Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Pulang


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Selamat Mambaca☡


Jam 8 malam, Arfa mengajak sang papi menonton televisi, ia duduk tepat di sampaing Alvian, Arfa sudah cukup lama, tak menghabiskan waktu bersama papi'nya.


"Fa, antar papi ke kamar!" pinta Alvian yang suaranya terdengar sangat pelan, namun cukup membuat Arfa tersenyum


"Ba_baik," jawabnya sedikit gugup karena terlalu bahagia, saat mendegar sang papi sudah mau berbicara. Arfa langsung mengantar Alvian ke kamar, setelah itu ia segera keluar.


"Apa ini, Fa?"


"Mami. I_itu,"


"Itu, apa?"


Saat ia keluar dari kamar, Arfa mendapati sang mami, sudah berdiri di depan pintu, seraya membawa selembar kertas di tanganya.


"Surat dari ksmpus, dosenku meminta mami untuk menemuinya,"


"Ada apa? Kenapa mami harus di panggil?"


Arfa pun menceritakan, prihal pertengkaranya dengan Dimas, di karenakan pria itu sudah mengumbar, hal yang seharusnya menjadi rahasia.


"Jadi, dosen memanggilku, untuk menanyakan. Kalau aku benar-benar meniduri Nayla atau tidak," jelasnya memberi gambaran tentang apa yang akan di tanyakan oleh dosenya nanti.


"Astaga,"


Si mami meyandarkan tubuhnya di sofa, ia memandangi wajah Arfa yang tengah menatapnya penuh iba.


"Maaf, mi! Kalau aku membuat mami, malu,"


"Mami mungkin malu, tapi bukan itu yang membuat mami sedih."


"Lantas?"


"Sikapmu yang tak memiliki urat malu. Bagaimana bisa, kamu memiliki niat untuk meniduri anak orang."


"Semua karena cinta mi, semua berawal dari sikap, Tito papanya Nayla, yang tak menyetujui hubungan kami. Dengan aku melakukan itu artinya Nayla miliku seutuhnya, andai hamil, Tito pasti akan memintaku untuk menikahi anaknya," jelas Arfa seolah tanpa jeda.


Sementara Airin, terdiam seribu kata, di pandangi, wajah anaknya secara seksama. Ada raut ke sedihan di binar bola mata Arfa.


"Kalau cinta, kenapa mami lihat, kamu benar-benar cuek terhadap Nayla?" tanya si mami tiba-tiba, namun Arfa tak coba untuk menjawabnya, ia jutru pergi meminggalkan keberadaan sang mami.

__ADS_1


***.


Arfa kini, duduk di teras rumah, yang ternyata ada Nayla di sana, si cantik sedang fokus menatap layar ponsel yang sedari tadi berada di tanganya.


"Kapan kamu pulang?" tanya Arfa seketika.


"Ke_kenapa?" selain terkejut akan hadirnya Arfa yang tiba-tiba, ia juga kaget, prihal pertanyaan yang tadi Arfa beri. "Kenapa?" ulangnya lagi.


"Hadirmu di sini, menambah beban kami. Lagi pula kedua orang tuamu.tak bosan menelpon dan memintaku, agar kamu segera pulang."


Nayla tersentak, mendengar jawaban Arfa, ia langsung beranjak dari tempat duduknya, dan bergegas masuk ke dalam kamar, untuk mengambil baju-bajunya.


"Mau kemana, Nay?" Arfi menggeleng heran, saat melihat Nayla sudah membawa koper dan keluar dari rumah.


"Dia, mau pulang. Karena, dia sudah bosan berada di sini," Arfa yang menjawab pertanyaan Nayla, ia langsung menarik tangan si cantik dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Arfi memasamkan wajahnya, Nayla dan Arfa tampak, seolah sedang baik-baik saja. Bahkan hal itu tak pelak membuat Arfi cemburu.


"Aku yang selalu ada, aku yang satu bulan ini memperhatikanya, tapi kenapa Arfa yang tetap dia cinta. Padahal Arfa tak perduli sama sekali," batin Arfi lirih, seraya menatap laju mobil Arfa yang kian menjauh dari halaman rumah, ia sedih karena tak akan bisa bertemu Nayla sesering ini lagi.


***


Setibanya di depan gerbang rumah, Nayla tersenyum sendu, ia sudah 1 bulan tak pulang, karena merasa kesal atas sikap sang papa. Namun hari ini Nayla kembali, ia tak bisa memungkiri, jika nyatanya ia merindukan juga kedua orang tuanya.


