
ANTARA DENDAM DAN CINTA
Polisi Sang Penakluk Hati Season2
☡Selamat Membaca☡
Arfa mengantarkan Nayla pulang ke rumahnya, dan saat tiba di sana, suasana rumah si cantik terlihat sangat ramai. Banyak orang yang berlalu lalang di luar, dan di dalam rumah pun banyak orang pula.
"Papa____!"
Nayla langsung berhambur dan berlari mendekati kebaradaan Tito, yang duduk di sampaing sang mama dengan kondisi wajah yang lebam parah.
"Apa yang terjadi, kenapa wajah papa, membiru seperti ini?"
Tito manarik nafas panjang, lalu menatap Nayla dengan senyuman.
"Papa tidak.apa-apa. Hanya luka sedikit saja, tadi memang ada beberapa orang yang mengobrak-abrik kantor papa, dan salah satu di antaranya ada yang berusaha mencelakai. Jadi wajah papa lebam seperti ini," jelas si papa namun nada bicaranya tampak seperti orang yang sangat sabar.
"Haaah. Siapa yang berani melakukan ini kepada papa?" Nayla terperanjat tak percaya.
"Mungkin, orang yang iri, akan kesuksesan yang papa raih, jadi ada yang berusaha untuk menyingkirkan. Maklum orang sukses pasti banyak musuh,"
Ucapan dan penjelasan Tito baru saja, membuat Arfa geram saat mendengarnya.
"Na j is, dasar muka dua, bisa-bisanya, bersikap sok baik di depan Nayla," grutu Arfa di dalam hati, rasanya ia ingin sekali menampar mulut si munafik itu berkali-kali.
"Nay... siapa pria muda itu?" Tito menunjuk ke beradaan Arfa yang sedari tadi memilih untuk diam saja.
"Kenalkan! Ini Arfa, dia orang yang mengisi kekosongan hati Nayla kini," jujur si cantik mengakui hubunganya dengan pria yang amat ia cintai.
"Haaah... jangan gila, Nay! Kau sudah papa jodohkan," ucap Tito berbisik ke telinga sang anak, namun ia menatap wajah Arfa dengan tersenyum palsu.
Nayla tak membalas ucapan si papa, ia justru meraih tangan Arfa untuk duduk di sampingnya.
"Hai om, salam kenal!" Arfa mengulurkan tanganya, dan di sambut hangat oleh pria pruh baya itu. Tapi Arfa tau, jika Tito hanya berpura-pura baik di hadapanya. "Asal anda tau, sebentar lagi, bukan hanya muka anda yang lebam, tapi kaki anda juga akan patah," lirih Arfa dalam hati.
Dengan sama-sama berpura-pura sok baik, Arfa dan Tito berbicara seolah sudah akrab. Namun jauh dari lubuk hati keduanya, sama-sama memiiiki rasa tak menyukai. Arfa menyimpan dendam yang amat dalam, Tito sudah pasti tak akan menyetuji hubungan antara Nayla dan Arfa.
"Om, Nay... aku permisi dulu, dan aku berharap semoga papamu cepat membaik," harapnya walau sebenarnya bukan dari dalam hati, karena Arfa berharap Tito akan meraskan sakit lebih dari ini.
__ADS_1
Ya, kondisi sang papi yang seolah tak sadarkan diri, memilih diam dan tak mau melakukan apapun, adalah hal yang paling membuat Arfa marah, dan dendam yang kian membuncah.
"Hati-hati, Fa. Jangan pernah berpikir buruk tentangku! Aku tidak akan pernah mengkhianatimu," ucap Nayla tulus dan di balas oleh kecupan jauh dari Arfa yang kini sudah berada di dalam mobil.
Sepulangnya Arfa dari rumah Nayla, si cantik langsung mendapatkan ceramah, panjang kali lebar dari sang papa. Tito meminta Nayla untuk tidak melanjutkan hubunganya dengan Arfa.
"Papa, sudah menjodohkanmu dengan Dimas, maka jangan pernah berhubungan dengan siapapun!" tegas Tito tak mau tau.
"Tapi, aku mencintai Arfa dan aku tidak menyukai Dimas, karena pria pilihan papa itu, tak pernah berusaha untuk melindungiku. Bahkan saat aku dalam kondisi terpuruk, Dimas tak pernah ada untuk menyemangatiku!" jelas Nayla yang mengungkapkan hal dan penyebab ia tidak menyukai Dimas.
