Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Tertawa Tapi Tak Lucu


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Mata penuh cinta itu, masih saling tatap, senyum seolah enggan pergi dari wajah keduanya. Alvian masih mendekap hangat tubuh sang istri, sementara Airin benar-benar menikmati pelukan yang Alvian berikan.


"Mas Al," goda Alvian pada istrinya.


"Ihh," Airin tersenyum geli.


Si tampan menyentil pelan hidung Airin, hingga istrinya itu berdecak lirih, ia coba membalas sentilan Alvian, namun suamianya bisa menyangkal serangan balik tersebut.


"Ehh, gak kena," usil Alvian seketika.


"Haaaah,"


Airin terus memajukan tanganya, mengayunkan berkali-kali agar bisa menyetuh hidung sang suami, tapi berkali-kali ia lakukan, berkali-kali ia gagal mencobanya.


Daaan.. Bruuk!


Tubuh keduanya jatuh bersamaan di atas ranjang, dengan tubuh Alvian yang berada di bawah.


Ck.


"Aaaaaa....!" pekik Airin sekuat tenaga.


"Ehh, ada apa, Rin?"


"A_anu," Airin memejamkan matanya.


"Anu apa, Rin?" Alvian seketika menyunggingkan senyuman.


"I_itu!"


Si cantik menunjuk ke arah telur masa depan sang suami, hingga menyentuh tepat ke arah sensitif miliknya.


"Tancap!" goda Alvian di sertai tawa.


"Tancap, tancap... matamu tak tancap mau? Haaah!"


Alvian hanya membalasnya dengan tawa, sepontan ia menarik tubuh Airin, hingga keduanya saling berpeluk di atas ranjang.


"Al, lepas!"


"Gaa, mau,"


"Ihh, saat ini, aku belum bisa, main begituan," ujar si cantik kemudian.


"Kenapa?"


"Aku sedang ada tamu, bulanan," Airin berkilah mencari alasan, namun nyatanya alasan tersebut justru membuat Alvian tertawa sejadi-jadinya.


"Tamu yang sebentar lagi, akan hadir di rumah kita, bisa kita gendong, terus di ajak jalan-jalan,"


"Eeeh," Airin megeryitkan wajahnya.


"Ya.. kamukan sedang hamil sayang, mana bisa ada tamu datang setiap bulan,"


"Haih,"


Si cantik seketika menggaruk-garuk kepalanya, ia lupa jika alasanya sungguh tak masuk akal, sebab kini ia tengah hamil muda.


"Hehehe, tapi aku belum ada niat buat, main kuda-kudaan Al," jujurnya.


"Iya, gapapa... kan masih ada besok, besok dan besok lagi,"

__ADS_1


"Jangan marah, ya?"


"Tidak dong, Rin. Menikah itu harus saling paham satu dan yang lain, bukan perkara mementingkan diri sendiri. Jika istri belum bisa, suami harus memahaminya, apa lagi saat ini kau sedang hamil muda, mengurangi bercinta, itu sangatlah perlu, karena takutnya, hal itu akan mengganggu kondisi kehamilanmu, yang masih rawan itu," ucap Alvian pelan.


Mendengar itu, si cantik pun tersipu malu ia tak menyangka jika Alvian benar-benar bijaksana. Karena suaminya itu sungguh paham, jika saat ini Airin masih hamil muda, hingga tentu saja, hal-hal semacam itu memang harus di kurangi, setidaknya demi kesehatan sang calon bayi.


***


Pagi pun tiba, dengan sangat antusias Airin menyiapkan sarapan untuk Alvian, hari ini ia bisa bangun lebih cepat dari biasanya, yang tentu saja membuat si mama berdecak heran.


"Tumben, menantumu bangun pagi?" bisik Reyhan di telinga Tania.


Tania menggeleng cepat, ia sendiri sedikit heran pagi ini. "Sepertinya, dia sedang mode rajin," ujar Tania pula.


Si mama dan si papa, segera duduk di ruang makan keluarga, dengan hidangan-hidangan yang sudah tersaji di atas meja.


"Ehmm, enak nin. Ini kamu yang masak ya, Rin?"


"Sebagian aku, sebagian lagi si bibi mah? yang masak," jelas si cantik


"Mana suamimu, Rin?"


"Masih tidur pah,"


"Kamu sendiri, kenapa bangunya pagi-pagi sekali?"


"Ehehe, gak tau juga pah, tiba-tiba aja, nih mata pagi-pagi dah melek," jawabnya di sertai tawa kecil.


Saat mereka masih saling asik bercerita, Alvian hadir dengan wajah kusutnya, si tampan menatap penasaran, Airin yang sudah terlihat cantik sekali pagi ini.


"Bagun jam berapa, Rin?"


"Jam 5 kurang sedikit,"


"Iya nih, aku juga gak tau, hahahah!" jawab si cantik yang semakin melebarkan tawanya.


