
ANTARA DENDAM DAN CINTA.
Polisi Sang Penakluk Hati Season2
☡Selamat Membaca☡
Seiring bergantinya hari, si papi yang awalnya mulai membaik, sudah mau berbicara, namun seketika kembali diam tanpa kata. Setelah Alvian bermimpi seolah melihat lagi, hari terakhir , dimana ia melihat kondisi, kedua orang tuanya yang bersimbah dara. Nyatanya menyembunyikan luka batin memanglah teramat sulit.
"Aaah____!"
Arfa spontan meninju tembok rumah, yang langsung mengeluarkan darah-darah segara melalui jari jemari anak muda itu. Senyumnya karena merasa bahagia saat melihat kondisi sang papi mulai membaik, kini sirna sudah, diamnya si papi, membesarkan api dendam yang tadinya sedikit padam.
"Tenang, tarik nafas! Redamkan emosimu, percayalah papi, akan kembali baik lagi,"
"Kapan?" tanyanya dengan nada meninggi, ia tak mampu menyembunyikan sakit batinya.
"Nanti, semua pasti akan baik-baik lagi!"
"Haah.. apa menurutmu, aku bisa diam saja, melihat dengan nyata, betapa rapuhnya perasaan papi. Betapa sulit beliau menerima kematian Opa dan Oma yang amat tragis? Apa kau akan diam saja? Melihat papi menjadi seperti orang gila karena hal ini?" ucap Arfa panjang lebar seolah tanpa jeda.
Arfi diam sejenak, ia melihat dendam yang amat luar biasanya, dari raut wajah Arfa.
"Aku paham kamu geram. Bahkan aku tau kamu ingin sekali balas dendam, Tapi, bukankan amarah sebaiknya di redam? Bersihkan sakit hatimu yang di penuhi dendam, cobalah sejenak menyendiri dalam diam, renungkan dengan mata terpejam!" titah Arfi seolah menasehati.
Namun Arfa hanya mampu tertunduk lesu.
"Aku tau, di hatimu ada luka yang amat dalam, saat melihat kondisi papi yang hanya bisa diam. Tapi, janganlah emosimu kau siram, karena nyatanya sakitnya nanti akan lebih menghujam. Percayalah, Fa! Kelak luka di hatimu akan segera padam, dan sedih papi akan berganti senyum yang sudah sejak lama temaram. Tolong jangan lagi ada dendam!" harap Arfi pada sang adik.
Namun Arfa tak perduli, melihat apa yang terjadi pada sang papi, sungguh membuatnya sakit hati.
"Hancurkan perusahaan Tito! Jika perlu lukai pria tua itu!" titah Arfa melalui sambungan telponya.
"Siap bos,"
Dengan emosi yang tak bisa ia kendalikan, Arfa memacu mobil miliknya dengan kecepatan tak biasa, ia hanya duduk manis di mobilnya seraya menyaksikan anak buahnya menghancurkan kantor milik orang tua Nayla.
***
__ADS_1
30 menit kemudian, suasana kantor Tito pun hancur berantakan, para karyawan berhambur keluar gedung. Bahkan Tito mendapatkan luka lebam di bagian wajah, karena Arfa meminta anak buahnya untuk meninggalkan jejak di wajah pria tua tersebut.
Arfa yang sudah beberapa hari ini, menjalin cinta dengan Nayla, mengambil no ponsel milik Tito secara diam-diam dari ponsel kekasihnya, hal itu ia lakukan demi untuk melancarkan aksinya, yang dendam di dadanya sudah membuncah. Alasan Arfa ingin membuat Tito hidup tidak tenang adalah, perubahan sikap sang papi, yang kini seolah tengah lemah mental.
"Tito, ini baru permulaan, aku akan menghancurkanmu lebih dari ini!!"
Arfa mengirim pesan singkat itu, kepada Tito yang tentu membuat pria paruh baya tersebut mangepal jari-jemarinya.
"Kau siapa? Jangan main-main denganku! Aku bisa saja, melaporkan hal ini ke Pol******i*********si dan akan ku pastikan kau tertangkap***!!"
Balas Tito juga, yang seolah tak gentaŕ akan ancaman yang Arfa layangkan.
"Baik, laporkan saja! Akan ku pastikan, anda juga mendekam di dalam penjara! Sebab.. saya memiliki bukti, untuk menyeret anda masuk ke dalam jeruji besi. Karena anda sudah melakukan pembunuhan berencaya kepada, Nyonya Tania dan pak Reyhan, yang meninggal beberapa tahun lalu!!"
"Heeeh, apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?"
Tentu saja, Tito mulai panik, ia gemetar membaca ketikan dari seseorang yang telah menghancurkan kantornya hari ini.
"Maksudnya? Saya ingin memberi tahu anda, bahwa saya memiliki bukti, bahwa anda'lah yang menyabotase mobil milik Opa dan Oma saya!!" balas Arfa lagi, dan tentu saja membuat Tito ciut nyali.