"Terserah, apapun katamu! Yang pasti pernikahanmu dengan Dimas nanti, akan memberikan kita ke untungan besar, perusahaan papa akan menerima suntikan dana." Jelas Tito pula.
"Itu papa yang untung bukan aku! Dan, aku tidak menyangka, papa rela mengorbankan kebahagianku demi perusahaan papa,"
"Sudahlah, Nay! Nanti setelah kau dan Dimas menikah, papa yakin kalian akan saling mencintai,"
Namun Nayla tak perduli, ia justru meninggalkan sang papa, lalu masuk kedalam kamar, ia bahkan memberi tahu Arfa semua hal yang di ucapan si papa baru saja.
"Tenang, Nay! Kamu dan aku akan tetap bisa sama-sama!"
Arfa meyakinkan Nayla, melalui sambungan telponya.
Saat ini Arfa baru saja tiba di rumah, ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa, hal itu tentu membuat Arfi bsrdecak heran.
"Ah, tidak," jawab Arfa gugup. "Gimana papi, apa sudah makan sore ini?" Arfa mengalihkan pembicaraan.
"Sudah. Lagi pula, ini bukan lagi sore, tapi sudah malam," ujar Arfi seraya menautkan kedua alisnya.
Arfa hanya membuang nafas kasar, ia memilih untuk mengabaikan ucapan sang kakak, pikiranya melayang-layang membayangkan wajah Nayla yang tengah bingung, ia sendiri tak akan pernah rela Nayla akan menikah dengan pria lain.
"Fa... malam ini jangan kemana-mana?"
"Kenapa?"
"Aku ada tugas penting," jelas Arfi lagi.
"Tugas apa?" Arfa penasaran.
"Tadi, ada karyawan perusahaan pak Tito, melapor, bahwa siang tadi ada beberapa orang tak di kenal, menghancurkan seluruh ruangan kantor milik pria paruh baya itu, bahkan katanya Tito hampir saja di bunuh,"
__ADS_1
"Haaah, ma_masa, sih?" Arfa benar-benar gugup, tapi Arfi bisa membaca sikap aneh dari adiknya.
"Jangan bilang! Kalau kamu dalang di balik kejadian ini,"
"Ih, apaan?"
"Karena, ini tindak kejahatan, sebenci apapun jangan kotori tanganmu dengan hal-hal sebodoh ini, karena nanti kamu yang akan rugi sendiri," Arfi berusaha menasehati sang adik.
Dan respon Arfa hanya senyum datar, ia tahu jika ucapan Arfi demi kebaikanya, namun ia coba untuk tidak perduli. Karena apapun yang akan terjadi nanti, terserah baginya, yang terpenting ia sudah membalas kejahatan Tito.
"Aku mau ke kamar, papi! Kamu hati-hati jika bertugas,"
Secepat kilat ia melajukan langkah kakinya, lalu masuk kemar kedua orang tuanya, Arfa mendapati si mami tengah menonton televisi, dan papi diam saja menatap keluar rumah melalui jendela kamar.
"Pi, selamat malam,"
Alvian tak memperdulikan sapaan sang anak, sorot matanya kosong, memandang matahari yang sudah tenggelam.
"Fa, kamu dari mana?" si mama mendekati Arfa.
"Eh, aku dari bermain dengan teman-temanku, mi."
Airin membelai lembut rambut anaknya, ia benar-benar menyayangi kedua anak kembarnya, terutama Arfa, karena di mata sang mami, anaknya itu masih belum bisa bersikap dewasa.
"Mami, Arfa benar-benar mencintai kalian, jika suatu hari nanti, aku melakukan kesalahan, jangan benci aku ya, mi!" ujar Arfa penuh harap.
"Pasti," jawab si mami tulus.
Airin keluar dari dalam kamar, untuk mengambilkan teh hangat, untuk Arfa dan sang suami. Sementara Arfa, langsung memeluk erat tubuh sang papi dari belakang.
"Papi cepat sehat ya! Aku rindu main bola bersama-sama." Bisiknya pelan.
Entah mengapa, seketika air mata di wajah Alvian tumpah, saat mendengar ucapan dari sang anak, ia membelas erat dekapan Arfa meski tak mengucapkan sepatah kata.
.
.
.
__ADS_1
.
TERIMA KASIH