Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 54 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Ada banyak hal yang sulit untuk di lakukan, ada banyak rahasia untuk di ungkapkan dan begitu sulit detik-detik yang kini Arfi lewatkan.


Tentang semua rasa yang ia punya, tentang rasa bersalah terhadap Sisi dan Cia, dan tentang semua sikapnya yang di anggap tak dewasa.


Satu minggu lamanya menghilang, selama itu juga banyak hal yang Arfi pikirkan dan beberapa pilihan yang harus di putuskan.


Begitu pun Cia, yang kini perutnya semakin tampak membulat, ia memutuskan untuk mengajuan surat perceraian, meski pada akhirnya ia harus melakukan hal itu setelah bayi dalam kandungannya sudah dilahirkan.


"Sabar, tiga bulan lagi kamu akan melahirkan. Selama itu kamu bisa berpikir baik-baik untuk memutuskan, bercerai atau tidak,"


"Aku kecewa Kak, karena dia menghilang di saat aku butuh penjelasan."


"Ini semua termasuk salah Kakak juga, tapi percayalah, aku tak memiliki niat buruk sama sekali."


Sisi pun menjelaskan banyak hal, tentang apa yang ia harapkan setelah Arfi dan Cia menikah. Semua penjelasanya membuat sang Adik hanya mampu menatap sendu. Sejujurnya Cia paham jika Kakaknya bukanlah orang licik.


"Kakak tidak bisa memberikan Arfi keturunan, aku juga tidak mau kamu sedih jika tahu, kalau Arfi itu mantan suamiku,"


"Kak, kenyataanya tetap sama-sama menyakitkan. Seharusnya jujur sejak awal!"


"Maafkan Kak, ya!"


Cia meminta Sisi untuk berhenti menjelaskan apapun, yang jelas kini ia sudah memaafkan semua hal yang selama ini Sisi sembunyikan. Karena pada akhirnya baik ia ataupun sang Kakak tetap sama-sama sakit.


"Kalau kamu dan Arfi cerai, gimana sama anakmu nanti?"


"Aku juga bingung Kak, tapi apa yang harus ku pertahankan, kalau kenyataanya Arfi saja tidak berniat mempertahankan,"


Jauh dari dalam lubuk hatinya, Cia masih sangat mencintai Arfi, ia masih sangat mengharapkan sang suami kembali.


"Kak, boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Masih cinta banget ya, ke Kak Arfi?"

__ADS_1


"Nggak sih,"


"Jangan bohong!"


"Lebih sayang ke anak kamu," Sisi memasamkan wajah. "Menurutku, anakmu lebih butuh Bapaknya,"


Sejenak Cia terdiam, ia bingung kenapa harus terjebak dalam lingkaran cinta yang sangat menyulitkan. "Ya udahlah, aku mah terserah apa kata takdir aja ntar. Jodoh lanjut, gak jodoh harus tetep tegar demi anak."


"Semangat! Harus tetap kuat dan tegar demi anak! kamu!"


Sejak hari itu, Sisi dan Cia tinggal bersama, tanpa tau keberadaan Arfi di mana. Sebagai mertua yang bertanggung jawab, Mami dan Papi pun memenuhui semua kebutuhan sang calon cucu, bahkan karena Arfi yang tak kunjung kembali, membuat Papi harus turun tangan mengurus semua urusan perusahaan.


"Apa pun yang kamu butuhkan, bilang ke Mami dan Papi!" Airin menatap lekat wajah Cia.


"Tapi Mi, di usia kalian saat ini, seharusnya tak perlu bertanggung jawab tentang apapun yang ku butuhkan, kalian hanya perlu menikmati masa tua dan istirahat!"


"Kami masih sehat dan kami masih kuat, jadi jangan sungkan! Bagaimana pun yang ada dalam perutmu itu cucu kami."


Cia mengangguk patuh, sementara tatapan Mami masih selekat tadi. Cia sendiri bingung harus senang atau sedih, karena di satu sisi ia bahagia memiliki menantu sebaik mereka, di sisi lain ia pun sedih sebab kenapa sang suami tak kunjung kembali.


