
❣Selamat Membaca❣
Sisi masih menatap sendu, Arfi yang berdiri di depanya seraya melipat tangan di perut. Tak ada jawaban dari sang suami, saat Sisi berkali-kali bertanya.
"Kak Arfi, mendengar pembicaraanku dengan mbak Nayla?"
"Ehem...!" hanya itu yang keluar dari bibir si tampan, ia segera berlalu dari hadapan Sisi, lalu meraih laptop miliknya yang terletak di atas meja.
"Huuuh.. laptop... laptop dan laptop!" omel Sisi kesal karena Arfi selalu mematap layar benda kotak itu. Entah apa yang dia lakukan.
Sisi yang berceloteh, lalu masuk kedalam kamar untuk merebahkan tubuh, suaranya masih terdengar di telinga Arfi, pria itu tersenyum mendengar omelan istrinya.
***
Malam yang di tunggu Sisi pun tiba. Teman-teman sekolahnya tak henti menghubungi, memastikan Sisi akan datang atau tidak.
"Kalau kau tidak datang, di jamin pasti kerja malam!" Lili mengirim pesan singkat melalui grup khusus anak-anak yang akan datang reuni.
"Aku pasti datang. Tenang saja!" balasnya.
Sisi sudah berdandan cantik bak boneka Barbie, rambut pendek sengaja ia urai, bibir merah muda dengan baju biru dan warna sepatu yang senada, tas mahal harga sekian juta. Tak ada yang murahan menempel di badan Sisi malam ini, Arfi sengaja membelikan untuk sang istri siang tadi, tapi sayang malam ini ia harus pergi hingga tak bisa menemani Sisi.
Ck...
Sisi melotot, matanya membulat tajam, kala melihat mobil sang suami masih terparkir di halaman apartemen. Ia segera meraih ponsel dan menghubungi Arfi.
"Kak, kok mobilnya gak di bawa?"
"Sengaja. Bawalah, malam ini kamu harus bergaya bukan?"
"I-iya, sih. Tapi sebenarnya bukan barang dan mobil mewah yang ingin ku tunjukan."
"Apa?" tanyanya singkat.
"Suamiku. Ya kakak.. aku ingin memberi tahu mereka, jika aku memang sudah menikah."
"Emm, maaf aku tak bisa!"
Arfi langsung mematikan sambungan telepon, setelah itu mengirim pesan singkat untuk istrinya. "Kontak mobil ada di dalam lemari bajuku, di bawahnya ada amplop. Ambilah!"
"Hah?"
Sisi berdecak lirih, kala sikap dingin sang suami membuatnya menepuk jidat. Tapi ada hal yang membuat ia sedikit tersenyum, karena sedari siang, Arfilah yang menyiapkan segalanya. Mulai dari baju, mobil dan uang yang cukup banyak didalam amplop.
Sssttt....
Dengan langkah tegak, ia masuk kedalam mobil, lalu memacu kendaraan sehati-hati mungkin, Sisi tersenyum getir sepanjang perjalanan, ia merasa ada yang kurang karena sang suami tak mau ikut denganya.
"Woooow...!"
Semua mata terpana, kala Sisi keluar dari mobil mewah dengan begitu cantiknya. Baju biru yang ia gunakan, membuat Sisi semakin mempesona.
__ADS_1
Tap.. tap... tap...
Berjalan dengan begitu anggun, ia menyapa teman-teman satu sekolahnya dulu. Sisi datang paling terakhir malam ini.
"Hem.. hem...! Sendirian, Si?" Lili tercekat kala Sisi tampil lebih cantik.
"Si... kau cantik sekali malam ini,"
"Iya, pakai mobil mewah lagi."
Sahut mereka bergantian, Sisi sampai bingung mau menjawab pertanyaan siapa. Ia hanya menjawab dengan tersenyum, setelah itu mendudukan tubuhnya di kursi. Sementara banyak mata yang memperhatikan penampilanya, dari atas sampai kebawah.
"Berubah banget, kamu ya, Si? Makin modis."
Lagi, Sisi tak menjwab, ia hanya mengangguk-angguk sok paham, seraya meminta pelayan Cafe membuatkan jus jeruk untuknya.
"Mas, kasih makanan paling mahal untuk dia! Nanti saya yang bayar!' seru Fadil, pria yang paling populer saat masih sekolah.
Fadil beranjak dari tempat ia duduk, lalu mendekati Sisi, ia meminta no posel wanita itu.
"Lupa... gak bawa handpone!"
