Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: T A M A T (Bahagia itu Sederhana)


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Setelah sekian jam, Arfi berada di teras rumah untuk menunggu sang istri pulang. Akhirnya seketiar jam 12 malam, barulah Sisi datang, tapi ia tak sendiri, ada beberapa orang yang mengantarnya.


"Hei, Sisi... kamu kenapa? Astaga!"


Arfi panik luar biasa, sebab sang istri gontai karena pengaruh minuman keras, tubuhnya bau luar biasa dan Sisi bahkan sulit untuk berdiri.


"Apa yang kalian lakukan kesini, kenapa dia bisa mabuk begini?"


"Eh, sepertinya Sisi tengah banyak masalah, jadi dia, seperti ini." jelas Nani.


"Pasti, kalian yang memberi pengaruh buruk ke Sisi!" Arfi menatap penuh benci.


Sementara wanita-wanita muda yang bersama Sisi tadi, langsung pergi tanpa menjawab tuduhan Arfi. Mereka hanya menggeleng pelan dan memberi Arfi senyuman.


"Cakep, tapi galak." ujar Siska membayangkan wajah Arfi.


"Eh, jadi Sisi itu bener orang kaya. Lihat rumahnya mewah sekali gaes!!" sahut Mia semangat.


"Iya.. tapi gue gak terpesona dengan kemewahan rumah Sisi. Tapi terpana dengan ketampanan cowok cakep tadi, astaga... dia cowok atau malaikat, sih!" decak Olvi kagum.


"Huuuuuh!"


Siska, Nani dan Mia, menghela napas berat, mendengar ucapan Olvi. "Eh gaes.. btw, coeok tadi siapanya Sisi?"


"Gue rasa kakaknya," jawab Mia seketika.


"Keren ini. Kita bisa minta tolong Sisi, buat bisa kenalan dengan kakaknya yang cakep banget tadi." usul Nani bersemangat.


"Ide bagus, tapi ayo kita pulang saja dulu!"


Mereka pun memutuskan untuk pulang setelah menghantarkan Sisi tadi. Karena waktu sudah menunjukan hamir sampai jam 1 malam.


***

__ADS_1


Sementara Arfi sudah merebahkan tubuh Sisi di sofa, ia segera pergi ke ruang belakang untuk mengambil air hangat, agar bisa membersihkan tubuh sang istri.


"Astaga.. Sisi, hei. Mau kemana kamu?" Arfi panik, sebab sang istri nampak berjalan gontai dengan keadaan setengah sadar.


"A-ku m-au ke ka-mar." sahutnya terbata-bata.


Secepat kilat Arfi memapah tubuh Sisi dan membawa masuk kedalam kamar. "Kamu kenapa, sih? Kenapa sampai seperti ini, kamu ke club malam, hah?"


Spontan Sisi menepuk kuat pundak Arfi yang kini masih menggendong tubuhnya, setelah itu ia mencengkrang kuat-kuat tangan sang suami dan itu ia lakukan tanpa sadar.


"Udah deh, Arfi. Ga usah sok baik!" ceplosnya.


"Siapa yang sok baik? Kamu istriku, wajar dong!"


"Hahahaha!" tawa Sisi bercampur air mata, ia menangis dengan tawa yang di paksa. "Istri? Apa kamu masih mau anggap aku istri?"


"Sampai kapanpun kamu tetap istriku!"


Kini Arfi sudah menyandarkan tubuh Sisi di atas ranjang, ia menatap dalam-dalam, wajah cantik yang tampak sangat sedih tersebut.


"Kakak minta maaf! Jika sudah melakukan kesalahan!"


Pria itu tak menjawab, ia memilih membiarkan Sisi mengatakan apapun yang ia rasa, sebab dengan keadaan mabuk begini, Sisi pasti berkata jujur. Sejenak ia tertawa, sejenak ia menangis tersedu-sedu, hal itu sudah mengambarkan, betapa sakitnya batin Sisi saat ini.


"Sampai kapanpun dan bagaimana pun kamu. Kita akan tetap sama-sama, meski nanti Tuhan tak mengizinkan kamu hamil lagi. Kita bisa adopsi anak dan kamu tidak perlu bersedih!" Arfi berbisik di telinga Sisi yang sudah tak bersuara, karena lelah dan akhirnya tertidur.


Dari omelan-omelan sang istri, Arfi bisa menangkap beberapa hal. Jika nyatanya, Sisi takut kehilanganya, Sisi takut ia pergi jika tidak bisa hamil lagi, Sisi takut ia meninggalkanya.


"Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Menikah adalah sumpah dan janji kepada Tuhan, kalau aku akan terus mencintai dan menjagamu sampai maut memisahkan kita!" lirih Arfi seraya meng*cup tangan Sisi berkali-kali.


***


Sejak kejadian malam itu, keduanya selalu berbicara terbuka dan menyikapi segala hal sebijak mungkin. Arfi menegaskan berkali-kali, jika ia tak akan pernah meninggalkan Sisi.


"Kamu bisa kuliah dulu dan menuntut ilmu setinggi mungkin. Percayalah, suatu saat nanti entah kapanpun itu, Sisi pasti hamil lagi!'

__ADS_1


"Ta-tapi, kakak tidak marah, kan?"


"Tidak sama sekali, kakak memberimu kebebasan dan kakak percaya Sisi akan setia. Kamu boleh kuliah, menikmati duniamu tapi kamu harus tetap tahu, tanggung jawabmu menjadi seorang istri!"


"I-iya. A-aku janji!"


Kini Sisi bisa menggapai dunianya, ia bisa menatap dunia luas, tak terpenjara dalam sakitnya semua harapan yang di patahkan Tuhan. Arfi memberi Sisi kesibukan, agar istrinya tak tenggelam dalam kesedihan.


***


"Acha....!!"


Sorak Sisi bahagia, saat menyambut kepulangan Nayla dan Arfa, bersama Arfi dan si mami juga papi.


"Sisi apa kabar?"


"Baik mbak Nayla."


"Kamu mahasiswi ya sekarang?"


"Iya, sudah 2 bulan ini aku kuliah mbak, kak Arfi memberi izin!"


"Syukurlah!"


Sisi menggendong tubuh mungil Acha, dengan sangat semangat juga bahagia. Sementara Nayla sibuk mengobrok dengan si mami, begitpun Arfa, ia melepas rindu bersama sang papi dan juga saudara kembarnya, Arfi.


"Setelah banyak hal yang ku hadapi, aku bisa belajar dan mengambil keputusan sebaik mungkin." Arfi berbicara.


"Ya, aku melihat istrimu sangat bahagia." ujar Arfi pula.


'"Kami memiliki ke sibukan masing-masing. Dia kuliah dan aku bekerja di kantor, sore kami sama-sama pulang dan menghabiskan malam berdua, yang jelas waktu aku dan Sisi, sudah tersusun dengan sangat rapih."


Kebahagiaan Sisi dan Arfi, di raskan juga oleh Nayla dan Arfa, yang pasti kini kedua anak kembar Alvian dan Airin sudah sama-sama bahagia, si mami dan si papi, bisa menikmati masa tua dengan damai dan nyaman.


SELALU BAHAGIA BUAT KALIAN❣

__ADS_1


.


TAMAT


__ADS_2