Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 24 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Di bawah langit malam yang gelap, Sisi berjalan menikmati dinginya angin yang menusuk tulang. Setelah Cia menghubunginya tadi, Sisi mendadak galau. Ia merasa bersalah, karena menjadi duri dalam hubungan Cia dan Arfi, padahal ia tak berniat masuk sama sekali. Sisi sudah berusaha ihkas dan melepas, tapi senyum Arfi selalu manjadi candu dan sikap pria itu selalu ia rindu. Arfi masih mampu membius hati dan perasaanya, hingga ia masih benar-benar cinta.


"Aku harus apa?"


Sisi bertanya pada dirinya sendiri, dan semilir dingin angin yang menjawab tanyanya.


"Aku ingin melepas, tapi kenapa rasanya tidak rela. Aku membiarkan Arfi mendekati Cia, tapi jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku juga mengharapkanya."


Lagi-lagi, ia bermonolog sendiri dan menjawab sendiri. Keadaan seperti ini membuatnya merasa tertekan. Tapi sedetik kemudian Sisi kembali berpikir, jika Arfi menikahi Cia, setidaknya pria itu akan memiliki ke turunan. Karena masalah besar yang membuat Sisi merasa tidak pantas, karena ia tidak bisa memberikan Arfi malaikat kecil yang sangat di harapkan


Sssttt!


Tiba-tiba Sisi menghentikan laju kakinya, karena merasa ada yang mengikuti. Spontan Sisi pun berlari kencang untuk menjauh sejauh-jauhnya.


"Kak berhenti!!"


Dada Sisi berpacu hebat, napasnya berderu cepat. Ia pun menghentikan langkah, karena penasaran dengan orang yang tadi memanggilnya.


"Kak Sisi, kok lari sih?"


"A-Angga." Sisi menghela napas lega, rupanya Angga lah sosok yang mengikuti langkahnya tadi.


"Maaf, kalau membuat Kakak takut!"


"Kamu kayak hantu, suka datang tiba-tiba!" omel Sisi kesal.


Angga terkekeh pelan, ia tak sengaja mendapati Sisi barada di jalanan malam-malam begini. "Kakak, kan cantik, ini sudah jam sebelas malam, ngapain di pinggir jalan sendirian?"


"Cari angin," jawabnya spontan. "Kamu sendiri dari mana?"


"Ini..." Angga menunjukan apa yang ia bawa kepada Sisi. "Aku cari makanan, Adik-adiku laper katanya,"


"Baik banget kamu, tapi kok cuma beli dua? Memangnya kamu nggak laper?"


Angga tersenyum miris seraya menggeleng cepat. "Aku nggak laper," jawabnya datar.


Sisi spontan menggigit bibir tipisnya, ia langsung menarik tangan Angga dan membuat anak itu menggeleng heran.


"Kakak mau ngapain?"


"Temenin aku makan, malem ini."


"Ta-tapi, Kak."

__ADS_1


"Nggak ada penolakan dalam kamus hidupku. Kamu harus ikut titik!'


Angga pun pasrah, ia mengikuti langkah Sisi dan kini keduanya sudah berada di hadapan Mamang penjual Bakso dan Mie Ayam..


"Mau pesen apa?" Sisi menatap sayu wajah Angga.


"Ikut Kakak, aja deh!"


"Oke kalau begitu."


Sisi memesan lima porsi Mie Ayam, yang dua dimakan di sini dan yang tiga di bungkus untuk di bawa pulang.


"Kamu nggak bawa kendaraan?"


"Nggak Kak, tadi Adik ku mau pinjem sebentar katanya."


"Terus, kamu ke sini naik apa?"


"Tadi sih naik angkot. Lagi pula, rumahku kan nggak jauh dari sini, Kak." jelas Angga jujur.


Sisi kembali tersenyum simpul, ia menatap wajah Angga dalam-dalam. Tampak raut lelah dari sana, anak ini sungguh bertanggung jawab demi ke hidupan Adik-adiknya.


"Terima kasih, Kak... saya pulang dulu!" Angga tak berani menatap wajah cantik Sisi, meski usianya tiga tahun lebih tua, wanita itu masih sangat cantik menurutnya.


"Tunggu-tunggu, kamu naik angkot saja, biar Kakak yang bayar, meski katamu rumahmu nggak jauh, tapi menurut ku tetap jauh, lumayan kalau jalan pasti tiga puluh menit baru sampai, keburu ini bakso buat Adik-adik kamu basi." ujar Sisi seraya memberikan tiga porsi bakso untuk Angga.


