Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Cemburu Tanda Cinta


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Alvian berjalan pelan, mendekati keberadaan sang istri, pria tampan itu menatap Airin sedikit gugup, sebab ia melihat ada yang tak biasa dari penampilan istrinya.


"Ca_cantik, banget, Rin," pujinya spontan yang langsung di sambut senyuman dari bibir Airin.


"Ya lah... sebelum ke kantor, aku ke salon dulu," jujurnya.


"Eh, serius?"


Airin menjawabnya dengan senyuman, ia tak mengucapkan sepatah katapun, hanya sorot matanya yang berbicara, ia menatap wajah Fifa penuh makna.


"Siapa ya?"


Airin bersikap sok tak tau, nama wanita yang ada di hadapanya.


"Afifa," jawabnya datar. "Namamu siapa?" ia coba balik bertanya.


"Namaku, Airin.. aku istri dari Alvian Atala," jawabnya lalu meraih tangan si tampan.


"Haah... istri?"


Fifa cukup terkejut, sebab selama ia di luar negri, tak mendaptkan kabar sama sekali, jika sahabatnya sudah menikah.


"Salam kenal," Fifa mengulas senyum penuh makna, belum lagi ia menangkap sinyal-sinyal tak biasa dari sikap istri sahabatnya.


"Salam kenal juga,"


Airin semakin mengeratkan genggaman tanganya, yang langsung Alvian balas, pria muda itu menggengam erat tangan sang istri seolah ia paham, apa yang tengah di pikirkan istrinya saat ini.


"Rin, ini Fifa sahabatku, dia selama ini tinggal di Jerman," Alvian menjelaskan.


"Ga.. nanya tuh," Airin justru membalas dengan nada bicara sedikit mengejek.


Seketika saja, Alvian menahan tawa, ia benar-benar paham istrinya sedang cemburu.


"Ayo duduk!"


Si tampan mengajak sang istri duduk di Sofa dan berbicara dengan santai di sana, namun Airin seakan menolak ia lebih memilih duduk di kursi milik sang suami.


"Ehem,"


"Kenapa, Fa?"


"Gagapa," jawanya tersenyum.


"Oke baiklah,"


Airin membalas senyuman yang Fifa berikan, si cantik benar-benar terlihat salah tingkah.


"Al, aku pulang dulu! Jika nanti, aku mendapatkan izin dari suamiku untuk bekerja, akan ku pastikan akan kembali ke kantormu lagi," ucap Fifa sebelum keluar dari ruang kerja Alvian.


Seketika Airin menarik sudut bibir, lalu menggigit kecil bibirnya sendiri, ia menyesali sikapnya yang cemburu tak jelas, karena nyatanya Afifa sudah memiliki suami.


"Haduuuh,"


Ia menepuk pelan keningnya sendiri, Airin menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.


"Rin, kenapa?"


"Ti_tidak," jawabnya gugup.


"Yakin?"


"Iya,"

__ADS_1


"Hmmmm.... ngomong-ngomong, tumben mau ke kantor, pergi ke salon dulu?"


"Ehehe... tidak, apa-apa,"


Airin salah tingkah, terlebih lagi Alvian justru menggoda dengan bersikap pura-pura tidak tau, jika istrinya itu tengah cemburu.


"Afifa, cantik, ya?"


"Iya, dia mantanku, di saat awal-awal kuliah dulu,"


"Haaah____,"


Airin menautkan kedua alisnya, ia sepontan memanyunkan bibirnya.


"Kenapa, Rin?"


"Aku, tak memberi izin dia bekerja di sini,"


"Eh,"


"Jangan ada mantan di antara kita! Paham?"


"Buset, kok nyolot sih, bu...?"


"Ya nyolotlah, karena aku tidak suka, paham?"


"Okeh,"


Alvian menggeleng pelan, melihat sikap Airin yang sungguh menggemaskan. Si tampan mendekatkan tubuhnya untuk duduk di samping sang istri, pria itu menatap dalam-dalam, wajah Airin, hingga membuat si cantik berdecak kesal.


"Kenapa sih, Al?"


"Aku iri?" ucap Alvian seketika.


"Lho... iri sama siapa Al? Aku, gak lagi deket sama siapapun?" Airin menggeleng terlebih lagi si tampan semakin tajam menatap wajahnya.


"Haaah, hihahaha, Alvian alay," cetusnya di sertai tawa sejadi-jadinya.


Sementara Alvian mengerutkan wajahnya saat melihat istrinya tertawa, ia benar-benar di buat gemas.


Sssstttt...


"Heeeh,"


Lagi-lagi Alvian mengernyitkan wajahnya, sebab, saat ia akan coba mencium wajah sang istri, Airin lebih dulu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, yang spontan tangan Airinlah yang tercium olehnya.


"Hahahahaha," tawa Airin lagi.


"Ih,"


Melihat ekspresi wajah sang suami yang tampak kesal, Airin secepat kilat beranjak dari duduknya, lalu berlari keluar ruangan.


"Hei, mau kemana?!" Alvian berteriak.


