Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Perhatian Kecil


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 8 pagi, Alvian kini sudah berada di tempat kerja. Polisi tampan itu menyambut hari ini dengan bermalas-malasanya.


"Al, aku pulang dulu ya. Mukamu kenapa kusut begitu, bukankah semalam kau habis memandangi wajah Airin, sepuasmu?" tanya Toni seraya masuk ke dalam mobilnya sebab pagi ini, waktunya ia pulang dan Alvian yang bertugas.


"Heeh, aku justru sedih melihat wajahnya bukan, bahagia. Karena dari foto tersebut aku melihat Airin begitu, kelelahan," jawab Alvian sendu, hal itu seketika membuat Toni tersenyum kelu.


"Begitu ya," ucap Toni datar, kini ia tak berniat sedikit pun untuk mengajak Alvian bercanda, karena dari raut wajahnya saja, Toni sudah tau jika Alvian tengah di rundung banyak masalah.


Polisi muda itu segera masuk ke dalam kantor, sedangkan Toni sudah berlalu untuk segera pulang kerumah. Alvian dan Toni memang selalu bersama sejak awal mereka berjumpa, keduanya selalu berbagi keluh kesah, apapun yang mereka rasa, hingga membuat Alvian dan Toni layaknya saudara.


"Selamat pagi, pak Alvian," sapa salah seseorang dengan tegap dan gagahnya.


"Iya, silahkah! Apa yang akan kau sampaikan?" tanya Alvian tanpa basa basi.


"Lapor komandan! Saya ingin menyampaikan bahwa tadi malam sekitar jam 2 dini hari, telah terjadi penangkapan beberapa pemuda, yang tengah melakukan balapan liar. Dan setelah kami periksa, beberapa di antaranya tertangkap membawa serta narkoba di dalam tas mereka," jelas seseorang rekan dari kepolisian, yang melaporkan sebuah kejadian kepada Alvian.


Alvian diam sejenak, ia terlihat tengah memikirkan sesuatu.


"Suruh salah satu di antaranya, untuk menemuiku!" titah Alvian.


"Siap komandan...!"


"Dan satu lagi.. usut kasus ini sampai tuntas, bila perlu tangakap orang yang telah mengedarkanya!" tambah Alvian pula..


"Siap, laksanakan!" tegasnya kemudian.


"Laksanakan!"


Alvian menjatuhkan tubuhnya di kursi kembali, ia memikirkan kasus yang kini tengah ia hadapi.


"Narkoba memang perusak bangsa. Ini harus di brantas full tanpa sisa," gumam Alvian pelan.


Saat Alvian tengah sibuk memikirkan banyak hal yang harus di selesaikanya. Polisi muda itu di kagetkan dengan suara gaduh yang terdengar dari luar ruangan, ia pun segera keluar dan mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Ada apa? Kenapa kalian teriak-teriak?" tanya Alvian sedikit kesal.


"Pak, ada tahanan yang sedang sakit parah, banyak darah keluar dari hidungnya, dan sekarang dia pingsan, pak!" lapor salah satu tahanan yang membuat Alvian juga ikut penasaran.


"Siapa yang sakit?"

__ADS_1


Alvian segera membuka pintu tahanan untuk memastikan siapa yang sedang sakit tersebut. Dan... seketika saja polisi muda itu terkejut luar biasa, melihat siapa yang kini tengah tak sadarkan diri dengan darah segar yang keluar dari hidungnya.


"Airin, heey, Rin, apa yang terjadi?" panik Alvian luar biasa.


Tanpa pikir panjang lagi, ia segera membawa gadis itu keluar dari tahanan dan mengantarkanya ke rumah sakit. Apa yang terjadi dengan Airin kini tengah menjadi pembicaraan hangat di antara sesama tahan.


"Tolong, sedikit cepat!" titah Alvian pada temanya yang kini ikut bersamanya mengantarkan Airin


Alvian memang tak seorang diri ke rumah sakit, ia di temani 4 orang, temanya yang juga ikut mengantarkan Airin ke rumah sakit.


"Panik banget, Al," cetus seseorang yang duduk di kursi kemudi.


"Sudahlah, jangan banyak tanya!" kilah Alvian kesal sebab di saat panik seperti ini, mereka justru bercanda, atas sikap Alvian yang begitu perhatian, kepada gadis cantik yang kini tengah tak sadarkan diri tersebut.


