Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Positif


__ADS_3

☡Selamat Membaca☡


Terjebak di dalam dekapan kegengsian, membuat Arfa bersikap sombong kepada Nayla, anak muda itu seolah, tak pernah mau perduli lagi. Siang ini Nayla coba mengirimkan pesan, tapi Arfa pasti akan membalasnya 8 jam kemudian, itupun hanya singkat saja.


"Arfa____, Arfa!" panggil Arfi, karena Arfa berjalan tergesa-gesa, seakan tak mau berjumpa denganya.


Tapi Arfi tak berhenti, mengetuk pintu kamar adiknya, sebelum di buka. Semakin lama, ia semakin kuat mengetuk pintu kamar Arfa.


"Apaan sih, bringsik tau___ kamu seorang polisi kan? Kenapa tak punya etika sama sekali?" decaknya kesal. "Aku mau istirahat, berhenti mengetuk pintu kamarku!" omel Arfa lagi.


Namun Arfi masa bodoh, iya menarik tangan adiknya, lalu menyeret Arfa dan membawanya ke ruang tengah.


"Sakit tau," gturu Arfa seraya memasamkan wajah tampanya. "Mau apa sih, pakai tarik-tarik tanganku?" tanyanya lagi.


"Sebenarnya, kamu tak memiliki pekerjaan lain, atau bagaimana? Kenapa kamu menyuruh beberapa orang untuk menghajar Dimas?"


"Darimana kamu, tahu?"


"Neneng, anak tetangga di depan rumah kita, teman satu kampusmu. Sahabat si Neneng ini yang menolong Dimas, dan setelah di introgasi, mereka mengatakan, jika hanya orang suruhan, dan kamu dalang di balik semua ini,"


"Duh___ si Neneng, cari gara-gara banget, deh," Arfa mengangkat kedua alisnya, sepertinya ia sudah menyimpan rencana untuk membalas, aduan yang Neneng ungkapkan ke Arfi.


Sebab Arfa benci, dengan orang-orang yang suka mengadu domba.


"Katakan! Apa alasanmu?"


"Gak ada sih, aku hanya ingin memberi tahu Dimas, jangan pernah bermain-main denganku!"


Arfa mengepal jari jemarinya, mengingat wajah Dimas membuat emosinya seketika membuncah, ia kesal sebab, karena mulut Dimas'lah yang membuat ia mendapatkan sangsi dari kampus. Arfa tak di perbolehkan kuliah selama 1 minggu. Bukan hanya itu saja, karena mulut Dimaslah, akhirnya semua anak-anak kampus tahu, prihal apa yang di lakukan Arfa kepada Nayla, sebab itu juga, membuat Nayla malas untuk masuk kuliah.


"Andai kamu ada di posisiku, pasti akan melakukan hal yang sama," ujar Arfa.


"Tapi semua yang terjadi saat ini, berawal dari ke cerobohanmu. Kamu meniduri anak orang dan akhirnya menyebar kemana-mana."


Arfi menasehati sang adik, jika semua masalah, tak selalunya di selesikan dengan kekerasan, kemarahan dan emosi, sebab hal itu justru akan menambah api pertengkaran lebih panjang lagi.


***


Sore menyapa dengan sinyar sang senja yang amat menggoda, di sebelah matahari yang akan menenggelamkan diri, ada awan berwaran kemerahan mengelilingi, membuat suasanya sore ini semakin menyejukan.


"Pesan?"


Arfa membuka ponselnya, karena baru saja ada pesan masuk ke no WhatsApp miliknya, ia tersenyum sebab tertera nama Nayla di sana.


Dan______


Seketika saja Arfa terbelalak tak percaya, setelah membuka pesan dari Nayla.


"Positif???"

__ADS_1


Ya, Nayla mengirim sebuah foto, hasil Test Pack yang di lakukan, menunjukan dua garis biru. Bukan itu saja, ada surat dari dokter kandungan yang menyatakan, jika Nayla positif hamil, usia kandunganya sudah 3 minggu lebih. Untung saja, ponselnya tidak rusak, setelah Nayla hempaskan, jadi masih bisa di benari dan mengirim pesan ke Arfa.


"Na_Nayla hamil," gemetarnya.


Ia tak tahu, harus sedih atau bahagia, yang pasti, ia tak berniat membalas pesan dari Nayla tersebut.


("Fa, aku hamil. Kamu tidak perduli sedikit pun, sampai tak berniat membalas pesan dariku,") pesan dari Nayla lagi.


