
🕊Selamat Membaca🕊
Airin berjalan mendekati tempat tidur, Arfa dan Arfi. 5 jam meninggalkan kedua anaknya berasa 1 hari lamanya.
"Sayang, maafkan mami!" ucapnya lirih seraya duduk di sisi ranjang si kembar.
Wanita cantik itu, meraih Arfi untuk di beri asi, lalu bergantian Arfa setelahnya, dengan sangat lembut Airin membelai kedua anaknya.
"Tidur ya!" ucapnya lagi, ia tersenyum simpul melihat Arfa dan Arfi sudah tertidur.
Airin segera beranjak lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh, ia menarik sudut bibir saat melihat Alvian duduk di sofa dan sedari tadi memilih untuk berdiam diri.
"Marah?" tanya si cantik pelan seraya mengeringkan rambutnya yang basah karena selesai mandi.
"Malam-malam kok kramas, sih?" Alvian justru balik bertanya ia tak menperdulikan pertanyaan sang istri.
"Ngeles... di tanya apa, jawabnya apa. Kebiasaan!!"
"Hiih...!"
Alvian membuang muka, ia langsung membaringkan tubuhnya di sofa, lalu menutup wajah dengan bantal. Pria tampan itu, masih kesal, prihal Dipta yang mengantarkan Airin pulang, hal itu di picu karena masalalu, Dipta yang pernah menyukai istrinya, yang tentu saja ia takut, jika adik dari almarhum sahabatnya itu, akan mencari cara untuk mendekati Airin lagi.
"Dari sekian juta umat manusia di muka bumi ini. Kenapa harus Dipta yang Tuhan kirimkan untuk menolongmu?"
Pertanyaan Alvian spontan membuat Airin menarik sudut bibir, dan memasamkan wajahnya, ia segera mendekati keberadaan sang suami, lalu menarik bantal yang sedari tadi Alvian gunakan untuk menutupi wajah..
"Harusnya, kamu berterima kasih, bukan marah-marah begini! Untung ada Dipta, kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padaku, tadi," bisik Airin di telinga Alvian.
"Ohhh.... jadi sekarang, kamu terang-terangan ya, membelas si sialan itu,"
"Bukan membela,"
"Terus apa??"
"Ya, hal yang memang harus kamu lakukan mas. Berterima kasih, kepada orang yang sudah baik dan mau menolong,"
"Ogaaaah... aku akan berterima kasih, jika yang menolongmu bukan Dipta,"
Rasa cemburu di hati Alvian, memang telah menyulutkan percekcokan panjang malam ini. Bahkan karena cemburu juga, Alvian tak paham, mana yang salah dan mana yang benar, yang jelas, saat ini ia benar-benar memiliki sedikit rasa benci terhadap Dipta. Cemburu telah membuat Alvian terlihat sangat egois.
"Mulai besok, kalau kamu mau ke rumah mama'mu. Harus aku yang antar,"
"Terserah."
Karena marah dan kesal, Airin dan Alvian tidur terpisah. Si tampan di sofa dan si cantik di atas ranjang. Malam ini, Alvian bersikap seperti anak kecil, yang tentu saja membuat Airin ikut kesal juga di buatnya.
***
__ADS_1
Jam menunjukan pukul 05.30 pagi, Alvian sudah nampak begitu rapih, ia sudah siap untuk bergegas pergi, namun saat berada di teras rumah, langkahnya di halangi oleh sang papa.
"Ih, papa apaan, sih,"
"Kamu yang apaan. Kenapa pergi pagi-pagi sekali? Mana istrimu?"
"Masih tidur kali," jawabnya ketus.
Reyhan menggeleng pelan, ia segera mengajak Alvian untuk duduk berdua. Si papa, berdecak heran, karena Alvian justru terlihat begitu arogant setelah kembali bertugas di kepolisian.
"Sebagai seorang suami, tugasnya harus membahagiakan istri, bukan marah-marah begini!"
"Ah, papa tidak tau masalahnya. Apa yang pernah terjadi antara Airin dan Dipta,"
"Apapun yang terjadi dulu, itu masalalu, tugasmu sekarang, memberi kepercayaan penuh kepada istrimu. Kau tau, sikapmu yang seperti ini, justru akan membuat Airin jenuh," si papa menasehati.
Sejenak Alvian terdiam, ia menarik nafas panjang, lalu membuangnya secara perlahan. Ia baru saja mendapat pencerahan, bahwa apa yang di ucapkan si papa. Ada benarnya juga.
"Ya sudah, aku masuk ke dalam lagi," ujarnya lirih.
