
*Selamat Membaca*
Adrenalin naik pitam, panas dada terbakar, matapun memerah. Jenuh jengah mendendam, siap menggelegar meledak. Airin menyeka air mata yang sejak tadi membasahi wajahnya, tatapan matanya menajam ke arah kedua orang tuanya dan sang adik berada. Benci, marah dan kesal, sudah melebur menjadi satu, membuat amarah dalam dadanya kian membuncah.
"Rin," si mama mendekati keberadan anaknya yang sudah hampir 5 bulan ini tak bersua.
"Jangan mendekati istriku!" larang Alvian yang memang sudah menginginkan pertemuan ini.
"Maaf, kalian kenal Airin?" Reyhan bertanya kepada Yuda sahabatnya.
Namun Yuda memilih untuk membisu, namun sorot matanya tak mau lepas menatap ke arah Airin berada.
"Bagaimana bisa, kau menikahkan Alvian dengan, Airin... apa kau sengaja ingin mempermalukanku?" Yuda justru balik bertanya, hal itu sontak membuat Reyhan dan Tania menatap heran ke arah pria paru baya tersebut.
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tak mengerti?" Reyhan menggeleng heran.
Anita yang mendapatkan penolakan saat mendekati Airin, kini sudah kembali dan berdiri di sampaing sang suami. Sakit luar biasa, saat sang anak menolak saat akan ia dekati.
"Tunggu-tunggu! Sebenarnya ada apa ini? Rin, bisa jelaskan!" titah Tania pada gadis cantik yang sudah resmi menjadi menantunya.
Saat Airin akan membuka suara, untuk menjelaskan siapa dua orang yang kini berdiri di depanya bersama gadis yang akan di jodohkan dengan Alvian, saat itu pula si tampan meraih tangan istrinya.
"Biar aku saja, Rin!" ujar Alvian seraya meminta Airin untuk duduk kembali.
Sikap sepasang suami istri yang baru saja "SAH" beberapa jam yang lalu, tentu membuat para tamu undangan dan kedua orang tua Alvian penasaran.
"Eheeem, baiklah.... aku akan mengatakan sesuatu, yang tidak patut di contoh oleh orang tua manapun,"
__ADS_1
Alvian berucap lantang, namun sorot matanya menajam ke arah kedua orang tua sang istri, hal itu membuat suasana semakin tegang.
"Katakan, Al! Ada apa ini?" titah Reyhan yang semakin penasaran.
"Bagini pah, mah... dua orang yang kini berdiri di samping kalian, bahkan selama ini, papa dan mama menganggap mereka sebagai sahabat yang benar-benar kalian banggakan, adalah orang yang telah tega menelantarkan anak kandungnya sendiri," jelas Alvian dengan emosi yang berapi-api.
"Haaah, maksudmu, apa Al?"
Reyhan bertanya seraya menghalangi Yuda yang coba melangkah pergi dari sana.
"Wijaya Bratayuda alias Yuda sahabat papa itu, adalah papa kandung dari Airin Zakia Wijaya, gadis yang saat ini sudah sah menjadi istriku," tambah Alvian tegas.
Airin menggenggam erat tangan sang suami, seolah ia memberi sinyal untuk terus di lindungi.
"Om Yuda dan tante Anita... Saat ini aku tetap menjadi menantu kalian bukan? Tapi entah mengapa, aku tak sudi menganggap kalian berdua mertua, karena kalian adalah jenis-jenis manusia yang mementingkan harta di atas segalanya." ungkap Alvian lagi, hingga membuat Yuda dan Anita menatap nanar ke arahnya.
"Benar, pah,"
"Wow, luar biasa... Aku tidak menyangka jika memiliki sahabat yang mempunyai sifat dan sikap laknat seperti anda,"
Reyhan pun terkejut luar biasa, saat mendengar cerita, tentang kisah dan bagaimana kedua orang tua Airin meninggalkan, anak gadisnya tersebut, bahkan kekecewaan Reyhan semakin menjadi, karena Yuda sahabatnya telah mencoret nama Airin dari data keluarga, hal itu di lakukan karena Yuda tak ngin nama baiknya tercoreng, karena anak gadis Yada tersebut masuk kedalam penjara atas tuduhan pembunuhan.