Papi sendiri bukan tak lelah sebab ia harus mengurus perusahaan milik anaknya, Ia sudah lama tak ke kantor, itu sebabnya merasa sangat canggung. Beruntung ada Angga, satpam muda yang berwawasan luas dan sedia membantu apapun yang Papi butuh.


"Tadi pagi dia meneleponku!" Arfa terperanjat kala sang Papi memberitahu jika saudara kembarnya sudah menghilang hampir satu minggu lebih.


"Pakai ponsel siapa dia menghubungimu?" Papi pun sama terkejutnya.


"Arfi menghubungiku menggunakan no telepon rumah, bukan handphone pribadi."


Papi pun meminta Arfa mengirim no yang Arfi gunakan untuk menghubungi saudara kembarnya itu. Dan setelah di periksa no tersebut sama seperti saat Arfi menghubungi Cia.


"Papi sudah coba telepon no tersebut?"


"Sudah, tapi tidak ada jawaban."


"Coba cek, siapa pemilik no tersebut!"


"Oke."

__ADS_1


Setelah di hubungi beberapa kali, panggilan Papi ke no tersebut pun di jawab. Dengan sangat sabar dan pelan-pelan Alvian bertanya untuk memastikan siapa yang ada di seberang panggilan tersebut.


"Selamat sore, apakah ada yang bisa kami bantu?"


Pertanyaan itu yang pertama kali di dengar Papi sesaat panggilannya di angkat. Dan setelah di tanya secara seksama, itu no telepon dari sebuah rumah sakit yang terletak di sebuah kota.


Dada Papi berdebar-debar setelah selesai melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon tadi. Pikirannya melayang jauh kemana-kemana, ia pun bertanya-tanya, hal apa yang tengah Arfi sembunyikan. Kenapa dia menghubungi menggunakan no telepon milik sebuah rumah sakit? Papi memutuskan untuk menyimpan rahasia ini sendiri, nanti diam-diam ia akan mendatangi rumah sakit tersebut.


.


.


.


***


Waktu terus berlalu, seperti yang sudah di prediksi jika awal bulan ini Cia akan wisuda. Beruntung, seberat apapun masalah yang ia hadapi, Cia masih bisa menyelesaikan proses dan semua tugas kuliah dengan baik. Hari yang ia nanti pun tiba.


Pak Dana sang Papa, kedua mertuanya, Sisi, Angga dan kedua Adiknya, hadir mendampingi Cia Wisuda. Senyum terpancar jelas dari wajah mereka, namun senyum tersebut mendadak sirna, kala Cia menyebut nama sang suami, yang sudah hampir satu bulan tak ada kabarnya.


"Kak, aku sudah Wisuda, aku menyelesaikan tugas kuliahku dengan baik, seharusnya setelah ini, kita bisa menjalani rumah tangga seperti orang lain," lirih Cia dalam hati seraya membayangkan andai Arfi ada di sini.


Kesedihan Cia, cukup bisa di rasakan oleh Sisi, ia berharap dimana pun Arfi berada, akan kembali suatu saat nanti. Bukan untuk ia dan Cia, setidaknya datang untuk bertemu anaknya.


"Cia, Mami dan Papi punya kado untuk kamu, tapi buka setelah di rumah nanti ya!" ucap Airin kepada sang menantu sembari menyerahkan sebuah kotak yang tak besar untuk Cia.


Wanita itu mengangguk semangat, hari ini mendapatkan banyak kado. Bahkan Angga serta Adik-adiknya menghadiahkan Cia sebuah sepeda.


"Ntar kalau dedek bayinya udah lahiran, ajak jalan-jalan pake sepeda ini ya!" canda Angga yang langsung di sambut gelak tawa dari mereka semua.


"Terima kasih Om Angga," Cia membalas dengan canda pula, ia pun tertawa lepas.


Tawa yang membuat Angga selalu jatuh cinta, tawa yang sudah sejak lama tak di dengarnya. Cia adalah cinta pertamanya, jadi ia sangat sulit mengubah perasaan cintanya sekali pun Cia sudah menikah.


.


.

__ADS_1


.


B E R S A M B U N G


__ADS_2