Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 19 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Sorot mata yang dulu selalu bisa menenangkan. Sorot mata yang selalu Sisi rindukan. Sorot mata yang dulu selalu menatapnya setiap malam. Kini tubuh dari pemilik mata indah itu, dengan gagah'nya kembali mendekap erat tubuh Sisi, melindungi dari rasa takut. Dekap gelap yang menyesakan dada, terasa sangat nyaman setelah Arfi tiba untuk menolongnya. Menolong Sisi dari ke gelapan. Menolong Sisi dari ke takutan.


"Ka-kakak,"


Suaranya lirih, pelan dan benar-benar mengisyaratkan perlindungan. Napasnya memburu, dadanya berderu. Sesak sangat sesak. Karena penederita sesak napas biasanya akan kambuh saat berada di ruangan gelap.


PELUK!


Sangat erat, benar-benar erat. Sisi tak melonggarkan dekapanya sebentar pun, ia seakan takut jika Arfi pergi. Tak perduli seberapa sesak ia kini, yang jelas Sisi membutuhkan pria ini untuk tetap bersamanya di sini.


"Jangan takut! Sebentar lagi, lampunya akan hidup dan hujan segera reda," sebisa mungkin Arfi menenangkan. "Aku ambilkan air minum dulu untukmu,"


Sisi menggeleng. "Jangan tinggalkan aku, tolong tetaplah di sini! Aku takut," ucap Sisi dengan napas naik turun.


"Oke. Tapi beri tahu aku, dimana obat hisapmu? Biar aku ambilkan,"


"Di kamar." jawabnya singkat.


Dengan di terangi, cahaya dari sinar ponsel milik Arfi, pria itu membantu Sisi untuk beranjak dan mengitisrirahatkanya di kamar.


"Terima kasih, Kak!' ucap Sisi setelah napasnya sudah kembali normal.


"Sama-sama." Arfi menjawab sesingkat-singkatnya. Sedangkan Sisi justru tersenyum mendengarnya.


"Bagimana Kak Arfi bisa kembali ke sini lagi?"


"Kepo!'


"Tapi aku memang penasaran." kini nada bicara Sisi tak selembut tadi.


"Hmmm, ngegas ya Buuu!" Arfi malah ikut mencandainya.


"Terserah kamu, saja!" celetuknya kesal.


Arfi tersenyum tipis, setelah itu memiringkan wajah sebentar agar bisa memandang wajah Sisi yang tiba-tiba menunduk. "Heeem,"


"Nggak usah cerita, aku juga udah nggak niat buat dengerin."

__ADS_1


"Yakin?" Arfi memastikan, bahkan saat ini ia menunjukan senyumnya paling manis, karena sikap Sisi yang membuat ia gemas. "Jadi gini, tadi aku memang belum jauh dari sini. Saat mati lampu dan badai secara dadakan, seketika aku ingat kamu, otomatis aku putar balik dan balik lagi untuk memastikan keadaanmu." Arfi berkata jujur.


Sisi sendiri semakin tenggelam dalam rasa malu. Jangankan menatap mata Arfi, berbicara saja ia seolah tidak sanggup. Sungguh jauh dari lubuk hatinya yang sangat dalam, saat ini suasana hatinya cukup bahagia, sikap hangat Arfi mampu membuatnya terharu.


"Kamu tidur, aku jagain... sampai lampunya menyala,"


"Tapi jangan macem-macem ya!"


"Macem-macem gimana?" Arfi sok polos.


"Ah, bodo amat deh,"


Sisi langsung membaringkan tubuh, menarik selimut dan perlahan mencoba untuk memejamkan mata. Meski ada sedikit rasa takut jika Arfi tak bisa menjaga diri. Karena selama keduanya menikah dulu, pria itu memang memiliki selera di atas ranjang yang sangat berlebihan. Tapi semoga malam ini, Arfi bisa di percaya.


Ck...


Perlahan Arfi membaringkan tubuhnya juga di sofa. Kali ini rungan hanya di sinari oleh cahaya lilin saja.


"Astaga."


Arfi berdecak lirih, matanya melotot lebar kala menatap layar ponsel seutuhnya. Banyak pesan singkat dari Cia dan ia baru bisa membacanya.


