Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Sama-Sama Ingin Membunuh


__ADS_3

*Selamat Membaca*


Sore ini suasana di rumah Alvian, terkesan menegangkan, setelah mendengar cerita Airin bahwa ia hampir saja mati karena ulah Nino. Namun Alvian seolah menahan kekesalanya, ia menyuruh sang istri untuk beristirahat terlebih dahulu.


"Pak, tiap 15 menit cek seluruh sudut rumah, laporkan padaku jika ada gerak-gerik orang yang mencurigakan!" titah Alvian pada 2 orang penjaga rumahnya.


"Siap pak,"


"Dan satu lagi, katakan padaku jika ada orang yamg akan mengambil mobil di depan, karena kemungkinan besar, mobil itu milik Nino," tambahnya lagi.


Kedua satpam rumah pun mengangguk paham, sikap anak bosnya tersebut sangat over bukan tanpa alasan, sebab saat ini, baik nyawa Alvian atau pun Airin sama-sama teracam, karena menurut penjelasan Airin, Nino memang berniat menghabisi nyawa keduanya.


"Rin, kau sudah tidur?" tanya Alvian seraya mendorong kursi roda untuk mendekati sang istri, dan memastikan Airin sudah terlelap dalam tidurnya.


Dengan sigap si tampan meraih ponsel yang terlerak di meja tak jauh dari sisi ranjang miliknya.


"Hallo, Al?" tanya Ţoni dari sebrang panggilan telpon yang kini Alvian lakukan.


"Apa yang tengah kau lakukan?"


"Aku sedang berada di jalan untuk pergi ke sebuah tempat,"


"Aku mau tanya, apa yang di lakukan pihak kepolisian, kenapa Tahanan bisa bebas di jalanan?


"Maksudmu?"


" Nino,"


"Haaah, Ni_nino kenapa?"


"Tadi siang istriku hampir saja mati, karena Nino tiba-tiba berniat membunuh Airin," jelas Alvian.


"Astaga Al, aku belum tau ini,"


"Bodohh..... bagaimana penjahat seperti Nino bisa keluar dari Tahanan, apa yang kalian lakukan dan kerjakan?!!" emosi Alvian sungguh menggebu-gebu.


"Maaf Al, aku akan memastikan masalah ini dulu, dan aku sendiri tidak tahu bagaimana, Nino bisa keluar dari dalam ruang tahanan? Padahal semalam aku baru saja bertemu denganya," jelas Toni.


Alvian tak peduli sama sekali dengan penjelasan yang Toni katakan padanya, pria muda itu tetap mencaci maki dan meluapkan amarahnya meskipun Toni sudah meminta maaf berkali-kali. Hal itu tentu membuat Toni tak mau berpikir panjang lagi, ia segera menuju ke kantor Polisi untuk melaporkan, bagaimana Nino bisa keluar dari ruang tahanan?.

__ADS_1


"Aah sial!" Alvian berdecak kesal, ia bahkan *******-***** kedua tangannya sendiri, rasanya ingin sekali, saat ini ia yang menghadapi dan menyelesaikan masalah yang tengah terjadi di pihak Kepolisian.


Alvian, segera menghubungi beberapa orang yang menjadi kepercayaannya, untuk membantu pihak kepolisian mencari keberadaan Nino. Sementara dari pihak kepolisian sendiri meminta beberapa jajaran polisi untuk menjaga di sekitar rumah Alvian, karena seperti yang sudah di laporkan, bahwa di depan rumah Alvian terparkir mobil milik Nino yang di gunakan untuk berpergian, saat Nino berada diluar ruang tahanan.


"Al, siapa yang kau hubungi? Kenapa wajahmu tegang sekali?" tanya Airin pada sang suami karena wanita itu melihat Alvian mamasamkan wajah.


Pertanyaan Airin yang tiba-tiba, bahkan mengejutkannya, membuat Alvian Salah tingkah dan kebingunan, ia takut jika Airin mendengar pembicaraanya tadi.


"Rin, apa kau mendengar semua pembicaraanku tadi? tanya Alvian memastikan.


"Tidak, Aku baru saja membuka mata, tapi kau terlihat seperti sedang menghubungi seseorang bahkan raut wajahmu terlihat kesal begitu," jelas Airin kemudian.


"Iya, aku memang sedang menghubungi seseorang, yaitu Toni... aku memberitahukan kepadanya, bahwa saat ini Nino sedang berada di luar ruang tahanan. Dan gilanya, pihak polisi tidak mengetahui bahwa Nino keluar secara diam-diam," jelas Alvian lagi.


Airin menarik nafas panjang, lalu membuangnya secara perlahan, seketika rasa takut pun menyergap dirinya, tentu saja ia takut jika Nino berencana akan membunuh ia dan juga Alvian.