Airin menggeleng, lalu menepuk jidatmya sendiri. karena pertanyaan itu, keluar dari bibir kedua orang tua suaminya dan Alvian sendiri.


"Duh, Rin... malu-maluin banget sih kamu! Saking gak pernah bangun pagi, nih. Jadi pas bangun sepagi saat ini, pasti yang lain keheranan," batin Airin dalam hati seraya menggaruk-garuk kepalanya sendiri.


"Ayo duduk, Rin!"


"I_iya," gugupnya saat Alvian meminta ia duduk di samping sang suami. "Mas, mau sarapan pakai roti atau nasi?" si cantik mempraktikan panggilnya.


Yang tentu saja, membuat Reyhan dan Tania saling tatap, keduanya sedikit terkejut dengan ucapan menantunya tersebut.


"Mas......?" ujar si mama dan si papa bersamaan.


"Haah,"


Lagi, Airin di buat salah tingkah, wajahnya merah merona, ia sungguh malu luar biasa. Padahal itu adalah hal yang sebenarnya wajar-wajar saja, tapi kerena selama ini keduanya lebih sering memanggil nama saja, maka sebutan "Mas" akan terasa sedikit mengherankan.


"Iya, sejak tadi malam, Airin resmi, memanggilku dengan sebutan si "Mas" itu." Alvian menjelaskan.


"Buhahahahaha!" Airin tertawa sendiri, padahal yang lain tak merasa geli sedikitpun.


"Kok tertawa sih, Rin?"


"Ma_maaf, mah!" ucapnya lalu berusaha menghentikan tawa.


"Ihh, Airin aneh,"


"Seaneh panggilanmu, mas, hahahaha!" Airin tertawa lagi.

__ADS_1


Sedangkan yang lain saling tatap tak mengerti, kenapa Airin justru terlihat tertawa geli.


"Mungkin dia sedang bahagia," gumam si mama dan si papa dalam hati.


Tawa Airin masih manjadi, dengan di temani sang suami, ia masih melanjutkan tawanya, sementara Reyhan dan Tania sudah berlalu dan berangkat kerja.


"Kamu, nggak ke kantor, mas?" Airin mulai bertanya sesaat ia sudah menghentikan tawanya.


"Sebentar lagi, aku ke kantor, karena banyak hal yang harus ku bicarakan pada pak Ridho,"


"Eemm, baiklah,"


Airin tersenyum simpul, ia segera meraih segelas air dingin yang ada di atas meja, secepat kilat ia meminumnya. Tenggorokan Airin sedikit kering, karena sedari tadi ia terus tertawa.


"Mas,"


"Iya," Alvian menangkap sinyal mencurigakan dari sang istri.


"Semalam aku, bermimpi,"


"Mimpi apa?"


"Mimpi di kasih handpone baru, bahkan itu ponsel, sepertinya handpone termahal di tahun ini. Dan kira-kira, apa ya artinya?"


"Nanti siang, kamu akan tau jawabanya," ujar si tampan meyakinkan. Meski ia sendiri tidak tahu apa arti dari mimpi sang istri tersebut.


***


Siang pun tiba, jam menunjukan hampir pukul 13.30.. Airin menunggu Alvian pulang, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan suaminya itu.


"Rin, kok di luar?"


"Sengaja, nungguin kamu, mas."


"Lho, tumben, biasanya kamu nunggu aku pulang. Di dalam kamar, sambil nonton TV," ujar si tampan penasaran.


"Iya... karena aku sudah tidak sabar, ingin tahu, apa arti dari mimpiku semalam. Kan, tadi kamu sendiri yang bilang, mau kasih tau jawabanya siang ini," jujurnya dengan senyum penuh makna.


"Nih..!"


Si tampan memberikan sebuah kotak yang masih berbungkus kepada sang istri. Dengan senang hati dan semangatnya, Airin pun meraih kotak tersebut secepat kilat.


"Berat... pasti isinya hp, nih." lirihnya dalam hati. "Kan, aku cerita itu mimpi cuma bohong, bukan beneran, semua karena aku pengen banget punya ponsel baru." Ucapnya dengan wajah berbunga-bunga.


Sesigap mungkin, si cantik pun membukanya, dengan semangat Airin memastikan isi kotak yang sedikit berat tersebut.


Dan...


"Haaaah.... Alviaaan..!"


Teriaknya sekuat tenanga, seketika Airin melipat wajahnya yang sedari tadi berbunga-bunga. Karena isi kotak tersebut, sebuah buku TAFSIR MIMPI BESERTA ISI-ISINYA, bukan handpone yang seperti Airin harapkan.


"Ya kan, bener Rin, dengan membaca buku itu, kau akan mendapat jawabanya."


"Haah😭......!"


.


.


.


❤🕊SEMOGA SELALU BAHAGIA, MAKASIH KAKAK-KAKAK BAIK☺❤.

__ADS_1


__ADS_2