
🌸Selamat Membaca🌸
Persahabatan yang terjalin antara Sisi dan Cia sudah terjadi sejak dua tahun terakhir. Kala itu Cia mendapati Sisi tak sadarkan diri di sebuah Mall dan ia merawatnya.
Satu minggu setelah bercerai dari Arfi, Sisi memang bak orang yang tak tahu arah. Dia sering sakit karena tak napsu makan. Sampai pada akhirnya, takdir mempertemukanya dengan Cia.
KAKAK!
Jantung Sisi berdebar tak karuan, saat pertama kali Cia memanggilnya Kakak, bahkan gadis itu menyatakan jika keduanya adalah saudara. Padahal kenyataanya tidak sama sekali, tak ada hubungan darah di antara ia dan Cia.
"Mulai hari ini kita Kakak dan Adik. Tapi jangan sampai di ketahui Mama dan Papaku,"
"Kenapa?"
"Mereka berdua manusia paling ribet di muka bumi ini, Kak. Karena sebenarnya mereka akan melarangku berteman dengan siapapun."
Begitulah permintaan Cia kepada Sisi, ia tak coba bertanya lebih lagi. Karena menurutnya apapun itu Ciia pasti memiliki privasi.
"Aku nggak kuliah deh, nungguin Kakak aja,"
Hal itu lah, yang selalu Cia lakukan setiap kali Sisi sedang sakit. Gadis tersebut tak pernah tega, meninggalkan Kakak angkatnya sendirian. Sisi dan Cia benar-benar saling melengkapi dan melindungi, sampai detik ini.
.
.
.
.
.
.
***
Setelah berpamitan, kepada kedua orang tuanya, Arfi langsung bergegas pergi. Tampak raut wajah bahagia dari Mami dan Papi, saat merasa Arfi sudah move on dari Sisi. Setidaknya kemungkinan, mereka akan segera memiliki menantu lagi.
__ADS_1
"Serius, buat apa bohong?" tanya Arfa terkejut, setelah Arfi menceritakan kejujuran jika malam ini saudara kembarnya itu berbohong kepada Papi dan Mami.
"Aku bingung, Fa... mereka selalu mendesak aku menikah. Padahal sampai detik ini, aku belum bisa move on dari, Sisi." jujur Arfi pada sang Adik.
"Terus, apa menurutmu, Mami dan Papi tidak akan kecewa. Seandainya tau, kalau sebenernya kamu membohongi mereka?" Arfa masih terus bertanya melalui sambungan telepon.
"Itu urusan nanti, yang penting malam ini, Mami bahagia, karena mengira aku menemui seorang wanita. Padahal nggak sama sekali."
"Tega ya, kamu... bohongi Mami dan Papi!"
"Bacot lu setan! Kamu kira mudah berada di posisi ku. Coba jika bisa di tukar, kamu yang menduda, mau?"
"Ohh tentu saja tidak. Bye hati-hati di jalan!"
Arfa mematikan sambungan telepon secara sepihak. Tentu saja spontan membuat Arfi kesal sekali. Niat hati ingin curhat kepada saudara kembarnya, Arfi justru mendapatkan ceramah karena borbohong kepada orang tua.
"Huuuh!"
Pria tampan itu mendengus sebal, secepat kilat, ia memacu kendaraan dengan kecepatan tak biasa. Rencananya ia akan menginap di rumah Angga. Arfi bisa saja, memilih untuk tinggal di hotel, tapi entah kenapa, ia seakan ingin lebih dekat dengan anak muda yang menjadi satpam di kantornya.
"Maaf, Mi, maaf Pi! Aku tidak berniat berbohong. Tapi aku sedih, karena kalian selalu menanyakan, kapan aku menikah lagi." lirih Arfi sedih. Tentu saja, karena ia merasa sudah mengecewakan orang tuanya. Tapi setidaknya kini ia bisa tersenyum sejenak sebab Mami dan Papi tadi terlihat sangat bahagia sekali.
Arfi menghentikan laju mobil tepat di halaman rumah sederhana tapi sangat luas halamanya. Pria itu segera turun dan memastikan jika ini benar rumah milik Angga.
"Ehh buset."
Ekpresi wajah Arfi bergidik ngeri, karena di teras rumah sederhana itu, tampak berantakan sekali. Namun ia bisa menghela napas lega, karena ini memang benar rumah Angga, ada motor anak itu terparkir tepat di depan pintu.