"Al, kau mau kemana?"


"Keluar sebentar, ada yang mau ku berikan padamu," jujur Alvian.


Airin menautkan kedua alisnya, ia penasaran apa yang akan Alvian berikan padanya.


"Kau belum tidur Al?"


"Belum pah, entah mengapa, rasanya dadaku begitu panas, jadi aku mengambil jus buah yang berada di kulkas," jelasnya dengan senyum penuh makna.


"Papa mau dong,"


"Iya mama juga mau, sepertinya minun jus buah malam-malam juga menyegarkan," imbuh Tania pula.


Alvian kian menyunggingkan senyumnya, karena niat dan rencanaya berhasil di lakukan. Karena di dalam jus buah tersebut sudah ia masukan obat penenang, agar si mama dan si papa segera tertidur.


Dan.. Alvian juga memberikan jus yang sudah ia beri obat penenag itu kepada istrinya.


"Tumben baik, banget," si cantik berdecak penasaran.


Namun lagi-lagi, Alvian hanya membalasnya dengan senyuman. Pria muda itu tengah merencanakan sesuatu setelah memastikan kedua orang tuanya dan sang istri tertidur.


"Al, aku melihat seseorang masuk ke dalam rumahmu, melalui ruang belakang," lapor Toni melalui sambungan telponya yang saat ini ikut menjaga rumah Alvian.

__ADS_1


"Siapkan semuanya, biar aku yang menghadapi dia di dalam, dan kau ajak beberapa rekan-rekanmu masuk lewat pintu belakang juga!" titah Alvian pula dan mematikan telpon tanpa aba-aba.


Seperti yang sudah di laporkan oleh Toni tadi, saat ini Nino memang sudah berada di ruang belakang rumah milik Alvian dengan membawa senjata tajam, Nino tak perduli meski di luar sana banyak polisi yang menjaga, bagainya membunuh adalah tujuan utama. Tak masalah baginya akan masuk lagi ke dalam penjara, yang terpenting ia sudah menghabisi nyawa Alvian dan juga Airin.


"Hem... hem, apa kabar?" tanya Alvian saat Nino sudah berada di depan pintu kamarnya.


Meski sedikit terkejut karena Alvian tiba-tiba mendapati keberadaanya, tapi Nino tak ciut nyali sama sekali, karena ia melihat Alvian duduk di kursi roda. Tentu saja mudah baginya untuk melenyapkan pria tersebut.


"Hei, tak ku sangka, kau masih hidup ya, ternyata, tapi ga apa-apalah, meski hidup kau kini kan sudah cacat, tentu sangat mudah, untuk membunuhmu," ejeknya namun Alvian membalas ejekan tersebut dengan tertawa.


Alvian memastikan Airin dan juga kedua orang tuanya, tidak akan bangun dari tidurnya, karena efek obat tidur yang Alvian berikan, hal itu sengaja di lakukan, agar mereka tak ketakutan, jika Nino masuk ke dalam rumah dan berkelahi denganya.


"Kau kira, semudah itu membunuhku,"


"Tentu saja mudah, lihatlah dirimu! Kau hanya bisa duduk di kursi roda, tentu aku akan gampang menghabisimu,"


"Coba saja, kalau kau bisa!" tatang Alvian tanpa ragu.


Benar saja, Nino pun segera mendekati Alvian bahkan ia siap menghujamkan senjata tajam yang berada di tanganya, Nino benar-benar kesal karena Alvian berani menantang.


Ssssttt.. Ck... Braaak..!!


Alvian menendang Nino seketika saat pria itu akan mengarahkan pisau tajam ke arahnya, hingga tentu saja membuat Nino tersungkur ke lantai.


"Bukankah, kau lumpuh, kenapa kau bisa menendangku?" Nino berdecak dan penasaran.


"Uuuuhhhh, kau tertipu," ujar Alvian lalu berdiri dari kursi rodanya.


Si tampan mendekati Nino lalu mengarahkan pistol ke arah pria mantan dari istrinya tersebut.


"Ucapkan selamat tinggal pada dunia, karena aku akan membunuhmu, malam ini juga," tambah Alvian yang membuat Nino gemetaran.


Yaaah.... Benar, Alvian sengaja pura-pura lumpuh demi mendapatkan perhatian penuh dari Airin, sebenarnya ia sudah bisa berdiri dan berjalan, 5 hari sebelum hari pernikahan. Dan kini Nino terancam nyawanya karena kemarahan Alvian yang sudah tidak bisa di tawar lagi.


JANGAN LUPA BAHAGA BUAT SEMUA...


MAAF YA KALAU AKU JARANG BALAS KOMENTAR. SEMOGA BETAH DI SINI❤


*TERIMA KASIH*

__ADS_1


__ADS_2