Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Mencari Pelampiasan


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Serumah tapi tak saling menyapa, itulah kini yang terjadi antara Sisi dan Arfi, pasangan suami istri yang baru menikah 6 bulan ini, selalu di terjang badai masalah. Tapi berpisah bukanlah keingian bagi keduanya.


"Kapan pulang kesini, mbak?" Sisi menelepon Nayla.


"Kenapa?'


"Kangen baby Acha." jawabnya berbohong.


"Sisi... jika kamu ada masalah, curhatlah kepada mami saja! Beliau pasti akan membantum."


"Malu mbak. Masa ngomongin kak Arfi ke mami'nya."


"Tapi mami, pasti bisa membantu dan menasehatimu!"


"Baiklah, nanti aku kerumah mami deh."


Pembicaraan lewat telepon antara Sisi dan Nayla pun berakhir. Si cantik memutuskan untuk kerumah sang mertua.


"Mau kemana?"


"Keluar," jawab Sisi datar.


"Diluar hujan, sebaiknya jangan pergi!"


"Apa perdulimu!" sergah Sisi, tapi ucapan itu hanya didalam hati. Ia melangkah pergi tak memperdulikan larangan sang suami.


Meski diluar hujan cukup deras, Sisi tetap memesan Taxi online untuk pergi. Didalam Taxi ia menyandarkan tubuh seraya merenung.


"Apa, aku bertanya saja? Kenapa kak Arfi tak mau menyentuhku lagi?"


Sisi bertanya sendiri dan pusing sendiri, seraya sesekali memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit.


"Jika sudah tak lagi memiliki rasa padaku, apakah sebaiknya tak bercerai saja? Untuk apa aku bertahan, jika kak Arfi sendiri tidak mau bertahan?"


Kembali Sisi memegang kepalanya. Ia meminta sopir Taxi untuk memutar mobilnya kembali. Karena kini, jalan paling baik adalah bertanya. Bukan mengeluh dan mengumbar masalah, Sisi memegang prinsip, masalah rumah tangga bukan ranah orang tua untuk mengetahuinya.


Ssssttt......


Setibanya didepan apartemen, Sisi melihat Arfi masuk kedalam mobil, lalu memacu mobilnya untuk segera pergi.


"Ikuti pak!" seru Sisi pada si sopir Taxi. Ia bingung, mau kemana suaminya itu, karena jam menunjukan pukul 10 malam dan Arfi memacu mobil bukan mengarah kerumah kedua orang tuanya.


Masih terus mengikuti, Sisi meminta kepada sopir Taxi, agar tak diketahui oleh Arfi, jika ia sengaja mengikuti.


"Mas dimana?"


"Aku keluar sebentar." balas Arfi melalui pesan singkat.


Ssssttt... Ck....

__ADS_1


Arfi menghentikan laju mobilnya, di sebuah halaman. Dan yang membuat Sisi terkejut, suaminya itu masuk ke Club Malam.


"Mau apa, kak Arfi kesini?" Sisi pun mengikuti.


Tapi ia terhalang izin, karena penjaga Club Malam tersebut meminta Sisi memberikan kartu pengenal, untuk membuktikan, jika ia sudah cukup umur.


"Saya sudah menikah, pak." jujurnya.


"Ehh anak kecil, gak usah mengarang! Sekolah saja yang benar, ini tempat orang dewasa!"


Sisi menghela napas berat, kala dua penjaga Club Malam tak mempercayai jika ia sudah menikah. Wajahnya yang imut dan tubuhnya yang mungil, membuat Sisi terlihat seperti masih kecil.


"Aku ada uang!"


Sisi mengeluarkan, 6 lembar uang berwarna merah, lalu mengarahkan kekedua penjaga itu.


"Eh... eh. Kasih izin saya masuk dulu, baru ambilah uangnya!"


"Oke... oke...! Silahkan!"


Kedua penjaga itu pun mempersilahkan Sisi masuk, setelah itu mangambil uang yang berada ditangan si cantik.


Ck...


Sisi melangkah bebas, masuk kedalam Club Malam. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, untuk mencari keberadaan Arfi. Tapi ia belum juga melihat batang hidung suaminya, yang tampak didepan mata, hanyalah wanita-wanita yang semuanya berpenampilan seterbuka mungkin, saling bercumbu dengan pria-pria hidup belang yang ada disana.


"Huuuf... apa yang kak Arfi lakukan masuk kedalam sini?"


Dada Sisi mulai berdebar hebat, jantungnya memompa kuat, pikiranya sudah mulai tak karuan. Seraya terus berjalan dan mencari dimana sang suami.


Kekhawatiran Sisi nyatanya memang terjadi, ia melihat Arfi tengah duduk di kursi bersama seorang wanita. Meng*cup bibir wanita itu penuh n^fsu, dan tanganya bermain lincah dibagian dada wanita tersebut. Mata Arfi terpejam saat melakukanya.


"Haaah.. A-Arfi."


