
Antara Dendan Dan Cinta
☡Selamat Membaca☡
Cinta itu, bukan hanya sekedar ucapan. Aku Cinta Kamu... tapi, harus di buktikan dengan perbuatan, bukan hanya sekedar pacaran, jenjang tertinggi dalam pembuktian cinta, adalah pernikahan.
"Apa, besok mami harus datang sendiri?" tanya Airin, lalu duduk tepat di hadapan Arfa.
Ya, seperti janjinya, esok hari Arfa akan menikahi Nayla secara sederhana, ia meminta kedua orang tuanya harus hadir, namun si mami bingung. Bagaimana bisa, membawa si papi serta di hari pernikahan Arfa? Karena, yang Airin tau, suaminya itu belum pulih seperti dulu.
"Tenanglah, aku tidak akan membuat kalian malu, di hari pernikahan Arfa besok!" ucap si papi tiba-tiba, Alvian berjalan gagah di depan istrinya, ia bahkan menunjukan jika sudah baik-baik saja dan sehat seperti sedia kala.
"Mass... ini benar, kamu?" Airin berujar sangat bahagia, melihat sang suami sudah mau berbicara bahkan bisa berjalan dengan begitu gagah.
Bukan hanya si mami saja. Arfi yang baru pulang dari bertugas pun, berhambur bahagia, melihat si papi sudah normal seperti orang lainya.
"Papi_____!"
Arfi berlari, lalu mendekati keberadaan Alvian, setelah itu, ia mendekap tubuh sang papi dengan begitu erat.
Tapi berbeda dengan Arfa, ia tak seperti si mami dan juga suadara kembarnya, saat melihat kesembuhan si papi. Sebab ia sudah terlebih dulu tau, karena sebelumnya, Alvian mendatangi kamar anaknya, dan memberi tahu jika ia sudah baik-baik saja.
**
"Duduklah, pi! Kita bicarakan, apa yang perlu di siapkan, untuk hari pernikahanku besok," seru Arfa bersemangat, ia meminta Alvian duduk di sampingnya.
BRAAAAAK!
Arfi membanting pintu kamar sekuat tenaga, entah apa yang kini tengah di pikirkan. Yang pasti ia cemburu, karena esok Arfa akan menikah.
"Dasar, polisi tak punya sopan santun!" decak Arfa, melihat sikap menyebalkan dari saudara kembarnya.
"Woy... akukan abang! Harusnya, aku yang menikah lebih dulu!" pekik Arfi, seketika ia mendengar ucapan adiknya.
"Eh... aku kira, dia tak mendengar," Arfa menutup mulutnya spontan.
Lagi, Arfi menarik pintu dan membanting kembali. Hal itu membuat si papi dan si mami mengelus dada.
"Sudah menjadi seorang, Polisi. Kok, sikapnya masih seperti anak TK," omel Alvian menggeleng pelan.
Ya... nyatanya, cemburu itu memang buta, buktinya dari sìkap Arfi. Karena merasa kesal, sebab sang adik akan lebih dulu menikah darinya, membuat Arfi menunjukan sisi berbeda, dan saat ia marah, pasti bertingkah layaknya anak kecil.
Sementara itu, Arfa bisa tidur nyenyak malam ini, karena di pastikan kedua orang tuanya, akan datang ke rumah Nayla, dan juga ia boleh membawa teman-teman anak jalananya. Yang selama ini menganggap Arfa seorang "Bos".
***
Pagi menyapa, dengan sinar matahari yang tampak begitu indah. Seindah senyum Arfa detik ini, karena ia sudah tak sabar untuk menunggu sore tiba.
Seperti yang di jadwalkan, ia akan menikah hari, pukul 15.30 sore, karena itu permintaan dari Tito, papa Nayla.
"Hai, abang_" Arfa menggoda kakaknya yang bermalas-malasan di depan televisi.
__ADS_1
"Dih.. apaan, sih... sok imut banget deh!" cetus Arfi seraya terus fokus menonton.
"Bang, kok marah-marah mulu sih? Lagi PMS ya?"
"Hilih, sejak kapan? Kamu, manggil aku, pake abang-abang, begitu?"
"Sejak tadi, kan... kamu memang, abang."
"Yalah, harusnya, sejak dulu, kamu memang wajib sopan ke, aku!"
"Gak usah ngulunjak deh, Fi! Udah di baikin dari tadi, malah ungkit-ungkit masa lalu,"
"Lah, masa lalu siapa, yang aku ungkit?"
"Dih, apaan, si Fi?"
"Kamu yang, apaan?"