Detik itu juga, Arfi menghela napas perlahan, pesan singkat Cia, sukses membuat Arfi terus merasa bersalah. "Aku yang menemani, Kakak'mu," ucap Arfi dalam hati.


("Tadi siang Mama bilang, kalau aku harus berbakti kepada kedua orang tua. Aku sedih sekali, karena tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Karena Mama dan Papa menginginkan aku segera menikah. Dan gila, aku di suruh nikah sama Bapak-bapak beranak tiga. Kan aku jadi sedih,") tulis Cia lagi, seolah meluapkan rasa sakitnya dengan ketikan sesantai mungkin.


Entah kenapa Arfi sakit sekali membacanya. Seolah ada bongkahan besar menghantam dada. Dari ketikan ini, ia bisa merasakan, sulit dan sedihnya di posisi Cia.


Arfi menarik napas pelan, sebelum kemudian membalas rentetan pesan dari gadis yang kini menganggapnya ke kasih. "Cia, besok pagi saya akan menemui kedua orang tau'mu." balasnya penuh keyakinan.


Sepuluh menit kemudian, pesan singat Arfi langsung mendapatkan balasan. ("Pak Arfi mau apa? Aku kaget setengah mampus, baca pesan dari anda.") jujur Cia.


"Jangan panggil Bapak! Saya tidak nyaman."


("Ya udah, aku manggilnya Ayank aja ya, Pak?") tanya Cia lagi.


"Terserah!"


Perkara panggilan kok ribet amat. Begini nih kalau pacaran sama orang yang beda usianya lumayan jauh. Apa-apa jawabanya pasti TERSERAH yang bikin geleng-geleng kepala adalah, kata-kata itu lebih sering Arfi yang mengatakanya. Padahal selama ini pasti kebanyakan ceweknya yang apa-apa di jawab TERSERAH. Memang dunia sudah kebalik.

__ADS_1


Kembali ke topik!


Sisi penasaran, apa yang akan Arfi lakukan besok? Sementara Arfi sendiri tak mau menjawab pertanyaan Cia, ia malah meminta gadisnya untuk beristirahat.


("Iya, aku tidur. Love you ayank,")


Wajah Arfi seketika langsung memerah, karena tak habis pikir akan sikap Cia yang aneh menurutnya. Karena dalam kondisi hati yang sedang kacau luar biasa, Cia masih menunjukan sifat jenaka saat berbalas pesan dengan sang ke kasih.


"Mimpi indah, Cia." lirihnya pelan, seketika ia pun menoleh ke arah Sisi yang tampak sudah terlelap. "Selamat tidur, Si!' ia juga mengucapkan hal yang sama kepada si mantan isteri.


Satu jam kemudian, hujan pun reda, lampu juga sudah menyala. Kini Arfi bisa menatap sempurna, wajah cantik Sisi saat memejamkan mata.


"Masih sama, tidak ada yang berubah. Dari dulu sampai detik ini, Sisi tetaplah cantik bahkan sangat cantik." puji Arfi berkali-kali.


Debaran di dadanya masih sama, selalu bergetar setiap kali berdekatan dengan wanita ini. Karena rasa cinta Arfi untuk Sisi, masih sebesar itu dan setulus itu.


Sssttt....


Spontan Arfi menarik diri, dari posisinya yang tadi sangat dekat dengan Sisi. Karena dalam sekejab bayangan wajah Cia terlintas dalam pikirannya.


"Maaf!'


Entah kepada siapa MAAF! yang Arfi ucapkan. Tapi yang pasti kali ini, ia benar-benar sadar, jika posisinya sedang tidak aman sedikit pun. Karena setelah Arfi sadari, ia terjebak di antara dua hati. Terjebak di antara dua wanita yang sama-sama membutuhkanya. Tanpa sadar posisi Cia di hati Arfi, kian lama kian terisi.


Hm!


Terkadang hidup memang tidak sesuai dengan apa yang kita harapankan. Tapi menanamkan rasa keyakinan akan setiap takdir Tuhan, mungkin akan mengurangi sedikit rasa sakit yang membelit. Percayalah... apa yang sudah Tuhan siapkan di masa depan pasti yang terbaik.


Ikuti saja alurnya!


.


.


.


.


L A N J U T

__ADS_1


__ADS_2