Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Ayo Lakukan, kak! (Kecewa)


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Arfi menjatuhkan tubuhnya, ia tertunduk antara sedih, malu dan marah. Pikiranya melayang-layang membayangkan, andai Sisi jatuh karena Asmanya kambuh? Ia kembali bangkit lalu masuk lagi kedalam mobil, Arfi memacu pelan kendaraanya dan berhenti sebentar setiap kali melihat ada orang di pinggir jalan.


"Sisi...,"


Arfi segera turun dari mobilnya, saat ia melihat seorang wanita bertubuh mungil tengah duduk di bawah pohon seraya memeluk kedua kaki. Arfi yakin, jika itu Sisi.


Ck...


Benar seperti apa yang Arfi duga, gadis yang duduk di bawah pohon itu memanglah Sisi, dia tampak gemetar dengan nafas yang tergetar.


""Astaga.... Sisi.....!!"


Arfi berlari cepat, ia melepas jacket di tubuhnya, setelah itu menutup tubuh Sisi menggunakan jacket miliknya.


"Apa yang kamu lakukan? Sampai kamu harus merasakan sesak di sini?"


"Jangan mendekat! Aku tidak mau ikut dengamu!" Sisi mendorong.


"Jangan egois dulu, untuk saat ini. Kamu harus ikut denganku!"


Meski Sisi memberontak dan menolak, tapi Arfi tak perduli, ia tetap memapah tubuh gadis itu dan membawanya ke klinik terdekat.


"Apa yang terjadi? Kenapa badanya dingin begini?"


Para bidan dan perawat yang bertugas di klinik malam ini, merasa sangat panik kala menyentuh tubuh Sisi dan rasanya sangat dingin.


"Kenapa baru membawanya sekarang? Sepertinya gadis ini sudah tidak bernyawa,"


DEEEG!


Mendengar penjelasan si bidan, Arfi berteriak penuh kemarahan. Sisi masih bernapas dan dengan teganya, mereka berucap sudah tiada.


"Apa yang kalian pelajari selama kuliah kesehatan? Kenapa dengan mudahnya memvonis orang sudah tiada?" geramnya.


Sisi yang mendengar semua perkataan Arfi, berdecak lirih, ia spontan memeluk erat pria tampan yang seolah tak rela kehilanganya. Dan dalam marah yang tak bisa di tawar, Arfi merebahkan Sisi di atas ranjang lalu mengeluarkan kartu indentitasnya.


"Po-polisi...??" gugup mereka penuh tanya antara takut dan tak yakin.


"Rawat Sisi baik-baik! Atau ku bawa kasus ini ke ranah hukum? Karena kalian lalai dalam bertugas!" ancam Arfi tak main-main.


Dan... akhirnya, karena rasa takut yang melanda, secara terpaksa mereka pun menangani Sisi secara teliti. Meski sebenarnya para perawat dan bidan itu, memiliki agenda untuk menonton drama dan tak berniat menerima pasien. Hal seperti ini sering terjadi, tapi tak ada orang yang berani untuk menggertak.


"Mbak Sisi sudah baik-baik mas, semua obat ada di dalam sana. Tapi... kalau boleh saya sarankan, sebaiknya mbak Sisi membeli inheler atau obat hisap saja! Karena pil-pil semacam ini, takut bisa merusak ginjal dan organ didalam tubuh lainya." Jelas seorang bidan dengan lantang, membuat Arfi sedikit tersenyum.


"Begini, kan... enak. Besok-besok, jangan pernah mengabaikan pasien lagi!"


"Ba-baik....." jawab mereka gugup.

__ADS_1


Hari hampir pagi, kini Arfi dan Sisi sudah berada di dalam mobil, gadis itu memilih diam saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan Arfi membiarkanya, tak mau mengusik aksi diam yang Sisi lakukan.


"Sampai. Ayo turun!"


Arfi dan Sisi sudah di gerbang apartemen dan suasana memang sudah mulai ramai, karena kini jam menunjukan pukul setengah enam pagi.


"Hem...,"


Sisi tak bergeming, hanya itu yang keluar dari bibirnya, ia pun segera turun dan melangkah dengan tergesa-gesa.


"Jangan mengikutiku. Tetaplah disini atau aku yang akan pergi!" seru Sisi tegas.


Arfi tersenyum getir, ini kali pertama... ia di buat tak bisa membantah bahkan tak berdaya. Arfi memilih untuk menuruti apa yang di ucapkan Sisi, daripada ia harus kehilangan gadis itu.


"Kakak pulang, Si... maaf karena membuatmu tak nyaman!"


Arfi mengirim pesan singkat, sebelum ia pergi. Karena jam sudah menunjukan pukul enam pagi, ia harus bertugas. Terlebih saat ini, ia harus terburu-buru menemui Arfa dulu untuk msmastikan keadaan Nayla yang di kabarkan mengalami pendarahan hebat.


"Bagaimana keadaan istrimu?" tanyanya sedikit panik.


Kini Arfi sudah berada di rumah sakit, setelah tadi pulang, mandi lalu membersihkan tubuh.


"Untuk sementara, Nayla harus di rawat, karena tubuhnya lemas tak bertenaga." Arfa menjelaskan.