"Oh... jadi kau cucu mereka? Hadapi aku dengan saling berhadapan! Jangan jadi pecundang yang sembunyi di balik ketikan!'
"Tentu saja! Nanti, saya akan menemui anda, lalu mematahkan kedua kaki anda, menggunakan tanganku sendiri!" ancam Arfa lagi. Tanpa menunggu balasan dari Tito, Arfa langsung menonaktifkan ponselnya, ia menghubungumi Tito menggunakan no ponsel yang baru, agar tidak di ketahui oleh Nayla jika nanti Tito akan bercerita kepada anaknya.
***
Setelah melancarkan aksinya, Arfa memutuskan untuk kembali pulang ke rumah, ia pun mengirim sejumlah uang kepada anak buahnya, yang tadi menjalankan tugas dengan sangat baik.
"Nay... kok kamu ada di sini?"
"Aku mencarimu, dan aku datang kesini untuk bertemu denganmu. Tapi sayang, kamu tidak ada di rumah," jelas Nayla dengan nada bicara yang terbata-bata.
Arfa melirik ke wajah pria yang duduk di samping kekasihnya, sungguh ia kesal menatap senyum di wajah Arfi yang penuh arti.
"Awas kamu menyukainya! Akan ku hajar sampai babak belur!"
Buhaahahahahaha!
__ADS_1
Mendengar ancaman sang adik bukan membuat Arfi takut, ia justru melihat rasa cemburu yang Arfa punya, menurutnya adalah hal yang lucu.
"Silahkan ngobrol, aku masuk dulu!"
Saat Arfi melangkah masuk ke dalam rumah, Nayla tak mau mengalihkan pandanganya, ia menatap langkah Arfi sampai tak terlihat lagi, si cantik baru kali, bertatap muka langsung dengan kembaran ke kasihnya. Arfi terkesan lebih pendiam dan tak banyak bicara, tapi hal itulah yang membuat wanita kadang terpesona. Pria dingin tetapi baik hati, berbeda dengan Arfa ia lebih banyak bicara, tapi asik jika di ajak bercerita.
"Ya Tuhan....," batin Nayla lirih ia sedikit menyesali pikiranya baru saja. "Jangan gila, Nay!" tambahnya lalu mengusap wajahnya berkali-kali.
Tapi Arfa, bisa membaca apa yang baru saja di pikirkan oleh Nayla, gadis cantik itu pasti terpesona akan sikap Arfi, namun meski begitu Arfa tak pernah mau merubah sikap dan penampilanya, menjadi seperti sang kakak. Karena bagi Arfa, ia tetap harus menjadi dirinya sendiri.
"Nay...,"
"I_iya," gugup Nayla.
"Kau kenapa? Terpesona, kepada kakak"ku ya?" tanyanya penuh selidik.
"Ti_tidak, kamu ini ada-ada saja," kilahnya.
"Masa____?" telisik Arfa lagi.
Nayla memilih diam, ia pun tersenyum ke arah Arfa, berharap pria itu tak akan membahas pertanyaan itu lagi.
"Emmm, aku sudah biasa, jika suka terhadap seorang wanita, lantas dia ku ajak main ke rumah, pasti beralih rasa suka. Banyak cewek-cewek lebih menyukai kakak'ku daripada aku, ya maklum sih, dia gagah lebih tampan, pintar dan segalanya daripada aku." Ujar Arfa lirih seolah merendahkan dirinya sendiri, hal itu membuat Nayla sedih dan merasa bersalah.
"Maaf! Tapi aku tidak membandingkanmu denganya, rasaku untukmu tetap sama dan tidak akan berubah. Sikapmu yang manja dan seperti anak-anak, justru membuatku selalu rindu. Kakakmu terlalu kaku dan sok bijaksana sih menurutku," Nayla berusaha meyakinkan Arfa, bahwa ia hanya kagum bukan terpesona, baginya cinta tetaplah Arfa, tak berubah meski bertemu dengan Arfi.
Mendengar itu, Arfa mengembangkan senyum di wajahnya, ia menggeleng pelan saat Nayla berucap ia pria manja.
"Andai kau tahu, aku bersembunyi di balik sifat lugu, agar bisa membalaskan dendam kepada keluargamu. Dan andai kau tau, jika hari ini aku sudah mengobrak-abrik kantor papa'mu. Jika suatu saat kau tau. Apa rasamu tetap sama?" batin Arfa dalam hati. "Tapi, aku akan mencari cara, agar kau tak lepas dariku, meski nanti kau akan tau semua itu. Ya... merenggut kesucianmu, jalan satu-satu, agar kau tak bisa lepas dariku," tambahnya, dengan segenap pikiran liar dan piciknya.
.
.
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIK❤