Si kembar terus cecok-cecok mulut, keduanya seolah tak ada yang mau mengalah. Bahkan balas membalas melempar bantal, hingga ruang televisi menjadi berantakan.
Ssssstt___
Sejenak keduanya saling tatap, ada hal yang sulit keduanya ungkap. Saat ini bukan lagi prihal cemburu, tapi seketika keduanya menjadi sedih karena sebentar lagi, tak akan bisa bersama-sama sesering ini. Si kembar yang sejak lama sudah saling melengkapi, kini harus menghadapi fase dalam sebuah perjalanan kehidupan. Karena jika sudah sama-sama dewasa mereka pasti akan menikah dan tentu akan terpisah.
"Jangan sakiti, Nayla! Jika nanti kalian sudah menikah,"
"Iya, aku janji. Dan kamu juga, jangan cemburu lagi! Karena sebentar lagi, Nayla seutuhnya menjadi miliku,"
"Aku sayang, kamu,"
"Aku juga, sayang kamu,"
Bak pasangan kekasih yang akan berpisah, keduanya saling mengungkap rasa sayang, yang sama-sama tulusnya. Sejak kecil tumbuh dan besar bersama, saat dewasa mereka pasti akan terpisah, tak akan lagi bisa seakrab dulu, karena si kembar akan mempunyai kehidupan masing-masing.
***
Jam menunjukan pukul 9 pagi. Arfa duduk di balkon rumah seraya memainkan ponsel pintar miliknya, sementara si mami dan si papi menyiapkan semua perlengkapan yang nantinya akan di gunakan oleh Arfa, dan banyak hadiah yang akan mereka berikan juga kepada Nayla.
'Nay, miss you," Arfa mengirim pesan singkat untuk Nayla.
("Aku juga rindu kamu,") balas si cantik pula.
"Hmm, aku juga sudah tak sabar, menunggu sore tiba,"
("Ihh, sabar dong!")
"Dih, Nayla kepedean,"
("Kepedean kenapa?")
"Tuh, di kira aku sebahagia itu, mau menikah denganmu. Kalau bukan... karena kamu paksa, aku____!" Arfa sengaja, tak melanjutkan kalimat pesanya.
__ADS_1
("Kenapa? Kok gak di lanjutin?")
"Aku yang paksa kamu, jadi istriku," gombal Arfa datar.
("Hahahaha____ tidak lucu!")
"Lucu aja, lah!"
("Iya, iya, lucu,")
"Kok, terpaksa, sih?"
("Siapa, yang terpaksa?")
"Kamulah!"
("Ihhhh, Arfa. Kenapa sih, kamu masih nyebelin juga?")
"Hahahahahaha____!" Arfa juga mengirimkan ketikan tanda ia tengah tertawa.
Begitulah Arfa, ia memang memiliki gaya berbeda dalam setiap sikapnya, namun hal itulah yang membuat Nayla semakin cinta. Setiap apapun yang akan Arfa lakukan, pasti tidak bisa Nayla duga.
***
Karena menit terus berputar, jam pun kini sudah menunjukan pukul 2 siang. Arfa sudah siap dengan kemeja coklat dan jas hitamnya, ia benar-benar tak sabar ingin segera bertemu dengan Nayla.
Disisi lain, Arfi memandangi adiknya, dari sebuah kursi, ia menggeleng pelan, karena secepat itu waktu berlalu. Sebab sebentar lagi saudara kembarnya itu akan menjadi seorang suami.
Takdir Tuhan, memang sebuah kejuatan. Buktinya, Arfa yang seharusnya masih kuliah, justru sebentar lagi akan menikah. Berbeda dengan Arfi meski sudah menjadi seorang polisi, nyatanya ia belum menetapkan diri untuk memiliki pasangan. Bukan karena ia tak di sukai banyak wanita, tapi Arfi memiliki standar tinggi untuk mencari seseorang, yang siap di jadikan istri.
"Kamu sudah siap, sayang?"
"Sudah, pi," jawabnya gugup.
"Nanti, jika kamu sudah menikah, tanggung jawab hidup Nayla menjadi tugasmu!"
"Siap, pi,"
"Jangan pernah menyakitinya!"
"I_iya," kali ini Arfa justru gemetar menjawab pertanyaan Alvian.
Bukan tanpa alasan, sebab Arfa sendiri belum paham, sikap yang seperti apa, yang akan membuat Nayla terluka. Takutnya.. apa yang menurut Arfa biasa saja, tapi Nayla justru akan terluka.
"Jalani, hadapi, pahami! Ya... itulah yang memang harus Arfa lakukan.
.
.
.SELAMAT MEMBACA
__ADS_1