"Woy, malem... spada!"
Arfi berteriak kencang, berharap sang penguni rumah ini segera keluar. Dan benar saja, hadirlah Angga yang tampak gagah dengan balutan baju kaos polos serta celana jeans pendek.
"Eh si Bapak udah dateng aja. Silahkan masuk Pak, maaf rumahnya dekil karena yang punya rumah sibuk semua. Aku sibuk bekerja, Adik-adikku sibuk bermain," Angga menjelaskan, hal yang tidak ingin Arfi ketahui sama sekali.
"Main kok sibuk," grutunya pelan. Setelah di persilahkan, Arfi bergegas langsung masuk ke dalam. Sorot matanya memutar ke kanan dan ke kiri, pria itu menatap ke segala arah, memperhatikan setiap sudut ruangan, yang terlihat sangat berantakan. Wajar penghuninya cowok semua.
Tok tok tok!
__ADS_1
Belum sempat Arfi dan Angga mengobrol, mereka sudah mendengar suara seseorang mengetuk pintu. Siapa lagi jika bukan Cia?
"Cia, ngapain kamu di sini?" telisik Arfi penasaran.
"Mau ajak Bapak, Angga dan Adik-adiknya Angga, main kemah-kemahan. Aku sudah membawa semua perlengkapanya, jadi kalian tinggal buat tenda saja."
"Heeh?"
Tentu saja Arfi kepo. Kenapa gadis tengil ini berada di sini. Apa Cia akan ikut bermalam dengan mereka? Arfi sangat penasaran.
"Santai Pak, jangan kaget begitu! Aku ke sini mau ajak anda menikmati indahnya malam. Menatap bintang di langit berduaan. Pasti mesra sekali." Cia ceplas ceplos.
"Uwweeeek....!" Angga menunjukan ekpresi ingin muntah. Baru kali ini cewek ngejer-ngejer laki-laki, mana si Cia keliatan banget sukanya pada Arfi, yang lebih gila... itu pria seorang duda. Dari segi mana, Cia jatuh cinta? Tentu saja karena Arfi tampan, mapan dan kaya, perkara umur sedikit tua, nggak jadi masalah.
"Idih, iri pasti kan kamu? Aku tahu selama ini, kamu jatuh cinta kan, sama aku. Jujur deh, ngaku deh!"
Angga hanya mesam mesem, pipinya merah merona, ia tidak menolak tidak juga mengiyakan pertanyaan Cia. "Btw, katanya kamu ke sini, mau ajak Kakak mu. Mana?" anak muda itu mengalihkan pertanyaan.
"Ohh, jadi kamu nggak sendiri?" Arfi spontan menyahuti.
"Oh tentu saja nggak, Pak. Aku datang bareng Kakak ku. Tapi dia mau ke apotik sebentar, maklum kalau kena udara dingin, asma'nya pasti kambuh. Dia wajib bawa obat hisap, mangkanya beli dulu sebelum ke sini!"
DEG!
Satu nama yang Arfi ingat setelah Cia menceritakan kondisi kesehatan Kakaknya. Siapa lagi jika bukan Sisi, sebab mantan istrinya itu di ketahaui memiliki riwat asma akut. Tapi bodohnya Arfi tidak bertanya, siapa nama Kakak dari Cia?
"Hem, sambil nunggu Kakak kamu datang, ayo kita siapkan tenda'nya!" ajak Arfi bersemangat. Ia memang sudah lama ingin menikmati suasana seakan berkemah. Dan malam ini Cia seketika mewujudkan ke inginanya itu.
Angga dan kedua Adiknya yang bernama Andi dan Ata pun mengangguk semangat. Kapan lagi bisa berkemah bareng orang kaya? Ada cewek cantiknya lagi. Mereka semua mempersiapkan segalanya, dan Arfi sangat menyadari, hadirnya Cia di sini membuat ia sedikit nyaman. Biar pun bawel, gadis itu seolah menciptakan candu, tawa dan senyumnya terkadang membuat Arfi bahagia.
"Ayo Pak, kita liat Bintang dari sana!"
Tanpa ragu sedikit pun, Cia menarik tangan si Pak Bos dan anehnya Arfi tak menolak sama sekali. Ia justru terus mengikuti langkah Cia yang mengajaknya duduk di sebuah kursi.
.
.
__ADS_1
.
L A N J U T