"Udah ambil aja, nggak baik nolak rejeki."


"Terima kasih, Kak, nanti saya pulangkan setelah gajian, ya!"


"Terserah kamu, dah sana... hati-hati di jalan!"


Dengan langkah barat, Angga menjauh dari keberadaan Sisi, jujur saja... di kantongnya kini hanyq ada selembar uang berwarna biru, sementara gajian masih sepuluh hari lagi. Dan tadi Sisi memberinya selembar uang berwarna merah, Angga pikir ini rejeki untuknya.


.


.


.


***


Waktu terus berlalu, hari terus berganti. Arfi melalui detil demi detik dengan perasaan tak karuan setiap saat, mana kala ia terjebak di dua hati yang sama-sama tak ingin ia sakiti. Entah bagimana takdir melakukanya, menepatkan Arfi di posisi sesulit ini.


"Pak, nanti siang temenin aku ketemu, Papa ya!" pinta Cia penuh harap.

__ADS_1


"Memangnya, Papa kamu mau ajak kemana?"


"Mau memastikan, kalau hubungan kita bukan pura-pura, karena Papa curiga kalau hubungan kita, hanya akal-akalanku saja, supaya Papa tidak menjodohkan ku terus,"


Mendengar penuturuan Cia, Arfi diam sejenak, karena menurutnya, apa yang Pak Dana pikir memang benar adanya. Sejak awal, Arfi mengatakan akan menikahi Cia, karena semata-mata untuk membuat Pak Dana membatalkan perjodohoan. Sebab sampai detik ini, Arfi belum memiliki niat sedikit pun untuk menikahi Cia.


"Ba-baik, nanti saya temani kamu, ya!" jawab Arfi gugup. Sementara Cia mengembangkan senyum di wajah.


"Terima kasih, Pak." setelah itu, Cia pergi dari hadapan Arfi.


Di luar ruangan, senyum Cia masih terus terpancar, sampai semua karyawan memandang heran ke arahnya.


"Abis cup cup woy, ya... senyum mulu!" goda salah satu karyawan.


Cia terkekeh pelan, tak menolak, tidak juga mengiyakan. Membuat banyak karyawan berpikir jika gadis itu benar-benar mendapat ciuman dari bos mereka.


"Serius, kamu abis cupika cupiki?" salah satunya kembali meyakinkan.


Cia, mengangguk pelan, tapi senyumnya tanpa ekspresi. Di tengah sorak bahagia dan kagum karena Cia bisa mendapatkan hati dan perasaan Pak Arfi. Ada Sisi yang merasakan hatinya terasa sangat sepi, di dalam sana hatinya sedang menangis lirih, tapi bibirnya tetap berusaha tersenyum.


"Selamat, Cia!" Sisi menepuk pelan pundak Adiknya.


Saat semua masih bersorak penuh kebahagiaan. Tiba-tiba pintu ruangan Arfi pun terbuka, pria itu melebarkan bola mata seraya memandang ke segala arah, ia heran kenapa semua karyawanya berkumpul bak orang-orang yang siap tawuran.


"Kok pada kumpul? Kerja kerja kerja!"


Mereka semua berhambur dan kembali ke tempat kerja masing-masing, mana kala Arfi meninggikan suara dan melotot lebar seakan di penuhi rasa marah. Cia pun sama, ia sedikit ngeri saat Arfi melotot lebar ke arahnya.


"Hehe, maaf Pak! Semangat!" ujar Cia seakan biasa saja, padahal dalamnya berdebar tak karuan.


Kini hanya Sisi yang masih berdiri, wanita itu membatu tanpa ekspresi menatap ke arah Arfi berdiri. Entah apa yang di pikirkanya kini.


"Sisi- masuk ke ruangan, saya!"


Sisi pun terkejut, karena suara Arfi yang memanggil namanya. "Ba-baik, Pak," sahutnya gugup.


Sementara para karyawan lain, saling memandang penuh tanya. "Cia, jangan-jangan Kakak kamu, mau di pecat, karena kamu buat gaduh kantor pagi ini," ucap salah satu karyawan.


"Masa sih, aku yang buat gaduh, masa Kak Sisi yang di marah?" Cia berpikir keras.


Semua karyawan kantor tahu, jika Sisi dan Cia sudah seperti saudara. Maka tak heran, jika Cia membuat masalah lantas Sisi juga akan terkena imbasnya.


.


.

__ADS_1


.


B E R S A M B U N G


__ADS_2