
šSelamat Membacaš
Kembalinya Alvian dalam bertugas di kepolisian, di sambut gembira oleh rekan-rekanya. Ia menyerahkan sepenuhnya urusan perusahaan kepada Ridho, ayah dari almarhum sahabatnya.
"Selamat datang Al," ucap Egi pada anak muda yang sangat di banggakanya.
"Al, bagaimana keadaan, anak kembarmu, pasti lucu?" tanya Rama.
"Terima kasih buat semua, dan kabar anakku baik, besok malam mainlah kalian ke rumah! Aku undang kalian makan bersama,"
"Serius Al?" semangat rama.
Alvian tersenyum, ia segera berlalu dari hadapan rekan-rekanya untuk masuk ke dalam ruangan. Sementara yang lain saling tatap, mereka berharap, Alvian akan terus berkerja bersama mereka, dan tak ada fitnah lagi, yang akan menyudutkanya.
"Huuuuf,"
Alvian duduk di sebuah kursi, ia menatap beberapa lembar kertas di hadapanya, yang isinya, laporan dari beberapa orang, untuk segera di tindak lanjuti. Namun tiba-tiba saja, ia teringat kepada Toni, sebab setiap ia banyak kasus yang harus di hadapi. Sahabatnya itulah yang selalu terdepan untuk membantu.
"Aku rindu kepadamu, Ton," lirihnya lalu mengepal jari-jemari, ia mengingat penuh benci, ledakan beberapa bulan lalu, yang merenggut nyawa sahabatnya.
Kini, satu hal yang membuat suasana kantor kepolisian sangatlah berbeda, tak ada kehadiran Toni di tengah-tengah mereka, menjadikan perasaan Alvian sedikit hampa.
***
Ssssstttt.....
Setelah seharian bekerja, kini si tampan pun sudah pulang ke rumah, ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan kedua anak kembarnya.
"Hai, mas... sudah pulang?" sapa Airin menyambut kedatangan sang suami dengan senyuman.
"Woow, kamu cantik sekali, Rin," puji Alvian saat melihat penampilan istrinya.
Ya... malam ini, Airin menggunakan baju bermotif bunga-bunga, dengan rambuatnya yang sudah terlihat pendek, karena tadi siang ia memotongnya.
"Aku sengaja potong rambut, biar tidak ribet, jika memberi Arfa dan Arfi asi," jelasnya.
"Tidak masalah! Toh, dengan tampilanmu yang baru, kamu terlihat lebih fresh dan sangat cantik,"
"Masa sih,"
"Iya,"
Airin tersipu malu, pipinya merah merona, karena meski ia dan Alvian sudah sedikit lama menikah, tapi suaminya itu, sangat jarang memuji penampilan istrinya. Tapi malam ini, ia memuji berkali-kali.
"Emm, kamu pasti lelah, seharian mengurus Arfi dan Arfa,"
Alvian membelai lembut rambut Airin, lalu mengajak istrinya masuk ke dalam kamar.
"Sedikit lelah, tapi bahagia. Karena ada mama yang membantuku, mengurus mereka,"
"Oh begitu ya,"
"Iya. Kamu mandi dulu mas, setelah itu makan, nanti aku temani,"
"Baik, mami cantik," jawabnya sedikit menggoda.
Si tampan langsung membersihkan tubuh, setelah itu makan malam bersama Airin. Penat dan lelah, setelah seharian bekerja, terbayar sudah dengan imutnya wajah kedua anak kembarnya dan senyum sang istri.
"Bagimana, di kantor mas?"
__ADS_1
"Ya.. seperti biasa, walau sedikit berbeda karena tidak ada lagi, Toni, di sana. Tapi selama berjam-jam aku di sana, wajah Arfi dan Arfa selalu terbayang-bayang di benakku." Jujurnya.
Begitulah, karena baru beberapa hari menjadi orang tua, tentu saja, bunga-bunga kebahagian masih begitu terasa. Alvian dan Airin berharap, jika kebahagiaan yang saat ini mereka rasa, akan terus berlanjut hingga keduanya menua.
"Ya ampun, imutnya,"
"Mirip siapa?"
"Mirip, papinya dong,"
"Enak aja, mirip maminya'lah," ujar Airin membantah.
Airin dan Alvian, duduk di samping ranjang kedua anaknya, seraya menatap lekat wajah Arfi dan Arfa.
