
ANTARA DENDAM DAN CINTA
☡Selamat Membaca☡
Sesuai janji, setelah Arfa menikahi Nayla keduanya harus tinggal terpisah. Tidak tinggal di rumah Alvian, tidak juga di rumah Tito, hal itu Arfa lakukan, agar rumah tangganya dengan Nayla baik-baik saja
"Kapan kamu membeli rumah ini?"
"Sebelum kita menikah,"
"Begitu ya. Tapi.. kita hanya berdua saja, lalu kenapa kamu membeli rumah sebesar ini?"
"Sebentar lagi, kita akan ada Baby dan aku juga memiliki banyak sekali teman. Jadi setiap akhir pekan, mereka semua akan menginap di sini," jelas Arfa lagi.
Nayla pun tersenyum, ia berjalan pelan menyusuri sudut ruangan. Rumah besar yang trediri dari 8 kamar, itu.. nampak tidak seperti rumah, melainkan seperti hotel bintang lima.
Ck....
Lagi, senyum Nayla kian mengembang, kala memperhatikan 20 orang lebih, teman-teman Arfa yang membantu ia dan sumianya pindah rumah. Wajah mereka tampak begitu tulus untuk menuruti semua perintah yang di arahkan oleh Arfa.
"Makan siang, datang____,"
Arfi tiba-tiba saja, hadir di rumah baru milik Arfa dan Nayla, saudara kembar suami si cantik itu, masih tampak gagah dengan baju dinas kepolisian, dan ia membawa banyak makanan di tanganya.
"Wooy, terima kasih bos," ucap Afiz bersemangat lalu mengambil apa yang sudah di bawakan Arfi untuk mereka.
"Jangan panggil aku bos!"
"Kenapa? Andakan suadara kembar bos Arfa,"
"Panggl aku, kakak, mas atau abang!" titah Arfi lagi seraya mendudukan tubuhnya di sofa.
Siang itu, mereka menghabiskan waktu dengan canda tawa, makan siang bersama dan saling bercerita. Sebuah keseruan yang jarang sekali Arfi rasakan.
"Aku ambil, air minum dulu!" ujar Arfa dan segera beranjak dari duduknya untuk menuju ke ruang belakang.
Ck...
Saat semua anak buah Arfa, sibuk menikmati santap siangnya. Arfi justru tak henti terus menatap wajah Nayla, entah mengapa rasa itu masih sama, ia masih berdebar-debar kala melihat senyum menawan yang si cantik tunjukan. Sementara Nayla sadar, jika tatapan Arfi bukanlah tatapan biasa, ia segera berdiri lalu menyusul keberadaan Arfa.
"Ada apa, Nay?"
"Ti_tidak," gugup Nayla. "A_aku, mual," ujarnya berbohong, si cantik segera masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Arfa, hanya menganggap sikap aneh sang istri, karena Nayla tengah hamil muda.
__ADS_1
"Apa perlu ku bantu?" Arfa mendekati keberadan si istri, namun Nayla menggeleng.
"Keluarlah, kakakmu dan teman-temanmu pasti menunggumu!"
"Baiklah,"
Tanpa pikir panjang, Arfa pun langsung menuju ke ruang tamu, ia melihat Arfi tengah duduk di samping jendela seraya menatap keluar rumah, sementara, orang-orang yang Arfa anggap sahabat-sahabatnya, tampak sibuk membersihkan sisa makan mereka, lalu membersihkanya serapih mungkin lagi.
"Mereka siapa?"
"Mantan penjahat yang kini ku anggap sahabat,"
"Maksudmu?" Arfi penasaran.
Dengan semua kejujuranya, Arfa menceritakan siapa mereka dan bagaimana ia bisa berteman dengan anak-anak jalanan. Awalnya Arfa mendukung apapun yang mereka semua lakukan, mulai dari mencopet, mencuri dari rumah ke rumah dan juga pencurian sepion mobil. Namun Arfa langsung melarang saat salah satu dari teman-teman jalananya itu, tertangkap oleh polisi dan di jatuhi hukuman 1 tahun penjara, padahal ia hanya mencuri sepion mobil dan juga helm motor. Karena merasa tidak adil'lah akhirnya Arfa meminta mereka pensiun menjadi penjahat.