Namun Arfa hanya membuang nafas pelan, ia menggeleng tak percaya, sebentar lagi akan memiliki anak dari Nayla.


"Baik-baik, ya!"


Hanya itu balasanya yang Arfa beri, selebihnya ia berusaha untuk tidak perduli. Ia ingin memberi tahu Nayla, betapa sakitnya jika cinta tapi tak di perdulikan sama sekali. Begitulah ia dulu.


"Fa,"


"Ya, mi!"


"Bangunkan Arfi, mama mau pergi di antar dia sebentar,"


"Mau kemana, mi?"


"Arisan,"


"Jangan lama-lama ya, mi!"


"Tentu, lagi pula, mami tak taga meninggalkan papimu, lama-lama,'


"Fa, kamu saja yang antar mami, ya!"


"Loh, kenapa, mi? Arfi mana?"


"Arfi sakit kepala, dia saja yang di rumah, buat temenin papimu,"


"Oke, siap, mi!"


Arfa berucap tegas, meski sebenarnya pikiranya kini tengah bercabang kemana-mana. Namun ia coba tersenyum di hadapan sang mami, dan tak menceritkan apapun yang terjadi. Sepanjang perjalan, Arfa memutar lagu-lagu melow, untuk mengungkapkan bahwa kini ia tengah kacau dan bingung.


(Tuhan, jaga'kan dia, dia kekasiku kan tetap miliku. Aku s'lalu mencintai, s'lalu menyayangi setulus hatiku.)


Begitulah, lagu yang Arfa putar berkali-kali, hingga membuat si mami, mengeryitkan wajahnya.


"Kamu, kenapa, sih? Galau?"


Arfa menggeleng, ia tersenyum datar ke arah Airin.


"Atau, ada hal buruk menimpa Nayla?"


Kali ini, Arfa diam, seakan tak mendengar pertanyaan sang mami, hal itu tentu membuat si mami semakin yakin, jika ada masalah yang tengah Arfa hadapi.

__ADS_1


Sssttt____


"Fa, antarkan mama ke rumah sakit!" titah si mami seketika.


"Lho, kenapa? Katanya tadi arisan?"


"Temen mama, yang seharusnya di adakan arisan di rumahnya, tiba-tiba saja mendadak sakit, bahkan tadi sempat pingsan katanya," jelas si mami tanpa jeda, ia masih sibuk menatap layar ponsel dan membaca berkali-kali, pesan yang mengatakan bahwa temanya tengah di rawat di rumah sakit


Ck....


Airin berjalan tergesa-gesa, untuk mencari kamar dimana, temanya di rawat, sementara Arfa mengikuti langkah sang mami dari belakang. Dan____ tiba-tiba saja, ia menghentikan langkahnya, sebab Arfa seperti melihat Nayla berada di rumah sakit tersebut.


"Mi... mami duluan saja, ya! Aku mau ke WC dulu,"


Airin mengangguk, ia langsung melanjutkan langkahnya, sementara Arfa sudah pergi mengejar, sosok wanita yang ia yakini, itu Nayla.


"Benar, itu Nayla,"


Arfa memandangi, Nayla yang duduk di kursi roda, dan ada seseorang yang mendorong korsi roda tersebut, ia memperhatikan secara diam-diam.


"Ayo masuk!"


"Baik, terima kasih,"


Arfa penasaran, mengapa Nayla duduk di kursi roda, tapi ia segan untuk bertanya. Yang pasti wanita itu tampak pucat sekali.


Ting!


Ponsel Arfa tiba-tiba berdering, dan itu pesan dari Nayla.


("Sudah makan, Fa?")


Si tampan tersenyum getir, setelah membaca pesan dari wanita itu.


"Sudah.... Kamu sendiri sudah belum, dan sedang apa sekarang?" balas Arfa secepat kilat.


Nayla yang membacanya, seketika tak percaya. Benarkah, Arfa yang membalas pesanya.


("Eh, tumben, cepet banget balasnya?") si cantik tentu saja penasaran.


"Ga usah menggoda deh. Jawab saja pertanyaanku!!" balasnya lagi.


("Aku sudah makan malam, dan sekarang sedang menonton televisi,") jawab Nayla berbohong.


Dan, tubuh Arfa lemas setelah membaca, balasan pesan dari Nayla, karena nyatanya si cantik tak mau mengatakan hal yang sebenarnya. Padahal Arfa tau, si cantik baru saja pulang dari rumah sakit.


"Kenapa, kamu harus berbohong, Nay?" lirihnya dalam hati.


.

__ADS_1


.


__ADS_2