
šSelamat Membacaš
Cuaca sore ini memanglah sangat indah, sang senja menampakan sinarnya di balik awan yang warnanya seolah memerah. Burung-burung berterbang ria, untuk kembali ke sangkarnya, tanda sebentar lagi, malam akan tiba.
"Ya ampun, imutnya anak papi," ucap Alvian selembut mungkin.
Ya, kini Alvian resmi menjadi seorang ayah, bahkan, setelah perdebatan yang cukup panjang, prihal panggilan anak kembar yang baru lahir itu, untuk sang ayah.
"Papi," Rio menautkan kedua alisnya.
"Ya, karena Airin bersikukuh, maunya di panggil papi dan mami," jawab Alvian datar.
"Buhahahahah,"
Rio merasa sedikit geli, tapi apapun itu, semua hal Alvian dan Airin, ia segera pergi seraya menahan tawa, yang sejak tadi menggema.
"Mas, tolong.. bantal bayinya dong!" pinta Airin seketika.
Sesigap mungkin, Alvian pun mengambilkan, bantal bayi untuk kedua anak kembarnya. Si tampan sungguh bahagia, ia tak menyangka Tuhan beri hadiah terindah dua sekaligus.
"Aku makan sebentar, jagain dedeknya!"
"Siap Nona," Alvian bersemangat.
Benar. Karena saat ini, Airin sudah tak lagi berada di rumag sakit, ia memang sudah pulang ke rumah. Bahkan si cantik pun merasa, kondisi tubuhnya sudah baik-baik saja.
*
"Siapa nama anakmu, Rin?" Reyhan penasaran. Ia bertanya, pada menantunya yang tengah menghadapi sepiring nasi.
"Arfa, dan Arfi pah, sebab.. saat di kocok, nama itu yang keluar," jelasnya.
"Hemm, nama lengkapnya?"
"Arfa Liansha Atala dan Arfi Leonsi Atala, panggilnya, Arfa... Arfi," tambah si cantik lagi.
Reyhan tersenyum penuh makna, setelah mendengar nama, kedua cucu kembarnya, pria paruh baya tersebut, seketika mengingat sesuatu.
"Bisa-bisanya, mama mengingkan nama itu untuk anak-anak, Alvian?" lirih Reyhan pelan. Ia segera melangkah untuk menemui sang istri.
__ADS_1
Sementara Airin langsung masuk kembali kedalam kamar, setelah menyelesaikan aktifitas makan malamnya, namun seketika saja, langkah Airin tertahan, saat mendapati sang suami, tengah berdiam diri, memandangi, wajah tampan, kedua bayi kembarnya dengan, banyak tanya.
"Mas, kenapa?"
"Eh, Rin,"
Alvian mengusap pelan wajahnya, si tampan menghela nafas, lalu tersenyum ke arah sang istri.
"Jika lelah, istirahatlah!"
"Tidak, aku," ucapan Alvian tertahan.
"Ada apa, mas? Apa yang ingin kau katakan!"
"Arfa, Arfi, nama itu," si tampan menundukkan kepala.
"Hem,"
Airin merasakan, ada sinyal-sinyal tak baik dari sikap Alvian, namun ia memilih untuk membiarkan sang suami diam sejenak.
"Aku tak habis pikir. Kenapa mama memberi nama, Arfa dan Arfi untuk anak kita, karena."
"Haaah,"
Seketika, Airin merasakan sesak di bagian dadanya, sementara Alvian nampak menahan air mata, yang sebenarnya sejak tadi sudah ingin tumpah.
"Lalu, kenapa? Kau diam saja, saat mama memberi nama Arfa dan Arfi untuk anak kita?"
Alvian semakin mendukan kepalanya, ia menggeleng pelan, untuk menjawab pertanyaan Airin.
"Karena, mama ingin, mendengar nama itu lagi. Lalu, menjaganya sebaik mungkin," jelas Tania yang tiba-tiba saja hadir di dalam kamar mereka.
Airin dan Alvian saling menatap, tak mau protes karena takut jika sang mama akan kecewa, keduanya pun memilih untuk tidak mambantah, hingga akhirnya, nama Arfi dan Arfa menjadi nama kedua anak kembarnya.
"Sayang, oma dan opa, akan menjaga kalian sebaik mungkin. Meski kalian sudah besar nanti, kemana pun kalian pergi, harus ada yang menemani," ucap Tania pelan, lalu mencup lembut, kening dua bayi yang masih memerah tersebut.
Ya, begitulah.... pada akhirnya, Reyhan dan Tania, sungguh overprotektif kepada kedua cucunya. Bahkan mereka terkesan, lebih perhatian di banding Airin dan Alvian.
***
__ADS_1
Hari-hari keduanya lalui, menjadi orang tua bagi Arfa dan Arfi, meski lelah luar biasa sebab setiap malam harus bergadang, tapi tak mengikis betapa indahnya menjadi kedua orang tua. Tangisan dan senyuman kedua bayi kembar itu, adalah sebagai obat lelah bagi Alvian dan Airin.
"Adek, papi mamam dulu ya, dedek jangan pup!" ujar Alvian, seolah anaknya sudah paham dengan apa yang dia ucapkan.
Alvian menyantap sepiring nasi pagi ini, seraya duduk tepat di sisi ranjang anaknya, sedangkan Airin baru selesai menjemur baju-baju basah si kembar.
"Mas, di depan ada tamu,"
"Siapa?"
"Entah," jawab Airin singkat. "Karena bibi yang memberitahuku tadi," tambahnya.
Tanpa pikir panjang, Alvian langsung meletakan sepiring nasi yang belum ia habiskan, si tampan memilih untuk menemui tamunya dulu.
"Pak Egi,"
"Al,"
Si tampan mengigit sudut bibirnya, ia tahu apa tujuan kepala kepolisian itu datang ke rumahnya.
"Selain ingin menjenguk bayimu, aku juga
ingin menagih janji saat itu. Kau bilang, akan bertugas lagi di kepolisian, setelah istrimu melahirkan," tukas Egi tanpa basa basi.
Alvian menarik sudut bibir, ia tersenyum getir.
"Baik, minggu depan, ku pastikan aku sudah kembali bertugas," jawabnya tegas.
Egi pun menarik nafas lega, ia tersenyum puas mendengarnya.
"Terima kasih, kalau begitu, aku permisi dulu. Ini ada hadiah untuk kedua anakmu!" Egi menyodorkan sebuah amplop besar kepada Alvian, sebelum permisi untuk pergi.
Sedangkan Alvian menggeleng pelan, ia pun sudah mengambil keputusan, jika sebentar lagi akan bertugas kembali.
.
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH, KAKAK-KAKAK BAIKā¤