"Semoga tidak ada hal buruk yang menimpa. Dan istrimu dalam lindungan sang maha kuasa!" harapnya tulus.


"Aamiin.. dan terima kasih!"


"Mami akan sering bersamaku menjaga Nayla, jadi... kamu harus pandai mengurus dirimu sendiri!"


"Santai... aku sudah dewasa, pasti bisa menyiapkan urusanku sendiri tanpa bantuan mami!" jelasnya yakin. Arfi menepuk pelan pundak Arfa sebelum pergi bertugas.


Sebenarnya, Arfa masih berada di ambang kegalauan. Ia kini tengah menyusun skripsi dan tugas kuliah yang menumpuk. Tapi pria muda itu di hadapankan akan cobaan yang terus menerjang melalui kesehatan Nayla, yang kini tengah mengandung buah hatinya.


"Kuliahlah... biar mami yang menjaga istrimu!" titah Airin pada anaknya.


Arfa mengangguk, meski ia ragu meninggalkan Nayla yang tengah terbaring lemah.


.


.


Sementara, Arfi yang kini sedang bertugas, seketika menjadi tidak fokus, berkali-kali ia menatap layar ponselnya, tapi sepi tak bersuara seperti bisa. Karena, biasanya setiap 1 jam, pasti ada 5 kali pesan masuk dan itu semua pesan dari Sisi, meski hanya sekedar mengirim emoticon love. Tapi tidak dengan kali ini.


"Lagi apa, Si?"


Kini, Arfi coba mengirim pesan singkat terlebih dahulu. Tapi tidak ada jawaban, Sisi hanya membaca tanpa berniat untuk membalasnya.


"Jangan marah lagi, ya! Tolong maafkan kesalahan kakak!"

__ADS_1


Si tampan coba mengirim kembali... tapi lagi-lagi Sisi hanya membuka dan tak menjawabnya. Hal itu membuat Arfi geram, ia mengepal jari jemarinya, namun saat marah akan membuncah, Arfi bisa menahan sejenak, ia berpikir jika kini Sisi sedang berada di dalam kelas hingga tak bisa membalas.


"Pak, jika Sisi keluar dari kelasnya, tolong beri tahu aku!" Arfi mengirim pesan singkat ke satpam sekolah, di mana Sisi menimba ilmu.


"Maaf pak Arfi, sepertinya mbak Sisi tidak masuk sekolah hari ini!" si satpam membalas.


Dan... jawaban pak satpam yang memberi tahu jika Sisi tidak masuk sekolah, membuat Arfi kian geram, ia tak sabar menunggu jam pulang tiba.


Ck....


Akhirnya, waktu pulang pun datang. Arfi yang sepanjang hari ini menahan emosi, berniat meluapkanya setelah bertemu Sisi. Karena nyatanya sampai sore menyapa Sisi tak kunjung membalas, semua pesan singkat yang Arfi kirim berkali-kali.


Ceklek!


Secepat kilat Arfi masuk kedalam kamar apartemen, di mana Sisi berada. Pintu kamar sengaja tak Sisi kunci, entah apa alasanya.


Ssssstt...


Arfi menggeleng pelan kala gadis itu tersenyum saat melihat ia datang. Tapi Sisi tak menatapnya sedikitpun, dia fokus menatap layar televisi. Dan yang membuat Arfi terkejut, karena gadis mungil tersebut, menonton film barat yang isi didalamnya banyak adegan dewasa.


"Sisi, apa yang kamu tonton?"


Arfi langsung mematikan televisi dan mencabut kabel agar gadis itu tak menghidupkanya kembali.


"Kamu kenapa, sih?"


Si tampan menarik selimut yang sedari tadi Sisi gunakan untuk menutup tubuhnya. Seketika Arfi terperanjat saat melihat gadisnya itu hanya menggunkan celana pendek di atas lutut dan baju kurang bahan hingga semua anggota tubuhnya terpampang nyata.


"Kenapa? Apa yang salah dariku? Bukankah, kakak mau menjadikanku wanita murahan?"


DEG!


Ucapan demi ucapan yang Sisi pertanyakan membuat dada Arfi terasa sesak. Ia sadar apa yang kini Sisi lakukan adalah bentuk pemberontakan, jika Sisi sangat kecewa atas sikap Arfi tadi malam.


"Ayo kak, lakukan... kali ini aku tidak akan memberontak. Aku akan membiarkan kakak melakukan apapun pada tubuhku!" serunya seraya tersenyum sinis, dan hal yang paling membuar Arfi tak berdaya Sisi membuka bajunya secara mandiri dan semua harta dan kehormatan gadis itu, bisa di lihat oleh Arfi secara sempurna.


DEG..


Lagi... kali ini Arfi justru tak memiliki n^fsu, ia semakin merasa bersalah. Sebab karena perbuatanya semalam'lah, menjadikan Sisi bak orang gila hari ini.


"Maafkan kakak, Si.. maaf!"


Arfi meraih selimut tebal yang tadi Sisi gunakan. Kini si tampanpun menutup tubuh polos gadis itu, lalu membawa si cantik dalam dekapanya.


.


.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH


__ADS_2