
ANTARA DENDAM DAN CINTA
☡Selamat Membaca☡
Jam sudah menunjukan pukul 3 sore. Arfa dan keluarganya sudah tiba di rumah Nayla dan kehadiran mereka di sambut hangat oleh keluarga besar mempelai wanita.
"Aku gugup," Arfa berbisik di telinga kakaknya.
"Mau aku gantikan?" goda Arfi pula.
Spontan Arfa menepuk pelan pundak kakaknya; hingga membuat banyak pasang mata, merasa gemas akan tingkah keduanya.
"Mari silahkah duduk!" seseorang meminta Arfa duduk di sebuah kursi yang sudah di sediakan, dan di belakangnya duduklah si papi dan juga si mami.
Ruangan itu tertata rapi dengan hiasan dekorasi yang sederhana namun membuat suasana sejuk dan khusyuk. Tamu yang datang sebagian besar hanyalah kaluarga besar dari kedua belah pihak. Ada juga beberapa tamu undangan yaitu teman-teman dekat Nayla dan Arfa.
Acara pernikahan, dikemas dengan sangat sederhana namun tidak mengurangi kekhusuan dari acara itu sendiri. Nayla terlihat begitu cantik dengan wajah yang memancarkan aura kebahagiaan yang kini telah duduk di samping Arfa, yang tampak begitu gagah, terkesan pendiam namun penuh wibawa. Sungguh mereka adalah pasangan yang ideal.
Daannn______
Arfa pun telah selesai mengucap janji setia sehidup semati, untuk mencintai dan melindungi Nayla seumur hidupnya. Bahkan pria itu tak menyangka, begitu cepat waktu berlalu dan kini ia sudah menjadi seorang suami.
"Ayo c*um tangan suaminya! Gapapa, kan sudah halal," goda seseorang dan dialah Afiz teman Arfa yang selama ini hidup di jalanan.
"Kamu juga, Fa.. kec^p kening istrinya dong!" sorak Ika pula, salah satu sahabat Nayla di kampus.
Mendengar seruan dari teman-tsmanya itu, membuat Nayla tersipu malu. Sementara Arfa yang merasa tertantang, langsung menarik tangan si cantik dan mengec*p bibir Nayla, tanpa aba-aba.
"Wooow___!"
Semua orang yang datang, cukup terkejut akan sikap Arfa.
"Diam-diam, agresif ya!
"Hahahahaha!"
Mereka semua tertawa bahagia, saling bersorak dan melempar tawa. Tak cukup itu saja, anak buah Arfa memberanikan diri untuk berkenalan dengan sahabat-sahabat Nayla.
"Kalau kamu pakai kemeja, pasti terlihat tampan," ucap Meymei memuji Afiz.
"Masa sih? Tapi aku tidak punya kemeja, walau satu lembar pun,"
"Sini no handponemu, biar ku belikan!" pinta Meymei bersemangat.
Nyatanya, Afiz memang tak kalah tampan dari Arfa, hanya saja pria itu tempak lebih hitam karena kurang terawat. Tapi Meymei bisa melihat apa yang menjadi kelebihan Afiz.
__ADS_1
Di sisi lain, Arfi memperhatian kebahagian sang adik dan Nayla dari sebuah kursi seraya menikmati jus dingin di hadapanya. Nyatanya sampai detik ini tiba, Arfi masih dag dig dug saat melihat senyum manis di wajah Nayla, wanita yang sudah menjadi istri dari saudara kembarnya sendiri.
Ssssttt.. Ck....
Dua pasang mata, saling menatap dingin saat kembali berjumpa. Alvian dan Tito masih belum memadamkan api perselisihan, meski begitu keduanya tak mau egois di hari pernikahan anak-anaknya.
"Beri tahu anakmu! Jangan sakiti anakku!" Tito menegaskan.
"Oke... nanti akan ku katakan kepada Arfa," Alvian mengedipkan sebelah matanya. Dan ia pun langsung pergi dari hadapan Tito.
Hanya itu yang mereka berdua ucapakan, setelah sekian lama tak pernah berjumpa. Jangankan saling memaafkan, duduk berdampingan saja, enggan mereka lakukan, meski kedua anak-anaknya sudah menikah, tetap tak memadamkan api perselisian di antara Tito dan Alvian.
"Fi, ayo pulang!"
"Kok pulang sih, pi. Arfakan baru menikah, acaranya saja belum selesai," Arfi menolak.
"Sudah, jangan bantah ucapan, papimu!" Kini si mami yang berbicara.
