
ANTARA DENDAM DAN CINTA
☡Selamat Membaca☡
Nayla masih saja heran, dengan sikap Arfa yang sungguh tidak bisa di tebak, bahkan pria itu menyempatkan untuk membawakan bubur ayam untuknya.
"Belajar gombal, dari siapa sih?" tanya Nayla penasaran
"Rahasia. Yang penting sekarang kamu, makan dulu buburnya!"
Arfa beralih duduk di lantai, menemani Nayla yang tengah makan, bahkan diam-diam ia memperhatikan si cantik yang sedang makan dengan lahapnya.
"Benar kata, Arfi. Rugi menyia-nyikan cewek semanis Nayla," lirih Arfa dalam hati.
"Kok, kamu bawanya cuma satu sih?" tanya Nayla di sela-sela makanya.
"Sengaja sih, sebenarnya, biar bisa makan berdua, tapi kalau kamu, makanya rakus gitu, gimana aku mau ikutan makan," jawabnya yang langsung mendapatkan plototan tajam dari Nayla.
"Muehehehe__," Arfa tertawa melihat lucunya wajah Nayla saat sedang kesal. "Gapapa, makan saja! Aku sengaja bawa makan itu buat kamu," tambahnya lagi.
Arfa beralih memainkan ponselnya, meski ia duduk di lantai saja, Arfa tidak keberatan, sebab ia tau, jika si cantik kini tengah hamil anaknya. Sementara Nayla melanjutkan aktifitas makanya.
"Fa.. jujur deh! Aku sedikit heran dengan sikapmu, yang aneh itu, kadang cueknya luar biasa, tapi malam ini, kamu baik sekali," ujar Nayla memberanikan diri untuk bertanya.
Mendengar itu, Arfa pun tersenyum, ia menatap dalam-dalam wajah Nayla yang juga tengah menatapnya.
"Gapapa," ucap Arfa tersenyum. "Aku sedang berusaha, untuk menjadi apa yang kamu mau dan butuhkan. Dalam hal ini, aku butuh kamu untuk memahamiku," tambahnya.
Yang tentu saja, ucapan Arfa membuat mata Nayla berkaca-kaca, nyatanya meski nyebelin luar biasa, Arfa bisa membuat perasaan dan hati Nayla berbunga-bunga.
**
Arfa itu seolah kejutan, setiap perlakuanya tak pernah bisa Nayla baca. Ia satu-satunya pria yang membuat si cantik keluar dari zona nyama. Arfa itu keras kepala, cuek dan kini bersikap apa adanya, namun entah mengapa semua sikap dan caranya, selalu di terima oleh Nayla, ia benar-benar jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
"Nay.. aku tau, kalau aku bukan pria baik-baik. Banyak hal buruk yang ku lakukan, tapi tetap saja, aku menginginkan wanita baik-baik untuk menjadi pendampingku," ungkap Arfa sendu.
"Dengar baik-baik ya, Fa! Aku cinta ke kamu itu tulus, dan apa adanya, tak perduli seburuk apapun kamu, masa lalumu, yang terpenting saat bersamaku, lain lagi ceritanya. Kamu tau, karena hanya seorang Arfa'lah yang mampu membuatku jatuh cinta, bahkan seperti orang gila." Jelas Nayla tulus, ia tersenyum manis ke arah pria muda itu.
Di sisi lain, Arfa hanya membalas ucapan Nayla dengan senyum tanpa kata-kata, tapi manik indah dari bola matanya, menjelaskan jika ia bahagia akan apa yang Nayla katakan.
"Aku pulang," Arfa beranjak dari tempat ia duduk.
"Heh, udah gitu aja?"
"Terus, kamu apa? Mau di cium ya!"
Nayla menggeleng cepat. Ia mendekat ke arah si tampan, lalu meraih tanganya.
"Aku hamil, dan ini anakmu. Cepatlah nikahi aku!"
Arfa tersenyum.
"Dan, aku tidak butuh, apapun yang akan kamu beri, yang terpenting, kamu menikahiku dan aku "SAH" menjadi istrimu,"
"Yakin? Gak mau, aku kasih cicin, atau mobil gitu?"
__ADS_1
"Tidak... cukup kamu; selalu ada untukku, itu cukup,"
"Baik, aku akan berbicara kepada mami. Hari dan tanggal kita menikah, nanti kita tentukan bersama," jelas Arfa.
Nayla tersenyum puas, karena ia tak akan melahirkan tanpa suami, dan anaknya di pastikan memiliki ayah seutuhnya, jika nanti hadir di dunia.
***
Kini Arfa sudah tiba di rumah, ia masih saja terbayang wajah cantik Nayla, yang berharap ia akan segera menikahinya.
"Kamu kemana, sayang? Kok tiba-tiba menghilang?" si mami bertanya, saat Arfa sudah mendudukan tubuhnya di sofa.