Arfa sudah menghidupkan mobilnya dan siap pergi setelah Nayla turun, bahkan pria itu tak mengucapkan sepatah katapun.


"Fa.... hati-hati, ya!" ucap Nayla, sebelum pria itu enyah dari hadapanya.


Tak menjawab, Arfa langsung pergi begitu saja, hal itu tentu membuat Nayla menggigit bibirnya sendiri.


"Dia cuek dan tak perduli lagi, Nay. Kenapa kamu masih menharapkanya?" tanya Nayla pada dirinya sendiri, ia pun bergegas melangkah lalu masuk ke dalam rumah. Bahkan pulangnya Nayla, membuat si papa dan si mama, sangat bahagia.


"Papa kenapa?" Nayla sedih sebab melihat sang papa duduk di kursi roda.


"Kaki papa patah, beberapa waktu lalu, papa juga di rawat di rumah sakit," jelas Tito pada anak yang sangat di rindukanya.


Pertemuan malam ini, membuat Tito membuka hati, ia memaafkan kesalahan anaknya, dan dengan tegasnya Nayla juga meminta maaf kepada kedua orang tuanya.


"Tapi, kamu tidak hamil, kan, Nay?" Tito bertanya sedikit ragu.


"Sejauh ini, aku tidak merasakan apa-apa. Bisa jadi, kesalahan malam itu, tak membuatku hamil," jelas Nayla yang sebenarnya antara bingung dan bahagia.


"Besok beli Test Pack, Nay! Kamu harus buktikan, jila hasilnya positif atau negatif!" seru si mama pula.

__ADS_1


"Baik, ma."


Nayla mengangguk setujuh, dan setelah itu ia langsung masuk ke dalam kamar, untuk mengistirahatkan tubuh, Nayla juga sangat rindu akan suasana kamarnya sendiri.


Bruuuk!


Si cantik menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar, pikiranya terus memikirkan Arfa. Meski pria itu bersikap acuh kepadanya, tapi nyatanya Nayla benar-benar jatuh cinta.


"Apa ini KARMA, sebab pernah mengabaikan perasaan Arfa, bahkan tak perduli saat ia menyatakan cinta. Tapi kini, aku justru tergila-gila, bayangan wajah Arfa, terus terbayang di mata," lirihnya, lalu meraih ponsel dan mengirim pesan untuk pria, yang telah mengacaukan hidupnya sekaligus membuatnya jatuh cinta.


("Sudah sampai belum, Fa?")


Begitu isi pesan singkat Nayla, namun sampai 1 jam kemudian ia tak mendapatkan balasnya dari Arfa. Nayla yang panik, takut jika terjadi apa-apa terhadap pria yang selalu mengobrak-abrik perasaanya, langsung menelpon Arfi yang tak lain saudara kembar Arfa.


"Dia sudah pulang, Nay. Bahkan dari tadi Arfa sudah berada di rumah, tuuuh! Dia sedang sibuk memainkan poselnya." Arfi memberi tahu.


Dan tentu saja, membuat Nayla kesal luar biasa, ia langsung mengirim pesan singkat lagi, setelah selesai menelpon Arfi.


("Apa maksudmu, tidak mau membalas pesan singkat, dariku?") tanya Nayla geram.


["Suka-suka saya dong! Kalau saya tak punya niat membalas pesan anda. Lantas, kenapa anda marah, mau membalas ataupun tidak, itu hak saya,"] balas Arfa yang tentu membuat Nayla tercengang.


Begitulah Arfa, ia selalu bersiap mengesalkan kepada Nayla, bahkan terkesan tak perduli sama sekali. Tapi jauh dari dalam lubuk hatinya ia masih memiliki rasa yang sama, namun bersikap sok cuek menjadi pilihanya.


"Huuuuh!"


Spontan saja, Nayla membanting ponselnya ke lantai yang tentu saja, membuat ponsel miliknya itu, hancur berserakan. Ia tak perduli dan membiarkan benda itu, hancur begitu saja. Nayla kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Menarik selimut dan berusaha memejamkan mata.


Ck....


"Aaah, astaga! Kenapa otakku selalu memikirkan si sialan itu?" grutunya kesal, karena nyatanya ia tetap tidak bisa tertidur, karena terus membayangkan Arfa.


Nayla, terjebak akan rasanya yang sungguh menyukai Arfa, tapi pria itu tak pernah menunjukan sikap perdulinya, akhir-akhir ini.


.


.


.


.


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2