanti. Tapi saya butuh laporan setiap bulan, prihal apa saja yang sudah kalilan kerjakan!"
Hampir tiga puluh menit mereka saling berbicara dan Sisi hanya diam saja seraya menjadi pendengar yang baik. Ia tak menyangka jika Arfi bisa sebijak ini menjadi pemimpin. Terlebih di antara mereka tidak tampak seperti atasan dan bawahan, tapi justru terlihat seperti teman akrab.
"Kami permisi dulu, Pak!" pamit mereka sopan.
Arfi mengangguk seraya memberikan senyum paling ramah. Setelah mereka pergi, ia juga mengajak Sisi pulang. Tak ada hal bearti yang di lakukan keduanya hari ini, Sisi benar-benar merasa hanya di perlakukan sebatas karyawan saja.
"Terima kasih, sudah menemani saya hari ini!"
"Sama-sama, Pak," Sisi melebarkan senyum penuh arti.
Setelah itu, ia hanya melihat Arfi pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Entah mengapa Sisi merasa kesal di perlakukan biasa saja. Apa sebenarnya yang ia harap, Sisi sungguh bingung sendiri, toh kenyataanya kemarin ia lah, yang mengatakan kepada Arfi, jika sudah tak memiliki rasa sama sekali. Padahal ia tidak tahu, jika pria itu saat ini tengah merencanakan sesuatu, agar Arfi mengetahui. Apakah Sisi benar-benar sudah tidak memiliki rasa atau hanya pura-pura tidak cinta?
TING!
Sebuah pesan singkat masuk ke no WhatsApp Sisi, ia mengira itu pesan dari Cia, tapi lagi-lagi Arfi lah yang mengirim pesan untuknya.
("Saya sudah memasankan makan malam untuk kamu, selamat menikmati setelah sudah sampai nanti!") pesan Arfi yang membuat Sisi mengembungkan pipi, ia benar-benar salah tingkah karena sikap sang mantan suami.
Sisi berpikir keras, kata-kata apa yang pantas untuk membalas pesan singkat Arfi. "Kamu aneh," balasnya spontan.
("Haaah, kok aneh?") Arfi di seberang sana penasaran.
__ADS_1
"Iya aneh, nggak konsisten sih masalahnya! Kadang pake SAYA kadang juga pake AKU," jawab Sisi kian nyeleneh.
("Hahaha, sekarang saya merasa kamu yang aneh. Perkara sebutan saja di permasalahkan.") balas Arfi lagi.
"Suka-suka saya dong, dah ah.... saya mau istirahat, sekian terima kasih!"
Membaca balasan pesan dari Sisi... Arfi pun membalasnya dengan emticon Love saja. Sederhana memang, tapi sukses membuat Sisi tersenyum. Malam ini ia tidur dengan perasaan berbunga-bunga.
.
.
Jauh di rumahnya yang megah, mewah dan indah, Cia menghabiskan waktu hanya di dalam kamar saja. Rumah besar ini terasa seperti neraka baginya.
"Hm!"
Merasa sangat bosan, keluar tidak bisa, mau melakukan apapun di larang, Ia pun sangat tertekan. Pada akhirnya, Cia memilih untuk melakukan Video Call dengan sang Kakak.
"Cia, apa kabar?" Sisi sangat semangat saat Adik angkatnya menghubungi.
"Aku bosan Kak, tapi Mama dan Papa melarangku keluar rumah."
"Kamu sabar ya, semua akan indah pada waktunya." Sisi berusaha menyemangati.
Cia hanya tersenyum mendengarnya, tapi sedetik kemudian senyum itu pun sirna.
"Loh, kok mendadak cemberut?" Sisi merasa heran.
"Selain bosan, aku juga juga lagi kesel banget nih, sama Pak Arfi."
"Loh, kenapa?" dada Sisi berdebar-debar.
"Karena sepanjang hari ini, tu Bapak-Bapak satu susah benget di hubungi. Padahal akukan butuh dia,'
DEEEG!
Mendadak Sisi merasa bersalah dan tidak enak hati, karena kenyataanya sepanjang hari ini Arfi bersamanya bahkan sampai malam, pria itu masih membalas pesan singkat Sisi. Lantas kenapa Arfi mengabaikan pesan dari Cia?
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1