"Nanti, kalau sudah dewasa, kalian jadi dokter ya!" harap Airin.
"Kenapa gak polisi saja?"
"Jangan mas!"
"Kenapa?"
"Takut,"
"Kok takut sih?" Alvian penasaran.
"Takut, jika apa yang terjadi terhadap Toni, akan mereka alami," jujur si cantik.
"Ya ampun, Rin,"
Alvian meraih tangan sang istri lalu menatap lekat wajah Airin, ia tersenyum untuk menciptakan rasa nyaman.
"Benar," jawab si cantik kemudian.
Saking bahagianya, Airin dan Alvian sudah memperdebatkan cita-cita anaknya yang baru berusia beberapa hari. Namun pada akhirnya mereka sepakat, jika akan menyerahkan cita-cita, sepenuhnya pada kedua anaknya.
Bruuug!
Alvian menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, ia merasa tubuhnya sangat lelah, karena seharian bekerja.
"Mama dan papa, kemana, Rin?"
"Mereka bilang, ada pertemuan dengan teman-temanya,"
"Jadi, sejak jam berapa kamu sendirian?"
"Gak lama mereka pamit keluar, kamu datang kok," jelas si cantik lagi.
Namun, seketika saja, Airin terkejut saat wajah Alvian sudah berada tepat di wajahnya.
"Woy mau apa?!" suara Airin sedikit meninggi.
"Minta jatah, karena obat lelah itu, dekap hangat seorang istri."
"Ohw, cuma peluk. Ya udah sini!" si cantik langsung mendekap erat tubuh Alvian, lalu mendaratkan kecupan berkali-kali. di kening dan pipi.
"Yang ini dong!" Alvian memajukan bibirnya.
"Ih jangan, aaah!" Airin berucap manja.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kalau aku mau, gimana?" ia mengedipkan mata sebelah kirinya.
"Ya kalau mau, tinggal tancap gas!!"
"Mana boleh,"
"Kenapa, gak boleh?"
"Kan belum 40 hari, jadi masih belum bisa,"
"Duh, macam orang meninggal, harus 40 harian," Alvian menautkan kedua alisnya
Dan spontan saja, sebuah tepukan cukup keras, mendarat di pundak dan pipi Alvian berkali-kali, tentu saja membuat Alvian sedikit kesakitan, karena sang istri tak main-main menepuknya.
"Sakit tau," decaknya lalu memegang kedua tangan sang istri cukup erat.
"Belum satu bulan, sudah minta jatah. Kamu kira, aku boneka, haaaah! Aku baru saja melahirkan, 2 sekaligus, yang tentu saja, luar biasa sakitnya. Dan kamu... dengan enaknya sudah minta-minta!!" omel si cantik yang suaranya menggema.
"Huuus, pelankan suaramu! Nanti Arfa dan Arfi bangun,"
"Hiiih," Airin membuang muka, ia kesal luar biasa karena Alvian seolah tak menanggapi ocehanya tadi.
"Maaf! Kalau begitu, berapa hari, baru boleh minta jatah?"
"Setelah 100 hari,"
"Wooylah, lama sekali, Rin, dah kusut pasti telur masa depanku," protesnya.
"Kusut tinggal di strika," jawabnya bercanda.
"Eh, mateng dong,"
"Setelah itu, di makan," canda Airin lagi.
"Haiih,"
Alvian langsung merebahkan tubuhnya lagi, ia segera meraih selimut, lalu menutup seluruh badanya dari kaki sampai ke kepala.
"Sereeem," lirihnya dari dalam selimut.
Ssstttt... Ck....
Airin usil, ia menepuk pelan, telur masa depan suaminya, yang spontan membuat Alvian berteriak.
"Aaawww, sakit tau," grutunya.
"Asal mas tau, apa yang ku rasa, saat melahirkan, seribu kali, lebih sakit dari tepukan yang ku lakukan tadi. Bayangkan! Dua kepala keluar dari harta miliku, apa kau tak merasakan, betapa ngilunya?!"
Alvian terdiam, ia mulai berkaca-kaca. Karena memang benar adanya, sebesar itulah pengorbanan Airin, melahirkan kedua anak kembarnya.
"Iya, aku tahu. Pasti sakit, maafin aku ya!" ucapnya lembut, dan langsung di sambut senyum menawan dari wajah cantik Airin.
.
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIKā¤š¤