Airin tak tak perduli, ia segera melangkahkan kaki dengan cepat.


Daan... Brruuuugh!


Seketika saja, tubuhnya menabrak seseorang, bahkan pria itu sesigap mungkin menangkapnya.


"Kak Rio," gugupnya lalu seketika menjaga jarak.


"Hati-hati, Rin! Mau kemana sih, di dalam kantor kok lari-lari?" Rio coba bertanya.


Airin menggeleng cepat, ia tak menjawab pertanyaan Rio sedikit pun.

__ADS_1


"Rìo,"


Kini Alvian yang menyapa. Si tampan berdecak heran, ada perlu apa, Rio datang ke kantornya?


"Al, aku mau berbicara dengan kalian berdua," ucap Rio seraya menatap Alvian dan Airin.


"Mari masuk ke dalam ruanganku saja! Kita bicara di dalam!" ajak Alvian pula.


Rio pun mengikuti apa yang di serukan Alvian, sementara Airin sedikit penasaran.


"Silahkan duduk!"


"Terima kasih,"


Ketiganya kini sudah duduk dengan saling berhadapan, Rio tersenyum penuh harapan.


"Katakanlah!" titah Alvian lagi


Rio menghela nafas pelan sebelum membuka suara, ia terdiam sejenak lalu menatap lekat wajah dua orang yang kini duduk tepat di hadapanya.


"Al, aku minta izin?"


"Izin, untuk apa?"


"Mama Anita kini sedang sakit, bolehkah Airin merawatnya satu minggu saja. Karena, dari ucapan-ucapan yang mama lontarkan, beliau sangat merindukan Airin," jelas Rio dengan tertunduk malu. Awalnya ia sedikit ragu untuk mengatakan hal itu, sebab Rio benar-benar takut, jika Alvian akan marah karena permintaan dan harapanya.


"Huuuuuf, bukankah ada Amira?" tanya Airin dengan mata berkaca-kaca, sungguh ia sebenarnya tidak tega mendengar sang mama jatuh sakit.


"Amira, untuk saat ini dia sudah mulai bekerja, dan papa sendiri sudah tak bisa melakukan banyak hal di usianya yang tak lagi muda. Maka... aku dan Amira harus bekerja keras, demi pengobatan mama dan juga makan sehari-hari," jelasnya dengan wajah memerah. "Amira, tak memiliki waktu untuk selalu berada di rumah," tambahnya.


Deeeg!


Batin Airin tersenyuh, sedih tak bisa ia sembunyikan, sebab meski ia pernah di telantarkan oleh Yuda dan sang mama, tapi mendengar hidup mereka hancur, nyatanya membuat Airin terluka.


"Ini ATMku... gunakan uang di dalamnya sebijak mungkin!" Airin menyodorkan sebuah ATM miliknya untuk sang kakak.


"Tapi Rin,"


"Tak masalah... ambilah!" seru Alvian lalu meletakan ATM tersebut ke tangan Rio.


"Aku," Rio tertunduk malu.


"Kau tak perlu susah payah bekerja, urusi mamamu sebaik mungkin. Hasil perusahaan akan sepenuhnya ku berikan pada kalian. Prusahaan itu hanya pindah nama pemiliknya, tapi bukan berarti kalian tidak bisa menikmati hasilnya. Uang dari perusahaan Airin itu, untuk biaya hidup kalian. Sementara hidup Airin, tetap tanggung jawabku," ucap Alvian tanpa basa-basi.


Mendengar ucapan Alvian, membuat Rio tertunduk malu, karena kenyataanya, meski sudah banyak hal, yang kedua orang tuanya lakukan terhadap Airin, tak menyurutkan niat Alvian untuk memberikan hasil perusahaan untuk keluraga Rio sendiri.


"Masalah Airin, mau atau tidak mengurus mamamu, itu urusan Airin sendiri," ujar Alvian kemudian.


"Ya... setiap aku pulang dari kantor, akan ku sempatkan untuk menemui dan mengurus mama. Tapi jika sore tiba, aku akan pulang ke rumah, karena bagaimanapun aku sudah memiliki keluarga," ucap Airin pula.


Alvian dan Rio tersenyum, melihat ketulusan dari wajah cantik Airin, sebab wanita muda itu terlihat tengah berusaha bersikap adil untuk suami dan keluarganya.


"Betapa baiknya, suamiku.... maka dari itu, tak seujung kuku pun, aku berniat untuk mengecewakanya," ungkap Airin tulus.


Lagi. Alvian menyunggingkan senyum di bibir merahnya, ia tesanjung mendengar ucapan sang istri baru saja.


"Oke... kalau begitu, aku permisi dulu!" Rio melangkah keluar dari ruang kerja Alvian. Dengan membawa ATM milik Airin di tanganya.


Sedangkan Airin dan Alvian saling tatap penuh makna.


.


.


Sejatinya, setiap dendam yang ada hanya akan merugikan diri sendiri🤗.

__ADS_1


Terima kasih kakak-kakak baik, semoga selalu bahagia ya💪❤.


__ADS_2