"Masa sih? Ya sudah, nanti pulang aku antar ya!" Fadil masih coba merayu.
"Ga perlu, aku bawa mobil sendiri!"
Fadil bersikeras untuk mengantar Sisi pulang, meski wanita itu menolaknya. Dan sepanjang mereka saling berbicra, selama itu pula Fadil mencari perhatian Sisi.
Sisi merasakan sesak menghujam dada. Lili benar-benar menginjak harga dirinya. Tapi si cantik mencoba untuk bersabar
"Li, kamu seyakin itu, Sisi wanita malam?" Dendi penasaran.
"Yaaa bayangin dong! Gak punya orang tua, gak ada saudara, lulus SMA baru 6 bulan yang lalu, terus punya mobil semewah itu, baju dan tas mahal, handpone keluaran juga bukan kaleng-kaleng. Darimana Sisi dapat semua itu kalau bukan jadi simpanan om-om?!" Lili berujar tanpa ragu seraya menatap wajah Sisi penuh benci.
Praaank!
Sisi yang tak terima, melempar sendok ke piring makan Lili, dan terjadi pertengkaran di antara keduanya. Adu mulut tak bisa terhidarkan.
"Dari dulu, kau selalu menghinaku. Wanita murahan, wanita penghibur. Apa mulutmu tidak lelah, selalu menyudutkanku?!" Sisi berteriak kencang.
"Tidak, aku bahkan belum puas, jika kau belum menangis di hadapanku. Karena sejak awal kau masuk sekolah, aku sudah membencimu!!"
"Ohh pantas. Itu sebabnya kau suka sekali menfitnahku!"
"Iya.. karena aku muak, melihat muka sok polosmu itu! Padahal kau wanita penghibur!"
"Aku bukan wanita penghibur! Berhenti menhinaku!"
"Kau wanita penghibur!!" Lili menjambak rambut Sisi.
"Bukan....!" Sisi balas menjambak.
__ADS_1
Bahkan pertengkaran antara Sisi dan Lili, seolah menjadi hiburan gratis! Tidak ada yang coba melerai, tapi justru saling bersorak, dan memastikan, siapa yang akan menyerah. Sisi atau Lili?
Ck.. Ssttt....
Lili meraih gelas di hadapanya dan siap melempar ke wajah Sisi. Beruntung, saat itu ada Arfi yang datang tiba-tiba dan menarik tangan sang istri.
Praaank
Pecahan gelas berserak di lantai, dan membuat gaduh suasana Cafe malam ini.
"Jangan coba menyakiti tubuh istriku. Sedikit luka yang kau goreskan di tubuh Sisi, akan membuatmu menyesal seumur hidup!!" ancam pria itu tak main-main.
Tatapan Arfi menajam, menatap wajah mereka satu persatu.
"Anda siapa?" Fadil menarik tangan Sisi agar menjauh dari Arfi.
"Hey anak kecil! Kau lupa wajahku? Aku suami Sisi, dan lepaskan tanganmu dari tangan istriku!!"
"Hahh-- suami? Aku tidak percaya," Fadil coba meyakinkan dirinya dan bertanya kepada Sisi.
"Iya... kak Arfi suamiku. Dan semua yang kudapatkan adalah pemberianya. Mobil, apartemen mewah dan semua kebutuhanku, kak Arfi yang mencukupi." jelas Sisi bangga, ia benar-benar bahagia, karena sang suami hadir di hadapanya
"Ja-jadi, kau dan dia bukan menikah pura-pura?" Fadil kecewa.
"Bukan. Siapa yang mengatakan, aku dan kak Arfi pura-pura menikah?"
Mereka semua menunjuk wajah Lili, dan gadis yang sangat membenci Sisi itu pun segera pergi untuk menhindar.
"Ayo pulang!" ajak Arfi menarik tangan Sisi.
Teman-teman yang meragukan jika isi sudah menikah, hanya menatap langkah kedua pasangan itu, dengan rasa tak percaya.
"Masuk!'
Arfi membuka pintu mobil meminta Sisi masuk lebih dulu. Tapi ia kembali melangkah, untuk mendekati keberadaan teman-teman sang istri, yang masih menatap penuh arti.
"Baca....!!"
Si tampan melempar buku, bukti jika ia dan Sisi sudah SAH sebagai suami istri, menurut agama dan negara.
"Jika ada yang menghina istriku murahan. Siap-siap masuk penjara!!'
Mereka hanya tertunduk malu. Sementara Arfi kembali melangkah dan masuk kedalam mobil.
.
.
.
TERIMA KASIH
__ADS_1