Alvian segera beranjak dari duduknya, lalu kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Ia mendapati sang istri masih tertidur pulas.
"Maafkan aku, Rin!" bisiknya pelan di telinga Airin.
Si tampan langsung menuju ranjang anaknya, dan melihat Arfa sudah membuka mata.
Dengan cekatan ia menggendong salah satu anak kembarnya, bahkan Arfa terlihat begitu nyaman berada di dalam dekapanya.
"Maafkan papi ya! Kalau papi jarang ada di rumah, karena papi ada tugas negara, dan itu semua demi kebaikan banyak orang," ucapnya lirih.
Alvian terus berbicara, meski ia sadar Arfa belum paham dengan apa yang di ceritakanya, tapi bagi Alvian, berceita panjang lebar kepada kedua anaknya adalah hal yang sangat menyenangkan, sebab ia tahu. Suatu saat nanti Arfa dan Arfi akan mengerti dengan semua yang sudah ia ceritakan.
"Mas... sudah mau berangkat kerja, ya?" tanya Airin seraya mengerjabkan matanya, karena ia baru saja terbangun dari tidurnya.
"Belum," jawab Alvian lalu tersenyum.
"Terus, kenapa kamu sudah rapih sekali, mas?"
"Hehe iya, tapi aku berangkat kerja sekitar jam 7 lewat saja,"
Bangun dari tidurnya, Airin bersikap biasa saja, bahkan ia melupakan jika semalam Alvian marah-marah padanya. Si cantik segera memberi asi kepada kedua anaknya, lalu meminta Alvian untuk membantu semua pekerjaanya.
"Mas, masakin air hangat, buat dedek mandi!' serunya.
"Siap," jawab Alvian sigap.
Dengan bahu membahu keduanya saling membantu. Alvian menjaga Arfa dan Arfi setelah mandi, sementara Airin membantu Tania untuk menyiapkan sarapan pagi.
__ADS_1
"Mah, cari bibi satu lagi!" seru Alvian seraya menggendong Arfi.
"Buat apa, mas?" Airin justru yang penasaran.
"Ya buat bantu kalian lah, kamu harus fokus urus Arfi dan Arfa saja!"
Airin dan Tania saling pandang, keduanya pun tersenyum penuh arti.
"Mama juga. Kan pekerjaan menumpuk tuh, cukup fokus dengan urusan mama! Biar perkara dapur, si bibi yang menyelesaikanya!" tambah Alvian pula.
"Baik, mama setujuh,"
Tania pun meminta si bibi untuk mencari orang, agar bisa membantunya untuk mengurus rumah.
"Cari yang baik, rajin dan jujur ya, Bi!"
"Siap bu,"
Si bibi pun tampak riang, karena sebentar lagi ia akan memiliki patner kerja di rumah ini. Jadi semua urusan rumah, ia tak sendiri lagi untuk mengurusnya.
Sementara Alvian kembali masuk kedalam kamar, lalu menidurkan Arfi di samping Arfa yang sudah tertidur terlebih dahulu.
Ting!
Suara dari ponsel milik Airin. Secepat kilat Alvian langsung membaca, pesan singkat yang baru saja masuk ke ponsel sang istri.
"Haaaah.....!'
Seketika saja, wajah putih Alvian pun memerah, ia kesal dan marah setelah membaca pesan yang masuk ke ponsel istrinya.
"Dasar, sialan!...!" geramnya lagi.
Ia segera melangkahkan kaki, tanpa permisi pun segera pergi. Hingga membuat Airin, Tania dan Reyhan berdecak heran.
"Mas makan dulu!" teriaknya.
Tak ada jawaban, Alvian langsung masuk ke dalam mobil, lalu melajukan kendaraanya untuk segera pergi. Sementara Airin langsung berlari ke dalam kamar, karena terdengar suara tangisan Arfa dan Arfi.
"Haaah....!" Airin menatap nanar layar ponselnya seraya mendiamkan kedua anak kembarnya.
Si cantik kaget luar biasa, karena ada pesan singkat dari no ponsel yang tak ia ketahui. Dan setelah ia baca itu no milik Dipta.
"Rin, jika kau butuh bantuanku, aku siap membantumu! Aku siap 24 jam jika kau butuh pertolongan, terlebih suamimu itukan orang sibuk, jadi, aku yakin sekali, kau butuh di temani kemanapun kau pergi!" Dipta.
Begitulah pesan singkat dari Dipta, yang tentu saja, membuat Alvian murka.
.
__ADS_1
.