
❣Selamat Membaca❣
Jika di pikir-pikir, nyatanya apapun yang akan terjadi seakan sudah di takdirkan oleh Tuhan. Seperti pertemuan antara Sisi dan Arfi, mereka bertemu tanpa sengaja setelah sekian lama memendam rindu dalam diam, karena tidak saling mengetahui keberadaan satu sama lain.
Yang masih tak habis terpikirkan oleh Arfi, prihal ia yang tak pernah melihat Sisi, padahal sudah beberapa kali, ia mengantarkan Cia pulang ke kos-kosan tersebut.
"Bisa-bisanya," lirih Arfi dalam hati.
Jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Arfi yang sejak tadi malam memang tidur di kos-kosan-kosan Sisi memilih untuk segera pergi. Sementara Sisi sendiri, tengah terlelap di dalam kamar.
Ck
Saat Arfi masih berada di halaman, tak sengaja ia berpapasan dengan Angga. Ia tak punya kesempatan untuk menghindar, maka tak ada pilihan baginya kecuali tetap tersenyum ke arah cowok muda itu.
"Pak Arfi kok di sini?" todongnya tanpa basa-basi.
"Tadinya aku mau mencari, Cia, tapi dia belum pulang,"
"Oh." jawab Angga singgat, jujur saja, ia tak percaya sama sekali.
"Kamu sendiri, mau apa ke sini?"
"Mau antar kan, ini!"
Angga menunjukan sesuatu yang ia bawa di tanganya. Sementara Arfi menelisik penuh tanya. "Apa itu?"
"Bubur, Pak. Cia memintaku mengantarkan ini untuk Kak Sisi," jawab Angga jujur.
Seketika Arfi memasamkan wajah, bingung harus bagaimana. Tak menjawab lagi, pergi pun akhirnya menjadi pilihan. Jangankan bertanya lagi, senyum ke arah Angga pun ia tak sudi. Jika bisa, ia ingin sekali meminta cowok itu pergi dan jangan ganggu Sisi. Tapi apalah daya, daripada Angga curiga, lebih baik ia diam saja.
"Iiih, aneh banget tuh Bapak-bapak." celetuk Angga spontan.
Cowok itu mengerutkan dahi, seraya menatap mobil Arfi yang kian menjauh pergi. Sejujurnya, Angga menyimpan banyak kecurigaan atas sikap bosnya itu.
"Selamat pagi, Kak Sisi," sapanya, sesaat pintu kos-kosan terbuka.
"Pa-pagi." Sisi gugup sekali. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Arfi, tapi Sisi tak melihat pria itu di sudut ruangan mana pun. "Kemana dia?" tanya Sisi lagi, pada dirinya sendiri.
"Kak, ini bubur ayam dari, Cia!"
"Cia'nya mana?"
"Belum bisa pulang, katanya."
"Kenapa?"
"Kata Cia sih, Mamanya hari ini minta temenin jalan-jalan, maklum orang lagi sakit Kak, biasanya pasti banyak minta."
__ADS_1
Sisi diam sejenak dan semenit kemudian mengambil bubur dari tangan Angga. "Makasih, ya!" ucapnya pelan.
Alih-alih berbasa-basi meminta Angga mampir sebentar. Sisi langsung menutup pintu tanpa perduli masih ada Angga di depan pintu.
"Owalah, dasar cewek gendeng!' umpatnya tak jelas. Padahal Angga penasaran, apa tadi Sisi tahu jika Arfi kesini? Meski sebenarnya yang tidak tahu banyak itu dirinya sendiri.
Di dalam sana, Sisi tak memiliki niat untuk makan sama sekali. Pikiranya bercabang ke mana-mana. Memikirkan Cia yang sudah delapan hari tidak menemuinya dan memikirkan Arfi yang pagi ini, pergi tanpa berpamitan denganya juga.
"Ah sudahlah,"
Sisi mendengus sebal, ia pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dulu, setelah itu sarapan dan berangkat bekerja.
.
.
.
***
Sesuai janji, hari ini Arfi akan bertamu ke rumah Cia. Sepanjang perjalanan menuju ke sana, ia bingung sendiri harus bagaimana dan harus melakukan apa.
Hm!
Arfi mengirim foto Sisi dan juga Cia kepada sauadara kembarnya. Dan dalam waktu lima menit, ia langsung mendapatkan balasan.