"Bukankah, tugas orang tua melindungi, mendampingi, mengayomi serta memahami sikap anaknya, tapi hari ini aku cukup kecewa karena memiliki sahabat yang ternyata tidak mempunyai hati seperti anda,"
Yuda dan Anita memilih untuk diam saja, keduanya tak tahu akan di taruh kemana wajah mereka, karena saat ini mereka justru tengah di permalukan atas sikap mereka sendiri, bahkan kedua orang tua Airin itu tidak mengerti, bagaimana bisa Alvian menikahi anaknya, yang hampir 5 bulan ini tak pernah mereka pedulikan sama sekali.
"Kak Airin, kau tega melihat papa dan mama di permalukan seperti ini," kesal Amira melihat kakaknya justru bersikap acuh kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Musnahlah, atau punah sesegara mungkin, manusia seperti kalian harusnya binasa dari muka bumi ini," ucap Alvian yang justru nampak lebih emosi daripada Airin.
"Al, jangan berteriak ke arahku! Bagaimana pun, aku adalah mertuamu dan wanita di sampingmu itu anak kandungku," Yuda spotan mengakui setelah semua luka yang ia goreskan di hati Airin.
"Luar biasa.... betapa mudahnya anda mengatakan bahwa aku menantu anda, hemhemhem, sungguh manusia tidak tau malu... beraninya anda menelantarkan istriku selama berbulan-bulan, bahkan kau tak mengakui siapa dia, tapi kini kau mengakui Airin anak kandung anda. Dasar manusia tidak punya akal sehat! Tak, akan pernah ku izinkan kalian mendekati Airin sedikit pun!!" amarah Alvian semakin meluap, emosinya tak bisa ia kendalikan, anak muda itu memang benar-benar membenci, orang yang lebih memilih harta daripada darah dagingnya sendiri.
"Yud, tolong pergi! Hadirmu di sini akan membuat anakku emosi dan mulai hari ini, anggap kita tak pernah mengenal, namun jika kau bisa memperbaiki hubunganmu dengan menantuku, maka, mungkin aku bisa berteman lagi denganmu." Ujar Reyhan pula yang tak menyangka jika sahabat yang ia kenal begitu baik, namun nyatanya justru tega mengabaikan anaknya sendiri.
Yuda yang terlanjur malu, lebih memilih mengajak pergi anak dan istrinya, daripada meminta maaf terhadap Airin.
"Sial, dasar manusia tak punya hati," cetus Alvian kesal seraya menatap langkah kedua orang tua Airin dengan membawa rasa malu yang begitu luar biasa.
"Rin, maafkan saya, karena sikap saya, justru membuat batinmu tertekan," pinta Reyhan tulus.
"Pasti om, aku tau anda orang baik, maafkan kalau ada sikapku yang mungkin membuat om Reyhan tak nyaman," balas Airin pula.
"Papa dong Rin, karena sekarang aku dan suamiku akan menjadi orang tuamu," ujar Tania pula, ia meminta Airin memanggil ia dan Reyhan dengan sebutan mama dan papa.
"Ba_baik, mah," jawab Airin gugup, sebab ia masih sangat canggung memanggil kedua orang tua Alvian dengan sebutan mama dan papa.
Alvian tersenyum, tujuanya adalah agar kedua orang tuanya bisa menerima Airin dengan semua kesalahan yang tak sengaja Airin lakukan. Dan membuka mata mama dan papanya, bahwa orang yang mereka sebut sahabat nyatanya tak sebaik yang mereka kira.
"Lihat saja, aku akan membuat kalian menyesal dan menangis karena tidak meminta maaf kepada Airin hari ini," lirih Alvian dalam hati, dendam di hati Alvian tak bisa di tawar lagi, setiap tetes air mata yang jatuh membasahi wajah Airin, ia berjanji untuk membalas penyebab sang istri menangis.
Hari pernikahan antara Airin dan Alvian, di jadikan ajang balas dendam yang membenam dalam dada Alvian beberapa bulan ini. Rasa sakit yang Airin tanggung sendiri atas sikap kedua orang tuanya, yang tak mau perduli, menjadikan Alvian ingin membalas dan membuat kedua orang tua Airin jatuh miskin.
KETAHUILAH, SEKAYA-KAYANYA SESEORANG, HARTA TAK AKAN BISA MEMBANTUMU, SAAT SEDANG BERADA DALAM KEADAAN TERSULIT.
__ADS_1