Yang seketika saja, membuat Arfi tertunduk, karena ia tak pernah bisa membantah, apapun yang di katakan oeh kedua orang tuanya.
"Kalian tunggu di sini! Papi mau menemui Arfa dulu!"
Arfi dan si mami menggangguk, sementara si papi melangkah mendekati keberadaan Arfa dan Nayla.
"Fa... Nay. Papi pulang ya! Semoga kalian akan selalu hidup dalam lingkaran kebahagian. Apapun badai yang akan kalian hadapi nanti, jangan sampai meruntuhkan pondasi rumah tangga kalian!" pesan Alvian untuk anak dan menantunya.
"Terima kasih, pi," ucap Arfa lalu memeluk tubuh pria paruh baya tersebut.
"Apapun yang akan kamu hadapi, papi yakin, Arfa pasti bisa menyelesaikanya," bisik si papi di telinga anaknya.
**
Setelah semuanya selesai, Alvian pun memutuskan untuk pulang, bersama Arfi dan sang istri. Sedangkan Arfa sudah bisa bernafas lega, karena semua rangkaian acara sore ini pun usai. Meski hanya di lakukan secara sederhana saja.
"Ehem,"
Tito mengayuh kursi roda, lalu melintas tepat di depan Arfa, anak muda yang sudah resmi menjadi menantunya itu, adalah anak dari seseorang yang sebenarnya sangat Tito benci.
Ck...
Melihat ada sang papa mertua, Arfa bersikap tak perduli, jangankan menyapa senyum pun tak mau ia lakukan. Arfa justru memfokusan matanya, untuk menonton televisi.
"Mana Nayla?" Tito coba bersabar dan bertanya lebih dulu.
"Ohh, astaga.... ada papa mertua ternyata. Maaf pah, aku gak lihat!" ucapnya bersikap sok sopan di hadapan sang mertua. "Nayla sedang keluar, tadi aku meminta dia untuk membelikan aku nasi goreng pedas di luar," ucap Arfa lalu kembali menyandarkan tubuh.
__ADS_1
"Di rumah, kan... banyak makanan, kenapa harus meminta Nayla untuk keluar rumah. Dia sedang hamil, jadi jangan di buat lelah."
"Suka-suka saya dong. Kan, Nayla sudah menjadi istriku, lagi pula, semua masakan di rumah ini, tidak ada yang menyelerakan,"
Arfa benar-benar berucap sesukanya, tak tampak canggung sedikit pun di hadapan Tito, yang tentu membuat pria tua itu cukup kesal di buatnya.
"Coba saja, saat kecelakaan itu terjadi, ada Arfa juga di dalam mobil tersebut. Di jamin, detik ini dia tidak akan menjadi menantuku," lirih Tito dalam hati, ia langsung pergi dari hadapan Arfa lalu memikirkan cara agar bisa melenyapkan menantunya itu dari muka bumi.
Rupanya, sampai detik ini, pria itu belum juga berubah, ia justru lebih menjadi-jadi, karena akan mencari kelemahan Arfa dan membuat anak muda itu bertekuk lutut padanya.
"Licik... kamu kira, aku tidak tahu rencana busukmu," ucap Arfa pula di dalam hatinya.
Cara senyum dan cara Tito bersikap, bisa terbaca jelas oleh Arfa, jika si tua bangka, pasti memiliki rencana jahat.
"Aku, harus lebih berhati-hati lagi!"
***
10 menit kemudian, Nayla pun tiba di rumah, ia membawa nasi goreng dan buah-buahan segar di tanganya.
"Puas, sudah jalan-jalan,"
"Siapa yang jalan-jalan? Aku kan cari makanan,"
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Ti_tidak ada, tapi biasanya, kamu paling suka makan nasi goreng, jadi aku berinisiatif membelikanya untukmu," Nayla menjelaskan.
"Kamu sedang hamil. Bodoh!"
"Maaf!'
"Kemarikan nasinya, kamu masuk ke dalam kamar!" Arfa sedikit membentak.
"Ba_baik,"
Secepat kilat, Nayla melangkah, lalu masuk ke dalam kamarnya, sementara Arfa menggeleng pelan. Ia langsung ke dapur lalu menyiapkan susu ibu hamil untuk wanita yang baru saja "SAH" menjadi istrinya.
Diam, cuek, dingin, pemarah.. tapi baik hati dan perhatian, itulah Arfa. Ia bahkan mengatakan jika ia'lah yanv meminta Nayla untuk membeli nasi goreng di luar kepada Tito, meski kenyataanya, hal itu inisiatif Nayla sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.
🤗TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIK🤗