"Satu mantan Istri yang sekian lama ku cari dan sudah ketemu. Satunya lagi, karyawan kantorku yang sekarang menjabat sebagai Ayang." Arfi juga membalas cepat. Sewaktu mengetik ini, ia terkekeh geli, lucu akan ketikanya sendiri.
("Haah, serius ih, jangan becanda!")
"Lah iya, aku jujur itu, masa nggak percaya! Saat aku baru menerima Cia menjadi pacar, hari itu juga aku bertemu Sisi lagi."
('"Waduh, kenapa jadi kayak Drama Thailand,") !Arfa merespon tapi terkesan mencandai.
"Ini serius goblok! Paling males curhat ke kamu, nggak ada faedahnya. Bye!" Arfi kesal sendiri, karena selalu begitu setiap kali ia curhat kepada saudara kembarnya. Alih-alih di dengarkan yang ada curhatnya selalu jadi bahan candaan. Nyebelin memang, tapi bagaimana pun Arfa adalah saudara satu-satunya yang ia punya.
Dua puluh menit kemudian!
Arfi menghentikan laju mobilnya di sebuah bangunan megah nan mewah, di gerbang utama ada dua satpam yang menjaga.
"Ini bukan sih?"
Ia segera menelepon Cia dan memastikan, apakah ini benar-benar rumah gadis itu. Dan benar saja, beberapa menit kemudian, Cia datang menemui Arfi.
"Ayo masuk!' ajak Cia meraih tangan Arfi sangat erat.
"Kamu belum mandi?" Arfi malah menanyakan hal yang menurut Cia tidak penting.
__ADS_1
"Belum sih,"
"Kenapa belum mandi?"
"Bahas mandinya nanti aja. Pak Arfi masuk dan silahkan duduk! Aku penasaran anda mau apa sebenarnya?"
Setelah keduanya duduk di ruang tamu, Arfi dan Cia saling berhadapan, terlebih tatapan Cia yang telihat sekali, tengah menekan sebuah penjelasan.
Jengah akan sikap Cia yang ke kanan-kanakan. Arfi mendegus sebal berkali kali. "Saya ke sini berniaf untuk menemui kedua orang tuamu."
"Haa? Mau ngapain, Pak? Jangan bilang kalau anda berniat melamar saya pagi ini."
"Hiss, sembarangan kamu!"
Cia tersenyum penuh harap; ia beranjak dari tempat duduk lalu bejalan menemui Mama dan Papa yang sedang sarapan di ruang tengah.
Sssttt...
Setelah memberitahukan, jika ada Arfi di depan, Pak Dana Setiawan pun terlihat sangat panik. Entah apa yang terjadi, Cia heran sendiri melihatnya.
"Mau ngapain Pak Arfi ke sini? Perasaan Papa nggak ada hutang sama dia," pikir Pak Dana nyeleneh.
"Pak Arfi ke sini bukan nagih hutang, dahlah Pah, temuin aja dulu!'
Pak Dana menangguk meski sedikit ragu, ia berjalan pelan ke ruang tamu untuk bertemu dengan Arfi. Sementara Cia sendiri mengajak Mama masuk ke dalam kamar.
"Mams mau juga bertemu dengan Bos"mu itu!" pinta si Mama memelas.
"Biarkan Pak Arfi ngobrol berdua sama Papa aja dulu, Mah!"
Wanita tua itu membuang muka, wajahnya mendadak pias menahan ke kesalan. Meski begitu ia tetap mengikuti apa yang Cia katakan. Beristirahat di kamar.
Ck...
Setelah lima menit menemani Mama di kamar, diam-diam ia juga penasaran atas hal apa yang Arfi bicarakan bersama Papa. Gadis itu pun pelan-pelan keluar dari kamar dan berencana diam-diam mendengar pembicaraan mereka berdua.
Tapi sayang! Nyatanya Arfi melihat keberadaan Sisi yang berdiri tak jauh dari ruang tamu. "Cia, kemarilah!" seru Arfi lembut, ia memanggil gadis itu pelan tepat di hadapan Pak Dana.
Sontak, pria tua tersebut kaget bin penasaran. Pasalnya saat ini Pak Dana melihat Arfi menggenggam tangan Cia dengan sangat mesra.
"Ada apa, nih?"
.
.
.
__ADS_1
B E R S A M B U N G