
🌹Selamat Membaca🌹
Apa yang sudah di rencanakan, kini menjadi kenyataan. Apa yang sangat di harapkan, kini sudah dalam genggaman. Seperti itu yang kini Cia rasakan, dimana ia sudah menyelesaikan janji pernikahan, dengan pria yang sudah sekian bulan sangat Cia impikan.
"Selamat ya, Pak! Semoga menjadi keluarga yang bahagia dan cepat di berikan malaikat kecil!"
Ucapan ini keluar dari bibir karyawan-karyawan kantor Arfi. Mereka tampak sangat tulus mendoakan kebahagian bosnya itu.
"Selamat ya Cia, semoga kalian menjadi keluarga kecil yang sangat bahagia tanpa kurang satu apapun. Dan saling melengkapi satu sama lain." ucapan ini keluar dari bibir Sisi, ia benar-benar tulus mendoakan sang Adik. Meski tanpa siapapun ketahui, jauh di dalam hatinya, Sisi hancur luar biasa.
Tak ingin di curigai, Sisi pun tak lupa menjabat tangan Arfi dan juga memberi ucapan selamat. Ia gemetar kala tatapan pria ini sangat mematikan, bahkan Arfi menggenggam tangannya sangat erat.
"Maaf, aku buru-buru!" Sisi melepas paksa, beruntung detik itu juga Arfi mau melepaskan genggamannya.
"Kak Sisi mau kemana?"
"Maaf Cia, Kakak ada urusan sebentar," ia pun meyakinkan, sementara Cia seketika tampak kecewa, tapi ia tak bisa memaksa Sisi untuk tetap di sini.
Semua orang tentu saja sangat terpukau, akan keindahan pesta pernikahan yang hanya di hadiri seratus orang saja ini. Dekorasi sebab biru dan di rancang semewah mungkin, sungguh mengagumkan. Tapi dari sekian banyak rasa kagum para tamu, Pak Dana justru merasa sangat heran, karena Arfi hanya datang bersama kedua orang tuanya saja, tanpa keluarga besar apa lagi saudara.
"Maaf Pak Arfi! Apa anda tidak punya saudara? Kenapa datang hanya dengan orang tua anda saja?"
Sejenak Arfi terdiam, ia menelisik pertanyaan dari Pak Dana baru saja. "Keluarga besar Mami saya tidak tahu ada di mana. Kalau keluarga besar Papi, semua tinggal di luar negeri. Dan saya sebenarnya punya saudara kembar, tapi dia tinggal di Jerman karena punya Perusahaan di sana." jelas Arfi jujur dan pria itu tertunduk malu.
Saudara kembar? Plak Dana seakan tidak yakin jika Arfi memiliki saudara kembar karena Cia tidak pernah menceritakannya. Tapi rasa tak percayanya itu seketika mendadak berubah menjadi rasa malu, sebab Arfi video call dan mengabari Arfa secara langsung jika ia dan Cia sudah SAH menikah.
("Waah, selamat ya!")
Secepat mungkin Arfi mengarahkan kamera ponsel ke arah Cia yang kini duduk tepat di sampingnya. "Ha-hallo," ucap Cia segugup dan secanggung itu.
("Haai, salam kenalan, panggil aku Arfa saja ya! Karena menurut Papi dan Mami, aku lahir lima menit setelah Arfi menatap dunia. Jadi otomatis aku Adik ya.") sumpah demi apapun, Arfa geli sendiri berkata demi kian.
Cia bukan hanya di kenal kan dengan Arfa saja. Tapi mengenal Nayla dan Acha, istri dan anak dari saudara kembar Arfi. Bahkan Cia sangat bahagia, karena wanita bernama Nayla itu menyapanya dengan sangat ramah.
"Jangan lupa bahagia!" tambah Nayla di akhir obrolan mereka.
__ADS_1
Pesta pernikahan hari ini, bertema suka-suka anda. Tidak ada acara khusus dan tak seperti acara pernikahan pada umumnya. Hari ini terkesan seperti acara kumpul karyawan karena tamunya semua anak-anak kantor dan tetangga Cia saja. Sebenarnya Pak Dana sungguh kepo karena selain tidak membawa keluarga besar, Arfi juga tak mengundang para tetangga.
