Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Antara Marah dan Cemburu


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Hari demi hari terus berganti, kini Sisi semakin akrab dengan teman-teman barunya, bahkan ia sering pergi dan pulang larut malam. Tapi Sisi tetap berusaha melayani Arfi sebaik mungkin.


"Kakak pulang jam berapa, nanti?"


"Jam delapan, mudah-mudahan kakak sudah di rumah."


"Janji!" Sisi memajukan jari kelingkingnya.


"Iya, janji."


Sebenarnya, Arfi sudah berkali-kali janji untuk pulang lebih awal, tapi berkali-kali juga ia mengingkari, hal itu kadang membuat Sisi benci dan merasa jika Arfi sudah tak lagi mencintainya.


"Kakak ke kantor ya! Uang bulananmu sudah kakak kirim!"


Sisi tak menjawab, ia hanya membalas dengan senyuman, lalu mengantarkan Arfi sampai ke pintu gerbang. Dan setelah Arfi pergi ke kantor, saat itu bersamaan dengan datangnya kedua orang tua sang suami.


"Mami... papi." Sisi menyapa lalu mencium tangan kedua mertuanya.


"Sisi, Arfi sudah ke kantor?"


"Sudah mi." jawabnya singkat.


Sorot mata Sisi tertuju pada anak kecil, yang tengah di gondong si mami mertua, bahkan wanita itu mendekap dengan sangat erat, yang seketika menimbulkan banyak tanya dalam benaknya.


"Ayo masuk, mi.. pi...!" dengan mata yang masih menatap tajam.


"Sisi, ini Nabila... umurnya baru 3 tahun, kedua orang tuanya masuk rumah sakit, jadi mami kasihan terus bawa Bila kesini." si mami menjelaskan.


"Oh begitu ya." Sisi tersenyum datar. "Hai Bila, betah-betah disini, ya!" tambahnya setelah itu berjalan kedapur untuk membuatkan si papi kopi.


Diam-diam Sisi memperhatikan, betapa akrabnya si mami dan papi dengan anak bernama Bila itu.


"Andai, Nayla dan Arfa di sini ya, pi. Pasti Acha sudah seumuran dengan Bila, pasti Acha sedang lucu-lucunya, mami rindu mereka, rasanya hidup ini benar-benar sepi." ujar Airin kepada suaminya.


DEG!


Dada Sisi terasa sesak, rasanya sakit luar biasa, mendengar ucapan si mami mertua. Ia paham, jika kedua orang tua Arfi memang sangat mendambakan hadirnya seorang cucu. Tapi sayang, sampai detik ini ia tak kunjung hamil.


"Mi, pi... ini minumnya!"


Sisi langsung beranjak dan berpamitan untuk masuk ke kamar.


"Kamu sakit, sayang?"


"Tidak mi, tapi tiba-tiba kepalaku mendadak pusing saja." jelasnya berbohong.


Namun, dari sorot mata Sisi, kedua orang tua Arfi bisa tahu, jika terjadi sesuatu dan ada yang di sembunyikan oleh menantunya itu.


"Mas, kita pulang saja, yuk!" ajak Airin pada suaminya.

__ADS_1


"Iya, tapi berpamitan dulu dengan, Sisi!"


Si mami dan si papi pun memutuskan untuk pulang, padahal keduanya baru 30 menit berada di rumah anaknya. Tapi ada yang aneh dari sikap Sisi dan keduanya merasa tak enak hati.


"Kok cepet banget, mi? Kan belum ada satu jam di sini."


"Gak apa-apa, kamu baik-baik ya.. dan kamu juga harus tahu, jika mami dan papi sangat sayang kepada Sisi." Airin tersenyum lalu mengelus pundak menantunya. "Mami dan papi pulang ya! Sisi jangan berpikir yang macam-macam!"


Mendengar itu Sisi tersentak, si mami dan papi seolah paham dengan apa yang di pikirkan olehnya.


***


Setelah si mami dan papi pulang, Sisi memilih untuk menghabiskan waktu dengan berdiam diri. Sejenak ia menangis, lalu tersenyum lagi, seperti itu sampai berkali-kali, hingga kepalanya terasa sangat sakit.


Ck...


Sisi berusaha menelepon sang suami, tapi sampai panggilan ke sepuluh Arfi tak kunjung mengangkat teleponya.


"Huuuh, menyebalkan!"


Decaknya kesal, seraya menangis sesenggukan. Ia tak pantang menyerah terus menghubungi Arfi sampai teleponya di angkat.


"Sisi sayang. Kenapa? Hampir 50 kali lebih, kamu menghubungi kakak." Arfi terkejut, kala melihat ada panggilan telepon dari sang istri sampai banyak sekali.


"Mau menelpon saja. Kenapa? Gak boleh, ya?"


"Boleh, boleh. Tapi kakak tadi sedang meeting, jadi tak bisa mengangkat teleponmu."