Mendengar itu, mereka tak lagi berani bertanya, dan memilih untuk fokus dan diam saja.


Kini tibalah mereka semua di rumah sakit, sesampainya di sana Airin pun segera mendapatkan pertolongan sementara Alvian dan beberapa rekan kerjanya menunggu di luar ruangan.


15 menit kemudian, dokter pun keluar ruangan dengan ekspresi wajah yang sangat serius, hal itu tentu membuat Alvian sedikit bertanya-tanya dalam benaknya.


"Bagaimana dok?" tanya Alvian kepada sang dokter.


Alvian dan beberapa rekanya pun saling tatap, mereka semua seolah kebingungan.


"Bagaimana ini?" tanya seorang rekan kerja Alvian.


"Biarkan, Airin istirahat dulu, beberapa hari di sini! Dengan catatan harus tetap ada dari pihak kepolisian untuk berjaga-jaga," printah Alvian tegas.


Beberapa orang yang kini bersama Alvian pun mengangguk setujuh setelah mendapatkan izin dari komandan tertinggi, untuk membiarkan Hani di rawat terlebih dahulu.


***


"Hay, selamat siang!" sapa Alvian yang kini sudah berada di hadapan Airin.


"Si_siang, pak," jawab Airin gugup.


"Hemmm," Alvian menautkan kedua alisnya saat gadis itu memanggilnya dengan sebutan "Pak".


"Al, maaf!"

__ADS_1


"Gitu dong, Al saja ya, jangan pak!" ujar Alvian dengan senyum penuh makna.


Kini keduanya saling menatap dan bisa berbicara tanpa adanya pembatas jeruji besi. Alvian menatap Airin penuh arti seraya sesekali bertanya, dan sikap hangat Alvian saat ini membuat Airin begitu nyaman.


"Kau mau, buah?" basa basi Alvian.


Airin menggeleng cepat, ia tak membuka suara sedìkit pun, namun tatapanya terhadap Alvian benar-benar tajam.


"Aku tidak menginginkan, buah-buahan," ucapnya pelan.


"Lalu. Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Alvian kemudian.


"Benar," jawabnya datar namun tatapanya semakin menajam ke arah Alvian.


"Apa yang kau butuhkan?" tanya si polisi tampan itu lagi.


"KAU.. iya, saat ini aku butuh dirimu," jawab Airin tegas. "Aku, butuh perhatianmu dan aku butuh dukunganmu, sebab sikap hangat dan baikmu, membuatku sedikit merasa aman. Maka aku mohon! Tetaplah seperti ini, jangan berubah, sikap baikmu membuatku merasa terlindungi." Jelas Airin dengan segenap harapanya.


Alvian tersenyum simpul mendengar pengakuan Airin, polisi muda itu segera meraih tangan si cantik tanpa ragu lagi.


"Aku akan menjagamu, bahkan selalu ada saat kau butuh. Jangan takut, karena aku akan selalu bersamamu," jawab Alvian yang membuat si cantik seketika berlinang air mata.


Entah apa yang kini keduanya rasa, sebab baik Airin ataupun Alvian seolah sama-sama saling membutuhkan. Senyum cantik Airin mampu membuat dada Alvian berdebar tak karuan, sementara sikap Alvian mampu membuat Airin merasa nyaman dan aman.


"Istirahatlah, Rin!" lirih Alvian.


"Baik, tapi jangan tinggalkan aku ya!" pintanya.


"Iya,"


Alvian membelai lembut kening Airin dan sayup-sayup gadis itu mulai memejamkan matanya.


"Selamat tidur, Rin," bisik Alvian ramah.


Polisi muda itu segera beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan keberadaan Airin, setelah memastikan gadis itu sudah terlelap.


"Huuuh,"


Alvian membuang nafas kasar, setelah keluar dari ruangan si cantik. Dada Alvian berdebar-debar, detak jantungnya seolah tak seirama. Si tampan merasa ia benar-benar jatuh cinta, kepada narapidana cantik yang beberapa hari ini memang di perhatikanya, entah sejak kapan rasa itu hadir, yang pasti Alvian selalu ingin membuat Airin nyaman bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2