"Iya... kamu kemana, sih? Tega banget ninggalin mami,"
"Maaf, mi! Tapi aku sudah memesankan Taxi untuk mami pulang, tadi aku pergi tiba-tiba sebab melihat Nayla keluar dari rumah sakit,"
"Haaaah! Nayla sakit?" si mami dan Arfi bertanya secara bersamaan.
"Bukan,"
"Lalu, kenapa?" tekan si mami lagi.
"Nayla hamil,"
"Haaaaah, serius??" lagi-lagi mami dan Arfi bertanya bersamaan.
"Serius... dan sekarang aku pusing sekali, sebab Nayla memintaku untuk menikahinya, sementara aku, masih kuliah, dan belum bekerja. Bagaimana bisa, aku akan menjadi seorang suami sekaligus ayah, nantinya,"
"Semua kerena kecerobohanmu, Fa. Sebagai pria, kamu harus bertanggung jawab, atas apa yang sudah kamu perbuat," ujar si mami, menepuk lembut pudak Arfa.
"Itu sih maumu.... enak saja, Nayla miliku dia akan selamanya menjadi miliku," kesal Arfa, ia langsung beranjak lalu mendorong tubuh Arfi.
"Santai dong, kan aku hanya bercanda,"
"Candamu, gaaaa lucu___!!"
Dan... Braaaaak!
Arfa membanting pintu kamarnya sekuat tenaga, tentu saja membuat Arfi dan si mami terkejut.
"Sudah tau, orang sedang pusing, malah di ajak bercanda," kesalnya, lalu menghempas tubuh di atas tempat tidur.
Di satu sisi, Arfi juga tidak bisa tidur nyenyak karena ia terus terbayang wajah Nayla. Senyumnya, suaranya, semua hal tentang Nayla, kini berputar-putar di pikiran Arfi.
"Aaah____ sadar, Fi, Nayla itu calon istri adikmu sendiri," ucapnya lirih, untuk menyadarkan dirinya.
***
Jam 3 pagi, Arfa mendengar pintu kamarnya di ketuk, ia sedikit heran, siapa yang mau menemuinyia malam-malam begini.
"Siapa sih?" grutunya,
Tapi ia tetap beranjak lalu membuka pintu.
"Pa_papi," Arfa terkejut, saat Alvian berdiri tepat di hadapanya kini, bahkan sang papi tersenyum simpul ke arahnya.
__ADS_1
"Boleh, papi masuk?"
"Bo_boleh, pi;"
Arfa menggaruk-garuk kepalanya, si papi tampak sehat dan baik-baik saja, bukan hanya itu, sang papi bahkan mau berbicara kepadanya.
"Ayo duduk!"
"A_ada apa, pi?"
"Ambil ini!"
Alvian menyerahkan selembar kertas dan amplop tebak untuk Arfa, yang tentu saja membuat Arfa sedikit bingung.
"Apa ini, pi?"
"Buka saja!"
Sesegera mungkin, Arfa pun membukanya, ia terbelalak tak percaya melihat apa yang kini ada di tanganya.
"U_uang?"
"Ya, maka tak ada alasan, untuk kamu tidak menikahi Nayla. Papi tak membenarkan perbuatanmu, tapi marah pun percuma, semua sudah terjadi, kini tugasmu bertanggung jawab, atas apa yang sudah kamu lakukan,"
Mendengar itu, Arfa tertunduk malu, nyatanya beberpa waktu ini, si papi sengaja berpura-pura sakit, agar tau semua hal, yang sudah terjadi.
"Ja_jadi, diam-diam, papi mendengar semua pembicaraan, aku, mami dan Arfi?"
"Ya... begitulah,"
Arfa menatap wajah si papi penuh arti, sorot matanya, menjelaskan kemarahan dan juga rasa sayang. Alvian tak bisa menghakimi anaknya
"I_ini, apa lagi pi?"
Arfa menggeleng, saat membaca selembar dokumen, yang menyatakan jika si papi memiliki perusahaan, tanpa di ketahui anak kembarnya.
"Papi sengaja, melakukanya, agar kalian bersungguh-sungguh dalam meraih cita-cita. Jika papi tak memiliki perusahaan yang menghasilkan uang setiap bulan, mana cukup untuk kita hidup, hanya mengandalkan gaji Arfi dan pensiun papi, mana bisa papi menguliahkamu, ke kampus paling mahal di kota ini," jelas si papi tanpa jeda.
Sedangkan Arfa hanya menggeleng dan menggaruk-garuk kepala.
"Benar, kalau papi tak kaya. Mana bisa, beliin aku, Arfi dan mami, mobil sendiri-sendiri," ucap Arfa lagi.
Kini Arfa, sedikit lega untuk melangkah, sebab si papi, sudah menjamin masa depanya pasti tercukupi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
❤TERIMA KASIH❤