"Kakak kerja di perusahaan sendiri kan. Tapi kok susah banget buat angkat telepon!" Sisi mencibir.


Tut. Tut. Tut!


Sisi mematikan telepon secara sepihak, seolah tak perduli dengan ucapan sang suami, yang tentu saja membuat Arfi sedikit emosi.


"Huuuh!" Arfi menghela napas berat lalu menarik sudut bibir, ia kembali masuk kedalam ruang kerjanya.


***


Bisa di kata, kini Sisi berada di dalam kondisi depresi. Ia mudah sedih dan merasa dunia tak adil baginya, karena sejak remaja Tuhan sudah memberi ia cobaan tanpa henti dan ia terpaksa untuk tegar, tapi tidak dengan saat ini, Sisi tak mampu lagi menyembunyikan kekecewaanya kepada takdir.


Jam delapan malam, Sisi sudah ada di depan teras rumah, ia menunggu Arfi datang, sebab suaminya itu sudah berjanji untuk pulang lebih awal.


Ssstt...


Kini sudah hampir jam setengah sembilan. Tapi Arfi tak kunjung datang, yang tentu saja membuat Sisi gelisah, ia kembali menghubungi sang suami dan bertanya prihal keberadaan pria yang sangat di cintainya itu.


"Kak, dimana? Katanya tadi mau pulang cepat?" tanya Sisi melalui sambungan telepon.


"Iya, maaf lambat! Karena jalanan sedikit macet." Arfi menjelaskan.


Namun, saat keduanya sedang saling menjelaskan, Sisi mendengar suara seorang wanita sedang bersama suaminya. "Pak, ini rumahku!" Seperti itu suara yang Sisi dengar.

__ADS_1


"Kakak yakin masih di jalan?"


"Yakin Si, mau kakak kasih video'nya?"


"Ahhaha, tidak-tidak."Sisi tertawa datar. "Kalau begitu, siapa wanita yang sedang bersama kakak?"


"Oh.... itu sekretaris kantor kakak, mobil dia macet, jadi kakak antar dia sebentar!"


"Emm, sampai malam begini, kalian di kantor berduaan?" selidik Sisi.


"Ya Tuhaan... kamu kenapa sih, Si? Cemburu?"


"Dih ngapain aku cemburu. Mau selingkuh, mau menikah dengan cewek lain. Bodo amat!!" Ucap Sisi dengan nada tinggi, ia pun langsung mematikan sambungan telepon. Sementara Arfi panik luar biasa, takut jika Sisi akan berpikir yang macam-macam denganya.


"Pak, cepatlah pulang! Nanti istri anda akan lebih salah sangka!"


Arfi mengangguk cepat, ia memutar balik mobil lalu melajukan kendaraan secepat kilat. Selama dalam perjalanan ia selalu terpikir akan kemarahan Sisi, sebab hampir 1 tahun ini, istrinya memang menjadi posesif, setiap gerak geriknya selalu di curigai.


***


Sampailah Arfi di rumah dan kini waktu menunjukan pukul 9 malam lewat 10 menit. Ia melangkah dengan tergesa-gesa seraya memanggil-manggil nama sang istri tercinta.


"Mas Arfi, mbak Sisi pergi dari 20 menit yang lalu," jelas pak satpam yang membuat Arfi tercekat.


"Kemana dia pergi?"


"Wah... kurang tau saya mas, karena mbak Sisi gak mau saya antarkan."


"Dia bawa mobil sendiri atau ada yang jemput?"


"Sepertinya bawa mobil sendiri."


Arfi menarik kasar dasi dari kerah bajunya, setelah itu melepaskan jas hitam yang ia pakai lalu melemparkan kelantai. Emosi dan marah kini telah membuncah, ia sungguh tak habis pikir akan perubahan sikap Sisi yang sangat drastis.


"Sisi- kamu dimana? Cepatlah pulang!!" Arfi menghubungi, beruntung sang istri masih mau menerima panggilan telponnya.


"Santai dong kak! Gaa perlu marah-marah! Sebentar lagi aku pulang ya!" jawabnya dengan nada bicara tak serius sama sekali, ia seolah tak perduli jika Arfi menghubunginya kini.


Arfi mematikan sambungan telepon, sebab ia mendengar suara bising di sekitar Sisi. Suara musik yang melengking dan sorak sorai banyak orang.


"Ya Tuhan, dimana istriku kini?" pikiran Arfi melayang tak pasti, ia bingung harus bagaimana lagi.


Arfi dilema, harus mencari Sisi atau menetap di rumah.


"Nanti aku pergi, dia pulang, terus marah lagi. Haaaaaaah, serba salah! Aku harus gimana ini?"


Akhirnya Arfi memutuskan untuk menunggu Sisi pulang saja. Ia mondar-mandir di teras rumah, sebab.... seketika saja, ia merasa perasaanya tak enak, dadanya berdebar tak jelas, ia takut hal buruk terjadi kepada Sisi.


.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH


__ADS_2