"Dan, sampai detik ini, mereka semua tak bisa bertemu dengan teman mereka yang tertangkap oleh polisi itu," jelas Arfa tanpa jeda, matanya berkaca-kaca dan pipinya memerah menahan marah. Toh kenyataanya sang kakak adalah seorang polisi.
Ssssttt___
Mendengar cerita sang adik, membuat Arfi diam sejenak, ia meminta kepada Arfa agar berbicara dari hati kehati padanya.
"Andai, temanmu itu tidak di tangkap atau hukumanya hanya 3 bulan penjara saja. Apakah detik ini kamu akan meminta mereka untuk berhenti dari pekerjaan-pekerjaan haram itu?" tanya Arfi sepelan mungkin.
Dan Arfa hanya mampu membisu.
Penjelasan sang kakak, begitu mudah ia pahami. Dan hari itu, atas nama semua teman-temanya, Arfa meminta maaf! Jika mereka sudah membuat resah.
"Papi, sudah mempercayakan, urusan perusahaan kepadamu. Kamu bisa memberi mereka pekerjaan sesuai kemampuan, masing-masing!" seru Arfi lagi.
Arfa mengangguk setujuh.
"Jika, nanti mereka semua sudah memiliki pekerjaan dan gaji tetap. Berusahalah untuk mengembalikan apa yang sudah mereka curi dari banyak orang!"
"Mana mungkin, mereka mengingat semua orang yang pernah di rugikan,"
"Kembalikan yang ingat saja! Sisanya berikan kepada anak yatim. Sebab, jika kamu tidak meminta mereka untuk melakukanya, maka.. aku akan membawa mereka masuk ke penjara. Anggaplah, saranku tadi untuk membayar dosa-dosa yang sudah mereka lakukan!"
Meski awalnya menolak, akhirnya Arfapun setujuh. Karena baginya, apa yang di perintahkan oleh sang kakak, jauuuuh lebih baik daripada teman-temanya harus masuk ke dalam penjara.
***
Setelah selesai semua urusan pindah memindah. Dan semua orang pun sudah pulang termasuk saudara kembar Arfa. Kini pasangan yang baru menikah itu pun memilih untuk beristirahat dan menikmati kamar di rumah baru mereka.
"Warnanya sengaja, aku kasih biru dan kuning sebab itu warna favorite kamu dan aku," ucap Arfa seraya menatap wajah sang istri yang tengah menatapnya juga.
__ADS_1
Nayla menaikan kedua alisnya, karena menelisik dalam-dalam sikap Arfa. Pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut, sungguh sulit cara pikirnya terbaca oleh si cantik, sikap Arfa penuh kejutan dan setiap hal yang Arfa lakukan selalu membuat Nayla tersenyum.
"Nay,"
"Ya,"
"Panggil aku sayang!"
"Haah, jangan bercanda, Fa!"
"Siapa yang bercanda? Yang jelas, kamu harus memanggilku dengan sebutan "Sayang"!
"Ta_tapi, jika di kampus, boleh memanggil nama saja, kan?!"
"Tidak boleh, dimana pun tempatnya, kamu harus sopan memanggil namaku!"
"Ba_baiklah," ujar Nayla gugup.
"Kalau begitu, ayo kita praktekan! Panggil aku, SAYANG!" Arfa menggoda Nayla, dan tentu saja si cantik malu-malu melakukanya,"
"Sa_sayang," ucapnya datar, suaranya sangat pelan bahkan nyaris tidak terdengar.
"Apa? Kenapa suaramu kecil sekali? Ucap benar-benar!"
"ARFA________ SAYANG____!!" pekik Nayla kencang-kencang, suaranya yang nyaring merasuk ke dalam rongga telinga Arfa.
"Ucap sekali lagi!!" teriak Arfa pula
"AR_____ FA____!!"
Haaaappss!
Belum sempat Nayla berteriak dan berucap, Arfa sudah spontan mendarakan kec*pan di bib*r merah Nayla, yang tentu membuat si cantik langsung tertahan. Sebab bibir Arfa merampas kasar b*bir istrinya.
"Pe_lan-pelan. Sa_sakit" ucap Nayla terbata-bata.
Tapi Arfa tak perduli, malam ini.... untuk kedua kalinya ia menjelajah tubuh Nayla, setelah perlakukanya sebelum "Sah" menikah. Namun kini si cantik membiarkan apapun yang Arfa lakukan. Tidak seperti malam itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
❤TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIK❤