"Konsep pernikahan macam apa ini?" tanya Pak Dana dalam hati. Meski tak dapat di pungkiri, semua hal di ruangan ini terkesan mahal, mewah dan WAH.
Pak Dana tidak tahu, jika ada rahasia di dalam rahasia. Ada alasan besar kenapa Arfi tak mengajak tetangga di sekitar rumahnya. Yakni menyembunyikan identitasnya sebagai mantan suami Sisi, wanita yang juga hadir di pernikahan ia dan Cia. Wanita yang masih sangat dicintainya. terutama ia tak mau Cia tahu, siapa Sisi sebenarnya.
"Fi, Mami keluar sebentar ya!" pamit si Mami pada anaknya, ia pun membelai pelan rambut Cia sebelum keluar dari acara pernikahan.
Sedangkan Papi kini tampak ngobrol berdua dengan Pak Dana. Papa Cia itu tak menyiapkan kesempatan untuk menceritakan jika ia baru saja kehilangan istrinya. Pada akhirnya Papi pun merasa iba.
.
.
.
Mami yang kini berada di luar ruangan, menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Sisi. Sesuai dugaannya, mantan menantunya itu tampak tengah menangis di sudut tempat yang cukup sepi.
Bahunya tergetar, ia bahkan sulit bernapas. Sisi benar-benar menangis sesenggukan. Hatinya sakit, ia seperti terjatuh dalam lubang yang sudah ia buat sendiri. "Ma-mami," Sisi mendadak malu. Kala sang mantan mertua menepuk pelan pundaknya.
"Aku takut pingsan, Mi. Sebab beberapa waktu lalu aku menangis di dalam sana lalu tak sadarkan diri."
"Kok bisa?"
"Panjang ceritanya, Mi." Sisi tak berniat menceritakan sedikit pun. Dan Mami paham hal itu.
Kini Mami mengajak Sisi untuk menjauh dari gedung pernikahan. Dan di sampingnya Mami pun mempersilahkan Sisi menangis sepuasnya.
"Menangislah, jika mampu membuat rasa sakitmu sedikit lega!"
Dengan tangis yang kian deras, Sisi menatap lekat wajah wanita paruh baya yang kini duduk tepat di sampingnya. "Mami kenapa di sini? Nanti mereka semua bingung, karena Mami nggak ada sama mereka." Sisi berusaha mengalihkan pembicaraan.
Tapi Mami malah tidak perduli, sebab ia yakin saat ini Sisi butuh di temani. "Seharusnya, kamu mempertahankan Arfi bukan membiarkan dia jatuh dalam dekap orang lain!"
"Aku nggak bisa, Mi."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena aku nggak bisa kasih, Arfi keturunan. Dan aku juga nggak mau Cia kecewa, dia sudah terlalu baik kepadaku dan aku tau Cia sangat mencintai Arfi."
"Jadi ceritanya kamu rela berkorban nih?"
Sisi tak menjawab, hanya tertunduk dalam dan sangat dalam.
"Jangan-jangan, Cia nggak tau... kalau kalian pernah berumah tangga?"
Lagi, meski sakit Sisi tetap mengangguk dan mengiyakan pertanyaan Mami baru saja.
"Astaga."
Mami menghela napas berat, ia memberi nasehat dan memberi tahu Sisi, jika apa yang kini di lakukan dia dan Arfi adalah sebuah kesalahan yang fatal. Menutupi fakta sama saja dengan menunda rasa sakit yang mungkin saja terjadi.
"Bayangkan! Sesakit apa Cia nanti, karena ia tau kebenaranya setelah menikah?"
"Aku dan Arfi akan berusaha menutupi ini rapat-rapat." jawab Sisi lagi, seraya menghapus air mata di wajahnya.
Mami memilih untuk tidak menanggapi perkataan Sisi baru saja. Sebab ia tak yakin jika rahasia mereka berdua akan selamanya aman dan tidak terungkap.
"Kalau kamu mau curhat, atau butuh apa-apa, datang ke Mami ya! Kapan pun, waktu Mami akan selalu ada untuk kamu!" ujar si Mami menenangkan.
"Baik, Mi... terima kasih." jawabnya. Sembari menatap langkah Mami yang semakin menjauh.
.
.
.
Ada sakit yang tidak bisa untuk di jelaskan. Ada kecewa yang sulit untuk di ungkapkan.
B E R S A M B U N G
__ADS_1