Gemetarnya lirih, air mata jatuh tanpa sopanya, Sisi melihat sang suami bermain wanita. Membuat tubuhnya terasa lemas tak berdaya.


Ck...


Dengan langkah gontai, ia mendekati keberadaan Arfi, lalu menarik tubuh wanita yang tengah berc*mbu dengab suaminya.


Hap!


Arfi membuka mata, kala tak bisa meraih dada wanita yang tadi bersamanya. Ia menoleh kearah wanita mungil yang kini tengah berlinang air mata. Tatapan Arfi menajam, matanya membulat sempurna, ia tak percaya jika Sisi yang kini berdiri dihadapanya.


"Si-Sisi....!" pria itu ciut nyali, tapi tetap berusaha untuk berdiri tegak


"Kamu siapa?" tanya wanita yang tadi bersama Arfi.


"Aku... ISTRI SAH, pria yang tadi menciumu!" tegasnya berapi-api.


"Ohhh, kamu istrinya. Ya aku lihat, wajar sih Arfi mencari pelampiasan, karena ternyata istrinya masih kecil, pasti Arfi tidak puas. Belajar pandai melayani dulu sayang! Agar suamimu betah di rumah." wanita itu mencubit kecil hidung Sisi lalu pergi begitu saja, seraya membenarkan bajunya yang sempat terbuka karena Arfi tadi membukanya

__ADS_1


Tangis Sisi kian deras, ia tak bisa membendung perasaanya yang teramat sakit. Wanita tadi berbicara, seolah karena Sisi'lah penyebab Arfi mencari pelampiasan.


Ck....


Malihat Sisi menangis tersedu-sedu dan kini jadi tontonan pengunjung Club Malam. Membuat Arfi meraih kasar tangan Sisi, lalu menggendong tubuh istrinya dan segera membawa keluar dari tempat tersebut


Braaak!


Arfi membanting pintu mobil kuat-kuat, setelah mendudukan tubuh sang istri di kursi mobil.


"Kamu-- membuatku sangat malu malam ini!" Arfi menarik rambut sang istri.


"Aww sakit." rintihnya pelan. "Kakak yang main wanita, kenapa kakak yang marah!" tegas Sisi seraya menghempas tangan Arfi agar tak menarik rambutnya lagi.


"Berani kamu melawanku, ya!"


"Cukup...! Aku tak tahan lagi. Mulai malam ini, ceraikan aku dan kakak bisa puas tidur bersama banyak wanita!!'


"Haaaah........! Aku tidak akan pernah menceraikanmu!"


Braaaak... Braaaak... Arfi menghentakan kepalanya sendiri di stir kemudi dan membuat kening si tampan memar dan memerah.


"Heeei... apa yang kakak lakukan? Kenapa menghentakan kepalamu? Lihatlah berdarah!" panik Sisi karena ada sedikit darah mengalir di kening Arfi.


Pria itu benar-benar gemas melihat sikap sang istri, melihat Sisi yang panik karena keningnya berdarah, Arfi meraih tanganya lalu meng*cup penuh emosi bibir si cantik. Ini kali pertama, Arfi menyentuh si ranum milik Sisi setelah hampir 5 minggu lebih, ia tak menyentuh tubuh sang istri sama sekali.


"Ka-kakak," Sisi seketika gemetar.


"Hmmm...!" Arfi menghentikan aksinya lalu menatap dalam-dalam sorot mata si cantik dan tersenyum simpul. "Katakan! Apa yang ingin kamu katakan!"


"A-aku, heran. Kenapa kakak mencari wanita lain sementara ada aku istrimu. Kenapa kakak tak pernah menyentuhku, setelah malam itu?" Sisi benar-benar bertanya.


Arfi menarik nafas panjang setelah itu semakin melebarkan senyumnya.


"Sisi ingat. Malam itu, kakak sudah berjanji tak akan menyentuhmu lagi?" Arfi justru balik bertanya.


Sisi diam sejenak, ia mengingat pertengkaran terakhirnya dengan sang suami. Dan ia mengingat, jika malam itu Arfi memang berjanji jika tak akan menyentuhnya lagi.


"Kakak, bukan seperti itu maksudnya. Aku justru sedih kamu tak menyentuhku."


"Haaah.. ma-maksudmu?"


Sisi tertunduk malu, ia mengatakan kepada Arfi jika ingin diperlakukan layaknya istri. Mengajak tidur dengan sewajarnya dan berbagi keluh-kesah dan apa saja.


"Baiklah, kakak paham maksudmu."


Arfi meng*cup kening wanita itu, lalu mengajak Sisi pulang ke apartemen. Sepanjang perjalanan, si tampan berkali-kali mengucapkan maaf kepada si cantik. Karena sejatinya, setiap masalah memang harus dibicarakan baik-baik, bukan diam saja❣.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih kakak-kakak baik, meski jarang komentar tapi tetap setia membaca😊. Semoga kedepan ada yang mau berkomentar ya, meski aku' jarang bales. Tapi kementar dan like kalian adalah penyemang, buat aku nulis❣.


__ADS_2